
"Permisi maaf mengganggu!" sapanya yang kemudian bersalaman dengan Bu maryam dan staf guru lain.
"Pak sandy? Anda ada disini?" tukas bu Maryam terkejut. begitupun denganku yang tak tahu jika mereka saling mengenal.
"Saya kebetulan mengantar bu Alis. dan kami akan menjemput Andi pulang!" Tukasnya santai.
Aku menoleh heran. bagaimana bisa mas Sandy berbohong dalam situasi seperti ini.
"Lebih baik kita obati dulu luka anak ibu. setelah itu kita bisa menyelesaikan semua masalahnya dengan kepala dingin!" saran mas Sandy.
Bu Maryam dan aku saling melirik.
"Iya betul. itu lebih baik!" tukas salah seorang guru lainnya.
Akhirnya setelah mencapai sebuah kesepakatan,kamipun mengantar Bu Sarah dan putranya menuju klinik terdekat.
"Putra ibu tidak apa-apa! hanya robekan kecil. beberapa hari juga pasti sudah membaik!" jelas salah seorang dokter yang kami temui.
Aku dan bu Maryam saling menatap lega. sementara Bu sarah melirik kesal pada Mas Sandy yang sejak tadi tak melepaskan genggaman tangannya dari Andi.
Setelah Mas Sandy melakukan pembayaran di klinik tersebut. barulah kami bicara dengan lebih tenang. diantara kami berdua, mas Sandy dan Bu Maryam lah yang menjadi penengah.
Baru pertama kali,aku melihat mas Sandy begitu bijaksana menyikapi suatu masalah. bahkan dia sama sekali tak mengeluarkan nada tinggi atau menjatuhkan pihak yang lain. pembawaannya begitu tenang dan membuat kami berdua akhirnya bisa berdamai.
Bahkan dia bisa dengan mudahnya membujuk Andi yang sejak tadi tak mau bicara agar mau bersalaman dengan temannya itu. sungguh pemandangan langka yang ku lihat saat ini. Biar bagaimana pun Mas Sandy tetaplah orang asing bagi putraku. tapi kenapa dia bisa meluluhkan hatinya begitu cepat.
"Cepat sembuh ya Arfan!" tukasku melambaikan tangan padanya.
Bu Sarah meninggalkan klinik menuju taksi yang mas Sandy pesankan. meskipun aku tahu jika Bu Sarah bukan tipe perempuan yang akan dengan mudah memaafkan orang lain yang sudah melukai anaknya. tapi setidaknya kami bisa mencapai kesepakatan damai.
"Bu, saya benar-benar minta maaf. karna sikap Andi hari ini,membuat ibu Kerepotan!" tukasku penuh sesal.
"Iya tidak apa-apa bu. Anak-anak di fase seperti sekarang ini memang sangat memerlukan sekali bimbingan dan dukungan dari orang tua. jadi saran saya,luangkan lah lebih banyak waktu dengan Andi. dan lagi bu Alis tak perlu marah pada Andi" jelas bu Maryam sembari menatap Andi penuh kasih.
"Oh iya,terima kasih juga untuk pak Sandy yang mau meluangkan waktunya membantu saya menyelesaikan masalah ini!" imbunya lagi
"Sama-sama bu! terima kasih juga, ibu sudah membantu Alis dengan menjaga Andi disekolah." Tukasnya.
"Apa kalian akan segera menikah?" tanya Bu Maryam yang seketika mengagetkanku.
"Bukan bu. Pak Sandy ini majikan saya" sahutku segera.
"Tapi sebentar lagi kontrak kerja kita berakhir. jadi teh Alis bisa mengenalkan saya sebagai teman Andi!" Celetuknya sembari mendekap putraku.
Aku menyeringai bingung melihat tingkah anehnya.
"Oh, maaf. saya fikir kalian,-..!"
"Bu, taksi bu Maryam sepertinya sudah tiba!" aku menoleh ke arah jalan. sebuah taksi kebetulan sekali datang di tengah obrolan kami yang mulai terasa tak masuk akal ini.
"Ya, baiklah. saya pamit dulu. Andi istirahat di rumah yah! biar besok bisa kembali lagi ke sekolah. sekali lagi terima kasih banyak Pak Sandy. mari bu Alis!" pungkasnya sembari berjalan menuju taksi.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan bu. terima kasih!" sahutku lega.
Kini tinggal hanya kami berdua didepan klinik. Aku pun bingung harus membawa Andi kemana. karna jam kerja ku belum berakhir hari ini.
•••
Aku melotot tajam menatap Andi yang duduk bersebrangan denganku.
"Andi gak mau bicara sama mama? kenapa Andi dorong Arfan?" tanyaku untuk yang kesekian kalinya.
Andi masih diam mematung.
