PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•164


__ADS_3

KRIIIING!


Telepon kantor berdering. Aku melirik ke arah meja Nita. tak berapa lama Nita mengangkatnya.


"Dengan PT, ASTRA. ada yang bisa saya bantu?" sahutnya.


"Baik. kebetulan pak Sandy sudah tiba di kantor." Nita menarik mundur teleponnya.


"Pak! perwakilan dari PT. MOTORGOLD minta memajukan jam rapatnya jadi pukul 9?" tukas Nita.


Mas Sandy menghela dalam seraya fokus pada layar komputernya.


"Apa semua berkasnya sudah siap?" tanyanya.


"Sudah pak, semua berkasnya ada di meja saya."


"Baiklah. kita setujui saja. saya siapkan materi saya sebentar." jelasnya.


"Baik pak. Halo, iya pak. Bos kami sudah menyetujui jadwalnya. kami tunggu di kantor!" pungkas Nita. dengan segera, Nita merapikan berkas yang di minta mas Sandy.


"Kamu bawa ke ruang rapat saja! tolong minta Anwar bawakan contoh barang yang kita ambil kemarin?" perintahnya.


Melihat mas Sandy dan Nita begitu sibuk,aku tak berani menyela atau bertanya. memperhatikan mereka saja sudah membuatku pusing. harus dari mana aku memulai pekerjaanku.


Ku lirik beberapa berkas yang ada di atas mejaku. entah apa yang ada di dalamnya.


"Sepertinya ini hasil laporan keuangan perusahaan!" gumamku saat meneliti isi dari berkas tersebut.


Deretan nominal angka yang cukup besar tersusun rapi. serta jenis-jenis barang yang di beli pun terlihat jelas.


"250,Mily...ar" aku membulatkan mataku. Apakah aku tak salah melihat, besar sekali jumlah pengeluaran perusahaan setiap bulannya.


TOK..


TOKK...


"Permisi pak" Sinta masuk dengan membawa beberapa dokumen. Saat dia melirik ke arahku, terlihat jelas ekspresi kagetnya. tentu saja dia tak tahu jika hari ini aku akan ada di kantor. sepertinya Rahma juga tak memberitahu nya soal ini.


"Alis," gumamnya sangat pelan.


Aku menyeringai ragu.


"Ada apa?!" Tukas suamiku cepat.


"Dokumen yang bapak minta sabtu kemarin pak. sudah selesai." Sinta meletakan semua dokumennya di atas meja.


"Simpan saja disitu. saya ada rapat sebentar lagi. kamu tolong bantu Anwar menyiapkan barang untuk rapat Nanti." perintahnya lagi.


"Baik pak. permisi!" pamitnya


Sinta kembali menoleh cepat ke arahku. kali ini tanpa berucap. dan aku hanya membalas tatapannya dengan senyuman. Entah apa yang dia pikirkan tentang kehadiranku.


Aku belum sempat berkeliling, aku juga tak melihat pak Ivan dan bu Ayu. Kira-kira dimana mereka sekarang. pikirku.


"Sayang, ayo!" ajak mas Sandy tiba-tiba.


Aku mendongak kaget,


"Hah?!" Ku tatap dia tak paham.


"Kita ke ruangan Meeting!" ajaknya seraya mengulurkan tangan padaku.

__ADS_1


Ku sambut tangannya perlahan. Nita yang sedang bersiap pun tampak menungguku.


"Jangan gugup!" bisiknya.


Aku menarik nafas cukup panjang. membuang semua keraguan dalam hatiku. Nita tersenyum ke arahku.


"Tenang saja bu, saya temani." tukasnya.


"Terima kasih."


Ku langkahkan kakiku mengikuti mas Sandy menuju ruang meeting yang tak begitu jauh dari ruang kerjanya. hanya terhalang oleh dua ruangan saja.


Para karyawan yang tengah duduk dan bekerja, seketika melihat ke arahku. ada Rahma di antara orang-orang itu, dia tersenyum seraya memberiku semangat.


Kami bertiga masuk ke ruangan yang memang masih sepi. hanya ada Anwar dan Sinta yang tengah menyiapkan semua berkas rapat pagi ini.


Nita memeriksa komputer dan proyektor nya, sementara mas Sandy sibuk membaca dokumen ditangannya. Mereka benar-benar sangat serius.


Dan aku masih berdiri mematung memperhatikan semuanya.


"Mas, ada yang bisa saya bantu gak?" tanyaku pelan


"Tolong kamu lihat, apa baju saya sudah rapi." pintanya serius. dengan polosnya ku dekati mas Sandy dan merapikan simpul dasinya dengan teliti. namun seketika mas Sandy menarik pinggangku cepat.


"Mas," bisikku kaget.


"Saya gak tahan liat kamu sedekat ini," gumamnya gemas.


"Permisi pak, Pak Robby beserta stafnya sudah datang!" tukas Billy dari balik pintu.


Aku mendorong mas Sandy cepat.


