
Sepandai-pandainya tupai melompat, dia pasti akan terjatuh juga.
Menyembunyikan sebuah kebenaran bukanlah hal yang mudah. Seperti halnya dengan apa yang telah di lakukan pak Broto. Dia dan Bu Ayu memang bisa menyembunyikan semua kejahatan mereka dari Mas Sandy dan semua orang. tapi tidak dengan Tuhan.
"Bicara yang jelas!" desak pak Munir dengan tatapan tajam.
Pak Broto menyunggingkan senyum yang tak dapat di jelaskan. dan semakin aku melihat senyumannya,semakin aku merasa takut padanya.
"Kalian pikir hanya aku orang yang jahat disini. sebaiknya kamu bertanya pada suamimu Alis. sejahat apa dia padamu!"
DEG
Kalimat-kalimat sindiran itu Entah apa maksudnya. apa mereka semua menyembunyikan rahasia di belakangku. Tapi apa?!
"Sepertinya dia memang pantas mendekam di dalam jeruji besi lebih lama," mas Sandy bangkit dan menarikku untuk meninggalkannya. Mesi sesungguhnya aku masih penasaran dengan apa yang pak Broto bicarakan.
"Kita pulang!" ajaknya dingin.
Ku tatap ragu mas Sandy, rasanya ada yang tak benar dari sikap mereka semua.
"Pembunuh suamimu adalah laki-laki yang selama ini bersamamu! yang bersembunyi di balik sebuah pernikahan agar lepas dari jeratan hukum. dia bahkan menyumbangkan sejumlah uang pada perusahaan JasaMarga untuk menutup mulut. tidak kah itu sangat jahat Alis."
Aku dan mas Sandy terlalu cukup lama. Ku tatap genggaman tangannya yang masih kuat memegang tanganku.
Aku menoleh pada pak Broto. terlihat wajahnya begitu puas setelah mengatakan hal itu. Lalu ku tatap Pak Munir yang tampak kaget. entah dia kaget karena kebenaran itu, atau justru dia kaget karena tak menyangka jika pak Broto akan bicara demikian.
Aku semakin diliputi rasa tak percaya pada mereka semua.
"Ada apa ini? kenapa kalian semua diam?" tanyaku pada mas Sandy dan pak Munir.
"Mereka tak bisa mengelak, karena itu memang kenyataannya. Ayu Memintaku Untuk menyembunyikan berita itu dan tak lagi mengungkitnya ke Media. demi menjaga nama baik Perusahaan. juga menjaga kejahatannya agar tetap aman di tanganku. Tante dan keponakan sama saja. kalian semua bersikap seolah semua baik-baik saja, padahal....!"
"HENTIKAN!!!!" Bentakku padanya.
Aku sudah tak tahan lagi. apalagi ku lihat mas Sandy sama sekali tidak bisa menyanggah tuduhan yang jelas sangat menyudutkannya. Jelas jika semua cerita pak Broto itu benar.
Ku tarik kasar tanganku dari genggamannya. Mas Sandy menoleh kaget padaku.
"Kalian bicara saja, aku mau ke toilet!" pamitku ragu. padahal rasanya aku ingin kabur dari mereka semua.
Aku berlari keluar ruangan. menjauh dari mereka. kakiku menyusuri lorong-lorong lembab tadi. Pikiranku kacau, hatiku sakit. entah harus merasa lega atau kecewa atas kebenaran ini.
__ADS_1
Ingatanku tiba-tiba kembali ke malam itu, malam yang panjang dan melelahkan. dengan guyuran hujan yang sangat deras,serta kilatan petir yang saling menyambar. suara teriakan orang-orang riuh terdengar, disertai bunyi klakson dan sirine mobil saling bersautan. ku lihat tubuh mas Rizal masih tergeletak bersimbah darah, bahkan bau Amisnya masih bisa ku cium.
HUWOEEKKKK!!!!
Sedetik kemudian rasa mual menyerang perutku,kepalaku berdenyut nyeri,lalu semuanya terasa berputar-putar sekarang dan juga GELAP.
•••
Trauma dan Rasa sakit sudah menjadi satu bagian yang tak dapat dipisahkan.
Dan aku menjadi salah satu bagian itu. melepaskan diri dari rasa sakit dan trauma bukanlah hal yang mudah. sejauh apapun kita berlari, secepat apapun kita menghindar. bayang-bayang kengeriannya akan tetap datang menghantui. dikala kita tertekan,terluka, dan juga kecewa.
Aku meremas jari jemariku pelan,dan rasanya sulit sekali untuk membuka mata.
Perlahan tapi pasti aku mulai bisa membuka mataku sedikit. terlihat lampu ruangan begitu terang di atas sana.
Dimana aku?
Apa aku masih di tempat itu?