"Andi! liat mama? mama bicara sama kamu nak!" perintahku menahan kekesalahan.
Andi menengadah menatapku dengan tatapan penuh sesal bercampur takut.
melihat sikapnya seperti itu, tentu saja malah membuatku ingin menangis, membuatku merasa gagal menjadi seorang ibu untuknya.
"Andi gak sayang mama ya? kenapa Andi nakal disekolah?" tanyaku sedikit lebih lembut.
Tapi Andi masih tak mau membuka mulutnya.
"Ayo nak bicara!" desak ku mulai kehilangan kesabaran.
Sedetik kemudian Andi malah berurai air mata. dan seketika membuatku bingung.
"Andi jangan nangis nak! mama gak marah kok! mama cuma mau tanya saja sama Andi" Selorohku cemas.
"Biarkan dia tenang dulu!" mas Sandy datang dengan 1 mangkok besar eskrim ditangannya.
Aku hanya mematung melihat betapa piawainya mas sandy menangani Andi.
"Maaf mas. Gara-gara kejadian ini, kami jadi ngerepotin mas Sandy. dan soal ganti rugi biaya,-"
"Teh Alis gak perlu pikirin itu semua. saya tulus membantu kalian." tukasnya
"Om janji, kalau Andi gak nangis lagi. om kasih hadiah mainan yang banyak untuk Andi. Andi mau gak?" bujuknya lagi.
"Beneran om?" Andi menatapnya ragu.
"Beneran dong! tapi Andi janji buat gak nangis lagi ya?" Mas Sandy mengacungkan satu jari kelingkingnya sebagai tanda mengikat janji.
Dengan mata yang masih sembab,Andi mengangkat tangannya ragu,sesekali Andi menatap penuh harap pada mas Sandy.
"Anak pinter!" Pujinya setelah Andi mau mengaitkan jari kelingkingnya.
"Ya sudah,sekarang makan eskrim dulu. habis itu kita ambil mainan yang banyak untuk Andi yah!" perintahnya.
Aku tersenyum tipis,sejujurnya ada sedikit kekhawatiran didalam hatiku melihat kedekatan mereka berdua. Aku takut Andi terlalu berharap akan sosok ayah dari mas Sandy. sementara aku sendiri masih ragu untuk membuka hatiku padanya.
•••
__ADS_1
Kami seharian menghabiskan waktu hingga makan siang berakhir,disebuah kedai makanan cepat saji.
Andi terlihat begitu senang selama bersama mas Sandy. dia bahkan tak menunjukkan rasa sedihnya seperti saat ku tegur tadi.
"Om, Andi udah kenyang!" tukas Andi mengangkat kedua tangannya yang kini sudah kosong.
"Wah hebat! ya sudah,sini om bersihkan kotoran di bibir Andi yah!" Tukasnya
"Gak usah mas, biar saya aja!" larangku.
"Gak usah ma. Andi bisa sendiri!" Selorohnya antusias sembari menggambil tisu yang ada di atas meja.
Kami berdua tersenyum manis melihat Andi sudah kembali ceria.
"Om, kapan om kasih mainan nya?" Andi menatap tak sabar padanya.
"Sayang!" sela ku tak enak hati.
"Andi serius udah kenyang?" goda mas Sandy.
"Udah om,Andi udah kenyang. ayo om!!!"
Andi mulai merengek tak sabar.
"Okay! kita berangkat,tapi om bayar makanannya dulu ya! Teh, kalian duluan aja ke mobil!" perintahnya.
"Mas Sandy yakin?" tanyaku
"Iya. Teh Alis gak usah khawatir" sahutnya yakin.
Aku membawa Andi menuju parkiran dan segera masuk ke dalam mobil.
"Ya ampun,saya terharu sekali loh neng!" seloroh pak wahyu tiba-tiba.
"Terharu? emangnya kenapa pak?" aku menatapnya aneh.
"Setelah dirawat selama 2 bulan sama neng Alis. ternyata pak Sandy banyak berubah yah. benar-benar lain dari mas Sandy yang dulu!" jelasnya.
"Emang yang dulu kaya apa pak?" tanyaku
"Wah, kalo yang dulu amburadul banget neng," sahutnya diakhiri tawa renyah.
"Bagus dong pak! kalau sekarang mas Sandy jadi lebih baik."
"Iya bener neng. Pokoknya neng Alis hebat" pujinya bangga.
Aku hanya tersenyum mendengar pujiannya itu. tapi hal itu membuatku jadi penasaran,seperti apakah mas sandy di masa lalu.
Tak berapa lama Mas Sandy masuk ke dalam mobil.
"Kita ke rumah pak!" perintahnya.
__ADS_1
Aku menoleh pelan pada mas Sandy, kenapa tiba-tiba dia ingin kembali ke rumah.
• • • • • •