
Bagiku semua pekerjaan sama saja, pasti memiliki resiko apapun itu.
Sebagai seorang Ibu tunggal,Aku harus bisa memilih pekerjaan yang menguntungkan posisiku. Sehingga aku bisa bekerja sembari mengurusi anakku Andi. Aku bukan termasuk wanita yang cerdas dalam segala hal,tapi aku juga bukan wanita yang tak bisa melakukan apa-apa.
Saat bekerja sebagai buruh pabrik, aku belajar banyak hal. soal pekerjaan,soal pertemanan dan banyak lagi hal lainnya. Tapi Karna satu alasan,aku harus meninggalkan pekerjaan itu dan mencari pekerjaan lain yang lebih tidak memberatkan bebanku.
Membagi waktu antara pekerjaan dan mengurusi anak adalah dua hal yang harus benar-benar ku atur dengan baik. Karna jika aku lalai dalam bekerja maka imbasnya adalah anakku yang juga akan terabaikan.
Dan selama hampir 4 minggu ini bekerja di Rumah Mas Sandy membuatku mampu mengatur waktu antara pekerjaan dan anak. Pekerjaan ku pun tak terlalu berat Hingga aku bisa memiliki waktu dan tenaga lebih untuk bercengkrama bersama Putraku.
Sejujurnya,saat awal aku bekerja dan mengurusi Mas Sandy. Aku tak yakin akan kemampuanku dalam menghadapi pasien Yang sedikit tak Sabaran dan pemarah. Aku takut jika aku tak mampu untuk bertahan selama satu bulan.
Tetapi,saat itu tawaran dari Bu Ayu benar-benar membuatku kalap dan menerima pekerjaan itu begitu saja. Gaji yang besar serta pekerjaan yang 'Mudah' membuatku tak memikirkan resiko apapun. Demi memenuhi kebutuhan sekolah Andi tentu saja,aku mengabaikan beberapa hal penting dalam memilih pekerjaan.
Seorang wanita mengurusi seorang pemuda dalam kurun waktu satu bulan, jika tidak terjadi apa-apa bukankah itu hal yang aneh?!
Mungkin jika seorang gadis yang belum menikah akan merasakan Hal-Hal lain. tapi bagiku perasaan itu adalah 'kecemasan' serta 'ketakutan'. Karna pada dasarnya Anggapan setiap orang pasti akan berbeda-beda.
Bagiku,Mas Sandy adalah orang yang baik meski sifat menyebalkan lebih dominan. Dan sifat menyebalkannya terlihat saat dia berkata bahwa dia tak ingin aku pergi.
Aku tak menangkap maksud apapun dari ucapannya itu,Selain Mas Sandy belum siap jika harus melakukan semuanya seorang diri. Karna dia terbiasa bergantung padaku,dari hal-hal kecil sekalipun. Mungkin dia bukan tipe orang yang mudah menerima kehadiran orang lain, terbukti saat dia tak mampu beradaptasi dengan beberapa perawat sebelumnya. padahal mereka memiliki keahlian yang mumpuni dibidang keperawatan. Tapi pada kenyataannya Mas Sandy merasa tak nyaman dan mengusir mereka pada akhirnya. Dan Pertama kalinya Mas Sandy bisa menerima perawat dari kalangan orang biasa sepertiku,sehingga pantas saja dia tak mau melepasku begitu saja.
Ada rasa haru saat orang yang kita urus hanya dalam waktu beberapa bulan saja merasa nyaman dan tak ingin kita tinggal. Tapi juga hal itu menjadi beban tersendiri bagiku.
•••
Aku tersenyum,ku dekati mas Sandy.
"Mas Sandy gak usah khawatir, kan masih ada Bi Marni? Lagian kata Bu Ayu tugas saya hanya sampai mas Sandy sembuh aja! setelah itu, saya bebas." Aku menatapnya yakin. tapi tidak dengan Mas Sandy,dia seakan benci dengan jawaban ku.
__ADS_1
"Itu artinya teh Alis gak tanggung jawab!" Desisnya melirikku sinis.
Tatapanku kini menjadi heran. kenapa pemuda ini bersikap melow dan kekanak-kanakan. dia tak sadarkah dengan usianya yang hampir menginjak Usia 30 tahun? atau dia tak merasa malu dengan sikapnya itu terhadapku? meskipun Aku yang merawatnya selama sakit,tapi tetap saja aku ini orang lain Yang tak pantas dia perlakuan begitu.
"Mas Sandy jadi kaya anak kecil!" Aku tertawa geli.
