
"Apa dia mengganggu kamu?" dokter Hasan menatap cemas padaku.
"Dokter tak perlu khawatir, bu Ayu hanya da ta ng untuk melihat kondisi kaki saya" jawabku tenang.
"Benarkah? Aneh sekali." gumamnya seolah tak percaya.
"Apa dokter mau minum teh dulu?" tanyaku kemudian.
"Tak usah. kita langsung periksa saja kondisi kakimu. Sandy terlalu bawel. saya tak ingin membuatnya semakin banyak menggerutu." jelasnya.
"Maafkan mas Sandy, dok." tuturku tak enak hati.
"Santai saja. saya sudah terbiasa dengan sikapnya yang memang seperti itu sejak kecil." sahutnya cepat.
Drrrtttt..
Drrrrttt....
Aku segera menyabet ponselku yang tersimpan persis di atas meja.
"Angkat saja! barangkali dia tak percaya jika saya sedang memeriksa kondisi kakimu!" tandasnya seolah tahu jika itu adalah panggilan telepon dari mas Sandy.
"Halo mas,.." sahutku pelan.
"Gimana? apa dokter Hasan sudah datang?" tanyanya.
"Baru saja datang mas,"
"Kamu arahkan kameranya pada dokter Hasan! saya ingin melihat" perintahnya.
"Mas Sandy bikin saya malu," dengusku pelan.
"Saya sudah bayar dia mahal teh! jangan biarkan dia bekerja seenaknya" celetuknya
"Kamu terlalu meremehkan gelar saya,San!" timpal dokter Hasan.
Ku arahkan kamera ponsel pada dokter Hasan yang tengah memeriksa dan membuka perban di kakiku.
"Baiklah, mas Sandy Gak usah bicara lagi!" sergahku.
"Bengkaknya sudah menyusut,luka memarnya juga sudah hilang" tegasnya.
"Apa masih harus di perban dok?" tanyaku
"Hm, rasanya tak usah. kamu juga harus Pelan-pelan menggerakkan otot kakimu agar tidak kaku." sarannya.
"Mas Sandy dengar sendiri kan? saya sudah boleh berjalan keluar." selorohku.
"Memangnya siapa yang menyuruh kamu untuk mengurung diri di kamar begini?" tanya dokter Hasan.
"Siapa lagi dok," aku melirik mas Sandy ketus.
"Dokter yang benar saja! kaki istri saya retak dok. RETAK! kalau sampai ada yang patah bagaimana?" Elaknya tak ingin di salahkan atas sikap berlebihannya padaku.
"Retak bukan berarti patah. lagipula selama masih hidup,tubuh manusia punya kemampuannya sendiri untuk memperbaiki sel dan jaringan yang rusak."
Aku mengerutkan dahi bingung. apalagi jika sudah mendengar mereka berdebat seperti ini.
__ADS_1
"Ya baiklah. terserah dokter. tapi tolong berikan obat yang bagus! karena 3 minggu lagi, kami akan bepergian!" jelasnya.
"Kalian akan bulan madu?" celetuk dokter Hasan.
"Bukan dok, kami akan ikut kegiatan di sekolah Andi." sergahku segera.
"Dokter tak perlu tahu kami akan kemana." seru mas Sandy.
"Seharusnya kamu menghadiahi istri kamu liburan san. dia pasti bosan seminggu ini kamu 'kurung' di dalam kamar" sindir dokter Hasan.
"Dokter tak perlu mengajari saya!" sahutnya tak mau kalah.
"Ya ampun! kalian ini." desahku mulai menyerah menyaksikan perdebatan mereka.
•••
"APA??? Mantan pacar?" Tukasku nyaris tak percaya.
Dokter Hasan menatapku aneh.
"Haruskah sekaget itu?" tanyanya.
"Maaf dok, saya sama sekali tak menyangka jika Bu Ayu adalah mantan pacar dokter." aku menyeringai ragu.
Dokter Hasan tersenyum simpul, dia menatap jauh keluar balkon. setelah selesai memeriksa kondisi kakiku. kami memutuskan untuk mengobrol sejenak.
"Itu masa lalu. kami berpacaran hanya sekitar satu tahun saja. setelah lulus SMA, kami memutuskan untuk berpisah dan melanjutkan pendidikan kami secara terpisah." jelasnya.
"Apa mungkin, itu alasannya kenapa Bu Ayu memilih menyendiri hingga saat ini?" terka ku memberanikan diri.
