PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•152


__ADS_3

Setibanya di rumah, bi Atun langsung menyambut kami dengan wajah cemas. sepertinya mas Sandy sudah memberitahukannya soal kondisiku.


"Ya Allah, non. kenapa jadi begini sih?" tukasnya cemas.


"Bi, tolong bawakan makanan di dalam mobil. bawa semuanya ke meja makan!" perintah mas Sandy.


"Andi, kamu bawa tas mama ke kamar ya!" pintanya yang langsung di turuti oleh Andi.


"Sini!" mas Sandy menyimpan kruk yang hendak ku gunakan, lalu dengan sigap dia menggendongku seperti tadi.


"Saya bisa sendiri mas," Tolakku.


"Diamlah!" desisnya tegas.


Lagi-lagi aku tak bisa membantah dan hanya patuh saat tubuhku diboyongnya ke dalam rumah.


"Ada apa ini?!" Bu Ayu yang tengah duduk seketika itu juga bangkit saat melihat kedatangan kami,dengan tatapan sinisnya.


"Non Alis jatuh bu," jawab bi Atun.


Sementara mas Sandy terus saja berjalan melewati Bu Ayu.


"Semakin hari, semakin gak sopan!" desisnya. membuat Mas Sandy seketika menghentikan langkah kakinya di atas anak tangga pertama. ku tatap ragu wajahnya, tapi sedetik kemudian dia berjalan kembali menuju kamar. seakan tak memperdulikan celotehan kecil dari tantenya.


"Silahkan pak," bi Atun membukakan pintu. Andi lebih dulu masuk dan berlari menyimpan tas ku di atas meja.


"Tolong bawakan makanan untuk istri saya kesini" pintanya.


"Baik pak,"


"Andi, kamu mandi dulu ya sayang." tukasku padanya.


"Iya ma," Andi pamit bersama bi Atun meninggalkan kamarku.


Aku melirik sekilas pada mas Sandy yang tengah sibuk membuka jas dan sepatunya.


"Mas Sandy mau mandi dulu? biar saya siapkan air nya?" tanyaku.


"Gak usah, kamu istirahat aja!" Mas Sandy Berjalan menuju kamar mandi.


Melihatnya bersikap begitu, membuat ku tak nyaman. aku merasa tak berguna sebagai istrinya. seandainya Aku tak ceroboh dan terluka seperti ini. ku tatap kakiku yang kini berbalut perban.


HUH! aku menghela nafas lesu,daripada hanya diam saja seperti ini dan menyesalinya itu sama sekali tak ada gunanya. Aku bangkit perlahan dengan menggunakan Kruk yang tersimpan di sisi ranjang dan bermaksud menyiapkan pakaian ganti untuk suamiku.


Mungkin karena luka di kakiku ini masih baru, rasa sakitnya sungguh terasa menyiksa. apalagi saat aku mulai mengayunnya meski itu secara pelan.


"Awhhh!" Aku meringis pelan, mencoba bertahan hingga aku sampai di dekat lemari pakaian.


"Akhirnya," aku menghela nafas lega. ku buka lemari itu dan segera mencari pakaian untuk mas Sandy.


Tak berapa lama mas Sandy keluar dari kamar mandi. melihatku tengah berdiri di depan lemari, dia sontak mendekat.


"Kamu ngapain?" selorohnya


"Saya nyari baju buat mas Sandy" aku menyerahkan baju di tanganku.


"Saya bisa melakukannya, kamu lebih baik istirahat saja" perintahnya.

__ADS_1


"Mas Sandy jangan ngomong begitu, saya jadi ngerasa kalau saya gak berguna!" gumamku seraya menunduk lesu.


Mas Sandy bertolak pinggang dan menatapku tajam.


"Kalau begitu, pakaikan baju saya sekarang juga?!!" celetuknya.


"Hah?!" Aku memekik kaget seraya menatap heran padanya.


Mas Sandy yang saat ini hanya memakai handuk sepinggang saja, dan dengan tubuh yang basah memintaku untuk memakaikannya baju? yang benar saja!


"Kamu gak bisa? katanya tadi, kamu ngerasa gak berguna? Ayo pakaikan?!" desaknya seolah menantangku.


Ku gigit kecil bibirku menahan kesal sekaligus bingung. pada dasarnya aku memang tak sanggup melakukannya.


Aku mengapit Kruk di tanganku dengan kuat. lalu ku buka pelan baju mas Sandy yang ku pegang. Namun mas Sandy sama sekali tak bergerak untuk membantuku dan hanya melihat dingin padaku.


"Bisakah, mas Sandy menunduk?!" pintaku ragu.


Namun mas Sandy masih bergeming dan tak beranjak.


Aku mendekat sembari menarik Kruk di tanganku. Aku mengernyit kecil menahan sakit di kakiku.


"Sudah sakit, masih saja bersikap sok kuat!" dengusnya tampak marah.


Lalu dengan sigap mas Sandy kembali menggendongku dengan sedikit memaksa.


"Mas, turunkan saya!"