"Teh Alis gak lihat, kaki saya masih sakit dan lagi masih harus menggunakan tongkat untuk bisa jalan. setidaknya tunggu saya sampe benar-benar sembuh total!" Protesnya sembari menunjukan sebelah kakinya yang masih di perban.
"Iya saya tahu mas,saya juga gak akan pergi sekarang kok. hanya saja waktu kerja saya kan cuma sebulan,yah kalo bu Ayu gak puas sama hasil kerja saya bisa saja saya dipecat dan di ganti! iya kan???"
"Gak ada yang bisa mecat kamu selain saya teh! jadi kamu gak usah ngancam ke saya dengan alasan habis kontrak!" Desisnya ketus
Aku mengernyitkan dahi bingung. apalagi ini? kenapa dia berfikir bahwa aku mengancamnya? apa ada dari perkataanku barusan yang merupakan bentuk ancaman terhadapnya???
"Ya udah,gak usah berdebat lagi. Sekarang mas Sandy sarapan dulu. obatnya harus tetap diminum mas!" sindirku
"Kamu jangan ngelantur teh! saya memang males aja minum obat! saya lagi banyak fikiran." selanya membela diri.
"Ya Itu urusan mas Sandy lah. saya disini cuma ngurusin makanan sama obat-obatan mas Sandy aja!" sahutku.
"Saya banyak pikiran juga karna kamu teh!" lanjutnya sedikit pelan,tapi aku bisa mendengar jelas apa yang dia ucapkan barusan.
"Iih kok saya sih mas? apa hubungannya?!" protesku tak terima.
"Udahlah saya pusing! mana sarapannya!" pintanya mengakhiri obrolan kami yang tak jelas arahnya itu.
Aku mendengus kesal karna omongan nya yang tak masuk akal barusan.
Ku mengambil nampan dan segera membawanya ke atas tempat tidur.
__ADS_1
Baru beberapa hari kemarin dia mau makan di kursi tapi sekarang kembali menghabiskan sarapannya diatas tempat tidur. benar-benar kelakuan yang aneh dan tak beraturan.
Aku melanjutkan kembali tugas ku Yang sempat tertunda barusan. kali ini kamar terasa sepi karna Mas Sandy fokus dengan sarapannya. sementara aku sibuk dengan pekerjaanku.
Sesekali ku lihat dia lewat sudut mataku. Mungkin Mas Sandy memang butuh seorang teman untuk sekedar menemaninya di saat bosan. sehingga jika ada kesempatan dia selalu mencari celah untuk berdebat denganku meskipun itu perkara sepele. Sebenarnya aku benar-benar kasihan pada Mas Sandy tapi dia tak suka jika ada orang yang menunjukkan sikap itu didepannya. dan aku tak ingin mengecewakan nya lagi.
Jika di ingat-ingat memang tak pernah ada teman yang berkunjung ke rumah ini selama dia sakit.
TOK.. TOK.. TOK...
Ketukan pintu membuatku dan mas Sandy menoleh bersamaan. kebetulan pintu kamar memang sengaja tidak ditutup sehingga siapapun bisa leluasa masuk. ku lihat bu Ayu membawa sebuah laptop dan ponsel.
"Sandy,kamu jangan marah! tante harap kamu tidak tersinggung dengan ucapan tante. tante minta maaf!" Bu Ayu mendekat. Aku yang mendengar obrolan mereka hanya bisa berpura-pura tuli saat ini dan tetap fokus bekerja.
"Ini ponsel baru, semuanya sudah tante bersihkan! termasuk soal Vina!" jelasnya
Mas Sandy terlihat diam dan hanya fokus mengunyah makanannya.
"Teh, lain kali gak usah pake bawang bombay. saya juga gak suka!" tukas mas Sandy menoleh kearah ku.
"Iya Mas," jawabku ragu.
Bu Ayu menoleh pelan kearah ku seakan menyadari jika Mas Sandy tak ingin berbicara dengannya.
"Ini juga laptop kamu. semua file kerja kamu ada disitu. kamu bisa cek semua hasil kerja kantor! tante gak mau kamu berfikiran bahwa tante ingin mengambil keuntungan dari kondisi kamu sekarang! tante memanggil Ivan karna memang dia memiliki kinerja bagus. bukan yang lainnya." Bu Ayu bangkit dan meningggalkan kamarnya begitu saja.
Aku menatap Iba pada Mas Sandy yang kini hanya diam mematung. Yang ku benci kali ini adalah,aku tak bisa melakukan apapun untuk menghiburnya.
• • • • •
__ADS_1