PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•85


__ADS_3

"Kayanya mama Andi gak mau deh, om jadi papa kamu!" goda mas Sandy karena aku tak buru-buru menjawab pertanyaan Andi barusan.


Andi berlari ke arahku. dia menatapku penuh harap.


"Ma, boleh kan?" Andi menarik ujung bajuku.


"Kamu minta papa kaya minta permen aja!" Tuturku melayangkan tatapan bingung pada mas Sandy.


"Andi sayang sini!" Mas Sandy duduk di Sofa


Andi segera mendekat,


"Kalau mama kamu Gak mau om jadi papa kamu. kita berdua aja yang jadian yah!" selorohnya menahan tawa.


"Jadian? kaya orang pacaran om?" celetuk Andi.


"Andi! kamu tahu darimana bahasa kaya gitu?" aku menukas sembari menyimpan air putih itu di meja.


"Dari temen-temennya Reyhan mah." jawabnya polos.


Mas Sandy terkekeh.


"Iya kita jadian sebagai papa dan anak. jadian itu Gak harus pacaran aja. kamu sama om juga bisa jadian!" jelasnya lagi.


"Oh gitu om. ya udah, kalau gitu om sama mama juga jadian dong! pake baju pengantin."


Aku terhenyak. darimana Andi tahu soal kata-kata yang tak pernah aku ajarkan padanya itu. sepertinya aku memang sudah tertinggal jauh dengan pergaulan anak ini.


"Tuh denger teh! anak kecil aja tahu!" sindirnya.


"Udah deh. mending Andi minum dulu. abis itu ganti baju!" perintahku.


"Enggak mau! Andi mau om aja yang pakein bajunya!" Andi dengan berani mengalungkan tangannya manja di leher mas Sandy.


"Kamu kan udah gede sayang! malu dong! masa om Sandy yang gantian bajunya!" Aku menatapnya lekat.


"Oke! Gak papa! sini biar om anter kamu buat ganti baju!"


"Horeeeee... Andi mau ganti baju sama papa om!" teriaknya antusias.


"Papa om?" mas Sandy menukas sembari menggaruk keningnya heran.


Aku mengulum senyum melihat tingkah keduanya.


Sore ini rumah terdengar begitu ramai. apalagi jika Mas Sandy dan Andi lah yang membuat suasana rumah kami jadi meriah.


Mereka bahkan terlihat tak lelah saat bermain bersama. mungkin gambaran nyata seperti inilah yang Andi inginkan. bisa berkumpul layaknya keluarga utuh. Karena bagi Andi, sosok papanya yang dulu sama sekali tak ada. hanya sedikit memori yang mampu dia kenang tentang almarhum papanya, karena seringnya mas Rizal tak pulang ke rumah.


***


Andi terlelap dipangkuan mas Sandy. dia sepertinya sangat kelelahan setelah bermain dengan mas Sandy.


Aku duduk di tepi ranjang.


"Mas, udah jam 9!" ku usap lembut pundaknya. Sejujurnya aku tak tega jika harus membangunkan mas Sandy seperti ini.

__ADS_1


Mas Sandy mengerjapkan matanya pelan. dia memijat sebelah pundaknya yang mungkin terasa pegal.


Lalu mencoba beringsut melepaskan pelukan Andi. namun entah mengapa, Andi malah semakin membenamkan wajahnya ditubuh mas Sandy. dan tentu membuatnya sulit bergerak.


"Gak bisa!" bisiknya pelan.


Kami berdua saling lirik bingung. disisi lain aku tak enak jika mas Sandy terlalu lama bertamu. tapi melihat Andi yang seperti sekarang, juga membuatku tak tega jika harus memisahkan keduanya.


"Papa om..." Andi bergumam pelan dengan mata yang tampak terpejam. dan sepertinya dia tengah mengigau.


"Mungkin sebentar lagi." tukas mas Sandy membiarkan Andi memeluknya semakin erat.


Anak kecil memang memiliki perasaan yang tulus. dan dia lebih membutuhkan kasih sayang dibanding orang dewasa. Aku pun tak dapat berbuat banyak dan hanya menyaksikan keduanya kembali saling berpelukan nyaman.


Aku beranjak hendak kembali ke kamarku.


"Teh," bisiknya pelan.


Aku menoleh kaget, kedua alisku bertaut mempertanyakan ada apa dia memanggilku.


"Kamu mau kemana?" tanyanya dengan suara selembut mungkin.


"Tidur!" jawabku enteng.


Mas sandy menepuk tempat kosong disebelahnya.


"Kemarilah...!" pintanya


Aku menatapnya lekat. apa maksudnya dia ingin aku menemaninya menidurkan Andi? pikirku.


Aku menghela nafas dalam. kemudian mengalah dan duduk disampingnya. sebelah tangan mas Sandy masih memeluk erat Andi.


"Sebenarnya saya ingin berduaan dengan kamu. Tapi sepertinya Andi akan cemburu jika dia tahu hal itu." gumamnya.


"Maafkan Andi ya mas," aku menatapnya tak enak hati. Mas Sandy tersenyum kecut.