Seketika, Nita, Anwar, dan Sinta berdiri di kursi sebelah kiri mas Sandy.


"Selamat pagi, pak Sandy!" Sapanya ramah.


Aku menatapnya kaget. ku pikir Pak Robby itu adalah pria tua berusia 50 tahunan. ternyata dia masih sangat muda dan juga tampan.


"Selamat pagi, bagaimana perjalanannya?" sambut mas Sandy.


"Lumayan macet." kekehnya.


Pak Robby melirik padaku, dan seketika mas Sandy mengenalkanku padanya.


"Perkenalan, ini Alis. istri saya!" jelas mas Sandy.


"Apa kabar, bu Alis. senang bertemu dengan anda." Pak Robby menjabat tanganku dengan lembut.


Beginikah para pria tampan dan berpendidikan dalam bergaul. sangat hati-hati dan penuh wibawa.


"Kabar baik. senang juga bertemu dengan anda pak." tukasku kaku.


"Ternyata memang benar kata orang. istri pak Sandy sangat cantik. maaf ya, waktu acara makan malam kalian, saya tak sempat datang. Waktu itu saya masih di jepang untuk berbisnis." jelasnya penuh sesal.


"Tidak apa-apa santai saja. lain kali kita makan malam bersama." ajak mas Sandy.


"Silahkan duduk!" sambung mas Sandy lagi, seraya menarik kursi untukku.


Melihat bagaimana sikap pak Robby, aku sedikit tenang. sepertinya apa yang aku Takutkan tak seburuk itu. kami bahkan bisa bicara sambil sesekali bercanda.


Seterusnya mas Sandy menyerahkan pembahasan bisnis mereka pada Nita dan juga Anwar serta Sinta. Ku lihat mereka begitu piawai dalam mempresentasikan tentang banyak hal. aku bahkan di buat takjub oleh kepintaran Nita.

__ADS_1


•••


"Gila banget sih, CEO MotorGold emang setampan itu." cerocos Rahma tak henti-hentinya membahas sosok tampan bernama pak Robby tadi.


Aku menatapnya lekat.


"Kamu demam Gak sih?" ku pegang dahinya cepat.


"Sayangnya kamu udah nikah sih. kalo kamu masih jomblo. aku yakin pak Robby juga bakal kepincut sama kamu." godanya terkekeh.


"Mending buat kamu aja deh. sana kejar!" perintahku mendorong pelan tubuhnya.


Rahma melirik ke arah luar ruangan. masih sepi karena semua orang masih berada di ruang meeting. sementara aku kabur karena ingin ke toilet.


"Kamu gak balik lagi kesana?" tanya Rahma penasaran.


"Enggak deh. sebentar lagi juga rapatnya selesai. mereka cuma lagi ngobrol santai aja." jelasku.


"Terus kamu ngapain?" selidiknya.


"Aku gugup. jadi kebelet ke toilet." keluhku.


Rahma terkekeh kecil.


"Dasar! liat cowok ganteng malah gugup." ledeknya.


"Aku gugup bukan karena liat pak Robby. tapi karena AC Ruangannya dingin banget." keluhku jujur.


"Hah?" pekiknya di iringi tawa renyah.


"Sandy!!! kenapa kamu tak mau bertemu dengan Vina?!" tiba-tiba bu Ayu masuk tanpa mengetuk pintu.


Aku dan Rahma menoleh kaget, Begitupun dengan bu Ayu yang terkejut melihat keberadaanku diruangan mas Sandy.


"Pak Sandy sedang rapat bu!" jelas Rahma yang seketika berdiri dari duduknya.


Bu Ayu melirik ke arahku.


"Kamu ada di kantor? untuk apa? penampilan kamu juga,..." selidiknya sinis.


"Mulai hari ini saya membantu mas Sandy bekerja bu." aku bangkit dengan ragu-ragu.


"Sandy benar-benar gila, dia berani mengusir Vina kemarin. dan sekarang dia bahkan membawa kamu ke kantor. apa mau anak itu sebenarnya!" gumamnya berdecak heran.


"Jika ibu mau bicara, saya bisa panggilkan pak Sandy?" Rahma menawarkan diri.


"Tak usah. nanti saja saya bicara langsung!" tukasnya bergegas dan meninggalkan ruangan kami.


Rahma menoleh padaku. dia pasti tak menyangka jika bu Ayu akan bersikap begitu padaku. selama ini aku memang tak banyak bercerita soal hal ini padanya.


"Apa di rumah, dia juga begitu?" selidiknya.


"Hm," aku mengangguk pelan.


"Ya ampun,jahat banget. masa mau bahas mantan sama pak Sandy sih? jelas-jelas pak Sandy udah nikah." keluhnya tak habis pikir.


"Udahlah. kita gak perlu bahas soal itu. kamu juga jangan ngadu sama mas Sandy ya!" pintaku.


Rahma menatapku kecewa. sepertinya permintaanku sulit baginya.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2