
"Wah, apa memang villa nya di desain seperti ini? banyak sekali kamar? persis kaya kontrakan ya?" tanya bu Dewi pada suaminya.
"Namanya juga orang bisnis." sahut pak Yanto enteng.
Mataku memandang jauh hingga ke ujung. ada sekitar 6 kamar yang saling berhadapan.
"Apa di dalamnya ada toilet pribadi?" tanyaku ragu.
"Sepertinya ada," jawab mas Sandy yang juga tengah menilik sekeliling.
"Baiklah, ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah mendapatkan kunci. silahkan masuk sesuai nomor pintu yang ada di kunci yang dipegang. satu jam lagi, kita makan siang bersama di ruang makan!" jelas pak Rahmat.
"Nomor berapa mas?" ku lirik kunci yang dipegang mas Sandy.
"20, sepertinya yang itu! ayo!" mas Sandy segera mengajakku masuk ke dalam kamar.
"Bu dewi, saya permisi duluan!' pamitku segera.
Mas Sandy membuka pintu dan segera menyimpan tas ransel yang sejak tadi digendongnya. aku menatapnya lekat.
"Mas Sandy kenapa buru-buru? tasnya berat ya?" sebenarnya aku tak sampai hati jika melihatnya membawa barang seperti itu, tapi mas Sandy sendiri yang memaksakan diri membawanya.
"Saya kebelet!!!" mas Sandy bergegas masuk ke dalam toilet.
beruntunglah toiletnya ada di dalam kamar. jika tidak, mas Sandy pasti tak akan betah.
Aku pandang seisi kamar yang berukuran Kira-kira 5x5 meter itu. ada satu jendela yang langsung menghadap ke arah puncak gunung. hanya saja jendelanya tidak terlalu besar. mungkin karena udara disini terlalu dingin di malam hari. sehingga mereka membuat jendela yang tidak terlalu besar.
Ku buka tas ransel kami, lalu ku simpan beberapa baju dan peralatan mandi yang sudah ku siapkan. Beruntunglah kamarnya sendiri sudah bersih dan rapi. hingga aku tinggal istirahat sebentar sebelum nanti makan siang bersama.
Bagaimana ya nanti sikap mas Sandy saat berhadapan dengan orangtua murid lainnya, pasti akan sangat canggung. sejak tadi saja, aku tak melihat interaksi antara mas Sandy dengan yang lainnya selain pak yanto.
Seketika aku menjadi tak enak hati padanya.
"Untung kamar mandinya bersih!" gumamnya seketika keluar dari kamar mandi. Aku yang kaget seketika memberikannya handuk kecil.
"Terima kasih," mas Sandy duduk disampingku lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Aku menoleh padanya.
"Apa mas Sandy menyesal ikut kegiatan ini?" tanyaku serius.
"Kenapa kamu tiba-tiba bicara begitu teh?" gumamnya dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Saya takut mas Sandy tak nyaman, atau bahkan malu karena harus mengantar saya dan Andi ke acara sekolah. bahkan harus bertemu dengan orang-orang yang tak mas Sandy kenal." tuturku
Mas Sandy membuka matanya dan membalas tatapanku dalam.
"Apa wajah saya terlihat capek? atau ada tulisan kecewa di dahi saya?"
"Bukan begitu mas, saya tahu mas Sandy belum pernah melakukan ini sebelumnya. saya hanya tak enak hati." aku tertunduk bingung.
Mas Sandy bangkit dari tidurnya,
"Apa yang harus saya lakukan sekarang, agar kamu percaya jika saya bahagia melakukan semua ini?" tanyanya
Ku tatap dalam wajahnya, tak ada keraguan atau ketidak Seriusan.
"Saya mencintai kamu, saya juga menyayangi Andi. saya mau melakukan apa saja asalkan itu untuk kalian. jika sejak tadi saya diam, itu wajar saja. saya tak bisa dengan mudah berbaur dengan orang baru. meski Sejujurnya saya sudah mengenal beberapa diantara mereka. hanya saja, saya bingung jika harus memulai obrolan." jelasnya sembari menghela nafas kasar.
Aku memeluknya erat,
"Terima kasih banyak mas," Aku tersenyum lega. Aku tahu mas Sandy adalah suami terbaik. seharusnya aku tak perlu meragukannya.
"Saya akan berusaha menjadi ayah yang baik untuk Andi. kamu bantu saya!" desahnya terdengar khawatir.
"Mas Sandy tenang saja, mas Sandy pasti bisa jadi ayah terbaik untuk Andi." tukasku menyemangatinya.
