PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•176


__ADS_3

Malam ini aku dan mas Sandy Tiba di rumah pukul 8 malam. sejenak kami sempat menemui andi yang tengah belajar ditemani bi Atun.


Lalu kembali ke kamar untuk berganti pakaian dan kembali menuju ruang kerja mas Sandy untuk mengerjakan beberapa dokumen yang tak sempat kami selesaikan di kantor.


"AH! leher saya rasanya kaku sekali." gumamnya saat melihatku datang dengan segelas teh manis hangat.


"Minum dulu mas,"


"Terima kasih sayang,"


"Sini biar saya pijatkan, kebetulan saya baru beli minyak aroma terapi. saya rasa mas Sandy akan suka dengan wanginya." Ku dekati mas Sandy dan mulai mengoleskan minyak itu di sekitar leher dan pundaknya.


Mas Sandy menengadah menatapku lekat dan tersenyum.


"Kamu pasti capek. tapi kamu dengan senang hati mau melayani saya. saya benar-benar sangat beruntung." sanjungnya.


Ku kecup kening mas Sandy penuh cinta. Bagiku Seorang suami yang bersikap jahat saja, masih ku layani dengan baik. apalagi mas Sandy yang memberikan dunianya untukku. tentu aku harus menjadikannya Raja dirumahku.


"Kamu yang membuat saya menjadi wanita paling beruntung di dunia mas," bisikku.


"Oh iya, bukankah itu map hasil sesi pemotretan untuk iklan minggu depan?" ku lirik map coklat yang terselip di antara tumpukan dokumen lainnya.


Mas Sandy ikut melihat benda itu, diiringi helaan nafasnya yang terdengar berat.


"Ayo buka mas, saya mau lihat!" pintaku antusias.


"Kamu buka saja, lalu kamu pilih mana yang bagus menurut kamu." selorohnya.


Aku melirik sekilas dan tersenyum. aku tahu mas Sandy tak ingin aku cemburu atau marah karena pasti semua benda itu berisi foto Vira yang harus di lihatnya.


"Kita lihat sama-sama ya!" ku tarik pelan map coklat itu.


Sebait doa aku panjatkan, agar saat melihat isinya aku tak menjadi iri karenanya.


Aku berdiri disamping mas Sandy lalu mengeluarkan selembar demi selembar foto itu. dan ternyata lumayan banyak.


"Banyak sekali," desis mas Sandy


"Tentu saja banyak mas, semua foto ini harus kita saring mana yang lebih cocok untuk dijadikan cover catalogue. begitu kan?!" tukasku cepat.


"Hm," gumamnya malas.


"Wahhh.. ternyata Vina memang secantik ini." desakku kagum.


Diluar siapa dia, jujur ku katakan Vina memang sosok wanita sempurna. AH! tentu saja, itu sebabnya dia menjadi salah satu model dengan bayaran sangat fantastis untuk sebuah iklan.


"Sepertinya yang ini bagus. ini juga! yang ini juga bagus 'kan mas?" Ku tarik beberapa foto yang memang semuanya terlihat sangat bagus itu.


"Lumayan!" tukasnya enteng.


Aku mendengus menatap mas Sandy.


"Ayolah mas, serius sedikit!" pintaku.

__ADS_1


"Semua yang kamu pilih bagus" jawabnya tak ingin membuatku kecewa.


"Itu artinya mas Sandy suka semua fotonya ya? sudah saya duga." gumamku setengah menggodanya.


Mas Sandy menarikku cepat hingga aku duduk di atas pangkuannya.


"Apa kamu cemburu?!!" bisiknya.


Aku menggeleng pelan,


"Kenapa saya harus cemburu mas, lagipula memang semua fotonya bagus" jawabku polos.


Mas Sandy mendengus lesu. Aku mengalungkan kedua tanganku dilehernya.


"Kenapa? Sepertinya mas Sandy keberatan dengan kerjasama dengan Vina? apa mas Sandy masih menyimpan perasaan untuk Vina?!" selidikku.


"Ah! saya hanya ingin semua pekerjaan ini cepat selesai. saya sudah malas berurusan dengannya." jelas mas Sandy.


Aku menatapnya lekat. benarkah yang mas Sandy katakan jika dia malas berurusan dengan Vina? atau memang dia sengaja ingin menghindar.


"Menurut saya, mas Sandy harus mulai berdamai dengan keadaan. saya tahu ini berat. Tapi.. jika mas Sandy terus menghindar seperti ini justru akan membuat saya semakin berpikir banyak hal tentang kalian," aku menatapnya serius.


"Sayang, saya mohon! kamu jangan pernah sedikitpun berfikir macam-macam tentang saya dan Vina. saya bersumpah, saya sudah tak memiliki perasaan apapun. saya hanya.., masih sedikit marah dengan Vina atau Ivan. saya tak bisa dengan mudah memaafkan keduanya." gumam mas Sandy lirih.


