PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•129


__ADS_3

Salad, Soup, Cocktail, Pastry, Canape Dan masih banyak lagi Jenis menu makanan Lainnya yang terhidang di atas meja.


Aku menelan saliva ku pelan.


Aku benar-benar suka dengan semua jenis makanan ini. karena kebiasaanku memasak di rumah. juga sering melihat menu masakan di internet, jelas aku tahu semua nama makanan ini dan bagaimana lezatnya mereka.


Sejak siang tadi aku tak sempat makan banyak karena 'kerusuhan' yang terjadi. dan sekarang perutku sudah sangat lapar. Tapi tentu saja, aku tak bisa memakan semuanya dengan lahap. banyak tamu istimewa di tempat ini, aku harus bisa menjaga sikapku dengan baik.


Aku menarik nafas pelan,


Ternyata Memang sangat sulit menjadi istri kamu mas,..


"Kamu pasti sangat lapar," bisik mas Sandy seolah tahu apa yang ku rasakan.


Aku tersenyum dan berbisik padanya.


"Sangat,.."


Mas Sandy mengulum senyum.


"Ambilah semua yang ingin kamu makan sayang," bisiknya lagi.


"Mana bisa saya makan semuanya mas, jangan bercanda!" desisku dengan senyum yang tak hilang dari wajahku.


"Kapan rencananya kalian akan bulan madu?" celetuk pak Broto Di sela-sela kami yang tengah menikmati menu makanan pembuka.


Dan tentu saja, celetukan isengnya itu berimbas pada semua orang yang akhirnya melihat ke arah kami.


Aku menelan makananku susah payah.


Lalu melemparkan pandanganku pada mas Sandy yang dengan santainya tersenyum,


"Segera,tentu saja!" sahutnya cepat.


"Saya punya rekomendasi tempat bagus untuk kalian Bulan madu,bagaimana?"


tukasnya lagi.


AH! sebenarnya siapa Pria tua ini. dia sangat menyebalkan dan terlalu banyak bicara. gerutuku


"Kita bicara lain kali saja, saya terlalu lapar!" mas Sandy mengurai senyuman kecut sembari melahap makanan dihadapannya.


Aku terkekeh kecil. pastilah mas Sandy juga sangat kesal dengan sikapnya. Dan ku pikir Pak Broto ini hanya basa-basi saja pada kami berdua. jelas dia tak begitu tertarik pada obrolannya, dan hanya fokus jelalatan padaku. Entah aku yang terlalu berlebihan atau tidak. yang jelas aku merasa tak nyaman dengan sikap tak sopannya.


"Pak Sandy, apakah benar jika istri Anda ini dulunya adalah perawat anda?" tanya Bu Helga.


Semua orang tampak menunggu dan sesekali dari mereka berbisik kecil.


"Iya. dia memang perawat pribadi saya! dan Sejujurnya saya ingin berterima kasih pada tante saya karena sudah mengenalkan wanita baik hati ini pada saya," tukasnya menatap Bu Ayu yang duduk di meja paling ujung.


Semua orang menoleh pada Bu Ayu, yang kemudian tersenyum ramah. meski aku yakin, jika senyumannya itu pastilah dipaksakan.


"Bukankah sudah seharusnya," Gumamnya tenang.


"Wah,.. saya senang melihat hubungan kalian sehangat ini sekarang!" seloroh pak Broto lagi.

__ADS_1


"Kami memang seperti ini, selalu baik-baik saja!" tukas mas Sandy meyakinkan.


"Sepertinya makanan pembuka ini akan jadi sia-sia jika kita terus mengobrol!" timpal Pak Ivan dengan tatapan tajam pada mas Sandy.


"Anda benar juga, Silahkan nikmati hidangan pembukanya!'' tutur mas Sandy enteng.


Entahlah, melihat kedua pria ini bicara sungguh membuatku tak enak hati. terlebih lagi masa lalu keduanya yang membuat sikap mereka jadi dingin satu sama lain.


"Mari kita bersulang untuk pernikahan Direktur kita, semoga pernikahannya Bahagia selalu!" Pak Ivan bangkit dan mengangkat gelapnya tinggi.


Semua orang bersulang dengan semangat lalu menikmati hidangan pembuka dengan begitu lahap.


•••


Aku menatap wajahku di cermin.


"Hufht!" ku hembuskan nafasku kasar.


Baru kali ini aku menikmati makan malam yang sangat menyiksa meski dengan menu yang terlihat sangat lezat sekalipun.


Beruntunglah sekarang aku bisa melarikan diri dengan alasan pergi ke toilet. jika tak begitu, aku akan terjebak dengan obrolan rumit yang tak kupahami. Bisa-bisa aku terlihat begitu bodoh disana.


Ku tatap lama ponselku,Mengapa Rahma dan Sinta belum juga datang kemari. bahkan tak ada pesan atau panggilan dari keduanya. kemana mereka ini? menyebalkan. desahku.


