PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•197


__ADS_3

Selesai mengabari bi Atun karena aku akan pulang terlambat,akupun kembali masuk ke ruang perawatan.


Masih tak ada tanda-tanda jika bu Ayu tersadar. benarkah dia hanya mengalami gegar otak ringan? lalu kenapa sampai sekarang belum juga sadarkan diri? batinku penuh tanya.


KLEK,


Tengah melamun aku dikagetkan dengan suara pintu ruangan yang terbuka. segera ku palingkan pandanganku untuk melihat siapa yang datang.


"Pak Ivan?!" tukasku kaget. Begitupun dengannya yang tampak terkejut.


"Alis? kamu disini?"


"Iya pak,"


Pak Ivan meletakkan Buah-buahan segar yang di bawanya ke atas meja.


"Tapi bukankah ada suster dan juga asisten rumah tangga kalian. kenapa malah kamu yang kemari?" tanyanya heran.


"Gak apa-apa pak. saya hanya ingin memastikan kondisi bu Ayu baik-baik saja" jelasku beralasan.


Pak Ivan duduk di Sofa seraya mengulum senyum..


"Padahal dia sudah sering kali menyakiti kamu, tapi kamu masih saja berbuat baik padanya. Sebenarnya hati kamu itu terbuat dari apa sih Alis?" tanyanya setengah menyanjungku.


Aku tersenyum simpul. entah kata-katanya itu berniat mengejek atau bukan. yang jelas, terasa aneh saja saat dia melakukannya.


"Ini sudah seharusnya. karena dia tante dari suami saya pak."


"Begitu ya,.." sahutnya manggut-manggut.


"Pak Ivan sendiri kenapa bisa kemari?"


Pria itu menghela nafas dan menatap Bu Ayu yang tengah terbaring.


"Saya mendapat kabar dari Nita," sahutnya lagi.


Tapi anehnya, aku sama sekali tak menangkap gurat kecemasan diwajahnya.


"Seharusnya orang seperti Ayu, memang harus mendapatkan teguran. baru akan sadar." timpalnya serius.


Aku terhenyak, benar dugaanku. dia sama sekali tak berempati dengan kondisi bu Ayu. bukankah mereka memiliki hubungan? lalu kenapa sikapnya begitu sinis.


"Bukankah, kalian berdua-- maaf! saya pernah tak sengaja melihat kalian berduaan di kamar waktu itu." aku menatapnya ragu.


Pak Ivan menyimpulkan senyuman tipis.

__ADS_1


"Saya tahu kamu melihatnya. saya juga sengaja melakukannya karena ingin kamu melihat itu. saya pikir kamu akan mengadu pada Sandy. ternyata saya salah menduga."


"Jadi? kalian berdua? sama sekali tak memiliki hubungan serius?!" selidikku.


Pak Ivan menatap nanar padaku. seolah pertanyaanku itu sangat menggelitiknya


"Ayu adalah wanita yang jahat. dia bisa berbuat apapun yang dia mau. dia bisa merusak reputasi seseorang hanya dengan satu jentikan jari saja."


Kali ini aku menatap pak Ivan sedikit Takut. teringat akan perlakuan buruknya dulu padaku. apa dia juga sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada bu Ayu sekarang? batinku menduga-duga


"Saya tahu jika Ayu adalah mantan dokter Hasan,yang tak lain adalah laki-laki yang sangat ibu saya cintai. dan saya juga tahu jika dia masih sangat mencintai laki-laki tua itu. di dalam lubuk hatinya, tak ada yang mampu menggantikan papa. dan saat aku tahu, dia berencana mendekati papaku lagi. di situ muncul ide gila yang awalnya Akupun tak pernah menyangka akan berani melakukannya. Diam-diam aku mendekati Ayu, menjadikan dirinya istimewa di antara teman wanitaku. Meski aku tahu Sejujurnya dia lebih pantas menjadi ibuku. tapi tak apa.. Semuanya demi menyelamatkan pernikahan mama. agar Ayu tak melanjutkan keinginannya untuk merebut papa dari sisi mama. dan tentu saja, aku berhasil" pak Ivan tersenyum simpul menatap ke arahku.


Aku meremat kuat jari-jariku. bukan karena marah. tapi karena aku benar-benar sangat terkejut mendengar alasannya selama ini. pak Ivan rela menjadi tumbal untuk menjaga rumah tangga kedua orangtuanya agar tetap selamat. niatnya mulia meski caranya sangat menjijikkan.


"Tidakkah itu sedikit berbahaya?" aku mengernyit heran. mengapa dia begitu berani.


"Segala sesuatu di dunia ini memiliki resiko. besar atau kecilnya, tergantung dari bagaimana cara kita menghadapinya. aku rasa, menjadi istri Sandy juga sangat berbahaya bukan? bahkan resikonya sangat besar. tapi lihat, kamu mau menjalaninya hingga sekarang" sindirnya tegas.


Aku membuang wajahku ke arah lain, sedikit tertampar dengan ucapannya.


