PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•109


__ADS_3

Seseorang yang pernah dikecewakan oleh masa lalu, pasti akan sulit untuk membuka hati kembali apalagi dengan orang baru.


Tapi lain halnya dengan Perempuan itu, dia mampu memberi warna tersendiri dihidupku. Membuatku nyaman dan tak ingin kehilangan dirinya.


Beberapa kali, aku sempat tak bisa mengendalikan diriku. Menatapnya secara intens,dan aku tahu hal itu membuatnya tak nyaman.


Wajahnya yang selalu bersemu merah saat aku memandangnya, menjadi candu bagiku. membuatku tertantang untuk selalu menggodanya.


Alis Anjani, seandainya kamu tahu betapa saat ini aku ingin memelukmu dengan erat.


Hanya saja aku tahu apa yang ada dalam hatimu. trauma pernikahan mungkin menjadi salah satu alasan mengapa kamu tak bisa membuka hatimu dengan mudah.


Apalagi setelah Bi Marni bercerita banyak tentangmu. Maaf juga,karena aku membicarakanmu di belakang akhir-akhir ini. rasanya tak puas hanya dengan melihatmu di pagi hari saja.


Karena aku akan sangat merindukan dirimu saat malam sudah tiba,bahkan rasanya ingin segera pagi agar bisa berjumpa denganmu.


Seperti waktu itu, kamu tak datang untuk bekerja. seketika saja perasaan cemas mendera pikiranku. bagaimana bisa kamu tak masuk kerja hari itu.


Aku meminta bi Marni untuk terus menghubungimu atau bahkan tetanggamu. Tapi belom ada kabar pasti tentang dirimu.


Saat itulah, aku merasa menyesal dengan kondisiku ini. seandainya aku bisa berjalan dengan benar, aku akan mencari keberadaanmu Alis.


Dan pada akhirnya, aku mendengar kabar dari bi Marni jika kamu sakit dan pingsan dijalan. jawaban yang sungguh membuatku lemas seketika.


Memikirkan bagaimana kondisimu saat itu? apa yang sebenarnya terjadi. Aku benar-benar tak tenang hingga malam menjelang.


Kekhawatiranku yang tak beralasan membuatku berpikir, apa yang sebenarnya terjadi padaku?


Kenapa aku bisa begitu mengkhawatirkannya?


Apa yang istimewa padanya, hingga membuatku seperti ini.


Saat Melihat Alis kembali dengan kondisi baik-baik saja, membuatku sedikit lebih lega. hingga tak sadar membuat tubuhku merangkulnya dengan erat.


Wanita pasti sangat kaget dengan sikap lancangku. tapi aku tak peduli, setidaknya aku bisa merasa lega dengan melihatnya baik-baik saja.


•••


Sebulan Kemudian,

__ADS_1


Pertemuan kami yang meski hanya 30 hari itu, benar-benar menyisakan banyak kenangan manis dengannya.


Bahkan Aku dengan susah payah memikirkan cara bagaimana agar Alis masih bisa bekerja denganku. aku sempat menawarinya bekerja di rumahku dia juga bisa tinggal di paviliun belakang rumah yang lumayan luas bersama anaknya. tapi sayangnya Alis menolak.


Ku pikir bukankah semua wanita akan senang di perlakukan seperti itu, mendapatkan semuanya dengan mudah. tapi Alis sangat lain, dia memegang teguh prinsipnya. juga lebih mementingkan putranya. hal yang membuatku semakin tertarik dengannya.


"Ya kalau dia gak mau. kamu Gak bisa maksa san," seloroh dokter Hasan saat aku mengutarakan keinginanku itu.


"Dokter cari cara dong,supaya saya punya alasan yang logis agar Alis mau tetap bekerja disini" desakku menatap sengit padanya.


"Kamu pikir semua wanita bisa tunduk sama kamu. saya rasa, Alis wanita yang memegang teguh prinsip. dia sudah tahu apa yang kamu inginkan. makanya dia menghindar," dokter Hasan tampak berfikir.


"Menghindar? jadi dokter pikir, saya yang berlebihan? apa salahnya? saya hanya tak mau dia dan putranya kesulitan. itu saja!" jelasku


"Saya rasa, niat kamu bukan cuma itu. makanya Alis menolak mentah-mentah!" sindirnya.


"Kamu sudah di tolak san," ledeknya menahan tawa.


Ku lirik sinis dokter Hasan. kata-katanya benar-benar membuatku kesal.


"Bagaimana dengan terapi? dokter bilang, saya harus melakukan terapi kan?" aku tersenyum penuh kemenangan. akhirnya ku temukan cara yang tepat agar bisa membuatnya tetap bekerja disini.


