
Selesai pemeriksaan,dokter Hasan menyarankanku untuk tetap berada di rumah sakit hingga luka ku pulih. meski aku memaksa untuk pulang saja besok. tapi mas Sandy justru malah mengiyakan perintah dokter Hasan.
Katanya berada di rumah sakit sedikit membuatnya lebih tenang, jika harus meninggalkanku pergi bekerja.
"Tapi mas, saya bosen" aku mendengus lesu.
"Ini belum setengah hari sayang, kamu udah bosen aja. lagipula ini untuk kebaikan kamu dan anak kita." mas Sandy menaruh tangannya di atas perutku sembari terus mengelusnya.
"Iya ma, Andi juga Temenin mama disini" Sahut Andi.
"Pokoknya saya gak mau tahu, kamu harus nurut." tegasnya tak ingin di bantah.
Aku merengut tak bisa menyanggah lagi perintahnya. apalagi jika sudah menyangkut calon bayi dalam perutku. tentu dia akan melakukan segala cara agar aku tetap aman dan terpantau olehnya.
"Mas, saya lapar" bisikku pelan.
"Lapar? bukankah tadi kamu udah sarapan?"
"Makanan di rumah sakit,mana bisa bikin kenyang mas" selorohku.
"Baiklah. kamu mau makan apa?" tanyanya serius.
"Hm,.. apa ya!" aku menatapnya bingung.
"Terserah kamu. asalkan itu baik untuk perut kamu dan bayi kita. aku beliin meski harus keluar negeri sekalipun" godanya.
"Andi mau eskrim!" seru Andi kemudian.
"Boleh. apalagi?" tanya mas Sandy beralih menatap putraku.
"Saya mau durian mas, dan juga mie ayam yang waktu kita makan di simpang jalan itu" terangku.
Mas Sandy tampak mengingat-ingat.
"Simpang jalan...."
"Iya, simpang jalan. tempat pertama kali mas Sandy ajak saya kencan." bisikku.
"Tapi itu lumayan jauh. memangnya Gak apa-apa kalo lama?" tanya tak yakin.
"Gak apa-apa. katanya sampe keluar negeri aja mau di beliin." sindirku.
"Oke. baiklah. kalau begitu saya bilang pak Muh dulu."
"Eh, kok pak Muh sih? mas Sandy sendiri dong yang beli." ralatku
Mas Sandy tampak menggaruk tengkuknya.
"Terus kamu disini sama siapa? saya gak mau ninggalin kamu sendirian" mas Sandy menatap cemas padaku. sepertinya dia masih merasa bersalah atas kejadian itu. hingga tak beranjak sedetikpun dariku sejak aku terbaring disini.
"Kan ada bi Atun sama Andi. saya gak apa-apa kok." tukasku meyakinkannya.
Dan setelah membujuknya akhirnya mas Sandy mengalah dan mau pergi untuk membeli makanan yang ku mau.
Sementara aku kembali tidur setelah obat yang ku minum akhirnya mampu membuat kedua mataku terpejam.
__ADS_1
•••
Aku mengerjap membuka pelan mataku. terdengar suara Andi tertawa, aku menoleh ke arahnya. ku lihat dia tengah Asik menonton film kartun kesukaannya. sementara Bi Atun tampak merapikan meja dan juga cemilan yang berserakan di atasnya.
TOK..
TOKK..
Ku dengar suara ketukan dipintu.
"Tolong lihat siapa bi," perintahku.
Bi Atun segera mendekati pintu dan mengintip.
"Temen-temennya non Alis." jelasnya.
"Ya udah,Suruh masuk aja" Aku menurunkan selimutku. dan menarik kebelakang helaian rambutku yang sedikit berantakan.
"Aliiiisss....!" Rahma berlari lebih dulu dengan wajah khawatir. di ikuti oleh Nita, billy, Anwar dan juga Sinta.
Mereka tampak menatapku penuh rasa iba. tentu saja mereka semua pasti terkejut mendengar kabar tentang diriku. tapi siapa yang memberitahukannya pada mereka. apa mas Sandy yang bercerita? batinku.
"Ya ampun Alis! kamu baik-baik Aja kan! dasar kakek tua kurang ajar! masih belum puas aja nyakitin kamu" cerocosnya.
"Kalian tahu darimana kalo aku disini?" aku menatap mereka semua penasaran.
"Semalam saya menelpon pak Sandy untuk membahas kerjaan. tapi malah dapet kabar begini." timpal Nita.
"Kok bisa sih kamu dibawa sama kakek-kakek bau tanah itu?!" tanya Rahma penasaran.
"heh! jangan di interogasi dulu! kan niat kita kesini buat nengok,bukan nyari informasi." sergah Anwar.
"Abisnya aku kesel. bisa-bisanya dia ngelakuin hal kaya gitu di tengah acara. emang rada sakit tuh orang!" gerutu Rahma.
"Pak Sandy kemana bu? kok gak kelihatan?" tanya Billy.
"Mas Sandy lagi keluar sebentar." jelasku.
