
Aku masuk ke dalam mobil, ku lihat mas Sandy meringis memegang kakinya. kali ini aku menatapnya penuh amarah.
"Mas Sandy apa-apaan sih? Gimana kalo tadi mas Sandy jatuh?" gerutuku.
"Jalan pak!" perintahnya pada pak wahyu.
"Yang mana yang sakit?" tanyaku yang akhirnya malah berubah mencemaskannya.
"Lutut saya sakit!' Erangnya.
"Kita ke rumah sakit aja ya mas?" saranku.
"Enggak. kita pulang aja! di kompres es juga nanti baikan!" selanya.
"Lagian mas Sandy, ngapain kabur sih? bikin orang panik aja tahu. lain kali jalannya pelan-pelan aja!" protesku.
Mendengar celotehanku Mas Sandy malah memejamkan matanya tak peduli.
"Dasar bandel." Dengusku kesal.
Ku lihat Pak wahyu yang hanya tersenyum tipis melihat tingkah majikannya itu.
Sebelum menuju kompleks rumah, tiba-tiba Mas Sandy minta berhenti di salah satu Mall besar.
"Disini pak?" tanya pak wahyu.
"Iya, ayo turun!" Ajaknya padaku.
"Kenapa malah parkir disini sih?" Gumamku tak paham.
"Ayo turun!" desaknya.
Aku bergegas turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya.
"Katanya barusan kakinya sakit?" tanya ku sembari menyerahkan kruk padanya.
"Bawel!" Desisnya cuek.
"Ini alat bantu jalannya dipake lagi, jangan sampe lari-lari kaya tadi!" Sahutku ketus.
Kami berdua masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu, aku melihat seisi gedung yang terang dan penuh warna. Ah! seandainya Andi tahu ada tempat seperti ini. dia pasti akan memintaku mengajaknya setiap minggu kemari.
"Kenapa sih kamu selalu ngeliat tempat baru dengan tatapan begitu teh?" selidik mas Sandy yang sepertinya memperhatikan gerak gerik ku.
"Tempatnya nyaman ya mas, bersih. udah gitu barang-barang nya juga bagus semua." tukasku antusias.
"Untung saya masih sakit. kalo saya udah sembuh, saya ajak kamu setiap hari kesini teh!" Godanya.
Aku memanyunkan bibirku meledeknya.
"Ayo kesini?!" perintahnya mengajakku masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang jelas sangat berkelas. Aku bahkan tak mampu membayangkan bahan pakaian seperti apa yang mereka jual di dalamnya.
__ADS_1
"Wah! wangi banget tokonya." Desisku.
Aku memang sangat kampungan untuk hal seperti ini, karna memang aku belum pernah melihat atau bahkan masuk secara langsung ke tempat seperti ini. baru kali ini saja aku tahu bagaimana rasanya.
"Selamat datang. Silahkan duduk pak Sandy!" sapa seorang pelayan wanita yang sangat cantik itu.
Aku melirik mas Sandy heran. kenapa dia mengenal mas Sandy? apa mungkin mas Sandy pelanggan toko ini? batinku menerka-nerka.
"Pak Sandy sudah lama tidak mampir. apa bapak perlu sesuatu?" tanyanya ramah.
"Tolong carikan saya beberapa stel pakaian untuk nona ini. yang terbaru yah!" pintanya.
Aku lagi-lagi terperangah mendengar permintaannya pada pelayan itu.
"Baju buat saya mas? kok buat saya sih? saya kan gak pesen baju? Lagian di rumah baju saya juga banyak!" protesku. jelas aku tak suka sikapnya yang berlebihan itu apalagi tanpa bertanya padaku.
"Kalo saya tanya, sudah pasti kamu nolak teh. saya tahu kamu!" Timpalnya.
Aku melirik sinis.
"Dasar nyebelin." Gumamku pasrah.
15 menit sudah berlalu, pelayan toko itu datang dengan beberapa stel pakaian. dan semuanya terlihat mewah. aku bahkan tak yakin pantas atau tidak untuk memakainya.
"Cobain teh!" perintahnya.
Pelayan itu melirik ke arahku. mungkin dia berfikir mengapa mas Sandy memanggilku dengan sebutan itu.
"Saya udah nahan sakit kaki, cuma buat beliin kamu baju. dan sekarang teh alis nolak pemberian saya? gak sopan banget!" Tukasnya membuat pelayan itu tersenyum kearahku.
