PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•196


__ADS_3

Setelah beberapa pangggilan mas Sandy belum mau menjawab juga, akhirnya ku telepon melalui kantor. dan Nita bilang dia masih mengadakan rapat penting.


"Tolong bilang, kalo Bu Ayu di rumah sakit?!" jelasku pada Nita.


Tapi Nita bilang,mas Sandy sedang tak ingin di ganggu. Aku menghela nafas dalam. dan akhirnya ku putuskan untuk menemui mas Sandy langsung ke kantor.


•••


Setibanya di kantor,aku langsung di sambut oleh security yang berjaga. dia tampak hati-hati karena mungkin tahu jika kondisiku sedang hamil.


"Gak perlu di antar ke atas pak. saya bisa sendiri kok" Larangku padanya.


Aku berjalan cepat menuju pintu Lift.


Saat pintu terbuka aku segera masuk. dan tanpa sengaja dua orang karyawan berbincang sesuatu yang sedikit samar ku dengar.


"Katanya bu Ayu kemarin berkunjung ke penjara ya? pasti bertemu pak Broto."


"Kalau sampai pak Sandy tahu. Wahh! akan ada perang besar" tukas salah satunya sambil berjalan menuju Lift lainnya yang terletak tepat di samping sebelah kiri Lift yang ku naiki.


Aku menatap keduanya cepat. namun sayangnya pintu Lift sudah lebih dulu tertutup. hingga aku tak dapat melihat wajah kedua orang itu.


"Bu ayu menemui Pak Broto? untuk apa? " aku bergumam ragu.


Ada hubungan apa sebenarnya antara mereka berdua. jujur aku sangat penasaran. tapi sayangnya sidang pak Broto masih seminggu lagi di gelar.


Selama ini aku hanya menerka-nerka saja, hubungan antara Bu Ayu dan pak Broto. selain urusan bisnis adakah hal lain? apa mereka berdua berencana mengulingkan mas Sandy dari perusahaan? jika memang iya, tentu itu benar-benar keterlaluan.


Atau mungkin juga, Pak Broto meminta bantuan kepada bu Ayu Untuk lepas dari jeratan hukum yang sudah ada di depan matanya. Hal ini sungguh sangat membingungkan. Mereka berdua pasti sebenarnya memiliki urusan penting. bukan sekedar rekan bisnis saja.


Aku terhenyak saat pintu Lift terbuka, ku lihat Anwar berdiri disana.


"Eh ibu Presdir? kenapa tiba-tiba ada di kantor?" tanyanya.


"Saya mau menemui mas Sandy."


"Oh, bapak masih di ruang Meeting bu, silahkan!" tukasnya memberi jalan.


Tanpa basa basi aku bergegas menuju Ruangannya. tampak Nita terlihat kaget dengan kedatanganku.


"Bu Alis," tukasnya seraya bergegas menghampiriku.


"Nita, apa pak Sandy masih lama?"


"Mungkin 10 menitan lagi bu. saya sudah bilang ini darurat. tapi bapak sepertinya tak ingin di ganggu. ada klien besar yang akan berinvestasi diperusahaan bu. mungkin itu sebabnya. "


"Oh begitu ya..." desahku lesu. padahal sebenarnya keluarga lebih penting. tapi mas Sandy malah meminta untuk tidak di ganggu. jujur aku kecewa. bagaimana jika telepon tadi itu dariku? bagaimana jika aku sendiri yang mendapatkan musibah. apa dia juga akan menolak untuk menjawab teleponnya. mas Sandy keterlaluan! gerutu dalam hati.


"Terus gimana kabar bu Ayu sekarang,bu?!"

__ADS_1


"Dia masih belum sadar." gumamku


"Alis? kamu disini? ada apa?" Rahma yang baru keluar dari ruang Meeting segera mendekat.


"Bu ayu, masuk rumah sakit." tukas Nita mewakili.


"Nah kan. kena batunya! Abisnya suka jahil sama kamu sih." tandas Rahma.


"Hussss! kamu gak boleh gitu. biar bagaimanapun dia itu tante dari bos kamu!" sanggah Nita lagi.


"Apa mas Sandy masih lama?" aku menatap Rahma tak sabar.


"Sepertinya sebentar lagi keluar ruangan." gadis itu menoleh ke arah pintu ruang Meeting.


"Ibu mau masuk ke dalam atau menunggu disini saja? biar saya buatkan teh?" tukasnya.


"Gak usah. saya tunggu di dalam saja." aku segera masuk.


Aku berjalan mondar-mandir tak tenang.


Kenapa mas Sandy begitu lama. batinku


"Sayang..! kata Nita kamu kesini sendirian. ada apa?!" mas Sandy tampak kaget.


Aku mendengus ketus karena kesal menunggunya.


"Kenapa mas Sandy mengabaikan telepon dari saya?!" cercaku


Mas Sandy mendekat dan menatapku lekat.


"Ada hal apa sampai kamu datang kemari?" tanyanya


"Bu Ayu jatuh mas, dia di rumah sakit sekarang!" jelasku.


"Kamu serius?!" mas Sandy menatapku tak percaya.