Namun mas Sandy sama sekali tak menggubrisku. dia lalu mendudukkanku di atas tempat tidur.


"Apa kamu sudah puas?!!" selorohnya geram.


"Apa kamu sudah puas membuat saya khawatir seperti ini? apa ini yang kamu suka?"


"Maksud mas Sandy apa?"


"Saya tak ingin kamu bersikap seperti barusan lagi. kenapa kamu selalu merasa bahwa kamu tak berguna teh? bahwa kamu bisa melakukan segalanya sendirian? kalau begitu, kamu sama sekali tak menganggap saya?"


"Bukan,mas.."


"Alis Anjani dengarkan saya! saya ini suami kamu? kamu bisa meminta tolong pada saya! kamu bisa mengandalkan saya! saya selalu bersedia melakukan apapun untuk kamu. apa itu tak cukup?" Mas Sandy menatapku tajam.


Sebetulnya aku masih tak paham dengan arah pembicaraannya.


"Mungkin semua karena kamu tak percaya pada saya. sehingga kamu lebih memilih melakukan semuanya seorang diri. hingga kamu terluka seperti sekarang dan membahayakan diri sendiri" gumamnya lirih.


"Saya hanya, tak mau merepotkan kamu mas..." sahutku pelan.


Mendengar jawabanku, tatapan mas Sandy semakin tajam dan membuatku ketakutan.


"Apa sebenarnya, kamu tak benar-benar mencintai saya teh? apa selama ini, kamu anggap saya laki-laki yang tak bisa di andalkan sebagai seorang suami?" tanyanya.


"Mas Sandy salah. saya justru merasa, saya masih tak pantas untuk selalu meminta pertolongan pada mas Sandy. saya tak mau terlalu bergantung pada mas Sandy,saya tahu pekerjaan mas Sandy sudah sangat banyak di kantor. jika saya meminta tolong, saya takut mas Sandy terganggu-..."


CUP!


Mas Sandy mengecup bibirku tiba-tiba.

__ADS_1


"Ayo bicara lagi?!" desaknya.


"Saya minta maa,--"


CUP!


Mas Sandy mendaratkan ciumannya lebih lama,hingga membuatku hampir terjerembab namun mas Sandy dengan sigap menahan tubuhku dengan sebelah tangannya.


Lalu tanpa sengaja kaki mas Sandy menekan kakiku dan seketika membuatku meringis.


"Aaahhh!"


Mas Sandy segera bangkit dengan tatapan kaget.


"Maaf," desahnya Segera


Ku tatap bingung perlakuannya itu. antara marah dan juga kesakitan tentu saja.


"Jangan pernah takut untuk meminta apapun pada saya. jangan merasa bahwa kamu merepotkan saya! jangan takut untuk selalu bergantung pada saya! saya ingin kamu menganggap saya sebagai lelaki yang bisa melindungi kamu teh," tukasnya meyakinkan.


Mendengar kalimatnya malah semakin membuatku ingin menangis.


"Tolong jangan menangis,.." pintanya seraya mengusap lembut pipiku.


Tatapannya yang tadi penuh amarah, berubah sendu dan dalam.


Aku mengerjapkan mataku pelan,


"Saya sangat takut kehilangan kamu. saya tak ingin kamu terluka lagi" bisiknya penuh kekhawatiran.


Mas Sandy seketika mengecup keningku dalam. membuatku turut merasakan betapa tulus apa yang dia lakukan untukku.


"Mas,-" gumamku sedikit cemas.


"Kenapa?!" mas Sandy menatapku cemas.


"Handuk mas Sandy hampir lepas," aku menahan handuk itu agar tetap menempel dipinggangnya.


Mas Sandy terkekeh kecil.


"Jika kamu tak sakit, saya sudah ingin melepaskan handuk saya sejak tadi" godanya sedikit kecewa.


Aku memalingkan wajahku tersipu. kata-katanya memang selalu sulit di prediksi.


"Mas Sandy harus ganti baju. biar Gak masuk angin" tukasku cepat.


"Hm, baiklah!" Mas Sandy bangkit dan membetulkan letak handuknya.


"Kamu istirahat ya! jangan turun dari tempat tidur!" satu telunjuknya mengarah padaku penuh ancaman.


Aku mengulum senyum dan hanya bisa mengangguk saja. hingga mas Sandy beralih mengambil pakaian dan kembali ke kamar mandi.


Mungkin benar apa kata mas Sandy tadi. aku tak boleh takut untuk selalu bergantung padanya. karena itu bukti Bahwa aku percaya padanya.


Setelah ku pikir ulang, aku memang terlalu bodoh! apa karena aku selalu merasa, bahwa aku bisa melakukan segala sesuatunya sendirian selama ini. sehingga membuatku terbiasa tanpa bantuan orang lain. tapi, sekarang aku sudah mempunyai seseorang disampingku. seseorang yang bertanggung jawab atas hidupku. dan tak ada salahnya jika aku selalu bergantung padanya.


Itu benar,..

__ADS_1


Aku tak perlu sungkan lagi meminta tolong padanya, pada suamiku!


• • • • •


__ADS_2