
Di suatu Sore yang cerah sepulang bekerja dari rumah Mas Sandy,aku menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko kue yang katanya sedang ramai diperbincangkan banyak orang karna rasa kuenya yang Enak. Aku menyebrang jalan dan bergegas mendekati toko tersebut.
Bu Dewi bilang,jika berkunjung pada sore hari harus bergegas. Karna toko itu akan sangat dipenuhi pelanggan. Apalagi jika menjelang akhir pekan.
Aku menatap nanar rentetan panjang para pelanggan yang tengah mengantri.
"Hufth! ternyata emang bener!" Aku menghela nafas lesu. Ku lirik sekeliling untuk mencari tempat duduk.
"Hey! Aliss..!" teriak seseorang dari arah belakang. Aku menoleh cepat.
"Sini! buruan!!!" Dia melambaikan tangan dan memintaku untuk duduk disebelahnya.
Aku tersenyum dan segera berjalan mendekatinya. kami bersalaman dan saling berpelukan sekedar melepas rindu.
"Rahma,beli kue juga?" tanyaku mendahuluinya.
"Iya, Baru juga 15 menitan. liat deh Antrian nya panjang banget" dengusnya kemudian duduk dan menopang dagu. terlihat dia memang orang yang tak sabaran dalam hal menunggu.
"Iya, aku juga kaget liat Antriannya!" Sahutku lalu duduk disebelahnya.
"Eh,gimana kabarnya? sekarang kerja dimana?" tanyaku sembari meletakkan tas selempangku di atas meja.
"Alhamdulilah baik,ya masih tetep di pabrik yang dulu Lis. Kamu kenapa keluar sih? aku jadi gak ada temen curhat deh!" gerutunya terlihat kecewa.
Aku tersenyum,diantara orang-orang yang ku kenal di tempat kerja. mungkin Rahma lah Satu-satunya orang yang merasa sangat kehilangan atas Resign-nya aku dari pabrik itu.
"Kamu tahu kan, Andi sering protes waktu aku kerja di pabrik. apalagi kalo tiba-tiba ada lemburan. gak tega aku liatnya!" jelasku.
"Iya juga sih ya. Andi jadi terabaikan. Oh iya, aku denger kamu kerja di rumahan sekarang? dimana?" Cerocosnya penasaran.
"Di kompleks Diamond Hill. deket pusat perbelanjaan itu loh. yang sering kita lewatin kalo mau berangkat kerja."
"Wah,itu sih kompleks Elit! kamu kerja di rumah orang kaya dong?!" Terkanya.
"Ya gitu deh, kalo di bandingkan sama kita-kita. mereka memang orang kaya." tukasku Mengiyakan tebakan nya.
"Gimana kabar kerjaan kamu sekarang? udah naik pangkat dong?" godaku.
__ADS_1
Rahma memanyunkan bibirnya lesu.
"Naik pangkat apanya! Orang kantor bilang katanya Atasan kita lagi sakit karna kecelakaan. makanya kerjaan kita jadi 'molor' banget. Boro-boro naik jabatan,kerjaan tambah ribet yang ada." keluhnya.
"Atasan maksudnya pemilik pabrik kita? yang kata sinta ganteng itu bukan sih?" tanyaku sembari mengingat.
"Iya,itu. Eh,ngomong-ngomong soal Sinta kamu tahu gosip terbaru gak?!" bisiknya hati-hati.
"Gosip apa?" Aku mendekat penasaran
"Dia kan emang hobi banget yah Ngegaet pria-pria tajir. meskipun belum ada yang dapet satupun. tapi katanya kemaren-kemaren orang di tempat kerja pada liat Sinta jalan sama orang kantor yang katanya cakep banget. aku sih gak tau gimana cakepnya tuh cowok. tapi yang jelas katanya tajir." celotehnya.
Mendengar cerita Rahma Aku jadi teringat saat melihat Sinta dibonceng dengan motor mewah oleh seorang pria. mungkinkah pria itu orangnya? pikirku.
"Hey! malah ngelamun! kenapa sih?!" Tukasnya mengagetkanku.
"Mungkin cowok yang kamu maksud itu, adalah cowok yang pernah aku lihat di jalan. dia bonceng Sinta dan mereka ngobrol mesra banget."
"Kamu liat muka cowoknya gak? ganteng banget emang???" tanyanya seakan memastikan.