"Apa dokter Hasan tak memberi kabar?" tanyaku lagi.


Mas Sandy segera merogoh ponselnya. namun sepertinya dia melupakan benda itu. aku pun ikut mencari. tentu saja, ponselnya ada di atas meja kerjanya. sudah pasti mas Sandy tak akan tahu jika ada yang menelpon.


Mas Sandy berlari kecil menyabet ponselnya dan melihat pesan masuk dengan segera.


"Kita ke rumah sakit sekarang!" ajaknya berubah panik.


Melihat perubahan wajah mas Sandy, Akupun jadi ikut cemas. apalagi sejak tadi, aku belum mendapatkan kabar dari dokter Hasan meski aku mencoba menanyakan kondisi bu Ayu.


"Pelan-pelan.." mas Sandy menahan tubuhku yang hendak duduk di kursi. karena terlalu panik membuatku lupa jika aku tengah hamil.


"Saya khawatir sama bu Ayu mas." jelasku.

__ADS_1


"Tenang saja. dokter Hasan sudah menanganinya." mas Sandy mencoba menenangkanku. meski tak dapat di pungkiri dia juga terlihat Khawatir.


•••


Setibanya di rumah sakit, aku dan mas Sandy segera turun dari dalam mobil menuju salah satu ruangan yang sudah diberitahukan oleh dokter Hasan sebelumnya.


"Semoga bu Ayu baik-baik saja." aku bergumam diselingi doa-doa singkat.


"San,.." Dokter Hasan memanggil kami dari salah satu ruangan.


Aku dan mas Sandy bergegas mendekat. Kami masuk ke dalam ruangan itu, ku lihat bu Ayu tampak terbaring dengan selang infus di tangannya dan juga sebuah alat bantu pernapasan.


"Bagaimana kondisinya,dok?" tanya mas Sandy menatap cemas pada tantenya.


Biar bagaimanapun juga bu Ayu tetaplah keluarganya. meski mas Sandy begitu cuek, nyatanya dia tetap khawatir jika sudah melihat kondisinya seperti ini.


"Sepertinya Ayu jatuh cukup keras, apalagi tekanan darahnya tinggi. ini hasil pemeriksaan CT Scan. Ada gegar otak ringan dikepalanya. mudah-mudahan saja setelah sadar, kondisinya bisa membaik." jelasnya.


Mas Sandy menghela nafas dalam. dia kembali menatap bu Ayu. lalu berjalan pelan mendekati ranjangnya. ku ikuti langkahnya.


"Tante, bertahanlah! tante pasti akan sembuh" tukas mas Sandy.


Aku terenyuh. pada akhirnya mas Sandy luluh juga dan tak lagi keras kepala terhadap tantenya.


"Saya serahkan semuanya pada dokter. lakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan!" pinta mas Sandy.


"Kamu tenang saja san. ini sudah jadi tanggung jawab saya sebagai dokter keluarga Hadiwijaya." jelasnya.


"Biar bagaimanapun dia tetap bagian dari keluarga Hadiwijaya. meski saya tetap tak suka dengan apa yang dilakukannya selama ini." ucapnya dingin.


"Kamu harus memakluminya san. tante kamu ini tak memiliki keluarga selain papamu dan kamu. jadi wajar jika dia merasa cemburu karena kesepian." jelas dokter Hasan lagi.


"Dokter benar, dia lebih menyukai dunianya yang sunyi. dia sama sekali tak membiarkan orang lain masuk ke dalamnya." gumam mas Sandy.


"Ya sudah, lebih baik kita biarkan dia istirahat sebentar." ajak dokter Hasan sembari keluar dari ruangan pasien.


Kami bertiga mengobrol banyak hal tentang kondisi tante Ayu. Sejujurnya aku ingin sekali bertanya soal foto yang ku temukan itu. tapi sayangnya, kesempatanku untuk bertanya selalu tak kesampaian. Dan lagi, soal Bu ayu yang menemui pak Broto di penjara. apa mereka berdua tahu tentang hal itu?Tapi pada akhirnya aku lebih memilih untuk mendengarkan obrolan mereka saja.


"Mas, kalau mas Sandy masih banyak pekerjaan lebih baik mas Sandy kembali ke kantor aja. biar saya disini mas. saya khawatir dengan bu Ayu." saranku saat menyadari jika ponsel mas Sandy terus berdering. dan itu pasti dari kantor.


"Enggak. kamu gak boleh sendirian disini. kamu sedang hamil." larangnya.


"Gak apa-apa kok mas. lagipula saya hanya tinggal duduk saja. jika ada apa-apa,kan masih ada dokter Hasan." jelasku.


Mas Sandy menatap kami cemas.


"Pergilah! Saya akan meminta suster untuk menemani Alis disini." tukas dokter Hasan memastikan.


"Baiklah. saya akan segera kembali. kamu jangan kemana-mana!" perintahnya.

__ADS_1


Aku mengangguk patuh. membiarkan mas Sandy pergi meninggalkan rumah sakit. dia pasti sangat kelelahan. tapi pikiran dan tubuhnya harus rela terbagi dalam. kondisi seperti ini.


• • • • • • • • •


__ADS_2