PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•94--


__ADS_3

Aku melajukan mobilku meninggalkan tempat itu, lega rasanya sudah bisa mengingat hal yang sempat membuatku penasaran.


Sore ini rasanya aku enggan kembali ke rumah. tapi aku juga bingung harus pergi kemana. apartemen yang baru ku beli, masih dalam tahan renovasi.


"Apa aku pergi kesana saja?" gumamku yang akhirnya memutar kemudi dan melaju menuju apartemenku.


PING!


Ku lirik ponselku sekilas, sebuah pesan dari Vina.


'Where're you? ' Tanyanya singkat.


Aku mengernyitkan dahi, tumben sekali Vina mengirim pesan padaku lebih dulu.


"Dijalan, kenapa sayang. kangen ya?" balasku sedikit menggodanya.


"Bisa gak malam ini, kamu temani aku dinner sama rekan bisnisku dari singapura," pintanya.


Aku menghela nafas. tentu saja. sekarang dia menghubungiku bukan karena rindu,tapi karena urusan bisnis. Dia tahu, aku memiliki pengaruh besar dalam dunia bisnis dan itu bisa membuat karir modelnya semakin lancar.


Dulu aku sangat mendukung kariernya. tapi sekarang kenapa aku merasa di peralat oleh kekasihku sendiri.


Semakin jauh hubunganku dengannya, maka terasa semakin berbeda pula jalan dan prinsip hidup kami. Rasanya rencana kami untuk bersama,sedikit demi sedikit mulai terkikis dan terlupakan.


"Ya, aku usahakan" jawabku singkat.


Mataku yang tengah fokus pada ponsel, tiba-tiba teralihkan pada sosok Ivan yang kebetulan melintas berlainan arah dengan mobilku.


Aku terhenyak. beberapa bulan kebelakang kami memang jarang bertemu. Kabar terakhir yang ku dengar dia sedang sibuk mengelola sebuah bisnis.


Haruskah ku tanya kabarnya? Ah! segan rasanya untuk memulai obrolan dengannya lagi setelah sekian lama kami saling 'diam'.


•••


Setibanya di Apartemen, aku segera melihat para tukang bekerja. Mereka tampak sedang mengecat seluruh ruangan seperti yang ku perintahkan kemarin.


Aku mengelilingi seisi ruangan. beberapa diantaranya masih tampak berantakan. ku langkahkan kakiku dengan hati-hati. sesekali ku bantu para pekerja untuk mengecat kamar pribadiku.


Terkadang, manusia juga perlu melakukan hal-hal tak penting diluar pekerjaan yang biasa dilakukannya. hanya untuk menemukan kesenangan.


"Hati-hati pak, cat nya masih basah!'' tukas salah satu pekerja saat aku mulai serius dengan apa yang ku kerjakan.

__ADS_1


Bahkan tak terasa waktu bergulir begitu cepat.


PING!


PING!


PING!


Aku berdecak saat pesan suara itu terasa mengganggu,lalu ku simpan peralatan ditanganku. dan segera melihat isi pesan yang masuk.


"Sayang! Acaranya pukul 8 malam"


"Jangan sampai terlambat! pakaian untuk kamu udah aku kirim ke butik. tinggal kamu pakai" tulisnya.


"Ya Tuhan! Aku lupa kalo ada janji" Aku menatap jam ditanganku.


Sudah pukul 7 malam,Bisakah aku tiba dibutik tepat waktu. dan tanpa pikir panjang Akupun berjalan keluar dari kamar. namun karena tak hati-hati aku menyenggol salah satu tangga yang berisi kaleng cat di atasnya.


BYUUURR!


Semua cat itu tumpah membasahi punggungku.


Aku rasa, hari ini adalah hari tersial untukku dan aku tak kan mungkin bisa datang tepat waktu dalam kondisi seperti ini.


Aku berjalan pelan menuju kursi. menyimpan ponsel dan jam tanganku secara hati-hati.


"Apa kamar mandinya sudah berfungsi?" tanyaku lesu.


"Sudah pak! hanya saja masih belum ada alat mandi apapun didalam" jelasnya lagi.


