
Aku menarik tangannya cepat. gadis itu menatapku tak suka. mungkin karena aku mengacuhkannya tadi.
"Mau kemana?" kudekati dirinya.
"Aku mau pulang! ternyata selama ini cuma aku yang bertahan dengan hubungan kita. cuma aku yang mau hubungan kita baik-baik aja. kamu sendiri Gak peduli. iya kan!" teriaknya diiringi derai air mata.
Jika sudah begitu aku mengaku kalah. aku tak bisa jika melihat perempuan menangis. terlebih lagi itu Vina. satu-satunya gadis yang bisa membuatku jatuh cinta. aku kembali tersadar, jika aku kehilangannya. bagaimana aku menghadapi kehidupanku nantinya tanpa dirinya.
"Maaf!" ku dekap erat tubuhnya, ku kecup keningnya. ku tenanglah dirinya hingga benar-benar berhenti menangis.
•••
"Aku masuk dulu!" Vina melepaskan pegangan tangannya. ku usap lembut pipinya.
"Istirahat lah. soal masalah tadi. aku benar-benar minta maaf. aku sama sekali gak bermaksud buat cuek sama kamu."
"Hm,.." Vina mengusap lembut tanganku. entah dia percaya atau tidak dengan ucapanku. tapi yang jelas aku sudah berusaha memperbaiki sikapku.
Selepas mengantar Vina pulang. aku memutar kemudi dan kembali ke rumah. Aku menyusuri jalanan yang terlihat gelap dan mulai gerimis.
Pandanganku tiba-tiba teralihkan saat ku lihat sosok perempuan itu lagi. kali ini dengan anaknya. mereka tampak menunggu kendaraan disalah satu halte.
Ku hentikan laju mobilku. haruskah aku memutar arah dan memberi mereka tumpangan? tapi, bukankah dia tak mengenaliku? bagaimana jika aku dianggap aneh? atau bahkan aku di anggap akan berlaku kriminal?
AISH!!! kenapa aku malah banyak berfikir dan bukannya bertindak saja dulu. ku pacu kendaraanku berniat untuk memutar arah. namun sayangnya sebuah angkutan umum sudah lebih dulu datang didepan halte tempat mereka menunggu.
"Kira-kira mereka darimana ya?" gumamku merasa aneh karena ini sudah larut malam. Sepeninggalan Alis dan putranya, aku jadi terus menerus memikirkan mereka. apakah mereka baik-baik saja? apa mereka sudaj menerima uang pemberian dari perusahaan? Alis pasti sangat sedih atas kepergian suaminya itu.
Aku Berdecak tak habis pikir. kenapa aku selalu merasa bersalah padanya. padahal jika Dipikir lagi, kecelakaan itu bukan sepenuhnya kesalahanku. bisa saja suaminya memang sedang mabuk hingga tak bisa mengendalikan motornya. seperti apa yang di katakan para tetangganya kemarin itu.
Semakin aku memikirkannya, maka semakin kalut pula pikiranku pada akhirnya. ku lajukan mobilku menerobos rintikan hujan yang semakin deras terlihat.
Setibanya di rumah, aku duduk di Sofa dan berbaring sejenak. sekedar melepas penat yang sejak tadi bersarang dikepalaku.
"Mas Sandy sudah pulang?" Bi Marni datang dari arah dapur dengan menenteng sapu di tangannya.
__ADS_1
Aku menoleh lesu.
"Iya bi. bi Marni belum tidur? ini sudah malam bi?" tanyaku sembari bangkit dari pembaringanku.
"Bibi baru selesai beres-beres di kamar ibu mas. mas Sandy mau bikin minum?"
"Gak usah bi. lebih baik bibi istirahat saja ini sudah malam!"
"Ya sudah, bibi pamit!"
"Bi, apa tante sudah pulang?"
"Belum, mas." jawabnya ragu.
"Oh, ya sudah. terima kasih" ku rebahkan kembali tubuhku di Sofa. kenapa akhir-akhir ini tante Ayu sering pulang larut malam. dan lagi dia juga selalu berangkat ke kantor lebih pagi. pikirku sekilas. apa mungkin dia mengerjakan suatu pekerjaan tanpa sepengetahuanku? tapi apa? aku rasa, perusahaan tak punya proyek lain selain pengerjaan beberapa pabrik saja. itupun sudah dipegang oleh para kontraktur.
