
Usai menggelar rapat dengan para pemegang saham pada pukul 10. Kamipun kembali ke ruangan untuk membahas tentang hasil rapat barusan.
"Dampaknya sangat terasa sekali. apalagi bapak belum mau memperpanjang kontrak dengan pihak pak Broto." Nita menganalisa semua dokumen penting dihadapannya.
Aku menatap mas Sandy. dia sama sekali tak terlihat khawatir atau takut akan masalah yang di timbulkan dengan absennya pihak pak Broto.
"Mas, apa tidak lebih baik kalo kita jalin kembali kerjasama dengan pak Broto. saya fikir itu bukan ide buruk!" selorohku hati-hati.
Mas Sandy tak menjawab dan hanya fokus memperhatikan layar komputernya.
"Kita lihat saja, seberapa kuat mereka akan bertahan. saya tak ingin mengemis pada orang seperti dia. lagipula, belum ada perusahaan yang mau 'menampungnya'!" tegas mas Sandy.
Terlihat bahwa suamiku ini memang sangat memegang teguh prinsipnya.
TOK..
TOKK...
Kami bertiga menoleh ke arah pintu masuk. Dan ternyata Bu Ayu yang datang.
Mas Sandy menoleh padanya tanpa sepatah katapun,wanita itu melangkah mendekati meja kerja mas Sandy.
"Kamu lihat ini! Semua barang produksi kita tak bisa diterbitkan oleh media. kenapa kamu keras kepala sekali san?!" Bu ayu menjatuhkan dokumennya secara kasar.
"Jangan bilang, karena kamu ingin melindungi istrimu. makanya kamu tetap tak mau memperpanjang kontrak. Ayolah! jangan terlalu berlebihan, pak Broto bukan tipe laki-laki yang mau tergoda oleh wanita sembarangan!" lirikan tajamnya padaku menjelaskan bahwa semua ini karena kesalahanku.
Mas Sandy menghela nafas dalam.
"Tante tak perlu banyak bicara! saya selalu bersikap tegas pada orang-orang yang tak memegang prinsip dalam bekerja. bahkan sebelum saya menikah, tante sudah tahu hal itu!" jelasnya.
"Tapi ini sudah hampir sebulan san? apalagi kita sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan model terbaik untuk iklan bulan ini. memangnya ada media yang mau menerbitkannya,kalau bukan dari pihak pak Broto?!" tanya bu Ayu khawatir.
"Yang menginginkan adanya iklan itu tante, bukan saya. lagipula, saya ingin tahu seberapa besar tante mampu mengendalikan perusahaan tanpa saya!" sindir mas Sandy.
"SANDY!!!" bentaknya kesal.
"Mas,-" Aku menyeloroh kaget, takut jika karyawan diluar mendengar keributan ini. Nita tampak tak berkutik saat dua atasannya itu beradu mulut.
"Jangan mentang-mentang kamu pemilik dari perusahaan ini. kamu bisa seenaknya menginjak-injak harga diri tante! selamanya tante gak terima!" dengusnya
"Kenapa? tante takut jika semua saham yang papa berikan ke tante, saya rebut kembali? tante tenang saja! saya tak sepicik itu." tukas mas Sandy dengan santainya.
"Kamu benar-benar kurang ajar! bahkan setelah tante membesarkanmu,ini balasannya?!" Bu ayu menatap mas Sandy penuh amarah.
__ADS_1
"Mas, udah!" aku yang berada disamping mas Sandy mencoba menarik lengannya,agar dia berhenti melawan tante Ayu.
"Apa mungkin semuanya gara-gara wanita ini? semenjak kehadirannya, kamu jadi semakin tak bisa di atur!" desis bu Ayu.
"Sampai kapan tante akan berhenti menyalahkan istri saya?! bahkan saat tante mengundang Vina ke perusahaan, dia sama sekali tak menolak. padahal tante sendiri tahu,dia pasti terluka. tante ini perempuan! kenapa tak memiliki hati dan perasaan yang lembut? bahkan pada Alis,yang seharusnya tante lindungi seperti anak sendiri?!" geramnya.
"Selamanya saya tidak akan pernah mengakui wanita ini sebagai istri kamu. dia sama sekali jauh berbeda dengan kita." sindirnya tajam
Aku memekakan mataku kaget. ternyata memang selama ini itulah yang jadi permasalahan antara tante Ayu dan diriku. karena aku bukan dari kalangan elit sepertinya.
"Sekali lagi tante bicara begitu pada alis! saya tak akan tinggal diam. saya akan benar-benar mengusir tante dari rumah dan bahkan dari perusahaan ini!" ancamnya.
"Kamu,..!" geram wanita itu.
"Sudah mas, CUKUP! kalian mau sampai kapan ribut begini?!!" Leraiku tegas.
