
Aku keluar dari kamar Mandi dengan ragu-ragu,kemudian memilin handuk untuk membungkus dan mengeringkan rambutku lalu ku sisir secepat kilat. aku tak mau berlama-lama lagi dikamar mandi ini,ku simpan handuk itu ditempatnya seraya berjalan menuju meja makan.
Ku lihat Andi dan mas Sandy tengah duduk menungguku.
"Mama..!" Andi berseru lebih dulu sebelum kemudian mas Sandy ikut menoleh ke arahku. Aku mengurai senyuman tipis.
Mas Sandy menatap lama padaku. dan tentu saja itu membuatku salah tingkah.
"Mama cantik ya om!" celetuk Andi.
"Sangat" sahutnya tak melepaskan pandangannya dariku.
"Terima kasih," Gumamku pelan lalu segera menarik kursi dan duduk disamping Andi.
"Ma, cobain dong kue buatan Andi!" pintanya kemudian memberiku garpu untuk mencicipi kuenya.
"Serius ini Andi yang buat?" tanyaku seraya memotong pancake di hadapanku itu lalu ku cicipi perlahan.
"Ini enak banget sayang!" Aku menatap Andi dan mas Sandy bergantian.
"Beneran kamu yang bikin nak?" tanyaku lagi.
Andi menatap mas Sandy dan menutup mulutnya menahan tawa. seketika Aku menajamkan pandanganku pada Andi tak percaya.
"Yang bikin sebenarnya om sandy ma" Andi menyeringai malu. Aku menoleh ke arah mas Sandy dan pemuda itu hanya tersenyum melihat tingkah Andi.
"Mas Sandy bisa masak juga?" tukasku masih tak percaya.
ku pikir hanya dalam drama saja, pemuda tampan dan mapan selalu pandai memasak. ternyata memang benar adanya. bahkan aku sedang memandanginya sekarang.
"Gimana rasanya?" tanya mas Sandy.
Aku menyecap garpu dimulutku.
"Rasanya enak,manis." Aku berujar sembari mengunyah makanannya.
"Makanlah yang banyak!" Tukasnya penuh perhatian. Aku mengangguk saja tanpa berujar lagi
Pagi ini Aku menikmati sarapan sederhana namun dengan suasana yang berbeda. sepanjang duduk di meja makan,ku lihat Andi dan mas Sandy terus saja mengobrol layaknya seorang anak dan ayah yang saling bercerita satu sama lain. dan ini kali kedua kami berkumpul seperti ini.
Hal istimewa yang justru membuatku khawatir. khawatir tentang perasaan Putraku saat ini. aku takut dia mulai merasa nyaman dan menikmati setiap kehadiran Mas Sandy sebagai sosok yang lama di idamkannya.
"Kamu sudah selesai?" tanya mas Sandy pada putraku
"Sudah om!" Andi mengangkat kedua tangannya antusias.
"Bagus,om ganti baju dulu. habis itu kita berangkat!" tukasnya.
Aku menatap keduanya bingung, bahkan sekarang mereka memiliki kegiatan berdua yang tak ku ketahui.
"Berangkat? kemana?!" tanyaku bingung.
"Om mau ngajak Andi jalan-jalan ma!" sahutnya antusias
__ADS_1
"Ssssttt!' mas Sandy menutup mulut Andi dengan satu telunjuknya. Sontak andi menutup mulutnya dengan kedua tangannya sembari terkekeh.
"Andi libur kan hari ini?" mas Sandy menoleh ke arahku.
Aku terkejut mendengar ucapannya, bagaimana dia bisa tahu jika Andi libur sekolah hari ini.
"Mas Sandy tahu?" tanyaku kemudian.
"Saya hanya menebak!" sahutnya lama.
"Ya sudah,om mau ganti baju dulu. Andi tunggu disini ya?" Mas Sandy bangkit dari duduknya sembari mengusap lembut kepala Andi. hal itu mambuatku terpana akan sikap manisnya terhadap putraku.
•••
"Silahkan!" mas sandy mempersilahkan aku dan andi untuk keluar dari lift lebih dulu. Kami kemudian berjalan menuju halaman parkir apartemen. sebuah mobil mewah sudah terparkir disana.
Aku menatap kendaraan itu teliti.