Aku melihat dokter Hasan masih memiliki perasaan yang tak bisa di ungkapkan pada Bu Ayu. nyatanya, raut wajah dokter Hasan tak bisa disembunyikan saat membicarakan Bu Ayu.
"Itu sebabnya dia menjadi benci pada saya saat saya dekat dengan wanita lain. termasuk dengan alm. ibunya Sandy. sangat lucu. jelas-jelas kami sudah berpisah cukup lama," tukasnya lagi.
"Itu tandanya, Bu Ayu masih menyimpan perasaan untuk dokter." tukasku
Mendengar itu, dokter Hasan lagi-lagi hanya tersenyum.
"Apa mas Sandy tahu soal ini?" selidikku.
"Saya tak mau membuat Sandy menjadi tak nyaman pada saya karena hubungan lama kami. bahkan tak ada seorangpun yang tahu tentang hal ini. hanya pada kamu saya mau bercerita Lis," tuturnya.
"Kalau begitu, saya akan menjaga rahasia ini selamanya." janjiku.
"Saya tahu kamu orang yang bisa menyimpan rahasia." sahutnya percaya.
"Bagaimana kalau kapan-kapan dokter Hasan, makan malam bersama dengan kami?" ajakku
"Hm, saya pikir itu tak perlu. saya tak ingin merusak suasana makan kalian" tolaknya tak nyaman.
"Ah dokter, kenapa harus sungkan. kita ini sudah seperti keluarga bukan? makan malam sekali saja, tak ada salahnya!" bujukku.
"Baiklah, saya kabari lagi nanti. sekarang sepertinya, saya harus kembali ke rumah sakit." dokter Hasan melihat jam tangannya sekilas.
"Baiklah. terima kasih banyak dok. mari saya antar dokter ke bawah!"
"Tak usah! kamu istirahat saja dulu. lagipula perbannya baru saja di ganti"
__ADS_1
Tukasnya.
"Benarkah tak apa-apa?" tanyaku ragu.
"Saya bisa sendiri Alis. kamu tenang saja." pamitnya kemudian.
"kalau begitu, hati-hati di jalan dok. terima kasih."
Ku tatap kepergiannya kemudian kembali duduk. dan memikirkan kembali rahasia yang baru saja ku tahu darinya tadi.
"Ya ampun. apa selama ini pak Ivan juga tak tahu kalau bu Ayu itu mantan pacar ayahnya sendiri?" gumamku setelah menyadari jika selama ini pak Ivan selalu dekat dengan bu Ayu. bahkan menurutku, mereka memiliki hubungan yang spesial.
PING!
PING!
Ku lirik ponselku sekilas. apa mungkin mas Sandy mengirim pesan lagi? lucu sekali. batinku mencemooh tingkahnya.
Sesaat kemudian ku buka pesan yang ternyata bukan darinya,
"Kata pak Sandy kamu jatuh Lis? kok bisa???"
"Nanti sore aku ke rumah ya" tulis Rahma terlihat cemas.
"Iya, gara-gara Betulin lampu, di rumah lama" balasku singkat.
"Ah! ngapain kamu ke rumah lama sih? kenapa gak nyuruh orang lain aja!" Protesnya.
"Kamu lama-lama mirip mas Sandy deh." sindirku
"Pokoknya aku kesana nanti sore!"
"Iya, baiklah. semangat kerjanya ya!" Aku mengirimkan stiker lucu untuk menyemangatinya.
Beruntunglah aku memiliki teman yang selalu perhatian padaku dalam kondisi apapun. berkat kehadirannya, aku merasa memiliki saudara kandung.
Meninggalkan aktivitas bersantaiku di balkon. Aku mencoba menyibukkan diri dengan melihat tanaman-tanaman hiasku yang tersimpan rapi disetiap sudut ruangan.
"Airnya udah mulai habis," gumamku saat melihat pot salah satu tanaman air yang mulai surut. dan rasanya aku harus mulai mengisi kembali pot-pot itu dengan air bersih.
Melakukan pekerjaan sederhana seperti ini,pasti akan membantu mempercepat kesembuhan kakiku.
Lagipula,aku akan mati bosan jika terus menerus duduk dan tak melakukan kegiatan apa-apa.
PING!
Aku menghela nafas berat. Pesan apa lagi yang di kirimkan oleh Rahma. pikirku.
Ku lihat ponselku cepat.
"Saya dengar kamu terjatuh? Benarkah? apa sangat parah?!!"
Kali ini aku dibuat tertegun saat melihat pesan yang datang dari pak Ivan.
Harus ku balas bagaimana pesannya yang jelas terasa aneh bagiku.
• • • • • •
__ADS_1