Dengan perasaan dongkol, Akupun masuk ke dalam kamar mandi. membersihkan seluruh tubuhku dengan air seadanya. meskipun aku tahu, aroma cat nya tak kan bisa hilang begitu saja. setidaknya tubuhku tak kotor dan lepek.


TOKK..


TOKK..


"Permisi pak! ada telepon" suara dari luar membuatku segera beranjak dari kamar mandi.


"Terima kasih!" ku ambil ponselku dan melihat siapa yang menghubungiku.


"Sayang,kamu dimana? ini udah hampir jam 8" suara Vina terdengar ketus di ujung sana.

__ADS_1


"Maaf sayang. sepertinya aku Gak bisa kesana. aku kena musibah. bajuku semuanya kena tumpahan cat tembok" jelasku merasa bersalah.


"Jadi gimana dong?!" desaknya putus asa.


"Aku benar-benar minta maaf. aku sama sekali gak tahu akan jadi begini. aku juga nyesel banget, Gak bisa nemenin kamu," jelasku tak enak hati.


Vina terdengar mendengus kesal.


"Ya Udah Gak apa-apa, kalau memang kamu Gak bisa kesini. it's okay" jawabnya penuh nada kecewa.


TUT..


TUT...


Ku tatap kaget ponselku. dia sepertinya amat sangat marah. dan sekali lagi, masalah kecil ini membuat hubungan kami semakin tak bisa tertolong lagi.


Aku memang mencintai Vina, sangat. Aku menginginkannya lebih dari apapun didunia ini. tapi,entah kenapa akhir-akhir ini aku sulit membagi waktuku dan lebih sering menelantarkan dirinya.


Pukul 8 lewat 15 menit,aku masih terduduk di kursi apartemen. perasaanku semakin tak tenang jika memikirkan janjiku pada Vina. dia pasti sangat kesal padaku. dan akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke butik dan menyusulnya.


Aku memang bisa mendapatkan banyak wanita manapun yang aku inginkan. tapi, untuk menjalani hubungan dengan mereka secara serius. aku tak mampu. aku terlalu takut. dan hanya pada Vina lah aku bisa menghadapi apa yang ku Takutkan. Aku tak ingin kehilangan dirinya atas kebodohanku, aku juga tak ingin kehilangan dirinya begitu saja.


Setibanya di butik aku segera berganti pakaian dengan Baju yang sudah dia pesankan. Aku bahkan tak sempat mengobrol dengan si pemilik butik karena terburu-buru.


Ku coba menghubungi Vina di sela-sela waktu sibukku berpacu dengan kemacetan jalan. namun sayangnya, Vina sama sekali tak merespon. Hal itu membuatku semakin kuat menekan pedal gas untuk menuju tempat dimana Vina berada.


Aku tiba didepan sebuah hotel bintang 5. suasananya cukup ramai. terlihat beberapa orang berjalan memasuki hotel. pastilah mereka itu orang-orang penting. Ku rapikan dasiku sesaat sebelum melajukan mobilku semakin dekat.


Namun, Aku malah melihat Vina keluar dari Ballroom dan tampak sibuk menelepon seseorang. Ku lirik ponselku di atas Dashboard dan sama sekali tak berdering, jelas dia bukan sedang meneleponku.


Lalu siapa....?


Sebuah Mobil mewah berhenti tepat didepannya. Vina menutup teleponnya dan menyambut orang yang masih ada di dalam mobil itu. seorang bellboy kemudian membukakan pintu untuknya.


"Ivan," Aku terperangah saat melihat sosok Ivan keluar dari dalam mobil dan dengan santainya mencium tangan Vina dengan manis.


Pertunjukan apa ini? apa mereka sedang bercanda denganku? batinku bergejolak.


Jika saja ini bukan sebuah acara penting, tentu sudah ku hampiri keduanya untuk meminta penjelasan. Namun sayangnya, aku enggan menghabiskan tenagaku untuk hal yang sudah pasti tak membutuhkan penjelasan apapun lagi.


Badai besar seakan menghantam jiwaku saat itu,dan aku hanya bisa terdiam kelu didalam mobil tanpa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Apakah ini akan menjadi akhir hubunganku dengan Vina dan juga Ivan?


• • • • • •


__ADS_2