
"Ivan kehabisan banyak darah" gumamnya lesu.
"Terus gimana kondisinya sekarang?" Tante Nita mengguncang kuat lengan suaminya.
Aku menatap keduanya bingung. Tak berapa lama mas Sandy kembali.
"Ada apa? bagaimana kondisi Ivan?!" selorohnya tak kalah cemas.
"Ivan kehabisan darah. lukanya juga cukup dalam." jelas Dokter Hasan.
Mas Sandy menatapnya lekat, seketika dia membuka jasnya.
"Dokter ambil darah saya saja. kebetulan kami punya golongan darah yang sama." tegas mas Sandy.
Dokter Hasan menatap haru padanya.
"Ayo! kita tak punya waktu banyak!" desak mas Sandy segera menariknya agar beranjak.
Tante Nita terlihat bingung.
"Tante tenanglah.. kita doakan agar semuanya lancar" ku dekati dirinya.
Wanita itu Pelan-pelan menyeka air matanya. seorang ibu yang sangat takut kehilangan anaknya. tentu bisa ku rasakan karena aku juga seorang Ibu.
Kematian bukan akhir dari segalanya, tapi segala sesuatu akan berakhir dengan kematian.
•••
Aku duduk dengan tatapan cemas pada suamiku. dia kembali mengusap lembut pipiku.
"Udah. saya baik-baik aja kok" ucapnya menenangkan. Aku mengangguk pelan.
"Apa Mas Sandy gak mau makan sesuatu?" tanyaku khawatir.
Dia tersenyum simpul.
"Saya ingin memakan kamu" bisiknya setengah menggoda. Aku tahu dia melakukannya hanya untuk Membuatku tak khawatir lagi.
"Mas Sandy tahu 'kan,ini tempat umum" dengusku ketus.
"Kalau begitu, setelah pulang saya bisa memintanya lagi." kekehnya nakal.
Aku mengulum senyum. Lega rasanya bisa kembali mendengar candaannya.
TOK..
TOK...
"Saya pikir kamu pingsan" Dokter Hasan membuka pintu.
"Dokter,.." Aku segera bangkit.
"Bagaimana kondisi Ivan sekarang?" tanya mas Sandy kemudian.
"Kondisinya sudah membaik. semuanya berkat kamu," tukasnya.
"Itu semua tak sebanding dengan pengorbanan yang Ivan lakukan untuk Alis" sambung mas Sandy menatapku lekat.
"Kamu sendiri bagaimana?!" dokter Hasan mendekat.
"Dokter tahu 'kan,hal seperti itu tak akan mampu menumbangkan saya"
sahutnya angkuh.
"Benar juga. kamu terlalu tangguh untuk sebuah jarum suntik" sindirnya lega.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita lihat kondisi pak Ivan?" saranku,
"Sepertinya itu ide bagus. seharian mengobrol dengannya juga tak akan membuahkan hasil," ledek mas Sandy lagi seraya melemparkan pandangan pada dokter Hasan.
"Kenapa kalian berdua,selalu saja ribut!" desis ku mencoba menengahi keduanya.
***
Dan akhirnya kami bertiga pergi menuju ruangan Pak Ivan untuk melihat kondisinya. setibanya di kamar pasien, ku lihat Tante Nita tengah menemaninya.
"Tante,..." sapaku lebih dulu.
Tante Nita menoleh cepat.
"Kalian. San,kamu baik-baik aja kan? tante sangat berterima kasih sama kamu, kalo tak ada kamu mungkin Ivan-"
"Tante gak usah khawatir soal itu. Ivan itu satu-satunya teman saya. lagipula Saya baik-baik aja kok."
Kami mendekat padanya.
Ku lihat wajah pak Ivan masih tampak pucat dengan mata terpejam.
"Dia masih harus banyak istirahat. mungkin setelah satu jam dia akan siuman" jelas dokter Hasan yang sudah pasti tahu betul bagaimana kondisi putranya.
Kami bertiga berbincang di ruang tunggu. Tante Nita terlihat sangat penasaran dengan kehamilanku.
"Di trimester pertama, kamu harus menjaga baik-baik kondisi tubuh kamu sayang. kamu juga san, jangan sampai istri kamu stres" tukasnya mengingatkan.
"Sepertinya kamu benar-benar Harus menuruti semua kemauannya" timpal dokter Hasan.
Aku tersenyum penuh kemenangan seraya melirik pada mas Sandy.
"Kalian sepertinya memang suka bersekongkol" sindir mas Sandy
"Pak Ivan?" Aku memekik kecil saat menoleh ke arah ranjang. dan ku lihat tangan pak Ivan bergerak pelan.
"Akhirnya kamu sadar juga sayang" gumamnya lirih.
"Ivan belum mati maa..." selorohnya lemah.
Kami merasa lega mendengar jawaban nyelenehnya. setidaknya dia sudah bisa bercanda meski kondisinya baru saja sadarkan diri.
"Syukurlah, kamu sudah bangun" gumam mas Sandy ragu.
"Lebih baik kita biarkan Sandy dan Ivan bicara berdua" saran dokter Hasan.
Kami bertiga akhirnya keluar dari dalam kamar. dan membiarkan mereka bicara dari hati ke hati. Ku rasa mereka berdua memang memerlukan waktu untuk mengobrol.
"Tante masih tak menyangka jika Ayu tega berbuat begitu pada kalian semua" gumamnya seakan masih tak percaya.
