
Aku dan mas Sandy kembali ke rumah sakit dan bergegas menuju ruangan Bu Ayu. beruntunglah letak Resto tadi cukup dekat dengan rumah sakit. sehingga kami tak membutuhkan waktu lama untuk tiba disana.
Aku dan mas Sandy berdiri didepan pintu yang tampak sedikit terbuka.
Saat mas Sandy hendak membuka pintu, kami berdua tak sengaja mendengar dokter Hasan bicara sedikit lebih keras. sepertinya mereka masih belum selesai dengan urusan pribadinya. sehingga ku isyaratkan mas Sandy untuk tak menguping mereka.
"Mau sampai kapan kamu bersikap begitu pada Alis dan Sandy? tidakkah kamu merasa bersalah?!" seloroh dokter Hasan.
Kami berdua tertegun. apa yang sebenarnya dokter Hasan bicarakan dengan Bu Ayu. kenapa dia menyebut nama kami berdua.
"Itu bukan urusanmu! tugas kamu hanya sebagai dokter bukan? jadi jangan coba-coba untuk mengajariku" desis Bu Ayu.
"Sekarang Broto sudah di tahan. apa lagi yang bisa kamu harapkan darinya? Apa kamu mau membantunya bebas dari jerat hukum? dengan cara apa? kalian sudah tak bisa menghindar. mungkin sudah saatnya kejahatan kalian terbongkar." desaknya lagi.
Aku dan mas Sandy menatap tak percaya dengan apa yang kami dengar. Hingga Niat hati untuk pergi pun ku urungkan. mungkin saja ini adalah jawaban yang selama ini ku cari.
"Apa maksudmu? kamu berani mengancamku? dalam kondisi seperti ini? kamu benar-benar keterlaluan Hasan! kamu sudah bukan Hasan yang dulu aku kenal!" gertak Bu Ayu dengan tatapan berkilat penuh kemarahan.
"Ayu! sadarlah.. Kamu tak akan selamanya bisa sembunyi. mungkin memang seharusnya sejak dulu, kamu mengakuinya saja! jika kamu-... "
"PERGI!!!!" usir Bu Ayu segera. nyaris saat Dokter Hasan hampir mengungkapkan hal yang ku rasa sangat penting.
BRAKKKK!
Tiba-tiba mas Sandy mendorong pintu hingga membentur dinding dan mengeluarkan bunyi cukup keras. Aku yang berdiri disampingnya saja begitu kaget.
"Apa maksud ucapan dokter Hasan barusan Tante?!" Mas Sandy berjalan cepat mendekati Bu Ayu.
Kedua orang itu terlihat sangat terkejut. mereka pasti tak mengira jika mas Sandy dan aku akan mendengar semua obrolan mereka.
Wajah bu Ayu seketika berubah pucat pasi. selain karena dia juga masih lemah. itu tentu juga karena rasa gugup karena mendengar pertanyaan mas Sandy.
"Ayo bicara! Dokter,apa yang kalian bicarakan? Apa ini ada hubungannya dengan kematian papa dan mama? ayo bilang?!!" desaknya
Dokter Hasan melirik sejenak pada Bu Ayu. Sepertinya diapun menunggu jawaban dari Bu Ayu.
"Kamu salah sangka san. tante bisa jelaskan semuanya!" tukas Bu Ayu gelagapan.
"Enggak Tante! saya sudah tak mau mendengar lagi penjelasan apapun dari tante. selain jawaban jujur tante tentang kematian mama dan papa!" cercanya terdengar emosi.
__ADS_1
"Mas,...!" ku tahan pelan dengan mencoba menarik lengannya.
Bu Ayu tertunduk kalut. kedua tangannya meremat kuat selimut yang membalut tubuhnya.
Bu Ayu tiba-tiba menatap tajam diriku. sebelah tangannya menunjuk tepat ke arahku.
"Mendiang suami Alis lah pelakunya! dia yang menyabotase kendaraan yang di tumpangi orangtuamu hingga keduanya meninggal dalam kecelakaan."
Aku yang masih bergeming, mencoba mencerna tuduhan yang dia layangkan pada mendiang suamiku. Benarkah itu? inikah jawaban yang ku tunggu selama ini? kenapa sama sekali tidak membuatku lega. tapi malah membuatku merasa sangat sesak sekarang.
"Ayu,-" Sergah Dokter Hasan. seakan tak menyangka dengan apa yang baru saja Bu Ayu ucapkan.
"Gak mungkin!" gumamku ragu.
"Tante jangan mencari kambing hitam. Tante pikir, saya akan percaya?!" mas Sandy tersenyum getir. sulit baginya untuk percaya pada ucapan tantenya. tapi apa yang di utarakannya sungguh sangat tak di sangka. begitupun denganku,sama sekali tak terbersit sedikitpun olehku bahwa mas Rizal terlibat dalam kecelakaan itu.
"Apa buktinya? bagaimana bisa mendiang suaminya yang menyebabkan papa dan mama kecelakaan?!" desak mas Sandy.
Bu Ayu masih menatapku sinis. lalu beralih menatap mas Sandy.
"Tante memang iri pada ibumu. tante juga benci karena dia juga berusaha menggoda kekasih tante waktu itu." bu Ayu menoleh pada dokter Hasan. seolah orang yang dia maksud tak lain adalah dirinya.