"Aku kurang tahu sih,lagian dia pake helm. mana aku bisa tahu mukanya!" jelasku.
"Masa sih?" jawabku menyeringai kecut.
Sebetulnya Aku benar-benar tak paham siapa orang yang dibicarakan oleh Rahma itu. Atasannya yang tampan, bawahannya yang jadi pacar sinta yang juga tampan. Jujur aku tak begitu tahu orang seperti apa yang dibicarakan nya.
Seingatku,sewaktu aku bekerja di pabrik orang-orang memang meributkan sosok Atasan kami yang katanya tampan dan baik. hanya saja hingga saat ini, aku tak pernah tahu dan tak pernah bertemu dengannya. Tapi tak dapat dipungkiri, ada rasa penasaran yang tiba-tiba muncul saat mendengar cerita Rahma barusan.
"Seandainya kamu kerja lagi di pabrik Lis. dan aku udah naik jabatan jadi manager. Udah aku angkat kamu jadi wakil manager aku,Lis. sumpah!!!" celetuk nya ngawur.
"Dasar tukang mimpi!" Desisku menahan tawa.
Kami bercerita banyak hal sore itu, hingga selesai mendapatkan kue yang di pesan. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk pulang bersama dan melanjutkan Obrolan kami di Perjalanan.
•••
Kembali ke rumah dengan perasaan tak sabar untuk menghadiahi Andi kue pesanan nya membuatku bergegas.
__ADS_1
"Assalamualaikum!" Aku membuka pintu rumah perlahan.
Namun tak kudengar jawaban Andi. ku Telisik lebih dekat, TV diruang tengah menyala tapi tak kulihat Andi disana.
"Andi sayang! mama bawain kamu Kue pesanan kamu nak!" Aku merangsak masuk menuju kamar. dan betapa kagetnya aku, saat melihat Andi terbaring dengan dibalut selimut.
"Andi? kamu kenapa nak?" kudekati Andi dengan segera dan memeriksa tubuhnya
"Kamu demam? kenapa gak minta tolong Bu Dewi? biar telepon mama? apanya yang sakit nak?" Cerocos ku panik.
"Bu Dewi, gak ada di rumah ma. Andi gak apa-apa kok ma,cuma pusing. Andi nyalain TV biar gak sepi ma." Gumamnya lemas.
"Ya allah nak," Aku mengusap kepalanya lembut, lalu mengecupnya penuh kasih. Maafkan mama Andi. kamu selalu kurang perhatian,bahkan disaat sakitpun kamu sendirian. batinku.
"Andi udah makan, nak?"
"Andi gak laper ma! Andi cuma haus!"
"Sebentar ya nak,mama ambilkan minum!" Aku bergegas menuju dapur dan membawakan segelas air putih.
Segera ku kompres dan ku beri obat penurun panas yang selalu ku sediakan.
Semalaman suntuk Aku tidur sembari memeluknya.
Langitku seakan runtuh jika kulihat Andi meringis kesakitan. duniaku seakan sempit saat tak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Waktu menunjukan pukul 7 malam. Aku meminta bantuan Pak Yanto untuk mengantarku menemui dokter Hasan. Beruntunglah aku mengenal dokter yang Baik Hati itu, dia bahkan menjamin pengobatan gratis untukku dan juga putraku Andi. bahkan dia memintaku agar tak sungkan terhadapnya jika butuh bantuannya kapan saja.
Setibanya disalah satu rumah sakit Aku segera menuju meja Resepsionis dan meminta untuk memanggilkan dokter Hasan setelah sebelumnya membuat janji lewat sambungan telepon.
"Gimana Andi dokter?"
"Dia cuma kecapean! mungkin terlalu aktif disekolah. kamu gak perlu khawatir Lis!" jelasnya menenangkan ku.
"Dok, soal ini janji ya dok, jangan bilang-bilang sama bu Ayu ataupun mas Sandy?!" Pintaku setelah dokter Hasan duduk dan menuliskan resep obat untuk Andi.
"Kamu tenang saja, Rahasia kita berdua aman!" jawabnya meyakinkanku.
__ADS_1
"Terima kasih banyak dokter! terima kasih!" Aku menatap dokter Hasan penuh haru bahagia. setidaknya masih ada orang baik diantara semua kepahitan hidup yang kujalani.
• • • • • • •