
Aku berbaring membelakangi mas Sandy, sementara tangan mas Sandy memijat lembut area pinggangku.
Aku tersenyum bahagia, ternyata mudah sekali membuat pria dingin sepertinya menjadi pria penurut. Tapi,masa iya aku harus selalu mencari alasan agar sikapnya melunak. HUH! Alis...
"Tidurlah,..." bisiknya lembut.
Ku pejamkan mataku perlahan, sementara ku rasakan mas Sandy masih tetap memijat pinggangku hingga aku terlelap.
Ternyata benar, yang namanya orang sudah Cinta. apapun yang terjadi, dia tetap akan mengutamakan orang yang disayanginya. sesibuk dan sesulit apapun keadaannya. dan itulah yang aku rasakan saat ini.
Meski pada awalnya aku khawatir karena sikap cueknya. tapi sekarang, aku justru sangat yakin jika dia bersikap begitu, karena semata-mata dia sangat menyayangiku. dan tentu aku harus bisa merubah sifat burukku nantinya.
Sebait doa, ku panjatkan dalam hati. aku ingin bermimpi indah malam ini. Ku dekap erat tubuh kekarnya. dan kemudian, ku rasakan dekapan hangat darinya juga.
CUP!
kecupan hangat samar ku rasakan di keningku. membuatku semakin larut di dalam mimpi indah.
•••
Orang takkan percaya pada hal-hal ajaib sebelum mereka mengalaminya sendiri. dan entah kenapa, rasa sakit karena tamu bulanan yang tiba-tiba datang semalam. sudah tak kurasakan lagi bahkan aku bisa tidur nyenyak. Apa ini berkat suamiku? pikirku
Aku membuka mataku perlahan, sinar matahari tampak malu-malu mengintip dari balik tirai. Jam berapa ini? bagaimana bisa aku bangun sesiang ini? aku terhenyak.
Namun saat aku meraba perutku, aku merasakan tangan mas Sandy masih memeluk erat tubuhku. ternyata semalaman dia memelukku seperti ini. pantas saja aku tidur nyenyak. batinku.
Aku bergerak perlahan-lahan agar tak membangunkannya.
"Kamu udah bangun," gumamnya malas.
"Iiiya.. mas," sahutku ragu.
Mas Sandy menggeliat melepaskan pelukannya. sepertinya dia masih gengsi untuk menunjukkan sikap mesranya padaku.
"Mas Sandy kalo masih mau peluk, boleh kok mas" selorohku serius.
"Saya kesiangan" keluhnya menatap jam waker yang memang sengaja tak ku pasang alarm-nya.
Suamiku segera bangun dan beranjak menuju kamar mandi.
Sikap macam apa itu? jelas-jelas semalaman dia tak mau melepaskan pelukannya. kenapa sekarang berubah lagi seperti sebelumnya. menyebalkan! Gerutuku dalam hati.
Sebelum mas Sandy keluar dari kamar mandi, aku bergegas menyiapkan pakaiannya dan juga sepatu yang akan dia pakai hari ini. Aku juga sudah memilihkan dasi yang paling mewah yang menurutku akan sangat cocok di kenakan nya hari ini.
"Mas Sandy pasti akan sangat tampan kalo pake yang ini." tukasku antusias.
Tak berapa lama, mas Sandy keluar dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. dada bidangnya tampak masih sedikit basah.
Ya ampun Alis! betapa suamimu ini sangat menggoda. bahkan aku yang sudah sering melihat bentuk tubuhnya, masih saja di buat tersipu seperti baru pertama kali melihatnya.
Aku mengerjap kan mataku dan melemparkan pandanganku ke arah lain.
"Ini bajunya mas," tukasku.
Mas Sandy mendekat dengan wajah dinginnya. dia menatapku cukup lama.
Aku tertunduk malu,
__ADS_1
"Pakaikan!" perintahnya.
"Hah?!" aku mendongak cepat.
"Tangan kamu udah sembuh 'kan?" selorohnya seraya melirik sikutku.
Aku Mengangkat dan membuka kemeja putih yang akan di pakainya. Sepertinya mas Sandy sengaja menjahiliku. dia tahu jika aku tengah berusaha menahan godaan indah darinya pagi ini.
Biasanya, jika mas Sandy baru selesai mandi. aku selalu menggodanya dengan sengaja memeluknya saat bertelanjang dada.
Helaan nafasku di balas oleh senyuman tipis yang coba disembunyikannya.
"Mas Sandy ngetawain saya?" aku menatapnya serius.
"Memangnya saya gak boleh senyum?" sindirnya.
Aku menarik kasar kerah bajunya hingga wajah mas Sandy terhantuk ke arahku.
Aku terperanjat kaget. Bahkan kini jarak kami begitu dekat. nyaris saja dia menciumku.
Ya ampun Alis! TAHAAANNN!
Aku tahu dia suamiku. tapi, saat ini situasi sama sekali tak mendukung untuk berbuat hal semacam itu.
"Ekehm,.." aku menjauh darinya dengan cepat
"Mau kemana?" tanya mas Sandy heran.
