
Kami bertiga duduk saling berhadapan di sebuah resto tak jauh dari taman.
Aku duduk tak jauh dari mas Sandy. sementara Rahma masih menatap kami berdua dengan penuh rasa penasaran.
Aku mengelus keningku yang baru saja di beri plester luka oleh mas Sandy.
"Kenapa? kamu pusing?"mas Sandy menatapku cemas.
"Enggak kok mas!" Elakku tak enak pada Rahma.
"Jadi, kalian berdua udah pacaran? sejak kapan? dimana kalian bisa mengenal satu sama lain? maaf pak kalau saya lancang. saya bertanya begini, Karna Alis teman baik saya!" selorohnya.
Aku menatap nanar pada Rahma. bukankah disini yang bermasalah adalah dirinya. tapi bisa-bisanya dia malah lebih terfokus pada hubungan kami berdua.
Aku dan mas Sandy saling melempar pandangan bingung. bahkan kami belum memiliki ide untuk menjawabnya.
"Iya,seperti yang kamu lihat sekarang!" celetuk mas Sandy sembari merangkul pinggangku.
Aku memalingkan wajah Karna malu oleh tingkah polosnya. seharusnya mas Sandy bilang saja jika kita berdua ini hanya majikan dan bawahan.
"Seriusan Lis?!" Rahma menatapku penuh tanya. begitupun mas Sandy yang seakan mengancamku jika aku tak mengakui hubungan kami.
Dibawah tekanan kedua orang ini, akhirnya Akupun tak dapat mengelak. lagipula berbohong malah akan menambah masalah baru lagi.
"Hm," aku mengangguk pasrah.
"Tapi aku mohon,kamu jangan ceritakan semua ini pada siapapun. ini rahasia kita berdua!" Aku menatap Rahma penuh harap.
Rahma melempar pandangan pada mas Sandy.
"Kenapa? kenapa orang lain Gak boleh tahu kalau kalian pacaran? pak Sandy ngancam teman saya? atau jangan-jangan kalian hanya pacaran sebatas kontrak? keterlaluan!" desis Rahma menganggap mas Sandy seolah dalang dibalik semua tuduhannya itu.
"Kamu pikir wajah saya terlihat sejahat itu?'' tanyanya kemudian.
"Enggak sih pak," Rahma menyeringai malu melihat sikap ketus mas Sandy yang tak suka mendapat tuduhan seperti itu.
Aku hanya mampu menggaruk kepalaku Bingung.
"Jadi, siapa sebenarnya pria tua tadi? berani-beraninya dia mendorong kamu. dia pikir dia bisa lari dari saya!" desisnya geram.
Rahma tertunduk malu. tentu saja dia merasa tak enak pada kami berdua, terutama padaku. karna kelakuan ayah tirinya itu.
"Dia Papa saya pak!" akunya.
Mas Sandy menatap tak percaya dengan jawaban Rahma.
"Apa kamu bilang? Papa kamu?!" Mas Sandy menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Iya mas. Pria tadi itu namanya pak Anwar. dia papa tiri Rahma. sebetulnya Rahma sudah sering mendapatkan perlakuan kasar darinya. hanya saja Rahma tak sampai hati jika harus melaporkannya ke polisi." jelasku.
"Kalian para wanita memang terlalu banyak bermain perasaan. bahkan untuk hal-hal kasar seperti itu, kalian masih punya rasa tak tega!" tandasnya seakan menyayangkan sikap Rahma.
"Mas," Aku menyikut lengan mas Sandy. Ucapannya terdengar keterlaluan untuk Rahma yang memang tak bisa berbuat banyak dengan kondisinya sekarang.
"Lalu bagaimana sekarang? Apa kamu akan kembali pulang?!" tanya mas Sandy.
"Semua uang tabungan Rahma di ambil mas. dia juga harus membayar kontrakan rumahnya bulan ini. tapi saya pikir, jika dia pulang ke rumah. saya takut ayahnya akan kembali lagi kesana!" Aku menatap Rahma cemas.
Gadis itu hanya terdiam seolah buntu dengan masalahnya.
Mas Sandy tampak berpikir cukup lama.
"Kamu tinggal saja sementara waktu di mes kantor! bilang pada satpam saya yang suruh!" selorohnya.
Aku terkejut mendengar jawaban mas Sandy. tak terpikirkan olehku tentang hal itu. Ternyata mas Sandy memang sangat handal dalam membuat keputusan.
"Benar juga. kamu aman disana! lagipula papa tiri kamu Gak bakalan tahu dimana kamu tinggal? iya kan?" aku menatap yakin pada Rahma.
"Tapi pak,-" Rahma menatapnya ragu.
