PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•173


__ADS_3

Ku putuskan untuk menandatangani kontrak kerja itu, toh kerjasama ini hanya berlangsung selama satu tahun saja. dan proses kegiatan pemotretan serta promosiny hanya satu bulan. bagiku itu tak masalah.


Daripada harus menunjukkan ketidakprofesionalanku dalam bekerja. lebih baik ku uji saja suamiku ini. terdengar jahat, tapi bukankah itu yang wanita butuhkan? pengujian terhadap laki-laki yang akan menjalani hubungan dengannya seumur hidup.


Jika memang mas Sandy dan Vina tak bisa profesional, atau bahkan mereka kembali menjalin hubungan dibelakangku. berarti selama ini, aku memang tak pernah ada di hatinya.


Aku berdecak ngilu, berani sekali diriku ini mengambil keputusan seperti itu. menguji kesabaran sendiri lewat suamiku.


Tapi apa boleh buat, tandatanganku sudah tercetak di atas kertasnya.


"Sayang, apa sudah selesai?" tanya mas Sandy cepat.


Aku bangkit dan menghampirinya.


"sudah mas, tinggal mas Sandy tanda tangan saja!" sahutku seraya membuka dokumen itu.


"Wah, posisi saya sepertinya mulai terancam!" goda Nita.


"Kamu jangan begitu, saya ini masih perlu belajar banyak dari kamu Nita."


"Baiklah! sudah." Mas Sandy segera menandatangani kontrak kerja itu bahkan tanpa membacanya. mungkin karena dia sangat percaya padaku.


"Bapak gak baca dulu?" seloroh Nita.


Mas Sandy melirik padaku sekilas.


"Saya percaya pada istri saya!'' sahutnya tersenyum penuh keyakinan.


TOK..


TOKK..


"Permisi pak! perwakilan dari MEGA.Models sudah datang!" tukas Rahma pelan.


"Mega.Models?!" mas Sandy menatap Nita penuh tanya.


"Maaf pak! saya lupa bilang, barusan sekali pihak dari singapura membatalkan rapat pagi ini ke jam sore dan digantikan oleh Pihak Mega.models atas saran bu Ayu." Jelas Nita hati-hati


Mas Sandy memejamkan mata menahan kekesalan.


"Mas, Lebih baik kita segera ke ruang rapat! jam 11 nanti Mas Sandy masih ada peninjauan ke pabrik 'Kan?!" tukasku mengingatkan.


Kami bertiga bergegas menuju ruang rapat. Sejujurnya perasaanku sekarang jadi sangat gugup karena hal ini.

__ADS_1


Setibanya di ruang Rapat, kami di kagetkan dengan kehadiran Vina dan bu Ayu serta beberapa orang lainnya yang ku pikir adalah perwakilan dari MEGA.Models.


Mas Sandy menghentikan langkahnya sejenak. lalu beralih menoleh pada Nita yang ada di belakangnya.


"Selamat pagi pak Sandy!" tukas salah seorang pria jangkung berpenampilan flamboyan dengan kemeja bermotif bunga tulip yang di balut dengan jas berwarna hitam.


"Selamat pagi! silahkan duduk!" mas Sandy segera menarik kursi untukku dan kemudian diapun duduk.


Ku lihat tatapan Vina begitu tak suka dengan sikap perhatian mas Sandy padaku. itu yang ku rasakan barusan dari tatapan matanya.


"Perkenalkan saya Antonio, perwakilan dari pihak MEGA.Models dan ini model kesayangan kami, Vina Aurelia. saya rasa, pak Sandy sudah sangat kenal betul dengan model kami yang satu ini." tukasnya dibubuhi senyuman tipis


"Saya sangat terkejut, saya pikir rapat hari ini adalah dengan pemegang saham dari singapura!" mas Sandy menatap bu Ayu tajam.


"Itulah gunanya mempekerjakan orang yang kompeten di banding orang yang bekerja hanya dengan intuisi saja," seloroh Bu Ayu menatapku dengan senyum yang menegaskan bahwa kalimat itu dia tujukan padaku.


"Mempekerjakan yang kompeten juga sangat berbahaya jika dia terlalu berambisi!" sindir mas Sandy.


Seisi ruangan jadi canggung dan hening. semua orang tentu tahu bagaimana permusuhan antara keponakan dan tantenya ini, tak bisa di hindari.


"Lebih baik kita langsung saja pada pokok pembahasan! jadwal saya masih sangat padat siang ini." seloroh Vina mencoba menengahi.


Vina pun tentu merasa tak enak hati dengan situasi ini, Tapi untunglah dia sangat pintar dalam mengendalikan keadaan.


