PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•163


__ADS_3

Malam ini kami kembali ke rumah dengan kondisi yang tubuh lumayan lelah. Setelah makan malam, Andi kembali ke kamarnya di temani bi Atun. sementara akupun kembali ke kamar untuk menyiapkan pakaian yang besok harus di pakai oleh mas Sandy dan juga pakaian untukku sendiri.


"Besok pakai ini saja, warnanya juga senada." aku bergumam seraya merapikan pakaian itu di atas meja.


Mas Sandy keluar dari kamar mandi lalu duduk di atas tempat tidur.


"Kamu masih sibuk teh?"


"Hm, seperti yang mas Sandy lihat. saya masih harus merapikan pakaian untuk besok. saya gak mau mengecewakan mas Sandy di hari pertama masuk kantor." selorohku serius.


Mas Sandy bangkit, dan memelukku dari belakang. kurasakan hembusan nafasnya di tengkukku.


"Bahkan di hari ulang tahunmu. kamu masih bersikap biasa saja." tanyanya bernada mengejek.


"Memangnya saya harus Gimana mas? biasanya juga, saya gak pernah merayakan ulang tahun seperti tadi." tandasku enteng.


"Jadi,.. kamu gak suka kejutannya?"


Aku menoleh pelan padanya, ku lihat wajahnya kusut seketika.


"Apapun yang mas Sandy berikan untuk saya, saya selalu suka dan saya berterima kasih atas semuanya." tukasku lirih.


"Seharusnya, saya dapat bonus." gerutunya manja.


"Bonus?!" aku menajamkan pandangnku.


"Tapi tak apa. saya punya sesuatu buat kamu. ayo ikut!" ajaknya kemudian menarik kedua tanganku menuju balkon


"Sesuatu apa sih mas?" Aku mengikutinya perlahan.


Mas Sandy membuka pintu dengan kedua tangannya. Tatapanku langsung menuju ke arah Sofa. ada sebuah buket bunga mawar merah yang disimpannya disana.


Aku tersenyum,mas Sandy benar-benar penuh kejutan.


"Itu apa mas?" tanyaku ragu.


"Ayo, lihatlah!" perintahnya seraya menuntunku mendekati Sofa.


Ku ambil Bunga mawar itu, jumlahnya tidak terlalu banyak. mungkin sekitar 20 tangkai saja. namun saat ku hirup wangi bunganya, ada sesuatu yang berkilau di antara tangkai bunga mawar itu.


"Mas,." gumamku saat ku sadar, benda apa yang bersembunyi di balik tumpukan mawar itu.


"Kenapa? apa kamu gak suka bunga mawar?" godanya seolah-olah tak tahu jika aku sudah menyadarinya.


Ku ambil pelan cincin berlian itu, bentuknya tidak terlalu besar tapi sangat indah dan manis.


"Ini cincin? buat saya?!" tanyaku menatapnya penasaran.


Mas Sandy tersenyum dan mengambil cincin itu dari tanganku, lalu memakaikannya dengan hati-hati.


"Kalau berat badan kamu gak naik. seharusnya cincin ini pas!" godanya mengulum senyum.


"Mas Sandy!" dengusku


"Cantik. lihatlah! sangat pas!" tukasnya seraya merentangkan jari jemariku.

__ADS_1


Aku tak bisa berucap lagi, rasanya kata terima kasih saja tak cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaanku sekarang.


"Sepertinya, bilang terima kasih saja Gak cukup mas." gumamku


"Saya juga udah kenyang, sama ucapan terima kasih dari kamu. saya mau yang lain." bisiknya.


Aku tersenyum malu. Sudah ku tebak kemana arah pembicaraannya. dan kali ini,sebagai balasan atas kebaikannya. Aku yang lebih dulu menciumnya.


"Semakin hari, kamu semakin pintar Alis anjani." godanya seraya membalas ciumanku dengan penuh hasrat.


Hari ini penuh dengan kejutan juga kebahagiaan. dan tentu saja, harus ku akhiri malam ini dengan penuh cinta.


Mas Sandy menggendongku ke atas tempat tidur. ******* nafasnya membuatku semakin lincah menggeliat dalam dekapannya.


"Kita harus segera memberikan adik, untuk Andi." Racaunya seraya mendesah frustasi. Ku gigit bahunya pelan.


Ruangan yang temaram terasa begitu panas karena atmosfer liar yang kami ciptakan.


Sepertinya malam ini aku akan terlelap karena kelelahan.


•••


Kita tak perlu berharap banyak pada dunia, tentang semua keberuntungan dalam hidup yang akan kita jalani.


Meskipun sikap Bu Ayu belum berubah sepenuhnya terhadapku, aku tetap harus menjalani hidup sebagaimana mestinya. tak bisa terpaku pada satu hal saja.


