PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•107


__ADS_3

KLEK!


Aku mengerjap pelan saat mendengar suara pintu terbuka.


SIAL! mimpi indahku akhirnya buyar sudah.


Siapa yang berani-beraninya mengganggu istirahatku sekarang,


Aku melirik ke arah kiri, dimana suara derap langkah kaki menghampiriku.


"Maaf pak, membangunkan anda. saya harus mengganti perbannya" tukas sang suster seraya mendekati kakiku.


Ku lihat baik-baik wajah suster itu, apakah dia memiliki wajah seperti Alis? atau mungkin dia adalah Alis, aku menilik perlahan karena tak mau ketahuan. lagipula, gerakan kepalaku pasti sangat pelan dan tak akan terlihat olehnya.


Suster tersebut beralih menuju nakas, untuk mengambil sesuatu. dari jarak cukup dekat inilah aku baru bisa melihatnya dengan jelas.


BUKAN! dia buka perempuan itu, dia bukan Alis. apa aku terlalu menginginkannya, hingga tiba-tiba dia datang didalam mimpiku? tapi bagaimana bisa?!


Akupun tak tahu dimana keberadaannya sekarang. apalagi kondisiku seperti ini, sudah pasti mustahil aku bisa bertemu lagi dengannya.


Aku meremat kuat jari jemariku.


"Sial," dengusku pelan.


"Kenapa pak? pak Sandy butuh sesuatu?" si suster rupanya mendengar dengusan pelanku.


"NO!" jawabku dingin.


Suster tersebut mengganti perban dengan hati-hati. sesekali dia menoleh padaku,membuatku benar-benar tak nyaman. sepertinya usia suster itu masih sangat muda. mungkin lebih muda 5 tahun dariku. dia juga sangat manis. tapi bukan itu yang aku inginkan,


Bahkan ribuan wanita cantik pun tak bisa menggantikan mimpi indahku barusan.


"Pak Sandy mau sarapan? atau perlu ke toilet?" tanyanya ragu.


Aku tak menjawab dan lebih memilih memalingkan wajahku ke sisi kanan.


"Saya akan menunggu bapak disini! jika perlu sesuatu panggil saya saja" tukasnya. suster itu pergi ke sudut ruangan sembari duduk dan membaca buku.


Kenapa bi Marni malah membiarkannya tinggal di kamarku. sejak kapan aku memberi ijin untuk berbagi ruangan dengan orang asing.


Aku menghela nafas kesal.


Ku tatap langit-langit kamarku, ingatanku menerawang jauh pada hal yang sejujurnya tak ingin aku ingat kembali. Pertemuan dan pertengkaran terakhirku dengan Vina, seakan menjadi racun yang mematikan. sakit sekaligus marah. setidaknya itu yang ku rasakan saat mengenangnya.


"Aarggh!" Kakiku tiba-tiba berdenyut nyeri. Suster yang tengah duduk itu terkejut dan segera mendekatiku.


"Pak Sandy kenapa? apa ada yang sakit?" tanyanya panik.


"Pergiiiiii..." usirku padanya.


Rasa marah dan frustasi membuatku benar-benar ingin selalu marah pada siapapun yang coba mendekat.

__ADS_1


Rasa percaya diri yang hilang karena kecelakaan ini, membuatku enggan menerima kenyataan bahwa aku sekarang tak dapat berjalan.


Apa selamanya aku akan lumpuh? batinku menjerit.


"Aaaarrrgghhh!" Aku berteriak histeris.


Suster tersebut hanya menatapku bingung, lalu dia pergi keluar begitu saja.


Tak berapa lama Bi Marni datang.


"Mas,.. Mas Sandy kenapa? tenang mas!" pintanya seraya mendekat padaku.


Aku terisak sembari mendekap tubuh kurusnya,wanita tua itupun akhirnya ikut menangis. seakan turut merasakan kesedihanku.


"Sabar ya nak, Allah tak akan menguji hambanya melampaui batas. mas Sandy pasti kuat dan bisa melewati ini semua." bi Marni mencoba menenangkan. hanya kata-kata itulah yang mampu membuatku sedikit lebih tenang.


Seandainya mama dan papa masih hidup. mereka pasti tak akan membiarkanku menderita begini. tapi, Meskipun bi Marni bukan ibuku, setidaknya kasih sayangnya sudah lebih dari cukup untuk mengobati rasa rinduku pada mama meski hanya sementara waktu.


•••


Sehari dua hari aku mulai bosan dengan suster yang di bawa dokter Hasan. aku meminta bi Marni mencarikan suster yang lain yang lebih keibuan. Aku tak suka jika yang merawatku adalah gadis-gadis muda.


Mereka hanya bisa menunjukkan sisi kecantikannya saja dibanding keseriusan mereka dalam merawatku. jika begini, mana mungkin aku bisa sembuh.


"Mas Sandy sudah hampir dua minggu loh, gonta ganti perawat. mau cari yang Gimana lagi sih mas," keluh bi Marni sembari menyiapkan makanan untukku.