"Dia memang sangat ambisius. dan juga tak punya hati" timpal Dokter Hasan yang sudah pasti tahu betul bagaimana tabiat Bu Ayu.
Mendengar obrolan mereka, membuatku juga merenungi apa yang terjadi selama ini padaku, Mas Sandy dan pak Ivan. kami yang selama ini selalu terlibat dengan Bu ayu, sama sekali tak menyangka jika dia bisa melakukannya.
Seandainya aku yang terbaring dan terkena luka tusuk. bagaimana jadinya nanti? aku dan bayiku? ku usap kembali perutku.
"Tapi biar bagaimanapun, Bu Ayu adalah tante dari suami saya. kami harus tetap menghormatinya." gumamku pelan.
"Kamu yang sabar ya,Alis. kalian berdua harus kuat." Tante Nita mengusap lembut pundakku.
Ya, tentu saja....
Keluarga tetaplah keluarga. sedikitpun kamu tak akan bisa membuangnya. seburuk apapun yang dia perbuat padamu. Mereka akan tetap menjadi bagian dari dirimu.
Keadaan yang menimpa Bu Ayu semua berasal dari kesalahannya sendiri. Bahkan perlahan kejahatan kecilnya mulai terbongkar.
__ADS_1
Beberapa karyawan bahkan berani dengan terbuka membicarakan kebiasaan buruknya yang sering mabuk ketika menginap di kantor. dan masih banyak hal buruk lainnya.
Beruntunglah Mas Sandy sudah bisa berdamai dengan hatinya. dia tak lagi ambil pusing dengan apa yang terjadi dibelakangnya dulu. baginya dia sudah menutup rapat-rapat cerita tentang tante nya itu. kini wanita itu sudah mendapat hukuman. setidaknya itu mampu membuat mendiang orangtuanya tenang disana.
Tapi, ada hal yang membuatku sangat kaget. saat ku Dengar nama Sinta terbawa sebagai salah satu kaki tangan Bu Ayu.
Ya, kabar ini ku dengar tepat seminggu setelah mas Sandy kembali ke kantor. banyak Staff yang mengadu soal sikap Sinta yang dinilai tidak profesional dalam bekerja. dia bahkan berani mengatur pertemuan rahasia antara investor asing dengan Bu Ayu untuk bekerja sama diluar perusahaan.
Awalnya aku sama sekali tak percaya hingga Rahma sendiri yang bicara padaku.
Alhasil, Mas Sandy pun bertindak dan langsung mengeluarkannya dari kantor. meski dia bisa saja menyeret Sinta ke penjara. tapi mas Sandy masih memiliki hati untuk tak melakukannya.
Sedikit demi sedikit Semua masalah yang membelit perusahaan dapat terselesaikan. Dan pekerjaan mas Sandy kembali normal. Kini Aku pun bisa sedikit bernafas lega. dan hanya fokus pada kehamilanku saja.
•••
Di suatu sore, aku sengaja ingin berjalan-jalan mengelilingi pusat kota. beruntung Andi sedang ada Les tambahan. jadi kami bisa berduaan saja sekarang.
Rasanya semenjak hamil, aku jadi begitu manja dan malas. Bahkan aku akan sangat marah jika apa yang ku inginkan tak segera di turuti.
Hingga Mas Sandy yang baru saja selesai bekerja,tak berani menolak dan langsung memenuhi keinginanku itu,
"Mas bisa berhenti sebentar?" pintaku cepat saat kami melewati seorang penjual rujak di pinggir jalan.
"Kenapa? kamu mual?" tanyanya kaget.
"Saya mau itu?" aku menunjuk penjual ke arah rujak.
"Kamu mau rujak? ya udah,kita turun dan Makan di sana," ajaknya.
"Serius mas?" decakku antusias.
Kami berdua segera keluar dari dalam mobil dan duduk di bangku yang sudah di sediakan.
"Pak rujaknya 2 ya. jangan terlalu pedas" aku segera memesan sambil menunjuk beberapa buah yang ku inginkan.
"Gak disangka bisa nemu rujak di sore hari begini" gumamku begitu senang. apalagi setelah seharian di rumah sakit serta di dalam mobil. Bayiku pasti sangat kelelahan. batinku
"Pantas rasanya jika Ivan rela mengorbankan nyawanya buat kamu. Juga Vina yang cemburu buta saat dia tahu kamu adalah istri saya.." Mas Sandy memandang dalam pada diriku.
"Hah? kenapa mas?" aku mengerutkan dahi bingung.
Mas Sandy tersenyum dan mengusap lembut pipiku. bahkan ditempat umum, dia tiba-tiba melakukannya. ini Aneh.
"Di ternyata diam-diam menyukai kamu" gumamnya lagi.
Aku terpaku cukup lama.
"Mas Sandy jangan bercanda" aku menyeringai ragu.
"Saya Jadi Takut-... " gumamnya
"Takut jika diluar sana, masih banyak laki-laki yang seperti Ivan." lanjutnya
Aku mengulum senyum.
Ku dekap erat tubuhnya, disaksikan lalu lalang kendaraan yang kebetulan melintas didepan kami.
"Seberapa banyak pun laki-laki yang seperti dia. saya Akan tetap memilih kamu mas." Ku tatap dalam matanya.
Mas Sandy tampak begitu terharu. Dia menarik pelan daguku dan mengecup bibirku lembut.
"Saya mencintai kamu Alis Anjani......"
Bahkan untuk ribuan kisah cinta yang manis. saya Rela memilih cerita berliku asalkan itu bersama kamu.
__ADS_1
••THE END••