"Kenapa kamu malah minta maaf! saya justru sangat senang jika dicemburui oleh kalian berdua?" celetuknya terkekeh


"Dicemburui? sejak kapan saya cemburu sama Andi mas?" sanggahku tak terima.


"Sejak Andi memeluk saya tadi. saya yakin kamu juga ingin melakukan hal yang sama. hanya saja, kamu terlalu gengsi." sindirnya.


Aku menatap lekat padanya. mana mungkin aku akan cemburu pada anakku sendiri. batinku.


"Saya tidak harus cemburu. karena saya bisa mencuri waktu!" Aku mengalungkan kedua tanganku pada lehernya. dan membenamkan wajahku ditengkuknya.


"Aahhh! kenapa kamu melakukannya Disaat saya tidak bisa bergerak sayang!' erangnya kesal karena tak bisa membalas pelukanku dan hanya menarik erat pinggangku dengan sebelah tangannya.


Kami menghabiskan malam bertiga dan saling berpelukan. tak ada obrolan apapun dan hanya menikmati hangatnya pelukan tubuh kami satu sama lain.


***


Tiba-tiba saja tubuhku rasanya sakit sekali. bahkan seperti ada sebuah tali besar yang mengikat perutku.


"Hmmm," aku mencoba melepaskan diriku dari rasa sesak sembari mengumpulkan ingat dari alam bawah Sadarku. Aku memicingkan mataku pelan. ku raba bagian perutku yang terasa pegal.

__ADS_1


Aku terhenyak saat menyadari ada sebuah tangan melingkar erat di pinggangku. apa ini? bagaimana bis-...


Aku baru ingat. semalam kami tidur bersama. dan jangan-jangan ini memang tangan mas Sandy. belum juga aku selesai menerka. tiba-tiba dari arah belakang mas Sandy mencium tengkukku dan membuatku Meremang seketika.


"Udah bangun ya?" bisiknya merdu.


"Ya ampun mas," Aku segera bangkit dan terduduk menatapnya.


Beruntunglah Andi masih terlelap disebelah kiri mas Sandy.


"Mas Sandy Gak ngapa-ngapain kan?" selorohku panik.


"Emang musti ngapain teh? saya baru bisa memeluk kamu satu jam yang lalu. Andi benar-benar erat sekali memeluk saya!" keluhnya sembari mengusap lembut kepala Andi.


"Terus kenapa mas Sandy gak bangunin saya? biar saya pindah kamar!" protesku yang kesal karena ini susah hampir pagi.


"Sekarang sudah jam 5. ngapain juga saya musti bangunin kamu."


"Tapi mas, kalau sampai Andi tahu?" Aku melirik Andi sekilas.


"Biarkan saja dia terbiasa!" celetuknya santai.


"Mas Sandy nyebelin!" dengusku sembari bangkit dan segera menuju kamar mandi. malu rasanya harus terbangun dan tidur dengannya seperti itu. Aku mengumpat tak karuan.


Sebelum Andi bangun. aku segera pergi ke dapur sembari merapikan semua pekerjaan rumah. ku lirik jam dinding yang ada di ruang tamu tampaknya benda itu tak bergerak sama sekali.


"Pasti Baterai-nya abis!" Aku mengambil kursi dari dapur dan meletakkannya di samping tembok agar aku mudah meraih jam dinding itu. tak lupa ku bawa baterai baru di saku celanaku. pekerjaan seperti ini sangat mudah untukku. aku sama sekali tak memerlukan bantuan siapapun karena sudah terbiasa.


"Untung masih ada Baterai cadangan!" gumamku sembari fokus bertumpu dengan kedua kakiku pada kursi itu.


"Padahal aku baru ganti beberapa bulan lalu. masa udah mati lagi" gumamku heran pada kwalitas barang jaman sekarang yang tidak tahan lama. setelah menggantinya dan membetulkannya aku kembali menyematkan jam dinding itu pada paku yang ada di atas sana.


"Teh! kamu ngapain?" mas Sandy mendekatiku sembari memegang kedua kakiku cemas. Aku yang kaget segera menunduk ke arahnya.


"Betulin jam" timpalku santai.


"Kamu tahu Gak, kamu bisa jatuh kalo naik kursi begini!" selorohnya.


"Saya udah biasa mas. Lagian kalo jatuh juga gak tinggi-tinggi banget!" sahutku.


"CK! lain kali kamu bilang sama saya!" perintahnya.


"Awas mas, saya mau turun!" aku memerintahkannya untuk menjauh.


"Enggak! sini biar saya gendong aja!" mas Sandy membuka kedua tangannya.


"Apaan sih mas. saya tinggal jongkok aja, udah bisa turun!" aku menggelengkan kepalaku melihat tingkahnya yang menurutku berlebihan itu. dan tiba-tiba saja mas Sandy membopongku dan menurunkan ku dengan hati-hati.


Aku menatapnya kaget. Sementara matanya melihatku dengan dalam dan penuh kecemasan.


TOK...


TOK...


Ketukan di pintu membuat kami tersadar dan saling menjauh.

__ADS_1


• • • • •


__ADS_2