"Cari," gumamku pelan.


"Iya, tapi cari dimana? bibi udah bingung! mas Sandy cuma bilang, cari,cari,. kan susah mas," Protesnya.


Sejujurnya aku bisa bicara panjang lebar, hanya saja mulut dan pipiku masih merasakan sakit. apalagi sekarang, aku terserang flu dan itu membuatku kesulitan bernafas saat bicara banyak.


"Kalo gak pake perawat, nanti mas Sandy gak ada yang urus. kan mas tahu sendiri, kerjaan bibi banyak. atau begini aja mas, bibi nyari di kampung aja ya? gak usah pake perawat dari rumah sakit. nanti bibi bicara dulu sama dokter Hasan. Gimana,setuju?!" celotehnya.


"Hm," Aku mengangguk ragu.


Apa mungkin Bi Marni bisa mendapatkan seorang perawat handal di kampung? suster yang terpelajar saja sulit membuatku nyaman. apalagi orang dari kampung. tapi, apa salahnya mencoba, ku biarkan bi Marni mengatur semuanya kali ini. semoga dia tak salah pilih. batinku penuh harap.


Dengan tubuh kaku seperti ini, aku memang memerlukan belas kasihan orang untuk merawatku. meski gengsi dan juga risih,tapi apa boleh buat.


•••


Malam hari ini,aku sengaja meminta dokter Hasan menambahkan sedikit saja obat tidur untukku. meski pada awalnya dia menolak, karena beresiko mengganggu sistem syarafku yang masih dalam proses penyembuhan tapi karena aku merasa tak nyaman jika selalu terbangun di tengah malam. akhirnya dokter Hasan pun menuruti permintaanku itu, meski dengan dosis yang sangat sedikit. setidaknya itu bisa membantu agar tidurku bisa lelap.


Selesai memberikan obat tidur padaku, dokter Hasan dan Bi Marni pamit keluar dan membiarkanku beristirahat.


Tubuhku yang mulai terpengaruh oleh obat tidur pun, perlahan mulai mengantuk dan akhirnya aku bisa terlelap dengan nyaman.


Percayakah kalian, jika sebuah kenyataan itu sebenarnya berasal dari mimpi kecil yang tak terduga???


Aku sendiri pun awalnya tak percaya,

__ADS_1


Hingga pada akhirnya,kenyataan itu nyaris saja membuatku gila seketika.


Aku menyelam di dalam mimpi yang sangat jauh dan asing.


dalam mimpi itu, aku berjalan di sebuah jalan yang sangat panjang dan sepi.


Jelas ini adalah mimpi, mana mungkin aku bisa berjalan selancar ini jika bukan di dalam mimpi 'kan?


Tapi, mau kemana sebenarnya aku ini? apa yang aku cari di tempat sepi seperti ini?


Bahkan tak ada satupun manusia yang tampak. apa ini di alam baka?


Apa dokter Hasan terlalu banyak memberi dosis obat tidur untukku, hingga aku berhalusinasi fatal?


BUMM!


BUMM!


Terdengar suara dentuman yang cukup keras dari arah belakang. aku menoleh kaget untuk memastikan suara apa itu.


"Api?" aku memekik pelan lalu berusaha menyelamatkan diriku dari hantaman bola api yang semakin lama semakin kencang bergulir ke arahku.


Dengan susah payah, aku berlari pontang panting ke segala arah. demi menghindari benda terkutuk itu.


Aku berkeringat, tubuhku panas, dan tenggorokanku terasa kering. sangat kering hingga aku sulit berteriak.


""A-Aairrrh!" Jeritku parau.


Aku berusaha meminta air entah pada siapa.


"Hah! kenapa Mas?"


"Aairrrrrr..Haus! Airrrr!" pintaku lagi dengan susah payah.


"Oh,Air minum ya Mas. Ini Mas!"


Tiba-tiba mulutku diberi sebuah selang hingga akhirnya air itu terasa membasahi tenggorokanku.


"Pelan,pelan aja Mas. Biar Enggak keselek!" sebuah suara membimbingmu penuh kecemasan.


"Baweeel.." dengan spontan ku marahi si pemilik suara.


Aku terkesiap,antara sadar dan tidak. Akupun memberanikan diri membuka mata.


Perempuan itu,....


Kenapa, dia bisa ada di hadapanku sekarang? apa aku masih bermimpi? tapi jelas air yang ku minum barusan terasa nyata, bahkan saat ku reguk masih bisa ku rasakan dinginnya membasahi kerongkonganku.


Aku mengerjap-ngerjapkan mataku pelan. Sosoknya benar-benar ada. dan untuk pertama kalinya,aku berani bersumpah jika dia sungguh sangat nyata.


Alis Anjani,

__ADS_1


Beraninya dia muncul di saat aku mulai mencoba melupakannya,.


• • • • •


__ADS_2