
Ku lirik lagi artikelnya,ku baca dengan pelan dan sangat teliti. apa yang mereka coba cari tahu dariku.
Dan sekali lagi,aku terkejut saat melihat fotoku bersama Andi dan mas Sandy ketika kami berlibur di taman rekreasi beberapa waktu lalu. jadi selama ini kami di buntuti? pikirku baru sadar. beruntunglah mereka masih memiliki 'sedikit' hati nurani dengan tidak menunjukkan wajah putraku secara jelas.
Ku lihat beberapa komentar dari para pembacanya.
"Mungkinkah wanita itu memiliki anak?"
"Wah! dia memakai trik kotor. murahan!"
"Mungkin mereka sudah tinggal bersama dan punya anak. Who knows?"
"Sama sekali Tidak Cocok. LOL!"
Seharusnya dia tahu diri, siapa yang jadi suaminya sekarang. diluar sana masih banyak gadis cantik yang berbakat"
Aku mendesah kasar. bagaimana bisa mereka menilaiku sekeji itu? apa ini tempat mengasah mental? kenapa mereka begitu kejam. padahal mereka tidak mengenalku.
Banyak dari mereka berkomentar baik tapi tak sedikit pula yang menilaiku sebagai wanita yang memanfaatkan kekayaan Mas Sandy.
Aku memang awam dengan dunia seperti ini, tapi setidaknya aku tak akan bersikap kasar seperti ucapan mereka pada orang yang sama sekali belum aku kenal.
"Mungkin mereka menikah untuk menutupi kematian suaminya. agar si wanita tak menuntut balik Perusahaan besar itu. Laki-laki semua sama saja"
Salah satu komentar yang paling menarik yang ku baca. adalah sebagian orang yang menyebutkan soal kecelakaan suamiku. apa aku melewatkan sesuatu. batinku.
KLEK!
Aku menoleh kaget, mas Sandy membuka pintu dan menatapku cemas. aku bangkit dan mendekat. Begitupun dengannya yang langsung memelukku penuh kekhawatiran.
"Kamu Gak kenapa-kenapa kan? apa para wartawan tadi mengganggu kamu di bawah?" selorohnya.
"Enggak mas. Gimana dengan rapatnya? apa semua baik-baik aja? kenapa ada banyak wartawan?" Aku menatapnya cemas.
"Kamu Gak perlu khawatir,Rapatnya sudah selesai. mulai sekarang kamu harus mengikuti perintah saya. untuk tak keluar sendirian. oke!" mas Sandy mengusap lembut pipiku.
"Gimana dengan Andi mas?"
"Saya sudah meminta pak Muh, untuk menungguinya di depan sekolah. kamu tenang saja teh." mas Sandy menoleh pada layar komputernya yang menyala.
"Maaf mas, saya lancang sudah membuka komputer mas Sandy tanpa izin," aku tertunduk penuh sesal.
Mas Sandy mendekati komputernya dan mematikannya dengan segera.
"Seharusnya kamu tak melihat hal seperti ini teh. berita di media tak baik untuk kesehatan kamu" selorohnya.
"Bukankah apa yang mereka semua katakan itu benar adanya mas. saya memang tak seharusnya menjadi nyonya Hadiwijaya." Gumamku pelan.
Mas Sandy berbalik dan menatapku ketus.
__ADS_1
"Lalu menurut kamu siapa yang pantas? apa ada wanita diluar sana yang mau merawat saya saat saya sakit parah? atau wanita yang dengan sabar mau menunggui saya sarapan setiap pagi? apa menurut kamu, ada wanita yang mau saya bentak-bentak padahal dia tak berbuat salah? saya rasa, tak ada wanita yang sesabar dan setangguh kamu Alis Anjani." pujinya menatap dalam wajahku.
"Tapi,-"
Mas Sandy membentangkan jari telunjuknya didepan bibirku.
"Buat saya tak ada kata TAPI. kamu yang terbaik selama ini, saya tak butuh pendapat mereka." jelasnya lagi meyakinkanku.
Berkali-kali mas Sandy meyakinkanku. dan berkali-kali pula aku ragu, apakah aku bisa? apakah aku mampu?
Aku memeluknya erat, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya. terasa mas Sandy mengecup pucuk kepalaku.
KRIIING!
Dering telepon membuat kami berdua menoleh bersamaan ke arah benda itu.
Mas Sandy mengangkatnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih memeluk erat tubuhku.
"Halo,.. " Suara beratnya masih saja membuatku terpesona di tengah kekalutanku hari ini.
"Maaf pak,soal makan malam dengan para relasi. saya sudah pesankan tempatnya di hotel Shangri-la." tukas Nita dari ujung telepon sana.
