PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•29


__ADS_3

"Gimana kondisi kakinya mas Sandy ? masih sakit?" Bi Marni menatap cemas pada mas Sandy.


"Kata dokter Hasan,Mas Sandy tuh gak boleh dulu naik turun tangga Bi. nanti sakit di kakinya malah makin parah!" jelasku menatap mas Sandy setengah menyalahkan.


"Tuhkan bener apa kata Bibi juga! mas Sandy sih bandel. kemaren sore juga hampir jatoh kan? untung ada Bibi!" seloroh Bi Marni.


"Serius Bi? jatoh dimana? terus gak apa-apa?" cerocos ku menatap Bi Marni.


"Yang mau jatoh saya kali teh! bukan Bi Marni!" sindirnya yang merasa


ter 'abaikan'.


Aku melirik namun coba tak memperdulikan ucapannya.


"Lain kali di suruh hati-hati Bi! jangan sampe nambah masalah!" bisikku.


Bi Marni menatapku dan terkekeh geli.


"Asal Bibi tahu,semua ini gak bakalan terjadi kalo teh Alis gak nolak penawaran saya Bi!" sindirnya mencari pembenaran.


"Penawaran apa mas?!" Bi Marni terlihat begitu penasaran.


"Ah! kayanya teh manis nya enak ya Bi! saya coba yah!" aku mengalihkan obrolan dan memilih menikmati teh hangat dihadapanku.


"Eem,ya sudah. Bibi mau kembali ke dapur! kerjaan bibi masih banyak!" pamitnya meninggalkan kami berdua.


Aku menyeruput teh nya dengan nikmat, Benar-benar sangat membuat pikiranku Relax setelah sebelumnya menegang karna ulah konyol majikanku itu.


Mas Sandy mendorong kursi rodanya mendekat ke arah ku. Aku mencoba bersikap tenang,meski ada sedikit rasa tak nyaman.


"Jadi teh Alis tetep gak mau nerima penawaran saya?" tanyanya kemudian.


Aku terdiam sesaat.


Ku tatap bosan mas Sandy yang tampaknya masih menunggu jawaban dariku.

__ADS_1


"Saya kan udah berkali-kali jelasin mas! saya gak bisa keluar dari rumah saya!"


Tegasku yakin.


"Hm! Emang susah ya,kalo belum bisa Move on sama masa lalu," Gumamnya berbalik arah dan menjauhiku.


"Maksudnya gimana Mas? Move on? mas Sandy lagi ngatain saya apa gimana?" tanyaku tak suka dengan sikapnya itu.


"Gak usah dibahas teh, lagipula itu penawaran terakhir saya! Tadinya saya kasihan lihat anak teh Alis yang sering di tinggal sendirian di rumah." Tukasnya.


Aku menatap sinis pada mas Sandy.


"Maaf mas! ini bukan masalah masa lalu atau apapun yang mas Sandy pikirkan! ini prinsip saya. tolong dihargai! dan lagi, saya gak perlu belas kasihan mas Sandy. karna disini saya bekerja,bukan peminta-minta!" tandasku menahan kesal.


Sebelum perdebatan kami makin panjang, Ada suara ketukan di pintu yang akhirnya mampu meredam emosiku.


Tok.. Tok..


"Permisi! maaf mengganggu!" tukas Dokter Hasan.


"Enggak kok dok! silahkan! saya juga lagi nge-teh" Sahutku dengan ekspresi setenang mungkin.


Mas Sandy mengambil kertas itu dan memeriksanya dengan teliti. sebetulnya aku juga penasaran dengan isi kertas itu tapi sayangnya aku terlanjur kesal dengan sikapnya tadi. hingga aku memilih Acuh dan melanjutkan menikmati secangkir teh di tanganku.


"Beruntunglah tak ada cedera otak atau kerusakan ligamen yang parah pada kaki dan tangan kamu San. jadi kamu bisa melakukan fisioterapi sesering mungkin,Kalo kamu ingin cepat pulih!" jelas dokter Hasan.


