
Aku mengetuk pintu kamar pelan.
"Masuk!" sahut dokter Hasan.
"Permisi!" Tukasku ragu.
Ku lihat seluruh kamar sudah berubah. kursi dan meja yang biasa dipakai mas Sandy sudah tak ada,hanya tertinggal satu sofa dan sebuah meja kecil. semua rak buku sudah berpindah tempat dan di ganti oleh beberapa alat fisioterapi yang sudah tertata rapi.
Aku melirik ke arah Mas Sandy yang tengah duduk sementara dokter Hasan berjongkok sembari memeriksa lututnya.
"Gimana dok, kondisi kakinya mas Sandy?" tanyaku penasaran.
"Untungnya kaki kamu cepat ditangani waktu itu oleh dokter ortopedi. kalo tidak, kamu bisa cacat seumur hidup san!" tukas dokter Hasan setengah menakutinya.
"Terus ngapain saya bayar dokter mahal-mahal kalo akhirnya saya cacat!" desis mas Sandy ketus.
"Kamu harus bersikap baik sama perawat yang akan membantu terapi fisik kamu ini! karna biar bagaimana pun,terapi Fisik ini sangat berpengaruh untuk kesembuhan kamu nantinya!"
"Apa hubungannya terapi fisik dengan teh Alis dok! jangan ngelantur kalo ngomong!" sindir mas Sandy yang sepertinya paham jika dokter Hasan sedang menggodanya.
Aku mengulum senyum mendengar perdebatan mereka berdua. rasanya suasana rumah yang tadinya panas menjadi sedikit lebih nyaman.
"Dokter liat kan! Gara-gara dokter bicara begitu. teh Alis jadi ngetawain saya!" dengusnya melirik ke arah ku.
Aku menutup mulutku segera.
"Kamu memang pantas jadi bahan lelucon san. makanya Alis tertawa!" seloroh dokter Hasan.
"Tolong jangan libatkan saya dalam perselisihan kalian ya!" Desisku.
"Jadi teh Alis di kubu saya atau dokter Hasan?!" tanya mas Sandy.
Aku meliriknya tajam, dia selalu saja melayangkan pertanyaan berupa pilihan yang tak ku sukai.
"Saya gak milih siapa-siapa! gak ada untungnya!" sergahku
"Kamu mulai pintar Lis!" goda Dokter Hasan padaku.
"Saya kan belajar dari Dokter, bagaimana caranya menghadapi majikan yang Rewel!" tukasku melirik pada mas Sandy.
__ADS_1
"Wah! kalian benar-benar bersekongkol. saya sudah menduganya dari awal! jangan-jangan kalian ada hubungan Rahasia,dibelakang saya!" ledek mas Sandy.
"Tolong jangan samakan saya dengan kamu san! saya tersinggung!" sela dokter Hasan sembari menyimpan alat-alat yang dipegangnya.
"Lagian mas Sandy Aneh sih! jelas-jelas istri dokter Hasan lebih cantik. saya pernah liat kok!" Sahutku lagi.
dokter Hasan tersenyum tipis.
"Secantik apapun istrinya! saya tetep milih kamu buat ngurusin saya teh!" celetuk mas Sandy membuat kami berdua saling lirik kaget.
"Ekehm..! sepertinya kamu sudah benar-benar sembuh san! tinggal hanya menunggu kaki kamu pulih saja. otak kamu juga udah lebih encer kalo ngomong!" tandas dokter Hasan yang sepertinya tak ingin membuatku canggung.
"Dok, minum dulu!" aku mengalihkan obrolan dengan mengangkat cangkir dari nampan dan meletakkannya.
"Teh, coba kamu bantu Sandy berjalan sekarang!" pinta dokter Hasan.
"Baik dok!" Aku mendekati mas Sandy dengan hati-hati.
Ku pegang kedua tangannya dengan kuat, Aku fokus melihat kaki dan lutut mas Sandy yang masih diperban itu.