Aku duduk di atas kloset, ku biarkan tubuhku ini tenang untuk sementara waktu. Sembari memainkan ponselku sesekali.


20 Menit lamanya aku berada di toilet, dan akhirnya ku putuskan untuk keluar setelah sebelumnya memeriksa riasan di wajahku terlebih dahulu.


Saat hendak keluar, aku di buat kaget dengan sosok pria yang tiba-tiba berdiri dibelakangku.


"Apa bu Alis sudah selesai dari toilet?' tanyanya begitu tak sopan. kenapa juga dia bertanya 'Urusan wanita' gerutuku.


"Pak Broto mau ke toilet? Silahkan pak! toilet Pria disebelah sana!' aku menunjuk ke arah dibelakangnya. karena toilet pria dan wanita memang terletak berlawanan arah.


"Saya hanya cemas, bu Alis tak kunjung keluar dari toilet!" tukasnya dengan tatapan yang benar-benar membuatku muak.


"Maaf pak? maksud anda?" Aku mengernyitkan dahi bingung.


"Ayolah! tak perlu Pura-pura atau bersikap polos begitu. saya tahu siapa kamu!" celetuknya kemudian.


"Pura-pura polos?!" Aku menyeringai tak paham.


"Saya tahu, kamu menggunakan anak kamu untuk menggaet Pak Sandy kan? kamu pikir pak Sandy orang yang dengan mudah mau menikahi wanita b


seperti kamu? jika bukan karena trik murahanmu?!" Pria Gendut itu tersenyum remeh padaku.


Dan Senyuman menjijikannya itu seolah 'merendahkan' diriku sebagai wanita. Apa dia pikir aku ini wanita yang suka menggaet pria-pria kaya demi mendapatkan uang? yang benar saja!


Ku dorong kasar pak Broto hingga menjauh beberapa langkah dariku. namun dengan cepat tangannya menarik tangaku kuat.


Ku tatap sinis dirinya.


"Tolong lepaskan tangan saya!" Geramku.


"Berapa harga yang harus saya bayar, untuk mendapatkan istri palsu seperti kamu?" tanyanya dengan seringai nakal

__ADS_1


Aku melotot tajam. ISTRI PALSU?


Dasar Tua bangka SIALAN! enak saja mengataiku Istri Palsu karena kami menikah tanpa pesta. aku mencoba melepaskan tanganku dari cengkeramannya.


"Anda keterlaluan! Anda ini dewan pers, tapi kelakuan anda sangat memalukan!" dengusku kasar.


Aku tak mungkin berteriak dalam acara seperti ini, apalagi ada media yang meliput. bisa-bisa ini jadi berita besar, dan akan membuat masalah mas Sandy semakin banyak. aku tak mau itu terjadi.


"Ayolah,katakan! Apa kamu juga punya teman yang lebih cantik, untuk saya ajak berkencan?" godanya semakin menarikku lebih dekat ke arahnya.


"Anda jangan kurang ajar ya! saya bisa teriak!!!" ancamku.


Namun Pak Broto hanya tersenyum tipis. dia tahu itu hanya gertakan, karena aku tak akan benar-benar berteriak.


"Teriaklah! saya sangat ingin mendengar jeritanmu!" Wajahnya seketika mendekat,


Aku menunduk takut.


"LEPASKAN!" Sebuah suara terdengar nyaring dari arah luar.


Kami berdua menoleh bersamaan.


"Dasar Pria mesum! sudah saya duga, memang kamu tak pantas ada di tempat ini!" dengusnya seraya berjalan cepat dan menarik tanganku dari cengkeramannya.


"Kamu jangan berlebihan, saya hanya bercanda!" tukas pak Broto tanpa rasa berdosa.


"Pergi! atau saya panggil Security?!" ancamnya tegas.


Dan akhirnya pak Broto keluar dari dalam toilet dengan wajah dongkol.


Ku tatap kelu Pria didepanku ini, tangannya begitu kuat memegangku.


"Lain kali, jangan lama-lama di toilet. Bodoh!" desisnya. dengan tatapan begitu dalam dan penuh kecemasan.


LAGI,


Pak Ivan melepaskan tanganku begitu saja,lalu meninggalkanku di ruangan sepi itu seorang diri.


Aku mengerjapkan mataku kaku.


Sikap apa itu?


Dia menolongku? lagi? setelah di kantor tadi? bahkan tanpa bicara banyak.


Apa dia sungguh-sungguh menolongku? atau hanya kebetulan saja?


Karena kaget,aku bahkan lupa berterima kasih padanya.


Aku buru-buru keluar dari toilet dan segera mendekati Nita yang tampak sendirian. sementara mas Sandy Asik mengobrol dengan rekan bisnisnya.


"Kenapa lama sekali bu?" tanya Nita cemas.


"Saya sakit perut," gumamku beralasan


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2