PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•180


__ADS_3

"Permisi bu, ini makan siangnya?" suara Nita membuat Vina beranjak menyeka air matanya.


"Oh, makasih. tolong kamu simpan di meja saya saja ya!" sahutku seraya mengisyaratkan Nita untuk segera keluar.


"Baik bu. kalau begitu saya permisi." tukasnya cepat.


Aku kembali menatap ke arahnya. kali ini dia sudah tak menangis. namun tatapanya jelas menunggu jawaban dariku.


"Soal itu, saya minta maaf. sebaiknya kalian selesaikan sendiri." tandasku mantap.


Cukup sudah aku ikut campur dan terlibat ke dalam masalalu mas Sandy. mesikpun awalnya aku ingin tahu, tapi nyatanya semua itu hanya membuat hatiku tak tenang. memang lebih baik aku tak mengetahui tentang semua ini sejak awal.


"Aku tahu, masalalu kalian begitu rumit. tanpa penjelasan kamu memilih pergi. dan bahkan saat dia tengah terpuruk, tak ada seorangpun yang datang menyemangatinya. Aku bisa merasakan bagaimana kecewanya mas Sandy saat itu. Tapi, siapa tahu sekarang hatinya mulai melunak dan mau menerima kehadiran kamu lagi."tukasku dengan suara sedikit bergetar.


Barusan itu seperti aku sedang memberi ruang pada orang lain,untuk merebut suamiku sendiri. BODOHNYA! batinku.


"Tapi kamu gak marah kan? aku sama sekali gak punya niat apapun Alis. hanya sebuah permohonan maaf. itu saja." janjinya meyakinkan.


"Tenang saja, lagipula kalian berdua sudah sama-sama dewasa. akan sangat merugikan jika kalian berbuat tak baik dibelakangku." aku tersenyum simpul.


Dia tentu paham apa yang aku maksudkan. jika mereka menjalin hubungan dan membuat skandal, tentu taruhannya adalah reputasi mas Sandy dan Vina lah yang akan terancam jatuh.


"Tentu saja. kamu tak perlu khawatir soal itu." tandasnya serius.


Drrrtttt...


Drrrtttt...


Vina segera mengangkat panggilan teleponnya,


"Iya, oke!" gadis itu menutupnya segera.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Aku harus segera kembali ke studio. masih ada beberapa pekerjaan. kapan-kapan bolehkan aku mengajak kamu makan siang?" tukasnya tersenyum manis.


"Tentu saja. kapanpun boleh!" sahutku santai.


Gadis itu meninggalkan ruanganku setelah berpamitan. Kaku rasanya jika harus bersikap hati-hati seperti barusan. ku lirik makan siangnya yang tersimpan rapi di atas meja,kemana perginya mas Sandy. bukankah dia pamit untuk menelpon. tapi kenapa belum juga kembali? pikirku.


"Mas, kamu dimana? makanannya keburu dingin?" Ku tatap layar ponselku.


"Oke, saya kesana sekarang!" sahutnya cepat.


Mas Sandy masuk ke dalam ruangan, ku tatap heran dirinya.


"Kamu darimana mas? kenapa lama sekali?" Ku tarik sebuah kursi untuknya.


"Dari toilet," sahutnya enteng.


"Mas bukan sedang menghindari Vina kan?!" selidikku.


"Saya pikir, sebaiknya mas bicara langsung padanya. Vina bilang,mau minta maaf sama mas Sandy. tapi kalo sikap mas kaya gitu, Kasian juga." tuturku lagi.


Mas Sandy membuka makan siangnya dan terlihat cuek dengan apa yang ku sampaikan.

__ADS_1


"Mas,.." aku menukas seraya mengguncang lengannya.


"Biarkan saja. lagipula, pekerjaan saya lebih penting daripada harus memperhatikannya. dia sama sekali tak berubah! selalu ingin di utamakan. tanpa melihat bagaimana sibuknya orang-orang. harusnya juga kamu bilang, kita gak punya banyak waktu untuk. urusan kita sama dia cuma pekerjaan." tegasnya lagi.


Ku tatap mas Sandy ragu.


Ucapannya ini, entah dia benar-benar sudah malas pada Vina. atau...


"Kamu jangan berfikir macam-macam! saya tak mau berurusan lagi dengannya bukan karena menghindar. tapi saya tak mau kamu semakin dekat dengannya. saya tak ingin kamu terluka. diluar sana, pasti banyak orang yang akan memanfaatkan kehadiran Vina. membuat kamu tak nyaman" timpalnya khawatir.


Aku menghela nafas lega.


"Tapi kan, lebih cepat mas Sandy menghadapinya. akan lebih baik untuk kita. Sejujurnya saya juga enggan berurusan dengan masa lalu mas Sandy. semuanya bikin hati saya gak tenang." keluhku dengan polosnya.


Mas Sandy menoleh pelan padaku.