Bu Ayu tersenyum simpul.
"Tante meminta bantuan mendiang suami Alis untuk mengerjai ibumu. hanya sebatas menakut-nakuti saja. tidak untuk membuatnya celaka. tapi, saat itu Rizal mabuk. dia merencanakan sesuatu hingga tante tak bisa mencegahnya. dia melakukan itu diluar perkiraan tante. tante sungguh tak menyangka dia akan berbuat sejauh ini." jelasnya terdengar penuh sesal. namun sama sekali aku tak percaya.
"Bohong! itu semua pasti tak benar!" Sergahku tak percaya.
Mas Sandy diam mematung mendengar penjelasan dari tantenya. entah apa yang ada dibenaknya sekarang.
"Makanya tante tak mengijinkan kamu menikah dengan wanita ini. karena suaminya adalah pembunuh orangtuamu San. tante yakin, Alis juga sudah tahu tentang hal ini. mereka pasti sengaja menyembunyikan kebenaran itu darimu. agar kamu mau menikahinya" Bu Ayu semakin tajam menatapku.
Tubuhku bergetar. tak ku sangka aku akan mendapatkan tuduhan kejam darinya. tuduhan yang diberikan oleh orang yang sangat ku hormati selama ini.
Mas Sandy meremat jari-jemarinya. Aku menatapnya takut. takut jika dia termakan omongan tantenya.
"Mas Sandy jangan percaya mas. saya sama sekali tak tahu tentang hal itu." gumamku.
"Saya tak tahu harus percaya pada siapa!" tukasnya dingin.
__ADS_1
"Ayu.. kamu jangan membuat masalahnya semakin runyam. tak mungkin Alis ikut menutupi kebenaran tentang kecelakaan dulu. dia bukan wanita yang bisa kamu tuduh sekeji itu." dokter Hasan mencoba membelaku.
"Tak ada yang menjamin jika Alis tak berbohong. dia pandai menyimpan Rahasia. bahkan pertemuannya dengan Broto di depan sebuah Resto saja. Tante yakin kamu tak tahu 'kan? Dia pandai bersembunyi di balik wajah polosnya. lagipula mana mungkin Broto berani berbuat begitu,jika bukan Alis yang memulai semuanya." tuduhnya Licik.
Aku terdiam kaku. jadi Bu Ayu tahu jika aku sempat bertemu Pak Broto waktu itu. atau mereka yang merencanakan semuanya untuk menjebakku.
Mas Sandy menoleh ke arahku. Ku tatap matanya yang sedikit berkaca karena memendam amarah.
"Apa benar yang tante bilang? kalian pernah bertemu? apa yang kalian bicarakan? kenapa kamu tak memberitahu saya?" tanya mas Sandy.
"Mas.. Saya tak sengaja bertemu dengannya. itu pun tak lama. kami tak membicarakan apapun. dia hanya mencoba mengancam saya dengan mengatakan jika dia bisa menghancurkan karir kamu mas. saya takut untuk bilang, karena kamu pasti akan terpancing emosi. dan melakukan hal yang bodoh yang bisa merugikan diri kamu sendiri." jelasku mencoba memberinya pengertian. jika aku berbohong semua demi kebaikannya.
"Apa kamu tahu. Bagi saya..,kejujuran itu sangat mahal" sindir mas Sandy padaku.
Ada senyum puas yang bisa ku tangkap dari raut wajah Bu Ayu. bisa-bisanya dia memutar balik cerita hingga kini aku yang tersudutkan
"Mas, saya bersumpah! saya tak ada sedikitpun niat untuk membohongi kamu. dan tentang Mas Rizal,saya sungguh tak tahu apa-apa" jelasku yakin.
"Apa kamu akan percaya pada wanita yang berkali-kali berbohong padamu San?" desis Bu Ayu mencoba menjadi sekam dalam pertengkaran kami.
"San, lebih baik kalian bicarakan semuanya dengan kepala dingin. soal Ayu, biar saya yang urus. kalian pulanglah dulu!" perintah dokter Hasan yang mulai merasa situasi kami semakin memanas jika di biarkan.
Mas Sandy melangkah cepat meninggalkan ruangan tanpa sepatah katapun.
"Mas... mas Sandy!" aku segera menyusulnya.
Kenapa ini? kenapa semuanya malah menjadi kacau begini? bagaimana mungkin Mas Rizal bisa melakukan hal sekeji itu? Aku berjalan cepat mengejar mas Sandy yang terlihat masuk ke dalam Lift.
Dan sialnya aku tak dapat mengejarnya. Aku berjalan mundur dan berbelok menuju anak tangga. tak peduli dengan kondisiku yang tengah hamil.
"Kamu gak boleh begini mas. Gak!" gumamku kalut.
Ketakutan terbesarku saat ini adalah melihat mas Sandy marah dan salah paham terhadapku. Aku tak ingin dia percaya sepenuhnya dengan apa yang di katakan Bu Ayu.
Aku berhak memberikan pembelaan. Aku tak salah. dan aku sama sekali tak berniat membohonginya.
Langkah kakiku terasa semakin cepat menuju lantai dasar.
• • • • • •
__ADS_1