Aku menoleh ke arah kiri, tampak sepi. ku edarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan yang didominasi warna putih itu. Tak ada siapapun disana.
Pintu kamar mandi terbuka, Aku menatap gamang sosok yang akan keluar dari sana. siapa?
"Sayang..." Mas Sandy berlari ke arahku dengan cepat.
Aku menatapnya lekat, masih tak percaya jika aku masih bisa melihatnya.
Padahal jelas niatku Adalah melarikan diri darinya.
"Kenapa saya disini?" tanyaku dengan suara yang sedikit serak.
"Kamu pingsan sayang," jelasnya seraya mengusap lembut kepalaku.
Aku tertunduk kalut.
"Apa kamu marah? Kamu boleh membenci saya, tapi kamu harus ingat. di perut kamu ada janin yang harus kamu jaga!" mas Sandy memegang perutku.
"Apa saya bisa menjaganya" gumamku lirih. entahlah tiba-tiba saja suasana hatiku sendu.
"Sayang,.. jangan bicara begitu. kamu harus menjaga bayi kita dengan baik. saya akan melakukan apapun untuk menjaga kalian berdua. Tapi,jika kamu tak suka melihat saya. saya bisa pergi" mas Sandy bangkit.
__ADS_1
Ku Tahan cepat lengannya.
"Bisakan mas Sandy jelaskan apa yang di maksud oleh pak Broto?" pintaku.
Mas Sandy menatapku hati-hati. Lalu dia kembali menarik kursinya dan duduk.
Kedua tangannya menggenggam erat tanganku. seakan takut jika aku tak percaya lagi padanya. baginya mungkin saat ini akulah yang paling berharga dalam hidupnya.
"Kamulah satu-satunya wanita yang membuat saya mau tetap hidup. bahkan saya rela mempertaruhkan segalanya." gumamnya sendu.
Aku menatapnya gamang. masih ada sedikit keraguan dalam hatiku. kenapa selama ini dia tak bilang? soal kecelakaan itu, soal semuanya.
"Apa benar, mas Sandy yang membuat mas Rizal meninggal?"
Mas Sandy menelan ludah getir.
"Ceritakanlah mas... saya siap mendengar semuanya." desakku lagi.
"Baiklah, jika kamu memaksa. saya akan cerita. tapi kamu harus berjanji satu hal pada saya Alis Anjani, bahwa kamu tak Akan meninggalkan saya!" pintanya penuh rasa takut dan pengharapan.
Tatapan matanya begitu dalam, membuatku tak bisa menolak permohonannya. hingga ku setujui dengan satu anggukkan.
"Sejujurnya.. Sejak lama saya sudah memperhatikan kamu. jauh sebelum kita bertemu" jelasnya membuka cerita.
Aku menatap mas Sandy tak percaya. bagaimana mungkin? sejak kapan?
"Hanya saja, dulu saya tak punya keberanian untuk mendekati kamu. apalagi setelah saya tahu kamu telah bersuami. itu pertama kalinya saya merasa kecewa pada sebuah kenyataan. padahal jelas-jelas kita tak saling mengenal." mas Sandy menggenggam erat tanganku.
"Dan setelah tahu kenyataan itu, saya mencoba menjauh. tapi, semakin saya mencoba melupakan kamu. saya justru semakin tak bisa melupakan kamu. Lalu kecelakaan itu terjadi dan itu pertama kalinya saya melihat kamu setelah mencoba melupakan kamu. saya bersyukur tapi juga saya harus menelan kenyataan pahit. jika mobil yang menabrak suami kamu itu adalah milik Perusahaan ASTRA. saya bersumpah saya mengutuk perasaan saya sendiri. Seandainya saya tak memaksa barang itu untuk tiba Malam itu juga. mungkin semuanya tak akan menjadi seperti ini. saat itu saya sangat takut. apalagi saya melihat bagaimana kamu menangis didepan jasad suami kamu.. saya benar-benar khawatir, kamu pasti akan menuntut balas atas kematian suami kamu..." mas Sandy menggantung kalimatnya.
"Itu sebabnya tante Ayu meminta pak Broto untuk menutup berita dan tak menyebarkannya ke media. untuk menjaga nama baik kamu, nama baik perusahaan dan kejahatannya sendiri? begitu kan mas?!" tanyaku
Mas Sandy Menatapku sendu. dia semakin mendekat dan mendekapku erat.
"Maafkan saya.....! Maafkan saya.....!" desahnya kalut.
Benarkah semua itu? mereka semua? demi nama baik?
Aku tahu itu memang kecelakaan,tapi tak semestinya mereka menutupi kesalahan mereka. Aku mencengkram kuat sisi selimut, mencoba sekuat tenaga memendam kemarahanku.
• • • • • • •
__ADS_1