Kemudian tangannya memegang erat tanganku. Aku terkesiap.


"Kamu harus janji teh, kamu tak akan meninggalkan saya. apapun yang terjadi!!!" pintanya penuh harap.


"Mas Sandy gak usah memohon begitu. saya gak akan kemana-mana. saya akan selalu ada disamping mas Sandy." tandasku meyakinkannya.


Terlepas dari semua masalah yang dihadapinya. mungkin hanya satu yang mas Sandy khawatirkan. yaitu diriku. dia takut aku marah, dia takut aku kecewa, dan dia takut aku menghilang....


Percayalah mas, di dunia ini tak akan ada yang bisa memisahkan kita. kecuali kematian.


•••


"Saya pulang sedikit malam,kamu istirahat aja. Gak usah nunggu. oke!" perintah mas Sandy sebelum akhirnya berangkat keluar kota bersama Nita.


Ku hampiri meja Rahma yang tampak serius dengan layar komputernya.


"Hey,.. Ngomong-ngomong yang lain pada kemana? kok sepi?" bisikku.


"Yang lain lagi rapat sama bu Ayu." sahutnya datar.


"Oh, Pantesan." aku mengangguk mengedarkan pandangan pada seisi ruangan yang memang kosong. hanya tinggal beberapa orang saja yang terlihat sibuk bekerja.


"Pak Sandy keluar kota ya?" tanya Rahma.


"Hm, begitulah."


"Hati-hati loh! bu Ayu, kalo bapak keluar kota. kelakuannya udah kaya bos besar. aku saranin,kamu pulang duluan aja!" tukasnya hati-hati.


"Pulang? kerjaan aku masih banyak!" timpalku ketus.


"Ya, di bawa ke rumah aja sih Lis. daripada nih ya, dia minta kamu kerjain semua kerjaan kantor sampe malem." selorohnya cemas.


Aku menghela nafas lesu. haruskan ku turuti saran dari temanku ini? apa ini tak berlebihan? bagaimana kalau bu Ayu malah akan semakin mengamuk jika tahu aku pulang lebih dulu.


"Kita liat nanti aja deh," aku melenggang masuk kembali ke ruanganku.


Beberapa jam berlalu, dan waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. suasana kantor hampir sepi. karena sebagian karyawan sudah pulang.


TOK..

__ADS_1


TOKK..


Aku menoleh kaget.


"Masuk!" sahutku ragu-ragu.


Billy masuk ke ruanganku dengan membawa beberapa dokumen penting.


"Permisi bu," sapanya sopan.


"Iya, kenapa Bil?"


"Ini dokumen yang harus ibu periksa." Billy menyerahkan dokumen itu hati-hati. raut wajahnya menunjukkan jika dia tak tega memberikan semua berkas itu di atas mejaku.


"Simpan saja! besok saya kerjakan!" tukasku enteng.


"Tapi bu, kata Bu Ayu. dokumennya harus di tinjau hari ini. Besok pagi akan ada rapat penting. dia butuh semua dokumennya." jelas Billy pelan.


Aku menatap lama dokumen itu. benar apa kata Rahma. dia memang sengaja ingin mengerjaiku.


"Apa bu Ayu meminta saya untuk mengerjakannya sekarang? disini?!" aku mempertegas dugaanku.


Dan Billy hanya mampu mengangguk dengan takut. mungkin dia tak tega padaku, tapi dia juga tak bisa berbuat banyak.


"Oke,Baiklah. saya kerjakan sekarang!" tukasku cepat.


"Ibu serius? perlu saya Tungguin bu?" tanyanya pelan.


"Gak usah Bil, kamu pulang aja. kamu juga harus istirahat!" sahutku santai.


"Yakin bu?" tanyanya lagi,


"Iya Bil. yakin. udah sana pulang!" usirku


Billy meninggalkan ruanganku meski Sejujurnya dia pasti tak enak hati melakukannya.


Aku menyimpan kembali tas ku. lalu menelepon rumah dan memberitahu Andi bahwa aku tak bisa pulang cepat hari ini. beruntunglah ada bi Atun yang siap siaga menjaga Andi,hingga dia tak kesepian.


PING!


Sebuah pesan tiba-tiba masuk.


"Aisyah," pekikku heran. sudah lama sekali gadis ini baru menghubungiku lagi.


"Kak alis, Gimana kabarnya? ini Aisyah! jangan lupa ya, malam ini jam 7. ada produk baru yang akan kami launching di kedai. Ais harap, kakak bisa datang!" Tulisnya.


Aku terdiam cukup lama. aku baru ingat jika pak Ivan waktu itu memberiku sebuah undangan untuk launching produk baru di kedainya.


Lalu mataku beralih menatap tumpukan dokumen itu sebelum membalas pesan Aisyah.


Mana yang harus ku kerjakan lebih dulu? membalas pesannya. atau mengerjakan semua dokumennya.


Helaan nafasku terasa buntu sekarang!


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2