
"Maaf,Mas!" aku menarik Mundur tanganku. ku ulangi lagi mengolesi tangannya sedikit demi sedikit dengan gerakan yang lebih lembut.
Aku jadi teringat saat mengobati Andi, yang terluka parah kala itu karna terjatuh dari sepeda. saat itu dengkul sebelah kanannya penuh darah,di jari kelingkingnya terdapat luka robekan. serta sikut tangannya yang juga tak luput dari luka goresan.
Mungkin Aku tipe wanita yang kuat jika menghadapi pahitnya masalah kehidupan,tapi aku akan menjadi sosok Ibu yang sangat amat cengeng,jika di hadapkan pada urusan Andi. saat dia menangis karna luka yang di alaminya, Alih-alih segera menolong nya akupun malah ikut menangis. tak tega jika Andi terluka parah begitu.
"Ekhm,"
Aku melirik kaget pada Mas Sandy,
"Kenapa? apa masih sakit?" tanyaku dengan polosnya
"Ngobatinnya jangan sambil ngelamun!" sindirnya
Aku tersenyum kecut,malu rasanya saat tahu jika mas Sandy menangkap basah diriku yang sejak tadi melamun.
"Maaf mas!" Sahutku segera
"Minta maaf terus,Emang kenapa sih? mikirin apa?!" selidiknya.
Aku mengalihkan pandangan dan bergegas merapikan salep ditanganku. gugup rasanya jika Mas Sandy mulai bertanya hal-hal diluar pekerjaan padaku. ada rasa tak nyaman tentu saja.
"Gak kenapa-kenapa kok mas." balasku sekenanya.
__ADS_1
"Saya permisi dulu,"aku bergegas keluar kamar dan meninggalkan mas Sandy yang mungkin masih penasaran dengan jawaban atas pertanyaannya.
••
Hidup Memang memiliki segudang Rahasia yang tak pernah bisa di tebak. begitupun dengan kehidupanku. Selama tiga minggu menjadi 'suster' untuk Mas Sandy membuatku sedikit banyak bisa memahami bagaimana karakter pemuda itu. Meski aku sempat penasaran dengan hal yang pernah membuatnya sangat marah tentang ponsel itu. aku sudah mencoba melupakannya. dan juga tentang perintah Bu Ayu yang memintaku untuk tidak mencampuri urusan lain di luar pekerjaanku. aku anggap itu sebagai Peringatan agar aku tak melakukan kesalahan. Toh,Bu Ayu tak begitu memperhatikan apa yang terjadi Karna beliau sibuk bekerja dan jarang kembali ke rumah. Namun aku juga senang karna sekarang pekerjaanku tak begitu terasa sulit. Mas Sandy yang dulu sangat emosional dan dingin kini berbeda. Bahkan sekarang Mas Sandy sudah tak semenyebalkan seperti saat pertama kami bertemu. Dia mulai bisa menyantap semua makanan yang aku siapkan setiap hari tanpa drama ataupun protes-protes tak jelas.
Seperti Hari ini, Mas Sandy memintaku membuatkan semangkuk sup iga kesukaannya. Aku bergegas menuju dapur dan menyiapkan semua bahan yang aku perlukan. meski Bu Rahayu sempat melarangku untuk melakukan pekerjaan lain selain menjaga Mas Sandy. tapi aku tak enak bila sudah Mas Sandy yang meminta sendiri. lagipula bu Rahayu menggaji ku cukup besar. tak pantas rasanya jika aku hanya bekerja seperlunya saja.
"Wah,wangi sekali Lis. kamu masak apalagi?" Bi Marni datang dari halaman belakang.
"Bikin sup iga bi,tadi mas Sandy yang minta di buatkan." Aku mengaduk sup itu dan menuangkannya dengan segera.
"Alhmdulilah sekarang Mas Sandy sudah mulai membaik seperti dulu. dia juga udah gak emosian,semuanya berkat kamu lis. kamu hebat banget!" puji Bi Marni padaku. Aku hanya bisa tersenyum mendengar sanjungannya. bagiku itu bukanlah hal hebat,karna sejujurnya semua ini berawal. dari niat Mas Sandy yang benar-benar ingin sembuh.
"Ya udah, bibi makan sekarang. kamu juga nanti makan ya!" jawabnya sembari mengambil sebuah mangkuk.
Ku tinggalkan bi Marni menuju kamar Mas Sandy. Aku mengetuk pintu sekali lalu membukanya pelan,takut jika suaraku mengganggu kegiatan membacanya. akhir-akhir ini AKu memang menyarankan Mas Sandy untuk sering membaca buku,jika dia mulai merasa bosan. alhasil,Mas Sandy selalu memintaku membawakan buku bacaan baru untuk nya. dan kebetulan ada toko buku yang selalu aku lewati jika hendak berangkat bekerja.
"Makan siang dulu Mas,"tukasku lalu menyiapkan meja lipatnya.
"Gak usah, saya makan disitu aja!" mas Sandy menunjuk pada kursi yang biasa dia tempati. mungkin bosan rasanya jika harus terus menerus makan di tempat tidur.
"Mas Sandy gak makan di tempat tidur aja? nanti kakinya sakit kalo di tekuk lama-lama mas?" tanyaku khawatir.
__ADS_1
"Kamu bilang katanya 'Pamali' kalo makan di tempat tidur."sahutnya dingin.
Aku mengulum senyum, ternyata dia masih ingat dan mendengarkan tentang cerita-ceritaku soal pantangan orangtua jaman dulu.
"Ya udah, sini saya bantu Mas!" aku mendekati mas Sandy dan segera memapahnya menuju kursi nya. mas Sandy duduk dengan Hati-Hati, sepertinya karna terlalu lama berbaring, membuat semua otot-otot tubuhnya kaku. Mas Sandy duduk dengan mata yang terfokus pada sup dihadapannya. Lucu rasanya jika melihat sikap lembut mas Sandy yang menurutku polos seperti anak kecil itu.
"Ini kamu buat sendiri kan? gak beli diluar?" selidiknya curiga.
"Ya mas Sandy cicipi aja! kalo rasanya lain dari yang kemarin-kemarin saya buat,mas Sandy boleh curiga" Sahutku sedikit sinis.
Sifat pemilihnya memang terkadang sangat menyebalkan,apalagi itu soal makanan. Aku dan Bi Marni Terkadang harus memutar otak agar semua makanan yang kami sajikan bisa masuk ke dalam mulutnya tanpa ada penolakan.
"Saya boleh tanya satu hal?" suara mas Sandy tiba-tiba mengagetkanku.
"Tanya soal apa Mas?" Jawabku tanpa menaruh rasa curiga.
"Kamu umur berapa sih?!" tanyanya.
"Hah? mas Sandy tanya umur saya?" Aku mengulang pertanyaan nya.
"Iya, umur kamu. kemarin-kemarin saya tanya, kamu selalu gak jawab. semalem saya kepikiran dan pengen tahu aja!" Selorohnya santai.
Aku menatap Mas Sandy penuh tanya. kenapa tiba-tiba dia bertanya hal seperti itu. Hal yang menurutku tak penting baginya.
__ADS_1
• • • • •