"Mas Sandy pakai baju sendiri aja. saya mau ke toilet." pamitku buru-buru.
•••
PING!
sebuah pesan tiba-tiba masuk,
"Alis, bagaimana kondisi kamu?" tanya pak Ivan.
Aku terdiam cukup lama, sebelum kemudian ku balas singkat pesannya.
"Saya baik-baik saja pak. terima kasih!"
"Syukurlah.. saya hanya takut, Sandy marah sama kamu." tulisnya lagi
Aku terhenyak. bagaimana bisa pak Ivan tahu jika mas Sandy yang menjemputku pulang malam itu.
"Bagaimana pak Ivan tahu, kalau mas Sandy menjemput?" tanyaku tak paham.
Lama sekali pak Ivan menjawab pertanyaanku. apa mungkin dia mengikutiku secara diam-diam malam itu?
"Saya tanya kabar kamu pada Rahma. karena saya khawatir." sahutnya.
Aku mengernyit tak paham. kenapa juga dia harus khawatir padaku.
"Pak Ivan tak perlu khawatir,saya baik-baik saja pak," balasku cepat sembari berjalan masuk ke dalam rumah. Namun saat melewati kamar bu Ayu. aku mendengar suara ribut dari dalam.
Ku intip sesaat dari balik pintu yang kebetulan terbuka sedikit,
__ADS_1
"Lain Kali Gak usah beres-beres berkas saya!" perintah bu Ayu pada Susi.
Ku lihat tangannya memegang dokumen yang sepertinya hendak dibersihkan oleh bi susi.
"Maaf bu, saya pikir dokumennya udah gak dipake." bi susi tertunduk takut.
"Sekali lagi kamu berani melakukannya, saya pecat kamu!" bentaknya kasar.
Aku terperanjat, kenapa bu ayu sangat marah pada bu susi. padahal sepertinya itu hanya dokumen biasa. pikirku.
Bu Ayu dengan sigap merapikan kembali dokumennya ke dalam rak. Namun yang mencuri perhatianku adalah selembar foto yang jatuh dan tertelungkup di bawah meja. bahkan bu Ayu dan Bi susi tak menyadarinya. Dan entah mengapa, aku merasa sangat penasaran pada benda itu.
"Keluar sekarang!" dengusnya.
Aku segera menghindar dan bersembunyi di balik tembok. ku lihat bi susi segera pergi menuju dapur.
Entahlah, rasanya aku jadi sangat penasaran dengan apapun yang berhubungan dengan Bu Ayu. ku rasa, wanita itu memiliki rahasia yang tersembunyi dibalik sikapnya tadi.
Tak berapa lama Bu ayu terdengar menelepon seseorang. Lalu dia keluar dari dalam kamar dan berjalan santai menuju meja makan.
Apa ini tanda jika aku bisa masuk ke dalam kamarnya dan melihat benda itu? tapi, bagaimana jika aku ketahuan?
bu Ayu pasti akan sangat marah. aku melangkah pelan untuk mengabaikan rasa penasaranku.
Namun entah mengapa, keingintahuanku begitu besar hingga akhirnya kakiku membawaku ke dalam kamarnya.
Aku melirik sekitar kamar. ku tatap selembar foto yang tertelungkup itu. segera ku ambil sebelum bu Ayu kembali ke dalam kamarnya. Sejujurnya aku sama sekali tak pernah bertindak seberani ini sekarang. masuk ke dalam kamar orang lain tanpa izin.
Aku menghela nafas dalam. lalu berjongkok di depan benda itu. ku tarik cepat dan segera ku lihat foto siapa itu,
Aku terhenyak sesaat,
Kedua bola mataku menatap tajam foto itu,
"Mas.... Rizal?" gumamku tak percaya.
Ku lihat Bu ayu tengah bicara serius pada almarhum suamiku di foto itu.
Tiba-tiba saja tubuhku bergetar hebat. entah apa yang terjadi. tapi melihat foto itu membuatku sangat kaget.
"Apa maksudnya ini? bagaimana bisa?"
Aku berdiri cepat dan segera keluar dari dalam kamar. ku bawa serta foto itu di dalam genggamku.
Bagaimana mereka bisa saling mengenal. kenapa ada foto mas Rizal disana. sejak kapan mereka saling mengenal.
Saat hendak menuju tangga, aku tak sengaja mendengar obrolan bu Ayu yang tengah duduk di meja makan.
"Tentu saja aman. aku segera mengambil dokumen itu dari tangan pembantu tadi. HUH! nyaris saja," desahnya terdengar lega.
Apa yang di maksud bu Ayu itu adalah dokumen tadi? AH SIAL! seharusnya aku juga melihat isi dokumen itu. Ku tatapan foto yang ada di tanganku.
Tapi ku rasa, benda ini saja masih membuatku sangat terkejut.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kematian mas Rizal dulu ada hubungannya dengan Bu Ayu? kenapa sekarang aku malah berfikir begitu.
Aku menggeleng tak percaya.
__ADS_1
• • • • • • •