"Tak apa jika tante Ayu tak mau menerima saya! asalkan jangan libatkan masalah kalian dengan urusan pekerjaan! kalian memiliki tanggung jawab besar atas orang-orang yang bekerja di dalamnya. kalian berdua tak tahu bagaimana Nita bekerja siang dan malam hanya agar perusahaan kita tetap berjalan. dan kalian hanya meributkan masalah seperti ini?!" cerocosku kesal.
Mas Sandy tertunduk kalut. sementara Bu ayu menatapku geram.
"Sebentar lagi pihak MEGA.Models datang. lebih baik hentikan perdebatan ini sekarang juga! sebelum semua orang melihatnya!" pintaku tegas.
"Tak bisa di percaya!" dengus bu Ayu seraya meninggalkan ruangan kami. Aku membelalakkan mataku menahan air mata yang hendak keluar. sebenarnya bukan tipeku untuk marah dan berteriak seperti barusan. hanya saja, jika terus di biarkan mereka akan semakin menjadi-jadi.
Aku menyeka air mataku dan turut keluar meninggalkan ruangan kerjaku.
"Sayang,..!" teriak mas Sandy padaku. Namun kali ini aku memilih acuh dan tak menggubrisnya.
•••
"Pak Sandy sama bu Ayu ribut?" pekik Rahma.
"Gak Heran sih kalo mereka ribut terus, dari dulu juga begitu. apalagi sekarang masalah baru muncul sejak pak Sandy memutus kontrak dengan pak Broto." timpal Sinta yang sepertinya paham betul situasi di kantor.
Aku memijat kepalaku pelan.
"Mereka selalu saja meributkan hal yang sama. Bener-bener kaya anak kecil. Emangnya mereka Gak bisa apa, duduk bersama terus cari jalan keluarnya? Emangnya susah?!" protesku kesal.
"Sabar Lis, namanya juga ponakan sama tante. pasti mereka punya banyak perbedaan prinsip dalam berbisnis." Rahma mengelus lembut pundakku.
"Bu Ayu iri sama pak Sandy. karena hampir semua aset keluarga Hadiwijaya jatuh ke tangannya. makanya dulu sempet ada desas desus kalo bu ayu ingin melenyapkan pak Sandy. gak heran kalo dia sebenci itu sama keponakan sendiri. bayangkan, harta keluarga Hadiwijaya yang banyak ini, semuanya atas nama pak bos. aku aja kalo jadi bu Ayu pasti iri." tukas Sinta enteng.
"Melenyapkan mas Sandy?!" aku menatapnya tajam.
__ADS_1
"Kamu gak tahu soal itu?" Rahma menoleh tak percaya padaku.
Aku menggeleng cepat. aku bahkan sama sekali tak mengira jika tante ayu sempat ingin menghabisi nyawa keponakannya sendiri.
"Dulu sebelum pak Sandy kecelakaan, mereka juga sempet cekcok. dan lagi, saat itu pak Bos baru putus dari Vina." jelas Rahma mengingat-ingat.
Aku terdiam cukup lama. ternyata kehidupan keluarga Hadiwijaya begitu mengerikan. apa mungkin diluar sana pun banyak orang yang menginginkan aku lenyap? batinku
"Sebentar lagi, Modelnya datang. kamu juga harus ada disana lis," Sinta melihat jam tangannya.
"Masalah kamu berat banget ya!" Rahma menghela nafas dalam.
"Masalah sama bu Ayu belum selesai. sekarang harus liatin sang mantan ketemu sama suami sendiri. Haduhhh!' desahnya lagi.
"Berisikkkk!" Sinta menepis lengannya.
Drrrtttt..
DRrrrttt..
"Pasti pak Sandy nyariin kamu. angkat buruan!" seloroh Rahma yang jelas melihat siapa yang sejak tadi menelpon.
"Lagian malah ngumpet di toilet sih." desis Sinta seraya merapikan rambutnya sembari menghadap cermin.
Aku merapikan rambut serta penampilanku. aku tak boleh terlihat 'Berantakan'. apalagi aku harus mendampinginya melakukan pemotretan sesi terakhir ini.
Ku ambil ponselku,
"Kamu dimana?!" tanyanya cemas.
"Saya di toilet mas, sebentar lagi saya kesana." sahutku lesu. kemudian ku matikan teleponnya tanpa membiarkan mas Sandy bicara lagi.
Kami bertiga keluar dari dalam toilet. ku lihat beberapa staf membawa peralatan pemotretan ke arah ruang produksi.
"Eh itu Vina,wahh.. dia benar-benar model papan atas. tasnya aja seharga mobil" decak Rahma menatap ke arahnya.
Aku menatap lama pada sosok gadis itu. benarkah mas Sandy sudah tak mencintainya lagi? dia begitu tak tercela. kini aku menjadi ragu karena pikiran burukku sendiri.
"Wanita kaya Vina akan sulit mendapatkan jodoh. dia terlalu ambisius!" celetuk Sinta.
"Tapi tetep aja kita iri kalo liat dia secara nyata begini. Huhfth!" desah Rahma.
"Kalian bikin aku jadi takut," gumamku pelan.
__ADS_1
• • • • • • • •