Ku usap kedua pipinya lembut.


"Mas Sandy tahu. Sejujurnya saya sangat takut, saat takut suatu saat kalian akan bertemu lagi. bahkan setiap mau tidur, saya selalu berdoa agar semua pikiran buruk saya tentang kalian tak terbawa ke alam mimpi. atau bahkan menjadi kenyataan. tapi, semakin saya menghindar saya semakin merasa tak tenang. saya semakin dihantui rasa takut. dan pada akhirnya saya harus menerima kenyataan bahwa,suatu saat kalian pasti akan bertemu. dengan cara seperti apapun." Aku bersandar dibahunya.


Mas Sandy memelukku erat. dia sama sekali tak menyahuti ucapanku. namun dekapannya mampu menjelaskan jika dia memahami apa maksud ucapanku.


"Maafkan saya karena masa lalu saya,


Membuat kamu tersiksa. saya berjanji saya akan menyelesaikan semuanya, seperti apa yang kamu katakan." jawabnya ragu.


Aku menatapnya dalam.


"Saya yakin, mas Sandy pasti bisa!" tukasku meyakinkan keraguannya.


Kami kembali berpelukan dan melupakan tugas yang seharusnya kami selesaikan malam itu.


Deru mobil yang memasuki garasi rumah membuat kami melepas sesaat pelukan kami.


"Sepertinya Bu Ayu baru pulang," gumamku sekilas melihat jam yang menunjukkan pukul 11 malam.


"Saya jadi mengantuk!" mas Sandy menggeliat malas.


"Ya sudah! kita harus segera menyelesaikan semuanya sebelum pagi. besok semua ini harus sudah selesai kan?!" Aku bangkit dan memilah kembali mana pekerjaan yang harus cepat kami tangani.


"Kita pilih semuanya saja! dengan begitu semuanya akan cepat selesai." tukas mas Sandy enteng. dan sepertinya tanpa beban.


"Baiklah!" aku memasukan semua foto itu kembali ke dalam map. lalu beralih membuka beberapa dokumen.


Hingga pukul 12 lewat, kami masih sibuk membuka beberapa file yang tersisa.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga." tukasku lega.


"Ya sudah, lebih baik kita cepat tidur. kamu pasti sangat capek!" ajaknya segera.


"Saya tak kuat jalan mas!" rengekku manja.


Mas Sandy tersenyum dan segera menggendongku untuk kembali ke tempat tidur.


•••


Waktu terasa begitu cepat bergulir. dan setibanya di kantor, kami melihat beberapa orang tampak sibuk membawa peralatan untuk memotret.


Namun aku belum melihat Sosok Vina disana.


"Selamat pagi pak, jadwal kita pagi ini seperti biasa. sangat padat. jam 9 ini, bapak ada Rapat dengan pemegang saham. pukul 11 bapak ada pemotretan untuk keperluan promosi dan pukul 2 siang. ada kunjungan keluar kota!" jelas Nita.


"Keluar kota?" aku menoleh pada Nita.


"Saya lupa bilang sama kamu." sela mas Sandy yang sepertinya juga lupa jika dia punya kunjungan ke luar kota siang ini.


"Dengan siapa mas Sandy keluar kota?" tanyaku pada Nita


"Kebetulan kami hanya membeli dua tiket bu. bapak pergi dengan saya!" Nita menatapku takut.


"Oh, Baguslah. kamu awasi suami saya ya!" godaku mengangkat kedua alisku cepat.


Nita melempar pandangan pada kami berdua seraya mengulum senyum.


"Kamu menitipkan saya seperti seekor anak kucing." desis mas Sandy pelan.


"Sini mas, saya liat dasinya dulu!" pintaku sebelum kami masuk ke dalam ruangan.


Mas Sandy malah dengan sengaja mencondongkan tubuh jangkungnya ke arahku. seperti hendak memberi kecupan.


"Saya permisi!" pamit Nita yang sepertinya tak ingin melihat kemesraan kami Sepagi ini.


"Kamu bikin Nita takut mas," bisikku terkekeh.


"Beruntung saya tidak langsung menarik kamu ke dalam pelukan saya. bisa-bisa dia langsung pingsan." celetuk mas Sandy.


"Ekehm..! masih pagi loh pak!" goda Anwar yang tiba-tiba lewat didepan kami.


Aku terperanjat kaget.


"Ini kantor saya, memangnya kenapa?" desis mas Sandy mencibirnya.


Anwar langsung mati kutu dan menghilang dibalik meja kerjanya.


Karena tak enak,akhirnya aku menarik mas Sandy masuk ke dalam ruangan kami agar lebih leluasa.


"Disini bahaya!" tukasku cepat.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2