"Tapi, cara yang pak Ivan lakukan ini sudah menyakiti bu Ayu. dia pasti akan sangat kecewa jika tahu, pak Ivan hanya Pura-pura." gumamku


"Saya tak pernah khawatir soal itu. biarkan saja dia kecewa, biarkan saja dia merasakan sakit. itu pelajaran untuknya,bahwa semua yang dia mau tak harus selalu berakhir dalam genggamannya." pak Ivan menatapku yakin.


Meskipun dia ada benarnya, tapi tetap saja. balas dendam hanya akan menyisakan rasa sakit. Bukan kepuasan batin. jika balas dendam mampu memuaskan keinginan kita, itu sama sekali bohong. nyatanya, akan selalu ada penyesalan nantinya.


"Belum, masih harus menunggu satu minggu lagi menjelang sidang." sahutku.


Aku menatap ragu pak Ivan, apa aku katakan saja padanya soal hal yang aku dengar tentang bu Ayu yang sebelumnya menemui pak Broto. dan juga soal foto itu? aku yakin pak Ivan tahu banyak tentang bu Ayu.


"Kamu harus hati-hati. Ayu tak akan tinggal diam jika pak Broto sampai dipenjara" timpalnya lagi.


Aku menatap kaget dirinya,


"Kenapa?"


"Mereka sepertinya punya Rahasia besar yang sengaja di sembunyikan. malam itu, saat hendak menemui Ayu. saya tak sengaja melihat mereka berdua sedang membicarakan tentang sebuah berita yang sengaja tak di publikasikan ke media. demi menjaga nama baik Ayu. tapi jujur, saya sama sekali tak mengerti berita tentang apa yang mereka bahas." jelas pak Ivan nampak begitu serius


Aku terdiam cukup lama, mencoba mencerna ucapan pak Ivan. jika tak salah ingat, pak Broto pun pernah bicara soal berita yang akan membuat nama baik mas Sandy hancur. apa mungkin ini ada kaitannya.


"Apa kamu tahu sesuatu?" selidiknya


Aku menoleh pada bu Ayu, takut jika dia tiba-tiba terbangun. dan mendengar obrolan kami.


"Sebenarnya,... saya ingin bertanya tentang sesuatu pada bu Ayu. tapi hingga saat ini saya belum berani." gumamku ragu.

__ADS_1


"Bertanya tentang apa?" pak Ivan menatapku lekat.


"Tentang sebuah foto yang saya temukan di kamar bu Ayu. dan itu sangat mengganggu saya akhir-akhir ini." jelasku jujur.


"Sebuah foto? foto apa?!" pak Ivan mengernyitkan dahinya tak paham.


"Tapi lebih baik, saya tanyakan langsung saja pada bu Ayu. saya tak ingin menduga-duga." ralatku.


"Apa Sandy tahu tentang foto itu?" tanyanya lagi.


Aku menggeleng cepat.


"Sebaiknya kamu beritahu Sandy. siapa tahu dia punya jawaban tentang foto itu." sarannya.


"Pak Ivan benar. hanya saja, saya masih ragu untuk memberitahunya."


"Saya rasa Jujur padanya jauh lebih baik. Saya sangat mengenal Sandy. dia tak akan bisa marah padamu. saya jamin." terangnya begitu meyakinkan.


Aku tersenyum lega. kata-kata itu terdengar tulus dari sudut pandangnya terhadap mas Sandy.


"Oh iya, bagaimana dengan Vina. bapak tak mengajaknya sekalian?!" tukasku saat ingat pada sosok Vina.


"Dia sedang diluar kota. tapi saya sudah mengabarinya soal ini, mungkin nanti malam atau besok pagi dia baru akan kemari." jelasnya.


"Apa kalian tak berniat untuk bersama? sepertinya Vina begitu manja pada pak Ivan?!" selidikku.


Pria bergaris wajah tegas itu tersenyum tipis.


"Dia itu seperti anak kecil. hanya akan merepotkan jika dijadikan pacar. saya butuh sosok wanita seperti kamu untuk jadi istri saya." celetuknya enteng.


Aku memekakan mataku bulat. jawaban apa itu? sungguh sangat tak terduga. aku bahkan tak bisa menyembunyikan raut wajah kagetku.


KRIIIING....


Ponsel yang dipegang pak Ivan tiba-tiba berdering. dia segera mengangkat ponselnya, Aku mengusap tengkukku canggung.


"Saya permisi sebentar." Pak Ivan bangkit dan berdiri di dekat pintu.


Akupun bangkit dan mendekati ranjang bu Ayu. terlihat masih sama seperti sebelumnya. tak ada tanda-tanda dia akan sadar. bahkan denyut jantungnya masih terlihat lemah.


"Alis, saya harus ke kedai. ada sedikit urusan. saya pamit." tukasnya kemudian.


"Baiklah. terima kasih sudah berkunjung pak."


"Lainkali jika butuh bantuan, kamu kabari saya." timpalnya sambil berlalu.

__ADS_1


Aku mengangguk pelan. sepertinya pak Ivan benar-benar tulus membantuku kali ini. Semoga saja.


• • • • • • • •


__ADS_2