"Iya kak, silahkan dicoba dulu. takutnya ukurannya tidak pas!" bujuknya.
Aku menyeringai bingung. kalau bukan ulah majikanku yang menyebalkan ini, aku tentu tak mau menurutinya.
Dengan terpaksa dan malu-malu aku akhirnya mencoba satu persatu pakaian yang benar-benar belum pernah ku lihat sebelumnya itu.
Pakaian pertama yang ku pakai adalah longdress panjang dengan motif bunga tulip berwarna biru cerah dengan pita putih melintang dipinggangnya. Sebetulnya aku tak menampik jika pilihan pelayan itu untuk ku tak main-main. apalagi bahannya yang nyaman serta pas melekat ditubuhku ini membuatku tak rela untuk melepasnya.
"Ya allah lis, Istigfar!" Gumamku menatap cermin.
Selesai mencobanya Aku melepasnya kembali. ku lihat baik-baik Barcode dan Hangtag Yang terselip dibalik kerah bajunya.
"Seratus lima puluh dollar? kira-kira berapa yah?" Gumamku mencoba menghitung nya.
"Sudah selesai kak, silahkan coba yang lainnya." tukas pelayan toko tersebut. membuatku kaget.
Aku keluar dengan membawa semua bajunya. mas Sandy menatapku heran.
"Udah nyobain bajunya? cepet banget?" tanyanya heran.
"Mas, saya ambil satu aja yang ini. saya suka warna nya. tapi enggak harganya!" bisikku pada mas Sandy. Aku duduk mendekat dan meletakkan semua baju itu di sofa. Mas Sandy masih menatapku aneh. dan aku tak suka dia menatapku begitu.
__ADS_1
"Saya nyuruh kamu coba semua bajunya teh. ngapain saya jauh-jauh kesini cuma beli satu stel baju doang!" desisnya
"Tapi mas, ini dollar loh! enggak ah, saya gak suka baju mahal-mahal!" tolakku.
Mas Sandy menatap pelayan itu ragu.
"Kamu mempermalukan saya teh. liat tuh,si Mbak nya aja sampe senyum-senyum kan?!" dengusnya melirik sinis ke arahku.
"Jadi mau yang mana kak?" tanyanya masih dengan nada sopan.
"Tolong bungkus semuanya! saya bayar di kasir." seloroh mas Sandy.
"Mas Sandy!" larangku.
"Saya gak suka penolakan!" jawabnya tegas. mendengar itu nyali ku untuk Memprotes nya langsung ciut.
Keluar dari toko tersebut, mas Sandy masih berjalan menuju salah satu toko Bakery n candy.
"Kali ini, saya yang belanja. teh Alis diem aja!" perintahnya memintaku mengekorinya saja.
Aku memegang keranjang belanja dan hanya mengikuti kemana arah kakinya melangkah.
Dia mengambil beberapa roti dengan berbagai isian. susu kaleng, coklat, permen,dan masih banyak lagi jenisnya. hingga aku pusing melihatnya.
Baru kali ini, ku lihat mas Sandy begitu serius berbelanja. tangannya dengan cekatan melihat bungkusan produknya. sepertinya dia meneliti batas kadaluarsa makanan tersebut.
"Mas Sandy! udah ya! tangan saya pegel!" rengekku yang mulai melihat jam di tangan dan sudah menunjukkan pukul 4 sore. jika aku tak merengek seperti ini, sudah pasti dia akan mengabaikan ku.
Mas Sandy menoleh kearah ku,wajahnya berubah penuh kekhawatiran.
"Ya sudah," Ajaknya lembut.
Sejujurnya aku Sedikit kaget mendengar suaranya yang merdu itu.
Aku membawa barang belanjaan yang lumayan banyak dan sangat kesulitan.
"Pak, tolong dibantu!" perintah mas Sandy pada pak wahyu.
"Wah, ngeborong ya neng!" tukasnya bergegas. Aku tersenyum kecut.
"Gak tau tuh! mas Sandy." Sahutku lelah.
"Mas Sandy gak pernah belanja begini loh neng!" jelasnya.
"Serius pak?" tanyaku heran.
"Ayo buruan!" pintanya malas.
Kami bergegas masuk ke dalam mobil, namun beberapa menit kemudian aku terkejut saat tahu arah jalan pulang yang kami tuju bukanlah kompleks perumahan Mas Sandy.
"Kita mau kemana?" tanyaku menatapnya heran.
__ADS_1
• • • • • • • • •