"Andi sayang, sini nak! salim dulu sama tante dan om" Perintahku.
Andi segera berlari mendekatiku dan menyalami mereka satu persatu.
"Wah.. udah gede aja ya. saking jarang ketemu!" Rahma mencubit gemas pipinya.
"Jangan di cubit kak! nanti pipi Andi melar!" dengus Andi.
Kami semua tertawa geli mendengar celotehnya.
Hampir setengah jam kami mengobrol banyak hal. mulai dari alasan kenapa aku tak kembali ke kantor. hingga pesta malam itu yang membuatku ada di tempat ini sekarang. hingga kabar gembira soal kehamilanku. Mereka begitu antusias mendengar kabar itu, bahkan Nita berencana untuk mulai menabung agar bisa membeli kado mahal saat anakku lahir nanti.
"Masih ada 7 bulanan lagi gak sih. santai.." celetuk Anwar.
"Tapi kayanya Calon bayi kamu gak perlu kado dari kita deh. pak Sandy pasti sudah nyiapin semua barang mewah untuk menyambut kelahirannya." Rahma menghela nafas dalam.
"Kalian jangan begitu. bagaimana pun juga kalian ini adalah paman dan bibi buat anakku nanti. jadi wajib ngasih kado" godaku terkekeh.
__ADS_1
Tengah Asik bercanda tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu.
"Itu pasti mas Sandy, ternyata cepet juga!" sahutku menebak.
"Permisi," Pintu terbuka sebelum bi Atun membukanya.
Kami semua terperanjat kaget saat tahu siapa yang masuk.
"Vina," gumam Rahma seraya menatapku.
"Maaf mengganggu," tukasnya ragu.
"Udah tau ganggu,masih aja nyerobot masuk!" desis Sinta.
"Vina, Masuklah!" Ku persilahkan gadis itu masuk. terlihat kedua tangannya kerepotan membawa buket bunga dan juga buah-buahan.
"Maaf, aku baru tahu kabar soal ini tadi pagi. kamu gak apa-apa Alis?!" selorohnya mendekat.
"Aku baik-baik aja. Terima kasih kamu sudah datang"
"It's okay, aku Beneran kaget dapat kabar itu dari tante Ayu." jelasnya.
Aku termangu. bu ayu bisa memberi kabar pada Vina. tapi dia sendiri tak terlihat ada di rumah sakit atau bahkan menjengukku. memang sepertinya aku tak boleh banyak berharap soal itu.
"Bu, kami pamit dulu ya." Nita bergegas menarik Rahma dan yang lainnya untuk keluar dari ruanganku.
"Bi, ajak Andi keluar sebentar!" pintaku.
Dan tinggal lah kami berdua diruangan itu. ku tatap Vina yang sejak tadi tampaknya sedikit tak nyaman.
"Sebenarnya aku benci sama rumah sakit. sejak kecil, aku selalu bolak balik rumah sakit karena punya alergi parah. beruntung setelah dewasa, alergiku tak begitu parah."jelasnya.
"Seharusnya kamu gak perlu repot-repot." tukasku tak enak hati.
"Kamu kan istrinya Sandy, Gak mungkin aku diem aja saat kamu kena musibah begini. jujur aku sama sekali gak tahu soal siapa pria tua yang menyekap kamu dan hampir-"
Aku tersenyum tak nyaman. hingga Vina sendiri tersadar dan berhenti melanjutkan kalimatnya.
"Oh iya. soal mas Sandy semalam. aku minta maaf! mas Sandy pasti sudah keterlaluan bicara sama kamu. sampe kamu gak kembali lagi" lanjutku.
"Soal itu, ah itu sih cuma akal-akalan aku aja biar gak lama-lama disana. acara semalam gak cocok sama aku. Membosankan! tapi, kamu tahu kan Antonio,dia selalu memaksa aku untuk ikut berpartisipasi di acara-acara gak penting begitu." keluhnya.
Ku tatap lama wajahnya. sepertinya gadis itu bicara jujur. dia sama sekali tak terlihat sungkan untuk bercerita.
"Tapi tetap aja, mas Sandy seharusnya gak bicara begitu sama kamu. apalagi kalian pernah punya hubungan-"
"Ah sudahlah. aku udah ngaku kalah. ternyata Sandy memang lebih mencintai kamu lis,. ku pikir Sandy bukan orang yang mudah jatuh cinta lagi setelah patah hati. tapi nyatanya, dia bisa menemukan wanita yang tepat seperti kamu." tukasnya tiba-tiba.
Raut wajahnya berubah sendu membuatku sedikit tak nyaman.
"Vina..." gumamku ragu.
Meski kata-katanya terdengar mulus saat dia mengucapkannya. tapi aku yakin, batinnya bergemuruh dan pasti sulit untuk menyampaikannya secara langsung padaku.
Mengaku kalah pada seseorang tentu membutuhkan keberanian besar.
__ADS_1
"Kamu sama Sandy harus bahagia" tukasnya kemudian.
• • • • • •