"Soal uang kamu yang hilang. biar saya ganti. tenang saja, saya gak akan kasih kamu uang secara cuma-cuma. kamu bisa bekerja di mes membantu OB disana. gaji kamu akan saya potong tiap bulan!" jelasnya lagi.
Kami berdua seperti mendapatkan angin segar setelah mendengar penjelasan mas Sandy.
"Terima kasih banyak pak atas perhatiannya!" Rahma tersenyum lega atas bantuan yang mas Sandy berikan.
"Permisi, ini pesanannya pak!" seorang pelayan membawakan menu makan siang untuk kami.
"Sekarang kamu Gak usah mikir apa-apa lagi. kamu harus makan banyak! biar Gak sakit!" aku menyodorkan beberapa menu makanan padanya yang langsung disambut antusias oleh Rahma.
Kami berdua tersenyum lega menatap gadis itu. Hari ini aku benar-benar dibuat takjub oleh sikap bijaksana yang di tunjukkan oleh mas Sandy. Kini aku tak perlu resah lagi memikirkan masalah yang akan datang. karna aku yakin, selama ada mas Sandy. dia mampu menyelesaikan semuanya dengan baik.
•••
"Kamu kenapa senyum-senyum begitu teh?" mas Sandy menatapku heran.
Sejak didalam mobil,aku memang tak henti menatapnya penuh kekaguman. Sikap laki-laki yang seperti ini ternyata masih ada didunia nyata. dan aku beruntung bisa berada disisinya sekarang.
"Saya sangat kagum dengan sikap mas Sandy barusan!" tukasku jujur.
"Sikap apa? yang mana?" mas Sandy menautkan kedua alisnya tak yakin.
"Saya benar-benar beruntung mas!"
CUP!
__ADS_1
Ku kecup pipinya secepat kilat. Mas Sandy tampak terkejut dan hanya mampu terdiam mematung dengan sikap tiba-tibaku itu.
"Bolehkah di Replay ?" godanya sembari mendekat seakan tak puas hanya dengan satu kecupan saja.
"Itu bonus!" tolakku seraya mendorong wajahnya agar menjauh.
"Don't act up like an ice cream, please!" mas Sandy mencubit gemas hidungku membuat kedua pipiku serasa terbakar.
Aku memalingkan wajahku seketika. Aku benar-benar tak bisa menahan diri jika mas Sandy terus-menerus menggodaku seperti barusan.
Mobil kami melaju menuju arah rumahku, di persimpangan jalan lampu merah menyala. Mobil kami pun berhenti menunggu kendaraan lain melintas. dan entah kebetulan atau tidak, saat aku menoleh ke arah kiri ku, ada seseorang yang aku kenal tiba-tiba membuka kaca mobilnya dan dengan santainya tersenyum ke arahku.
"Pak Ivan," desisku kaget.
Aku memalingkan wajah Karna kaget.
"Saya fikir, kamu tidak bekerja Karna pergi ke sekolah anakmu? ternyata kamu pergi berkencan?" sindirnya.
Kalimat satir itu dia lontarkan jelas untukku. dia pasti sudah mendengar dari Aisyah jika aku tak masuk hari ini karna menghadiri rapat Andi. Aku pun tak menyangka akan bertemu dengannya seperti ini.
Mas Sandy mencondongkan kepalanya dan melihat ke sisi kiri.
"Apa maksud ucapannya itu?" gumamnya tak paham.
Aku menggigit bibirku bingung. Bagaimana jika mas Sandy akhirnya tahu kalau aku sebenarnya bekerja di kedai milik pak Ivan.
"Hai san," Pak Ivan melambaikan tangannya santai untuk menyapa mas Sandy.
"Rapat hari ini batal? apa semua Karna wanita ini?" godanya tersenyum remeh.
"Jaga ucapanmu! jangan sampai apa yang kamu bicarakan, malah akan menyakitimu nantinya!" tukas mas Sandy dengan santainya.
Aku tak tahu apa sebenarnya yang terjadi pada kedua orang ini. mereka selalu saja melemparkan kalimat sindiran yang tak ku pahami.
"Sepertinya kamu tak tahu apa-apa soal Alis. san," sahutnya mencemooh.
Aku melotot tajam menatap Pak Ivan, sikapnya itu sungguh sangat kekanak-kanakan.
Mobil pak Ivan melaju kencang saat lampu merah sudah meredup. aku menoleh pada mas Sandy yang masih terpaku di tempatnya. Aku yakin dia terpengaruh oleh ucapannya barusan.
BIMPP!
Suara klakson dari arah belakang menyadarkan lamunannya.
Seketika itu juga Mas Sandy menginjak pedal gas dengan segera tanpa berucap sepatah katapun.
• • • • • •
__ADS_1