PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•148


__ADS_3

Setibanya di depan gang menuju rumah, aku meminta supir taksi untuk berhenti.


"Stop! disini aja pak! terima kasih"


Kami bertiga keluar dari dalam.


"Andi, kita main kelereng ya. aku punya banyak kelereng dirumah." ajak Reyhan antusias. mereka berlari meninggalkan diriku yang masih berjalan di belakang.


Ku nikmati setiap langkah saat menelusuri jalan menuju rumah. setiap derap langkahku seolah memunculkan berbagai memori manis dan pahit yang pernah ku lalui disini.


Berjalan kaki setiap pagi untuk mencari angkutan umum, atau tukang Ojek yang kebetulan lewat agar bisa tiba tepat waktu di tempat kerja.


Bahkan setiap kubangan air yang tersisa di sepanjang jalan,seolah menjadi pertanda bahwa hidupku penuh lika-liku.


Meskipun saat ini kehidupanku lebih baik,tapi itu bukanlah sebuah pencapaian tertinggi dalam hidupku, juga bukan sebuah kesuksesan.


Bagiku ini hanya persimpangan,


Semakin jauh aku melangkah, semakin terasa pula tekanan di bilik jantungku. apalagi saat aku mulai melihat atap rumahku yang semakin usang.


"Alis," sahut Bu Dewi saat melihatku berjalan mendekati halaman rumahnya.


"Ibu,.. apa kabar" tukasku segera mendekat. Kami berpelukan cukup lama, melepas rasa rindu yang entah sudah sebesar apa. wanita ini sudah seperti ibu bagiku,wajar jika jauh darinya membuat diriku merasa sangat kehilangan.


"Ya Allah.. kamu makin cantik Alis, Gimana kabarnya?"


"Terima kasih, kabar saya baik bu. ibu sama pak yanto Gimana? sehat juga kan?!"


"Kami Alhamdulilah sehat. kamu kenapa gak ngasih kabar sih, kalau mau kemari. kan ibu bisa masakin makanan"


"Andi yang tiba-tiba merengek minta kemari. lagipula sudah lama saya gak melihat rumah."


"Soal rumah kamu tenang aja, setiap hari ibu bersihkan kok. jadi kapanpun kamu mau kemari, rumah sudah bersih" jelasnya.


Aku tersenyum lega, tak salah memang menitipkan rumahku pada bu Dewi.


"Terima kasih banyak bu, maaf saya jadi merepotkan." tukasku tak enak hati.


"Oh iya, pak Sandy Gak ikut?" selidiknya


"Mas Sandy kerja bu. jadi gak bisa ikut."


"Ya sudah Gak apa-apa. ayo masuk dulu!" ajaknya


"Ini bu, Alis bawa sedikit oleh-oleh buat kalian. kebetulan toko buah langganan saya buka," Aku menyerahkan beberapa buah yang ku beli di jalan.


"Wah, kenapa repot-repot sih?"


"Gak repot kok bu." Aku melangkah mengikuti ajakan bu Dewi untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Duduk lis! ibu ambilkan minum dulu"

__ADS_1


"Terima kasih bu," Ku lihat Andi dan Reyhan tampak asik bermain di teras. mereka mengobrol banyak hal yang membuatku sesekali tersenyum.


"Wah, kamu enak ya Di. punya papa baru kaya raya. jadi bisa beli mainan yang banyak!"


"Iya dong. om papa beliin aku mainan mahal. kamar aku juga penuh dengan mainan. nanti kamu nginep di rumah ya! kita main sama-sama" ajak Andi antusias.


"Kamu kok manggilnya om papa sih? emang dia om kamu?!" Reyhan menatap nya penasaran.


"Karena Dulunya dia om aku. sekarang jadi papa aku. jadi aku punya dua-duanya." celoteh Andi polos.


"Kok aneh ya. om tapi juga papa?" gumam Reyhan menatap tak percaya pada penjelasan Andi.


Aku terkekeh kecil mendengar obrolan keduanya. ternyata memang Andi sangat membutuhkan teman. dia tak bisa bermain sendiri di rumah. meskipun dia punya banyak mainan.


"Ibu bikinin kamu teh manis anget lis," seloroh bu Dewi dengan membawa secangkir teh.


"Terima kasih banyak bu."


Bu Dewi menatapku lekat. mungkin dia melihat hal aneh dariku hingga bersikap begitu.


"Ya Allah, Gak nyangka banget ya. sekarang kamu sudah jadi istri seorang pengusaha sukses. kamu sangat beruntung lis," tukasnya lirih.


Aku terenyuh.


Jelas terlihat bahwa bu Dewi sangat peduli dan khawatir terhadapku. meski kalimat yang di lontarkannya terdengar menyanjungku. tapi matanya menunjukkan hal lain. mungkin dia sudah mendengar beberapa kabar burung tentang diriku dari pak Yanto.