"Pelan-pelan!" pintanya takut.
"Mas Sandy emang bandel dok!" desisku
"Saya bosen di kamar terus dok! dokter pikir saya monyet liar yang setiap hari harus di kurung di kamar!" dengusnya.
"Kamu sama monyet kan gak ada bedanya. lagipula ini semua demi kesembuhan kamu!" celetuk dokter hasan membuatku kembali mengulum senyum. Aku tak berani tertawa bila berhadapan dengan mas Sandy secara dekat.
"Besok gak usah datang lagi!" desis mas Sandy sinis.
"AAWH!!!" Pekiknya menahan sakit.
"Hati-hati mas!" Sahutku kaget.
"Kualat kamu san!" gumam dokter Hasan yang tak menaruh rasa cemas sedikitpun.
"Kalian kenapa ribut terus sih?" protesku tak paham dengan sikap keduanya yang lama-lama seperti anak kecil itu.
"Ya sudah, kalian teruskan terapinya! saya mau ke dapur sebentar! saya lapar!" celetuk Dokter Hasan yabg sepertinya hanya mencari-cari alasan agar bisa membiarkan kami berduaan di dalam kamar.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja mas! jangan buru-buru!" tukasku mengingatkannya.
Mas Sandy mungkin bukan tipe orang yang sabar. dia ingin segera mendapat hasil instan dari terapinya itu. buktinya dia sangat tergesa-gesa saat melangkah dan sering mendengus saat merasakan sakit dipersendian lututnya.
"Udah teh! kaki saya sakit!" Erangnya memintaku memapahnya mendekati kursi roda.
"Kemaren-kemaren saya lihat mas Sandy bolak balik ke bawah! kenapa sih mas maksa banget! padahal makan di kamar sama makan di meja makan sama saja!" tanyaku ketus.
"Kamu gak tahu aja teh,saya sangat suka jika melihat wajah-wajah cemas mereka saat tahu saya sudah bisa keluar kamar!" Tukasnya dingin.
Aku menoleh pelan, ku tatap kedua matanya yang memandang kosong ke lantai. seperti masih ada kebencian dari ucapannya. dan aku yakin orang yang di maksudkan mas Sandy pasti adalah bu Ayu dan juga pak Ivan.
"Menyimpan dendam itu gak baik buat kesehatan mas! mending mas Sandy berdamai aja! siapa tahu dengan begitu, sakit kakinya mas Sandy ini bisa cepet sembuh!" selorohku.
"Apa menurut teh Alis, jika saya menyimpan perasaan lalu saya ungkapkan. itu juga bisa bikin sembuh sakit saya teh?!" tanyanya menatapku dalam.
"Mas Sandy gak nyambung!" Sahutku segera. Aku mundur perlahan untuk menghindari tatapan matanya sontak saja membuat mas Sandy bergerak Cepat menarik tanganku.
"Teh Alis kenapa gak jawab pertanyaan saya!" desaknya penuh tanya.
"Saya gak paham maksud mas Sandy apa!" Elak ku.
"Yakin gak paham! perlu saya perjelas?" godanya menarikku lebih dekat.
Tok.. Tok..
Aku menarik tanganku kuat,bersamaan dengan itu Bi Marni masuk membawa nampan berisi cemilan.
"Permisi! maaf mengganggu! ini cemilan buat neng Alis!" Tukasnya.
"Gak perlu repot-repot bi, saya bisa ambil sendiri ke bawah kok!" Aku mendekatinya tak enak hati.
"Gak apa-apa Lis, biar kamu fokus merawat mas Sandy aja. iya kan mas!" goda Bi Marni.
"Bibi paham betul kayanya!" timpal mas Sandy dengan senyum penuh kemenangan.
Apa-apaan ini? mereka semuanya seperti sedang meledekku? batinku dongkol.
• • • • • •
__ADS_1