PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•13


__ADS_3

"Memangnya mas Sandy tahu dari mana kalo mas Sandy sembuh,akan ada banyak orang yang kecewa?!" tanyaku sembari sibuk merapikan tempat tidurnya yang belum sempat ku sentuh.


"Ya mungkin salah satunya yang bekerja sama saya!" Celetuknya santai.


Aku menoleh kasar,


"Mas Sandy kalo becanda,gak lucu ya!" Desisku ketus.


"Kenapa? bener kan? salahnya dimana?" tukasnya merasa apa yang barusan dia ucapkannya adalah benar.


"Ya,kalo mas Sandy bilang begitu jelas salah lah. Mas Sandy gak bisa menyamaratakan sifat seseorang!" protesku tak suka.


"Lantas?!"


"Saya yang merasa sebagai orang yang bekerja untuk mas Sandy, justru akan sangat senang kalo mas Sandy sembuh! itu artinya pekerjaan saya selama satu bulan ini tidak sia-sia!" tandasku.


Sebenarnya Pemikiranku cukup sederhana,jika sudah tak bekerja disini lagi. maka aku hanya perlu mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidup dan memenuhi kebutuhan Anakku Satu-satunya.


"Jadi,Teh Lis lebih suka saya sakit apa sembuh?" tanyanya ngotot seakan tak puas dengan jawabanku.


Aku mengerutkan dahi, pertanyaan yang cukup konyol yang keluar dari pemuda berusia 29 tahun itu membuatku tak kuasa menahan tawa.


"Hahaha.. Mas Sandy ada-ada aja!" aku merapikan selimutnya dengan segera.


"Kenapa ketawa teh? teh Lis gak bisa jawab pertanyaan saya?!" Mas Sandy meletakan Roti yang digigitnya.


Aku menoleh kearahnya tanpa menjawab pertanyaan barusan. Dan sesungguhnya pertanyaan itu tak memerlukan jawaban.


"Ayo jawab teh? Teh Lis lebih suka liat saya sakit apa sehat?!!" sambungnya lagi setengah memaksa.


"Saya bukan orang jahat Mas,dan saya lebih suka kalo liat mas Sandy sembuh. Meskipun saya menyukai pekerjaan ini!" sejujurnya kata-kata terakhir dari bibirku barusan terasa sangat berat.


Biar bagaimana pun Aku sangat suka bekerja disini. meskipun hanya satu bulan. tapi entah kenapa,semuanya terasa nyaman dan tak membuatku tertekan seperti saat aku bekerja sebagai buruh pabrik.


Mas Sandy terlihat menyunggingkan seulas senyuman. Entah apa yang ada dibenaknya. mungkin baginya aku sangat membutuhkan pekerjaan ini. dan tak yakin jika diluar sana aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.


"Ya itu artinya, jauh di dalam lubuk hatinya teh Alis lebih suka liat saya terus-terusan sakit!" Mas Sandy kembali melahap rotinya dengan santai.


Aku menatapnya Aneh. Pemuda yang katanya bergelar Master Business of economics ini pasti sedang bercanda. Dia jelas tahu apa yang dia katakan itu bertolak belakang dengan jawabanku. Tapi untuk apa dia mengajukan pertanyaan aneh dan berbelit belit begitu? sangat tidak biasa.


"CkCkk! Gak gitu konsepnya mas,kalo saya berdebat sama mas Sandy. kerjaan saya gak bakalan selesai tepat waktu!"


gerutuku.

__ADS_1


"Saya permisi keluar!" pamitku meninggalkan kamar mas Sandy. Aku berjalan pelan menuruni anak tangga.


Sebulan ini Mas sandy memang sangat bergantung padaku. Semua yang dia butuhkan Akulah yang menyiapkannya tanpa terkecuali. Lalu bagaimana jika nanti aku sudah tak bekerja lagi pada keluarganya? Kontrak kerjaku hanya sampai mas Sandy pulih.


Aku duduk di salah satu anak tangga, dan akhirnya pikiranku pun dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu. Apakah nanti aku akan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan pekerjaanku saat ini?


Gaji yang besar, majikan yang baik serta pekerjaan yang tidak terlalu berat.


Aku menghela nafas dalam,aku bangkit dan melangkah menuruni anak tangga dengan lesu karna terganggu dengan pemikiran ku sendiri.


"Hey! Nama kamu siapa?!" suara aneh itu terdengar jelas membuat aku terhenyak. aku menoleh kaget kearah bawah. pemuda yang bersama Bu Ayu tadi ternyata tengah berdiri memperhatikanku,entah sejak kapan.


"Bapak! saya pikir siapa!" Sahutku kaget.


"Kamu kok panggil saya bapak sih? emang saya Keliatan tua?" tanyanya dengan wajah seakan menggoda. Aku yang tak suka dengan gelagat nya itu mencoba untuk melarikan diri.


