
"Kamu masa lupa jalan ke rumah sendiri teh!" gumamnya lemas.
"Ke rumah saya? tapi kan? saya bisa pulang sendiri kok!" tolakku tak enak hati.
"Neng Alis tenang aja, mungkin bapak lagi pengen jalan-jalan!" seloroh pak wahyu menengahi perdebatan kami.
Aku menoleh ke arah mas Sandy yang sepertinya tengah kelelahan karna berjalan seharian. tak tega juga melihatnya seperti ini.
"Bangunkan saya kalau sudah sampai!" gumamnya sembari memejamkan mata
Entah apa yang ada dibenaknya,hingga membeli banyak barang seperti ini untukku. lalu mengantarku pulang. perlakuannya ini membuatku semakin tak enak hati.
Apakah aku mampu membalas semua budi baiknya. batinku berkecamuk.
"Habis ini belok kiri ya neng?" tanya pak wahyu.
"Iya pak, maaf yah jalanannya sempit. dan hati-hati juga,soalnya banyak lubang-lubang besar pak." tukasku mengingatkan.
"Jauh juga ya neng jalannya!" tukas pak wahyu setelah melewati jalan raya dan masuk menuju gang sempit ke rumahku
Hampir 15 menit setelah melalui gang sempit itu, akhirnya kami tiba didepan rumahku. Ada beberapa tetanggaku yang memang biasa sedang bersantai sore hari didepan rumah mereka sambil berbincang-bincang. dan tentu saja mereka melihat heran kedatangan mobil mas Sandy. selama ini memang tak pernah ada mobil mewah parkir didepan halaman rumahku. begitupun Bu Dewi yang keluar dari dalam rumah karna mendengar suara deru mobil berhenti.
"Mas, kita udah sampe di rumah saya!'' bisikku padanya.
Mas Sandy mengerjap pelan,menggeliat malas lalu fokus melihat sekeliling.
"Benarkah sudah sampai?" tanya mas Sandy tak yakin.
"Iya, itu Andi anak saya!" tunjuk ku ke arah teras saat melihat Andi keluar dari dalam rumah.
Aku bergegas turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk mas Sandy sembari membantunya turun.
"Alis? kamu sama siapa?" tanya bu dewi menghampiri kami.
"Oh iya bu, ini majikan saya pak Sandy!"
"Selamat sore bu!" sapa mas Sandy.
"Sore pak Sandy. wah tampan sekali ya!" puji bu Dewi.
Aku menyeringai mendengar leluconnya itu.
"Mama...!" teriak Andi yang menghampiri ku.
__ADS_1
"Andi sayang, maaf ya mama pulang Telat!" tukasku memeluknya.
"Apa Andi biasa sendirian di rumah seperti ini?" tanya mas Sandy.
"Enggak kok. biasanya Andi ditemani sama bu dewi dan anaknya. kebetulan mereka teman sekelas." jawabku.
Tengah asyik berbincang Tiba-tiba Mas Erwin datang bersama pak Yanto. sepertinya mereka berdua baru saja pulang bekerja. keduanya menatapku dan mas Sandy aneh.
"Loh, pak Sandy ada disini?" seloroh pak yanto lebih dulu.
"Bapak kenal?" tanya bu Dewi.
"Ibu gimana sih, pak Sandy kan Bos besar di perusahaan tempat bapak kerja. Gimana kabarnya pak?" tanya pak yanto yang sepertinya sudah tahu kondisi mas Sandy.
"Seperti yang bapak lihat. saya baik." jawab mas Sandy kaku.
"Oh iya,kenalkan ini keponakan saya Erwin. dia baru datang dari luar kota dan sekarang sedang mencoba bekerja di perusahaan pak Sandy" jelasnya.
Mas Sandy dan Mas Erwin bersalaman dengan tatapan keduanya yang penuh keraguan.
"Maaf semuanya, hari sudah sore. lebih baik kita masuk ke dalam dan ngobrol didalam saja!" ajakku yang merasa tak enak karna menjadi pusat perhatian para tetangga. bahkan ada beberapa dari mereka yang terus berbisik dan membuatku tak nyaman.