"Ekehm.. Baiklah! tanpa perlu berlama-lama saya akan menjelaskan maksud dan tujuan kerjasama kita disini!" Antonio bangkit dan memulai persentasi.


Menjadikan Vina sebagai model utama untuk mempromosikan produk dari PT. ASTRA tentu merupakan salah satu cara jitu untuk menarik para konsumen. akupun sebagai orang awam sangat kagum dengan cara mereka mempresentasikan tentang visi dan misi mereka dalam kerjasama ini.


"Kenapa Harus Vina? model di atensi kami memang banyak. merekapun sudah memiliki jam terbaik yang sangat padat. kebetulan, Vina baru tiba dari luar negeri. dia ingin menjajah dini perikanan di kota ini. dan kami yakin, produk anda akan meningkat pesat bersama kami!" imbuh Antonio dengan penuh percaya diri.


Semua orang bertepuk tangan. ku lirik mas Sandy yang hanya memberikan tanggapan yang biasa saja.


•••


"Kerjasama kita kali ini pasti akan sangat menyenangkan!" seloroh vina seraya berjabat tangan dengan mas Sandy. ku lihat mas Sandy tampak tak nyaman dan segera melepaskan jabatan tangannya.


Entah aku harus bersikap senang atau malah khawatir dengan pertemuan mereka. tapi aku yakin, jika mas Sandy bukan pria yang akan dengan mudah membagi perasaan. meskipun wanita itu pernah menjadi masalalunya.


Selesai rapat, Vina dan Antonio pamit meninggalkan ruang meeting. tinggallah aku, Nita mas Sandy juga bu Ayu.


Nita sibuk membereskan berkas, karena tak nyaman berdiam diri Akupun membantunya.


"Apa maksud tante melakukan semua ini?!" celetuk mas Sandy tiba-tiba.

__ADS_1


"Kenapa? apa kamu keberatan? kenapa tak bicara sejak tadi? apa kamu merasa tak enak pada Vina?" sindirnya.


"Tante pasti sengaja kan? tante ingin dia kembali kemari?" desaknya.


"Ini bisnis san, kamu tak perlu berpikir berlebihan. kecuali jika kamu memang berpikir seperti itu, ini bukan salah tante." bu ayu tersenyum penuh kemenangan.


Nita menoleh pelan padaku. dia pasti takut aku merasa tak nyaman dengan perdebatan mereka. jelas yang mereka bicarakan itu Vina. gadis di masa lalu mas Sandy.


"Seberapa kuat pun tante berusaha percuma saja. itu tak akan merubah segalanya." Mas Sandy bangkit dan menarikku untuk keluar dari ruangan itu.


"Mas,.." sergahku pelan. namun mas Sandy tak menggubris dan terus menyeretku masuk ke dalam ruangan pribadinya. beberapa karyawan melihat ke arah kami.


"Masuk!" perintahnya sinis. dan dengan segera mas Sandy menutup pintu.


Aku menatapnya kaget.


"Apa kamu sengaja menandatangani kontrak kerja itu? kenapa kamu gak bilang? kamu sengaja ingin mempertemukan saya dengan Vina?!" desak mas Sandy dengan tatapan kecewa.


"Iya. lagipula saya pikir, itu hanya sebuah kerjasama bisnis. tak ada salahnya kan mas?" selorohku membela diri.


Mas Sandy berdecak kesal seraya mengulur ikatan dasinya.


"Kamu sama saja dengan tante Ayu." Mas Sandy berjalan cepat menuju kursinya dan duduk sembari memejamkan mata.


Aku berlari kecil menghampirinya.


"Tapi mas, bukankah sudah jelas. Vina itu model berpengalaman dia bisa mendongkrak harga pasar. semua perusahaan besar banyak yang sudah bekerja sama dengannya. apa salahnya kita mencoba?" saranku yang memang masih ngotot mempertahankan kerjasama ini.


"Baiklah,.. semuanya terserah kamu! sayangnya saya tak bisa menolak." keluhnya mengalah.


Aku tersenyum lega.


Ku kalungan kedua tanganku dibahunya.


"Saya yakin, mas Sandy bisa menyelesaikan semua masalah dan ketakutan mas Sandy selama ini." bisikku yakin.


Aku tahu mas Sandy tak ingin kembali melihat masalalunya. aku tahu mas Sandy berusaha sekuat tenaga untuk menghindari Vina. tapi itu bukan jawaban, itu bukanlah jalan terbaik untuk keluar dari masalalu.


Perasaan takut dan kecewa sudah menghantuinya selama bertahun-tahun. dan bukankah cara menghilangkan rasa takut, adalah dengan menghadapinya?


Meski terdengar klise, nyatanya mas Sandy tak punya pilihan lain saat ini selain bertemu kembali dengan Masa lalunya.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2