"Menjadi istri pengusaha, ternyata tidak seindah kelihatannya bu." aku tersenyum simpul


"Kamu harus banyak bersabar, jaga sikap kamu dengan baik. Jangan bertingkah tanpa pertimbangan yang matang. kemarin ibu lihat, berita kamu ada di koran. beberapa tetangga juga bertanya pada ibu soal kamu. sekarang, kamu seperti orang penting yang setiap kegiatannya di cari banyak orang. meski kemarin itu berita bagus. tapi bisa saja suatu saat orang akan membuat hal buruk tentang kamu. ibu bukan menakut-nakuti. tapi ibu Khawatir sama kamu lis. kamu sudah ibu anggap seperti anak sendiri." tandasnya.


"Gimana kabar Bu Ayu. dia pasti sangat menyayangi kamu ya! dulu kan, dia yang meminta ibu untuk mencari pekerja. dan dia cocok sama kamu."


Aku termangu.


"Iya, bu Ayu sangat baik bu." Aku mencoba menutupi apa yng sebenarnya terjadi pada hubungan kami berdua.


"Syukurlah... kamu anak yang baik, sudah sepantasnya kamu dikelilingi orang-orang yang juga menyayangi kamu lis." tukasnya penuh harap.


•••


"Ibu, Alis mau lihat dulu rumah. terima teh nya." pamitku setelah cukup lama mengobrol.


"Perlu ibu temani?"


"Gak usah bu,"


"Ya sudah,ini kuncinya. kalo perlu sesuatu panggil ibu aja ya!"


"Iya, saya permisi bu."


Aku keluar dari rumah bu Dewi untuk segera menuju rumahku. ku biarkan Andi dan Reyhan Asik bermain.

__ADS_1


Melihat gambaran jelas rumahku, terasa sangat lega. rindu tentu saja. rumah ini menyimpan banyak sekali kenangan untukku.


Ku buka pintu rumahku dengan segera. semiliri hawa lembabnya terasa begitu kental. mungkin karena kurangnya Ventilasi udara di rumah ini.


Aneh memang. padahal aku baru saja masuk ke dalam rumahku sendiri. rumah yang pernah ku tinggali selama hampir 10 tahun. tapi kenapa rasanya seperti aku tengah menjelajahi lorong waktu. Berbagai memori muncul dalam benakku saat ku tatap setiap sudut ruangannya.


Ku raba sisi tembok untuk menyalakan sakelar di kamar utama. Dan cahayanya memancar begitu terang.


"Rasanya, dulu ga seterang ini" pikirku.


Tak berapa lama kemudian aku masuk ke dalam dan duduk di tepi ranjang milikku. sebelum akhirnya,


TUPPP!


Lampu kamarku meletup dan mati. Aku menatap ke langit-langit.


"Pantas saja terang. ternyata mau mati" gumamku sedikit kaget.


Baru saja aku ingin melihat seisi kamar, tapi kondisinya jadi gelap begini. Ku lepaskan tas ku di atas ranjang. ku lirik meja riasku,


Kalau tak salah, aku masih menyimpan lampu baru di lacinya. batinku sedikit mengingat.


Dengan bantuan cahaya ponselku, aku mendekati laci dan mencari benda yang ku butuhkan.


"Ketemu!" Ku ambil lampu yang masih terbungkus rapi itu. lalu ku tarik kursi yang ku duduki agar berada tepat di antara lampu yang akan ku ganti.


"Mari kita lihat, apa kamu masih ingat cara memasangkan lampu ini Alis!" gumamku sendiri merasa tertantang.


"HUMP!"


Aku berdiri di atas kursi yang kurasa cukup kuat menopang bobot tubuhku.


Dengan bantuan cahaya seadanya, aku mulai memutar bola lampu yang mati itu dari cangkokannya.


"Begini saja sih,gampang!" desisku bermaksud menyimpan bohlam yang mati itu ke dalam saku celanaku.


Lalu ku pasangkan yang baru dengan sedikit gerakan memutar searah jarum jam. perlahan tapi pasti akhirnya aku bisa memasangkannya dengan cepat.


"Alis,.."


Tiba-tiba terdengar suara sayup-sayup dari arah belakang,


Seperti suara Mas Rizal. batinku kaget.


Aku menoleh dan hendak turun dari kursi, namun karena aku tak begitu fokus, sehingga pijakkan ku tak bertumpu dengan baik.


BRUUUGK!!!


Krekk,


Aku terjatuh dengan posisi kaki yang salah. dan membuatku merintih seketika.

__ADS_1


"Aaaaawwhhh!" jeritku menahan sakit.


• • • • • •


__ADS_2