"Saya ingin dokter atur semua prosedurnya. yakinkan Alis, jika saya memang sangat membutuhkan perawat sepertinya." pintaku


Sejujurnya untuk hal yang satu itu, Akupun sedikit khawatir. tante ku bisa melakukan apa saja untuk membuatnya tak betah tinggal disini.


"Saya akan pastikan Alis aman. dokter tenang saja" jawabku yakin.


Setelah perbincangan cukup lama, akhirnya dokter Hasan menyiapkan segala sesuatunya agar aku bisa melakukan terapi di rumah. termasuk menyewa beberapa alat dari rumah sakit yang terbilang cukup mahal.


Demi wanita yang kita cintai, bukankah sebuah pengorbanan itu perlu?


-Wanita yang kita cintai-


•••


Melakukan terapi yang memang menguras tenaga. di tambah lagi harus mengurus beberapa pekerjaan kantor yang menumpuk membuatku benar-benar kelelahan.


Nita mengirim banyak file sore ini. hingga membuatku harus lebih fokus dengan pekerjaan. Aku termasuk orang yang disiplin pada pekerjaan.

__ADS_1


Tak boleh ada yang salah atau kurang dari hasil kerjaku.


Aku tak ingin mengecewakan para Klien ku yang memang sudah sangat percaya pada perusahaan yang papa dirikan.


"Maaf mengganggu," Suara tante ayu yang tiba-tiba masuk ke ruang kerjaku membuatku sedikit kaget.


Aku menoleh singkat lalu beralih kembali pada laptopku.


"Bagaimana dengan rapat kemarin? tante dengar kamu membatalkan kontrak dengan salah satu kontraktor? kenapa? kamu ingin menghentikan langkah tante lagi?" sindirnya.


Aku terdiam sesaat, lalu mendongak dan menatapnya enteng.


"Pembangunan pabrik itu sudah menghabiskan banyak uang. sementara kita sendiri masih belum mengembalikan kerugian yang di alami perusahaan? saya akan lanjutkan pembangunan pabrik itu tahun depan." jelasku.


"Gila kamu! tante sudah menghabiskan seluruh tenaga dan pikiran tante untuk proyek itu. seenaknya kamu tunda." protesnya.


"Tante pikir saya tidak memikirkan tentang semua kerugian perusahaan? selama ini siapa yang berjuang keras membangun perusahaan? tante hanya bisa memghambur-hamburkan uang saja. sama seperti saat papa masih hidup." aku menatap sengit padanya.


"Ya, tante memang berfoya-foya dengan uang papa kamu. tapi kamu tahu siapa yang menghancurkan karir papa kamu? ibu kamu sendiri. sudah beruntung dia menikahi ibu kamu, nyatanya malah berselingkuh dengan,-"


"STOP! tante gak usah ungkit-ungkit masalah itu. semuanya tak terbukti! mama tak berselingkuh dengan dokter Hasan! dokter Hasan sendiri yang mengakuinya pada papa." bentakku kesal.


Tante Ayu menyeringai sinis. seolah senang karena telah memancing emosiku.


"Permisi mas, ini kopinya!" suara bi Marni memecah keheningan kami sesaat.


"Kamu bisa bicara begitu. padahal hati kamu sendiri mencoba menyangkal!" desisnya sembari keluar dari ruangan kerjaku begitu saja.


Bi Marni menatapku lirih. Sering kali dia melihat semua perdebatanku dengan tante ayu. terkadang aku sangat malu padanya.


"Sudah! jangan di masukan ke hati! Ibu memang begitu sifatnya." bi Marni mencoba menenangkanku seolah tahu apa yang barusan terjadi.


Aku menatap kesal layar laptopku. Semua tudingan itu selalu bergema di telingaku. Aku mencoba percaya pada dokter Hasan. dia tak mungkin mengkhianati papa. begitu pun dengan mama yang sangat ku percaya tak akan berselingkuh.


Bi Marni pernah bilang, mungkin tante Ayu iri pada mama. karena setelah menikah, kasih sayang dan perhatian papa sebagai kakaknya terbagi dan papa lebih memperhatikan mama. maka dari itu dia menciptakan rumor-rumor yang tak pantas pada mama dan papa.


Entahlah,...


Hanya saja hatiku selalu sakit jika mendengar ada orang yang selalu menyudutkan alm. mama.

__ADS_1


Bagiku, mama tetap mama terbaik yang ku miliki. meski kasih sayangnya hanya sampai aku berusia belasan tahun saja. itu sudah lebih dari cukup bagiku.


• • • • • •


__ADS_2