PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•41


__ADS_3

Ku biarkan Mas Sandy duduk sejenak sembari merendam kakinya dengan air yang ku siapkan.


Sementara aku harus memindahkan Andi ke kamar agar dia tidur dengan nyenyak.


"Mas Sandy mau saya buatkan minum?" tanyaku kemudian.


"Tidak perlu teh,saya hanya ingin teh Alis menemani saya disini sebentar saja!" pintanya menunjuk kursi di hadapannya.


"Ada apa mas?" aku duduk dihadapannya penasaran.


"Sepertinya beberapa hari lagi, kontrak kerja teh Alis dengan saya sudah berakhir. lalu apa rencana teh alis selanjutnya?" tanyanya menatapku dalam.


"Saya masih belum tahu mas!" jawabku tersenyum. aku tentu tak ingin mas Sandy tahu soal formulir pendaftaran kerja yang ku terima siang tadi.


"Apa teh Alis belum mendapatkan pekerjaan baru? saya bisa membantu teh Alis kalau begitu!" jelasnya sungguh-sungguh.


"Tidak perlu mas, saya bisa Mencari pekerjaan sendiri. saya tidak bisa selamanya mengandalkan kebaikan mas Sandy." tukasku ragu.


"Apakah teh Alis yakin? teh Alis membutuhkan banyak biaya untuk kebutuhan Andi." jelasnya khawatir.


"Mas Sandy tak perlu khawatir, bukankah selama ini saya sudah melewati semuanya sendirian? dan saya yakin saya bisa membesarkan Andi!" Sahutku mantap.


Aku tak ingin mas Sandy cemas akan kondisi kami kelak. meskipun sejujurnya aku sendiri takut untuk menghadapi hari esok dan melihat Andi tumbuh semakin besar.


"Teh, saya mohon. jika teh Alis memerlukan bantuan saya! teh Alis bisa bilang. jangan selalu memikul semua beban sendirian!" timpalnya


"Terima kasih banyak mas. saya sangat menghargai niat baik mas Sandy!"


"Saya sungguh-sungguh teh. saya tak ingin kamu kesulitan dalam hal apapun. Bila perlu, biaya sekolah Andi biar saya yang menanggung!" pintanya yakin.


"Tidak perlu mas. Kebutuhan Andi bukan menjadi tanggung jawab mas Sandy. justru jika seperti itu, malah akan membuat saya tidak nyaman!" selaku


Drrrrtttt... Drrrrtttt...


Ponselku bergetar, sebuah panggilan masuk dari Dokter Hasan mengagetkanku.

__ADS_1


"Dari Dokter Hasan." jelasku pada mas Sandy yang juga penasaran siapa yang menelepon.


"Halo dok,selamat malam. ada yang bisa saya bantu?"


"Apakah Kamu bersama Sandy, Lis?" tanyanya


Aku menatap mas Sandy bingung, sedetik kemudian mas Sandy mengambil ponselku.


"Saya disini dok, kenapa?" tanyanya ketus.


"Kamu kemana saja? ponselmu tak dapat dihubungi san! ini sudah waktunya minum obat. dan saya rasa kamu tidak membawanya? kamu benar-benar ingin sembuh atau malah mengulur kesembuhanmu san? jika kamu masih menganggap saya doktermu. pulanglah! jangan terlalu lama bertamu di rumah orang!" sindirnya.


Obrolan itu dapat ku dengar jelas karna kami saling berhadapan.


"Ya baiklah, saya akan pulang sekarang!" sahutnya malas. mas Sandy mematikan panggilan telepon nya.


Aku tersenyum tipis melihat betapa patuhnya mas Sandy pada Dokter Hasan.


"Sepertinya dokter Hasan marah?" tanyaku padanya


"Itu tandanya, dokter Hasan sayang pada mas Sandy!" jelasku meyakinkannya


"Kamu juga selalu bawel pada saya. apa itu tandanya bahwa kamu juga menyayangi saya teh?" tanyanya Setengah menggoda.


"Mas Sandy memang benar-benar harus minum obat ya mas!" ledekku.


Mas Sandy terkekeh mendengar jawabanku yang mungkin terdengar lucu baginya.


"Sini mas! biar saya bersihkan kakinya. setelah ini mas Sandy boleh pulang! saya tidak mau di anggap menyembunyikan pasien dokter Hasan. bisa-bisa saya di tuntut Nanti!" celetuk ku mencoba menghiburnya.


"Dia tak akan berani menuntut wanita yang jelas-jelas coba saya dekati teh!" Selorohnya santai.


"Ah! saya salah bicara sepertinya" dengusku.


Aku mengantar mas Sandy hingga ke depan pintu. waktu menunjukkan pukul 8 malam. beruntung lah di luar rumah terlihat sepi. aku tak ingin tetangga bergosip besok pagi tentang mas Sandy. meskipun aku tahu, itu pasti akan terjadi besok pagi. dan aku harus bersiap untuk gunjingan itu.

__ADS_1


"Saya pulang dulu teh! sampaikan salam saya untuk Andi. bilang padanya saya akan sering berkunjung nanti." Tukasnya yakin.


Aku menatapnya ragu. betapa percaya dirinya orang di hadapanku ini.


"Sebelum Mas Sandy berkunjung, memangnya mas Sandy yakin saya akan memberi ijin?" ledekku.


"Saya yakin akan mendapat ijin,teh Alis gak liat betapa Andi sangat suka jika saya berkunjung?" jawabnya tak mau kalah.


"Ah, sudahlah. kepala saya pusing jika harus berdebat dengan mas Sandy!" cibirku.


Mas Sandy mengulum senyum,tentu saja dia meledekku sekarang.


"Lain kali jangan mendebatku Alis anjani!" Tukasnya merdu,seraya mengusap lembut sisi kiri kepalaku.


DEG!


Sekilas aku melihat ada ketulusan dimatanya,aku tak dapat berbohong jika aku sangat terkejut atas sikapnya yang tiba-tiba itu.


"Saya pamit! selamat malam." bisiknya lagi mengakhiri pertemuan kami hari ini.


Tubuhku masih bergeming di ambang pintu,perlakuannya itu jelas menunjukkan sikap ketertarikan seorang laki-laki. Aku paham itu, meski aku coba menutupinya. jelas aku sadar.


Tapi kenapa? kenapa harus aku? dan kenapa harus seorang Sandy Hadiwijaya yang melakukan hal itu padaku?


Apakah Tuhan sedang bercanda sekarang???


Sekalipun mawar itu berduri, katanya seribu kumbang akan tetap mengelilingi nya...


Dan Sekalipun gurun itu tandus, katanya ribuan orang tetap akan datang untuk melewatinya..


Lalu bagaimana dengan diriku?


Bahkan saat aku menjadi mawar,


aku malah di sia-sia kan.

__ADS_1


• • • • •


__ADS_2