Aku juga tahu, pergolakan batin yang kurasakan saat Nama Vina terdengar menggema di telingaku. membuatku sedikit resah, tapi itu sebuah kewajaran. aku tak perlu berlarut-larut dalam menanggapinya. Karena kepercayaanku pada mas Sandy, tak akan mudah runtuh hanya karena sebuah nama dari masalalu saja.


Dan tentang kebenaran atas kematian Mas Rizal, suatu saat pasti akan terbuka dengan sendirinya. bukankah kebenaran selalu memiliki jalan untuk muncul kepermukaan. Jika aku harus tahu, maka Tuhan akan memperlihatkannya padaku dengan mudah.


•••


Ku cium aroma tubuhnya perlahan. otot-ototnya tak lagi menengang seperti semalam. ku buka mataku pelan. Pria tampan itu masih terlelap dengan tubuh tertelungkup dan hanya bertelanjang dada saja.


Orang bilang, bercinta bisa menambah imunitas tubuh, serta mengubah suasana hati menjadi lebih baik. dan rasanya semua itu benar. ku kecup lembut keningnya, perlahan aku bangun dari tempat tidur dan beranjak menuju kamar sebelum dia ikut terbangun.


Hari ini, rasanya aku begitu bersemangat. aku akan sering bertemu dengan banyak orang. dan tentu penampilanku tidak boleh biasa saja.


Ku tatap pantulan wajahku di cermin. harus ku apakan rambutku nanti? ku kuncir saja? atau ku gerai saja?


AH! aku terkekeh geli karena kepanikanku sendiri.



Mas Sandy terus saja melihat ke arahku,


"Mau pakai gaun,ataupun pake pakaian kantor seperti ini,benar-benar tak ada bedanya. kamu tetap sangat cantik." sanjungnya.


"Mas, nanti kita terlambat. Lagian Andi udah masuk kelas tuh!" selorohku.


"Baiklah, nyonya Sandy Hadiwijaya." bisiknya pelan.


Aku mengulum senyuman, menahan malu. bisa-bisanya dia selalu menggodaku seperti itu.


"Apa hari ini Bu Ayu juga ada di kantor?" tanyaku kemudian.

__ADS_1


"Tentu saja ada. kenapa? kamu takut?" tukasnya.


"Enggak. bukan soal itu. saya hanya khawatir dia salah paham. kehadiran saya di kantor pasti akan menimbulkan pertanyaan bagi sebagian orang,"


"Kamu istri saya, wajar saja jika kamu ikut ke kantor. siapa yang berani menentang?" desisnya seolah memintaku tak perlu khawatir.


"Soal itu, Saya percaya sama mas Sandy. tapi kan,-" timpalku yakin.


"Tenanglah. kamu gak usah gugup!" selanya.


Mas Sandy paham betul jika aku orang yang mudah sekali panik. apalagi menghadapi hal semacam ini. meskipun aku sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang di kantor. tapi tetap saja, kali ini rasanya sangat lain.


Setibanya di kantor, Security segera membukakan pintu untukku.


"Selamat pagi bu Alis." sambutnya.


Aku mengangguk sopan.


Mas Sandy tersenyum seraya menatap lama padaku,aku berlari kecil mendekatinya.


"Gimana rasanya dapat ucapan dari security kantor?" godanya.


"Rasanya aneh." aku menyeringai kecut.


Aku dan mas Sandy segera menuju ruangan kerjanya. Nita bilang semalam, pagi ini akan ada rapat penting. Semoga saja mas Sandy tidak melakukan kesalahan dengan mengajakku ikut serta dalam rapat itu.


"Sayang, jam 10 saya ada rapat penting. kamu ikut ya?" ajaknya kemudian.


Aku menatapnya tak percaya.


Baru saja doaku naik ke langit, dia sudah menariknya lebih dulu.


"Ikut rapat?" aku memekik kecil.


"Kamu hanya tinggal duduk manis saja, apa susahnya."


"Tapikan saya malu mas," sergahku.


"Selamat pagi bu, selamat datang di kantor!" sambut Nita saat kami berdua tiba.


"SELAMAT PAGIIIII...!" sambut yang lainnya serempak.


"Selamat pagi," sahutku sedikit tersipu.


"Bu Alis cantik banget deh," sanjung Anwar.


"Terima kasih Anwar. kamu juga ganteng banget pagi ini." balasku menggodanya.


"Ekehm,.. Ayo masuk! " mas Sandy menarikku cepat ke dalam Ruangannya.


"Kamu duduklah, saya harus memeriksa beberapa File yang masuk." pintanya.


"Iya mas," Aku segera mendekati meja kerjaku. menatapnya cukup lama sebelum aku menduduki kursinya.


Rasanya ini seperti sebuah mimpi.

__ADS_1


• • • • • •


__ADS_2