Setelah satu jam, kami semua sudah berkumpul di ruang makan. Orangtua murid kami berjumlah sekitar 30 orang. di tambah guru dan kepala sekolah. jadi pihak Villa sudah menyiapkan dua meja makan berukuran panjang yang saling berhadapan. ada 2 meja bundar dengan tambahan masing-masing 4 kursi. di disisi kiri dan kanan meja tersebut.
"Silahkan! ibu dan bapak bisa duduk dimana saja." jelas bu Maryam.
"Mas Sandy mau duduk dimana?" tanyaku.
"Kita duduk disana!" mas Sandy menunjuk meja panjang.
Aku mengernyit ragu. ku pikir mas Sandy akan memilih meja bundar untuk menghindari obrolan ibu-ibu yang terkesan rewel dan berisik. tapi nyatanya tidak,dia malah sengaja memilih untuk duduk disana.
"Mas Sandy yakin?!"
"Kenapa? bukankah itu tempat paling bagus?" godanya dengan nada bercanda.
Aku melangkah maju mengikuti mas Sandy untuk duduk berhadapan dengan Bu Dewi pak Yanto.
"Lebih baik kita duduk disini aja!" ajak bu Dewi pada suaminya.
"Silahkan, silahkan! tempatnya masih kosong!" seru bu Maryam.
__ADS_1
Setelah beberapa orang duduk, makanan pun segera datang satu persatu. melihat pak Rahmat dan bu endang kesulitan membawa makanan,akupun berinisiatif membantu mereka.
"Sebentar mas," aku bangkit dan mendekat.
"Sini bu, biar saya bantu!" ku ambil nampan yang berisi penuh makanan dari tangan bu endang.
"Eh, terima kasih!" sahutnya kaget.
"Sama-sama bu!"
"Wah! sepertinya makanannya sudah siap ya!" salah seorang wali murid menarik kursi dan duduk tak jauh dari mas Sandy.
"Halo pak Sandy, tak disangka bertemu disini?" sapa nya.
"Halo Pak Indra, apa kabar?" sahutnya seraya berjabat.
"Saya pikir, selama ini anda masih bujangan." tukasnya sembari melempar pandangan pada sang istri.
"Iya, saya memang sengaja tak mengadakan resepsi pernikahan." jelas mas Sandy melirik padaku.
Hal yang ku Takutkan akhirnya terjadi juga, akan ada banyak orang yang bertanya soal status pernikahanku dengan mas Sandy yang memang dilaksanakan secara diam-diam. meski Sebenarnya sudah banyak media yang meliput dan menjelaskan tentang hal ini. tapi tetap saja,mereka lebih suka mendengar ceritanya secara langsung.
"Maaf kalau saya lancang, tapi apa benar jika Andi itu putra sambung Anda?" selidiknya setengah berbisik.
Mas Sandy dan aku saling melempar pandangan tak nyaman. tentu mas Sandy tak ingin aku tersinggung dengan pertanyaan pak Indra tadi.
"Iya betul. tapi, saya sudah menganggap Andi seperti anak saya sendiri. apalagi dia kehilangan ayahnya sejak kecil." mas Sandy menoleh cemas padaku. dan ku balas tatapannya dengan seulas senyuman sekedar untuk menenangkan hatinya.
"Syukurlah. terkadang hubungan ayah dan anak jauh lebih baik meski hanya sekedar ayah sambung." tukas pak Indra
"Pak Indra benar, banyak orangtua atau ayah kandung yang tega menelantarkan anaknya sendiri. bahkan banyak yang tak mengakui mereka sebagai anaknya. tapi mas Sandy memiliki hati yang baik, dia mau menerima anak saya dan menyayangi Andi layaknya anak sendiri." timpalku dengan senyum penuh keyakinan.
"Benar sekali bu Alis," sahutnya dengan wajah sedikit terkejut.
"Sepertinya semua orang sudah berkumpul, kalau begitu mari kita berdoa bersama sebelum menyantap makan siang ini!" ajak pak Ibrahim pada semuanya.
Mas Sandy menatapku lekat, entah apa yang ada di pikirannya. tapi aku merasa lega karena bisa mengutarakan isi hatiku di depan orang lain. aku tak ingin mereka memandang mas Sandy hanya sebagai ayah sambung yang tak memiliki cinta untuk Andi. karena pada kenyataannya, mas Sandy begitu menyayanginya.
Menikmati makan siang dengan suasana riuh terasa aneh bagiku, apalagi mas Sandy yang pastinya merasa tak nyaman.
"Saya justru sudah sejak dini mengajarkan Erick berkuda dan juga berlatih karate. agar kelak, dia bisa menjadi seperti saya!" terdengar obrolan bapak-bapak yang tengah memuji keahliannya dalam mendidik anak.
Sementara ku lihat mas Sandy hanya tersenyum tipis mendengar obrolan mereka.
__ADS_1
• • • • • •