"Baguslah..! " Desisnya lega.


"Tanggapan apa itu? tumben sekali?" goda dokter Hasan menoleh ke arah ku.


Aku tersenyum tipis.


"Kaki saya sakit dok! jangan mancing-mancing!" dengusnya melirik sinis pada dokter pribadinya itu.


"Ya sudah,sepertinya kamu sudah lelah! kamu istirahat saja yang banyak! selain terapi,saya sarankan jangan terlalu sering bergerak!" saran dokter Hasan.

__ADS_1


Sebetulnya Aku juga khawatir dengan kondisi mas Sandy yang memang seharusnya mendapat perhatian lebih selama pemulihan. hanya saja,aku tak bisa melakukannya selama 24 jam.


Dan itu yang ku sesalkan sebagai orang yang bertanggung jawab atas kesembuhannya. Meskipun aku hanya bertugas menemaninya saja, tapi hal itu menjadi beban tersendiri bagiku. Rasa tanggung jawab,keseriusan dalam merawat mas Sandy seperti sudah menjadi tanggung jawabku sepenuhnya.


"Lis,Alis.. Haloo!"


Aku terkesiap saat dokter Hasan melambaikan tangannya ke arahku.


"Maaf dok! kenapa?" tanyaku panik.


"Bisa kita ngobrol Sebentar?" pintanya menatap ke arah pintu.


"Baik dok, silahkan!" Aku mempersilahkan dokter Hasan keluar lebih dulu.


"Saya permisi dulu mas!" pamitku.


Mas Sandy tak menyahut dan hanya melirik dingin lalu kembali fokus pada kertas-kertas ditangannya.


"Ada apa dok?" tanyaku setelah kami berada diluar kamar.


"Saya minta tolong sekali sama kamu, jaga suasana hatinya agar tetap stabil. biar bagaimana pun trauma setelah kecelakaan pasti sangat Mempengaruhi emosi nya. dan lagi,bantu dia agar mau melakukan terapi secara berkala. Kalau dia malas,sebisa mungkin kamu bujuk. karna kesembuhannya, bukan hanya tanggung jawab kamu saja! tapi kita berdua. Sandy sudah tak punya orangtua. kamu tahu sendiri bagaimana tante nya kan? saya tak menyalahkan siapa-siapa. hanya saja,kita sebagai orang yang peduli terhadap kesembuhan nya harus lebih memperhatikan kondisi Psikisnya!" jelas Dokter Hasan.


Aku mendengarkan dengan seksama penjelasan dokter Hasan, yang kini membuatku terenyuh dan sadar betapa mas Sandy masih terpuruk dibalik sikap menyebalkanya.


"Saya tahu,terkadang sikapnya sering membuatmu kesal dan mungkin marah. tapi satu hal yang harus kamu tahu Lis, dia benar-benar memikirkan tentang kamu,meskipun kondisinya sedang sakit. dan kamu tahu? itu artinya dia peduli dan percaya sama kamu! baru kali ini saya melihat Sandy bersikap begitu. selama saya dekat dengannya. jadi tolong jangan di sia-sia kan lagi kepercayaan Sandy terhadap kamu!" pintanya penuh harap.


Aku menatap dokter Hasan tak enak hati. bisakah aku memenuhi permintaan nya? bisakah aku menjaga kepercayaan yang mas Sandy berikan padaku?


"Dok, boleh saya tanya satu hal?" tukasku ragu


"Tanyakan lah!"


"Apa dokter tidak berniat menghubungi orang terdekat Mas Sandy? Maaf dok, kalau saya lancang! tapi cuma sama dokter saya berani bertanya begitu!" Aku menatapnya penuh tanya.


Dokter Hasan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Soal itu..,Biar nanti Sandy yang cerita sama kamu. saya gak punya wewenang untuk membahas soal itu!" Tukasnya sembari mengajakku kembali ke kamar Mas Sandy.


• • • • • • •


__ADS_2