"Oke, baiklah. tolong kirimkan pakaian saya dan Istri saya ke rumah! sore nanti" pintanya.
Aku mendengar obrolan itu seraya menerka-nerka apa sebenarnya yang mereka bahas.
"Makan malam?!" tanyaku menautkan kedua alis bingung.
"Ya,.. saya ingin mengenalkan kamu pada semua rekan bisnis saya." jelasnya.
"Hah?!" aku memekik kaget. belum juga semua masalah ini berakhir, aku harus menghadapi lagi 'masalah' baru.
"Sudah saatnya saya menunjukkan bidadari yang selama ini saya sembunyikan pada seluruh dunia. dengan begitu, para pencari berita tak akan mengganggu kamu lagi." jawabnya.
"Tapi mas, saya takut apa yang mas Sandy lakukan malah akan membuat keadaan perusahaan memburuk,"
"Bukankah saya pernah bilang, bahwa saya tak peduli dengan perusahaan." tukasnya enteng.
Keraguan dan ketakutanku mungkin bukan apa-apa baginya. nyatanya, dia sama sekali tak takut jika harus kehilangan perusahaan besar yang selama ini memfasilitasi hidupnya.
•••
Pukul 3 sore Mobil pak Muh sudah terparkir di depan halaman kantor setelah menjemput Andi disekolah. Aku dan mas Sandy keluar dari kantor dan segera menghampirinya.
Beruntunglah para awak media itu sudah pergi sehingga kami bisa pulang dengan leluasa.
"Mama,.." panggil Andi dari dalam mobil.
Kami berdua tersenyum. bersyukurlah aku masih mendengar teriakannya dengan lantang, juga senyumnya yang terlihat mengembang.
__ADS_1
Mas Sandy membukakan pintu untukku lalu kemudian di ikuti olehnya yang turut serta duduk di kursi belakang.
"Om papa kok enggak duduk didepan sama pak supir?" tanya Andi
"Kalau om papa duduk didepan, om papa Gak bisa gendong kamu dong!" mas Sandy memangku Andi agar putraku itu duduk di pangkuannya.
"Ya udah deh, Andi ngalah aja!" celotehnya polos. kami berdua terkekeh.
Andi adalah sumber kebahagiaanku. dan itu jelas terasa saat kehadirannya mampu membuat rasa takut dan gelisahku menghilang seketika.
Setibanya di rumah,Andi segera menghambur keluar, dan berdiri di depan teras.
"Pelan-pelan sayang, nanti jatuh!"
"Biarkan saja teh! di usianya sekarang Andi memang harus banyak bergerak. agar sistem motorik-nya berkembang dengan baik!" tutur mas Sandy.
"Eh,ibu sudah pulang?" suara bi Atun mengagetkanku. ku pikir mereka tak akan langsung bekerja di rumah.
"Kalian Gak pulang?" tanyaku
"Enggak bu. tadinya kami mau pulang, tapi melihat Rumah sangat kotor. jadi saya dan susi membersihkan semuanya sejak tadi." jelasnya.
"Apa kalian sudah makan?" tanya mas Sandy.
"Bapak tenang saja. pak cecep sudah menjelaskan semuanya. termasuk soal tempat tidur dan makanan." sahut bi Atun.
"Baguslah. kalau begitu kami masuk dulu!" pamit mas Sandy seraya menggandeng Andi dengan lembut.
"Silahkan pak, bu."
Aku menilik seisi rumah yang memang sudah terlihat rapi dan bersih. lalu pandanganku beralih pada kamar bu Ayu. apakah dia ada dikamarnya? apa yang dia pikirkan soal masalah di kantor. pastilah dia semakin tak menyukai kehadiranku.
"Tante Ayu tak ada dikamarnya. kamu tak perlu melihatnya seperti itu," seloroh mas Sandy seolah tahu apa yang ku pikirkan.
Aku tersenyum tipis, tentu saja dia tak akan ada dirumah saat situasi diluar sedang tak baik-baik saja.
"Lebih baik kamu antar Andi ke kamar teh, sepertinya dia sudah lelah," saran mas Sandy.
Segera ku antar Andi menuju kamarnya. membantunya berganti pakaian dan membereskan semua pakaian kotornya.
"Andi mau turun ke bawah?" tanyaku.
"Enggak ma, Andi mau ngerjain PR." jawabnya membuka tas seraya mengeluarkan buku pelajarannya. dia tampak Asik dengan apa yang dia kerjakan.
Aku tersenyum lega.
Baguslah Andi tak mengetahui apa yang terjadi diluar sana. dan ku harap dia tak akan mengalami hal mengerikan seperti yang aku alami tadi. sebait doa ku panjatkan dalam diam, sebuah doa sederhana, semoga Allah tetap menjaganya dimanapun dia berada.
• • • • • •
__ADS_1