"Maaf pak,permisi! saya banyak kerjaan di dapur!" pamitku bergegas meninggalkan.


••


"Lis,kamu ngapain sih lari-lari? kaya liat hantu aja!" Bi Marni menatap aneh kearahku.


Aku mengatur nafas sembari duduk di kursi. sesekali kulihat kearah ruang tengah. takut jika pemuda itu mengikutiku.


"Masa sih Lis? emang tadi dia ngapain?" tanyanya penasaran


"Cuma nanya doang sih,tapi wajahnya itu loh bi.. bikin saya mules!" bisikku Hati-Hati.


Mendengar itu,bi Marni tampak menahan tawa nya. wanita paruh baya itu sepertinya sangat terhibur apalagi jika melihat aku yang mulai meracau karna panik.


"Ya sudah,kamu sembunyi aja disini. jangan keluar dari dapur! seperti nya mereka akan cukup lama disini." tukas bi Marni menerka-nerka.


Setelah cukup lama bercerita,akhirnya aku kembali melanjutkan pekerjaanku seperti biasanya ,membantu bi Marni merapikan rumah.


Sebelum pulang,Aku kembali ke kamar mas Sandy membawa susu dan kudapan untuknya serta obat yang harus dia minum sore ini.


"Permisi mas," Aku masuk dan meletakkan nampan di atas meja. Mas Sandy tampak duduk di atas tempat tidur dengan sebuah buku dipangkuannya. pemuda itu terlihat serius jika tengah membaca buku. seakan dia sedang tenggelam dengan dunianya sendiri.


"Teh,besok saya mau sarapan di bawah! jadi gak perlu bawain makanan ke kamar!" Tukasnya sembari fokus menatap bukunya.


"Mas Sandy yakin? emang kakinya udah kuat naik turun tangga?!" tanyaku khawatir.


Aku mendekat dan membawa kudapan lebih dulu untuk dimakannya. mas Sandy mengambilnya dan meletakkan bukunya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Kan ada kamu teh,kalo saya kenapa-kenapa itu sudah jadi tanggung jawab kamu lah. sebagai perawat saya!" Celetuknya tanpa rasa bersalah.


Aku menatapnya sinis,enteng sekali mas Sandy melemparkan semua tanggung jawab padaku.


"Tumben banget sih,mau sarapan di bawah mas?!" selidikku.


Entah kenapa,aku berfikir bahwa mas Sandy memiliki maksud lain soal keinginannya. atau mungkin dia pun menaruh curiga tentang sesuatu yang terjadi dirumah ini.


"Saya pegel duduk terus dikasur!" Sahutnya beralasan.


Aku mengulum senyum mendengar alasannya. ternyata mas Sandy juga orang yang sulit berbohong. jelas-jelas tadi pagi aku mengajaknya keluar dari kamar untuk sekedar berjalan-jalan ditaman. tapi akhirnya dia menolak. dan sekarang berubah pikiran lagi.


"Teh Alis seneng banget ngetawain saya! ketawa yang keras aja teh,gak apa-apa!" sindirnya.


Aku segera menutup mulut.


"Maaf mas,saya gak bermaksud ngetawain mas Sandy kok. perasa banget jadi orang!" cibirku.


"Terus maksudnya apa? saya kan bukan badut. kenapa ketawa?!" selorohnya lagi.


"Tuh liat! makanannya jatuh ke bawah! nanti ngundang semut mas! mending mas Sandy makan aja yang bener!" sindirku sembari membersihkan remahan kudapan yang jatuh tercecer diatas selimutnya. saat ini jarak kami begitu dekat, membuatku bisa mencium aroma parfum yang dipakainya.


Seketika itu juga aku tersadar bahwa aku sudah kelewatan,Aku bergerak menjauh.


"Maaf mas," selaku.


"Kok minta maaf lagi? kenapa?!" mas Sandy menatapku bingung.


"Hh,itu.. saya ambil dulu obatnya!" Aku mendekati meja, mengambil beberapa obat untuk mas Sandy.


"Ini mas obatnya. jangan lupa diminum!" aku meletakannya di atas nakas.


"Teh Alis mau pulang?"


"Iya mas,udah sore juga! takut keburu ujan!" Sahutku pamit.


Ku lihat mas Sandy menatap dengan tatapan aneh sepeninggal ku.


••


"Ada banyak hal yang akan terasa janggal,saat kita mulai memikirkannya. dan akan terlihat Biasa saja,saat kita tidak sengaja mengabaikan nya."


Aku kembali ke rumah dengan sisa lelahku. mataku menangkap sosok mungil itu tengah duduk di teras menanti kedatanganku.

__ADS_1


__ADS_2