"Kalau begitu. kami permisi. kebetulan saya belum mandi!" seloroh pak yanto. Mas Erwin tak banyak bicara dan hanya menatap asing ke arah mas Sandy.
"Ya sudah, mari bu. kita ke dalam saja!" ajakku pada bu Dewi.
"Mas Sandy mau langsung pulang?" tanyaku setengah mengusirnya. aku tak enak jika dia malah berlama-lama di rumahku.
"Kamu ngusir saya teh? didepan anak kamu? tega banget!" Tukasnya melas.
"Kenapa di suruh pulang om nya ma? ayo Om masuk!" Andi malah dengan entengnya menggandeng tangan mas Sandy dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
"Pak tolong bawa semua barang belanjaan nya kedalam!" perintahnya.
Aku menatap para tetannga yang masih melihat ke arah rumah kami. tanpa banyak bicara segera ku bantu pak wahyu membawa barang-barang belanjaan masuk ke dalam rumah.
"Terima kasih pak, ayo masuk dulu! saya buatkan kopi!" ajakku
"Gak usah neng, saya mau ke warung didepan aja. mau beli rokok!" pamitnya.
"Oh ya sudah. kalau mau bikin kopi bapak ke dalam aja yah! gak usah sungkan!" Pintaku.
"Iya, saya pamit." pak wahyu berjalan menuju warung kecil yang tak jauh dari gang rumah ku.
__ADS_1
Aku masuk ke dalam rumah, ku lihat Andi tengah asyik berbincang dengan mas Sandy. dia bahkan mengeluarkan sepatu yang pernah diberikan oleh mas Sandy padanya.
"Makasih banyak ya om, sudah kasih Andi sepatu sebagus ini!" Tukasnya.
"Kamu suka sepatunya? Kapan-kapan kita beli tas dan sepatu baru yah!" sahutnya antusias sembari mengusap lembut rambut Andi.
Entahlah, melihat mereka begitu akrab sungguh membuatku benar-benar merasa semakin bersalah pada Andi.
"Mas Sandy mau minum sesuatu? atau mas Sandy lapar? biar saya buatkan makanan?" tanyaku.
"Gak perlu teh! kamu juga pasti capek. istirahat aja dulu!" perintahnya.
"Ya sudah, saya pamit sebentar." aku meninggalkan keduanya menuju kamar untuk mandi dan berganti pakaian.
20 menit sudah aku selesai berganti pakaian. lalu aku beranjak ke dapur. ku tinggalkan Andi dan Mas Sandy di ruang tengah. mereka tampaknya sangat asyik mengobrol. sesekali ku intip keduanya yang tampak serius berbincang, bahkan Mas Sandy sangat aktif mengajaknya bicara, tentu berbeda dengan sosok mas Sandy yang ku kenal sebelumnya.
"Apakah sebenarnya dia sehangat ini?" Gumamku menatapnya dalam.
Aku menghela nafas lega,lebih baik ku fokuskan isi kepalaku membuat makan malam untuk keduanya.
"Ma! Apa Andi boleh buka semuanya?" teriak Andi.
Aku menghampiri keduanya dan duduk disamping Andi.
"Andi Minta ijin dulu dong, sama om sandy!" perintahku.
"Udah kok ma, katanya ini semua hadiah buat Andi karna udah jadi anak baik. selama mama kerja!" Tukasnya.
Aku menatap Mas Sandy terharu, sikapnya yang menghargai anakku itu benar-benar sangat menyentuh.
"Terus Andi udah bilang terima kasih nak?!" tanyaku setengah memerintah
"Terima kasih banyak om. kalau om kasih Andi banyak hadiah begini. Om boleh pinjem mama buat kerja lagi kok. Andi gak bakalan nangis!" celetuknya.
Mas Sandy terkekeh mendengar jawaban polos dari putraku. dan jujur baru kali ini aku melihat Mas Sandy tertawa lepas tanpa beban.
"Kamu yakin mau pinjamkan mama kamu sama om?" Godanya.
"Iya, karna om baik." Tukasnya polos.
"Andi sayang!" larangku
"Saya sudah dapat ijin dari Andi teh!" Timpalnya merasa menang.
__ADS_1
Dan Aku hanya bisa melirik sinis padanya.
• • • • • • •