Tengah melamun, aku mendengar suara mobil didepan halaman rumah. suara mobil yang rasanya aku kenal. aku bangkit dan mengintip dari balik jendela.
Dan Ku lihat tante Ayu keluar dari dalam. mobil, seraya melambaikan tangan pada si pemilik mobil yang tak mau menampakkan wajahnya.
"Apa itu mobil Ivan?" gumamku setengah tak percaya. mana mungkin tante Ayu bisa mengenal Ivan. Akupun belum pernah mengenalkan Ivan padanya. apa mereka berkenalan lewat dokter Hasan? mungkin kah?
KLEK!
Tante ayu tampak kaget saat tahu aku ada di Sofa dan tengah bersandar malas.
"Sandy! kamu bikin kaget tante aja. sejak kapan kamu disitu?" wajahnya tampak gugup.
"Sejak tante pulang di antarkan seseorang. siapa dia? apa aku mengenalnya?" desakku
"Nanti kamu juga tahu. lagipula, dengan siapapun tante pergi. itu bukan urusan kamu kan? bahkan kamu sudah tak peduli dengan keberadaan tante di rumah ini!" Tante ayu melenggang masuk menuju kamarnya meninggalkanku.
"Baiklah. lakukan apa yang tante suka" seruku sepeninggalannya.
Aku menghela nafas dalam. jika benar pria didalam mobil itu adalah Ivan. aku rasa ini sudah keterlaluan. apa dia juga mencoba mengencani tanteku? awas saja jika nanti aku bertemu dengannya.
__ADS_1
Aku bangkit dan beranjak menuju kamarku. rasanya penat dikepalaku benar-benar sulit hilang dan malah bertambah pusing saja.
•••
Menjalani hidup seperti orang normal memang sangat sulit. selalu saja ada hal yang membuat kita bisa berubah menjadi abnormal pada akhirnya.
Sikapku yang seharusnya tegas pada Vina nyatanya malah berubah lemah karena sedikit hal.
Juga hubunganku dengan tante Ayu, seharusnya bisa lebih membaik. tapi melihat kenyataan yang mungkin saja terjadi dibelakangku. membuatku tak bisa bermanis-manis padanya. selalu saja ada kecurigaan dibenakku.
Mungkin semua pikiran jahat yang muncul itu adalah bentuk trauma juga kekecewaanku terhadap mereka semua.
Aku seakan tak menemukan ketenangan juga kehilangan rasa percaya diri untuk menghadapi orang-orang diluar sana.
Terkadang,saat malam tiba kecemasanku terhadap beberapa hal selalu muncul secara tiba-tiba tanpa alasan. Dan sepertinya aku memang harus menemui dokter Hasan untuk memeriksakan kewarasaanku ini.
Pagi sekali, saat sinar mentari masih berupa semburat merah di langit. aku sudah bangun untuk sekedar melakukan olah raga kecil disekitar kompleks. selepas olahraga ku niatkan untuk bertemu dokter kesayanganku itu.
"Pagi sekali mas Sandy sudah bangun?" tanya bi Marni yang terlihat kaget saat melihatku masuk lewat pintu samping menuju dapur.
"Saya ingin bertemu dokter Hasan bi. makanya bangun lebih pagi." jawabku sembari duduk di kursi menunggunya memberiku segelas air putih.
"Ini mas, air minumnya. memang nya mas Sandy sakit? sakit apa?"
"Bi Marni Gak usah khawatir! saya baik-baik aja kok. saya cuma lagi kangen sama dokter Hasan." ujarku seraya tersenyum manis padanya. aku tak ingin membuat pengasuhku ini menjadi cemas.
"Oh, bibi pikir mas Sandy sakit."
Ku rogoh ponselku. mencoba menghubungi dokter Hasan untuk membuat janji dengannya.
"Halo,dokter. pagi ini saya ingin bertemu. tolong kosongkan jadwal oke!" pintaku enteng.
Dokter Hasan hanya menggerutu di ujung telepon sana. dan tak ku tanggap dengan serius. aku hanya terkekeh mendengar ocehannya.
"Sampai ketemu di rumah sakit dok," ku matikan teleponnya dan bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian.
__ADS_1
Beruntunglah keluargaku memiliki banyak fasilitas yang mereka tinggalkan untukku. setidaknya itu sangat berguna bagiku sekarang.
• • • • •