"Apa itu mobil mas Sandy?" tanyaku
"Iya, ayo masuk!" Ajaknya segera sembari membukakan pintu depan. Aneh rasanya jika tiba-tiba sekarang aku duduk didepan bersamanya dan juga Andi.
"Mas sandy yakin saya harus duduk didepan?" tanyaku.
"Kalo saya sendiri yang duduk didepan. nanti saya dikira supir kamu teh!' Celetuknya santai.
Dengan Ragu ku naiki mobil itu bersama Andi. entah kemana hari ini mas Sandy akan membawa kami.
"Apa saya boleh tahu, baju siapa yang saya pakai ini?" aku memberanikan diri bertanya dengan suara pelan.
"Kamu tenang saja teh,itu bukan baju yang akan saya berikan pada wanita lain diluar sana. percayalah" sahutnya dingin
Aku menatapnya tak yakin,benarkah apa yang diucapkannya barusan? tapi tetap saja hal itu malah membuatku semakin bertanya-tanya dalam hati.
"Om, Andi boleh gak naik mobil om setiap hari?" tanya Andi tiba-tiba.
Aku menyeringai malu melihat tingkah putraku yang memang sering bertanya hal-hal aneh itu.
"Boleh dong,nanti kalau Andi mau om jemput. Andi telepon saja yah!" bisiknya melirik padaku,seakan aku tak boleh tahu hal itu.
Andi terkekeh geli mendengar jawaban mas sandy padanya.
"Asyikk! terima kasih om ganteng!" Tukasnya antusias.
"Kamu pinter banget sih, gak kaya mama kamu yang kalo seharian sama om. bisa nya marah-marah terus!" ledek mas Sandy.
Aku membelalakan mata acuh.
"Sayang, kalau kamu ngajak om nya ngobrol terus, nanti om nya gak bisa konsentrasi bawa mobil." tukasku menatap Andi.
"Ya udah deh, Andi diem aja. om nya boleh jadi supir dulu!" jelasnya.
"Anak pinter!" mas Sandy mencubit gemas pipinya. lalu kemudian kembali fokus untuk menyetir.
__ADS_1
Jalan yang kami lewati adalah sekitaran pusat kota, sehingga aku tak begitu hafal dengan tempat-tempatnya. sesekali akupun memandang takjub keluar jendela, bahkan Andi tak hentinya menunjuk setiap sudut kota yang dianggapnya luar biasa dan menarik perhatian itu.
Kami akhirnya tiba disalah satu tempat rekreasi untuk keluarga. Aku bahkan bisa melihat wisatawan didominasi oleh anak-anak usia sekolah.
"Mas Sandy yakin mau masuk kesini?" tanyaku tak percaya.
"Memangnya kenapa?" tanyanya membuka sitbelt lalu bergegas keluar dan membukakan pintu untuk kami.
Andi segera menghambur keluar dan beralih menggandeng mas Sandy, seakan tak menghiraukan keberadaanku sebagai ibunya.
"Ayo Andi!" Ajaknya bergegas.
Aku mengekori keduanya tanpa bertanya lagi. kami berdua masuk dan disambut oleh seorang pemandu lokasi.
"Silakan masuk pak. Apa anda hanya bertiga saja?" tanyanya meyakinkan.
"Iya." jawab mas Sandi santai.
"Baiklah, kasirnya disebelah kiri! semoga petualangan keluarga Anda menyenangkan pak!" tugasnya mengurai senyuman. Aku menatap ragu pada mas Sandy yang tampaknya tidak terganggu dengan ucapan orang tersebut.
Setelah mendaftar di meja kasir kami pun segera memasuki tempat yang lumayan sangat luas itu. taman yang hijau penuh bunga-bunga cantik serta berbagai macam wahana permainan anak yang tersebar disetiap sudutnya. beberapa toko-toko suvenir serta badut-badut kostum berbagai macam karakter dengan balon warna warni ditangan mereka juga tampak memenuhi tempat tersebut.
Ku lihat Andi tampak terpesona dengan situasi yang sangat ramai dan menyenangkan itu, membuatku ikut berbahagia dan melupakan sedikit kekhawatiran dibenakku.
"Om, Andi boleh main itu?" Andi menunjuk salah satu area parkir mobil-mobilan.
"Boleh, ayo om temani!" sahutnya segera.
Saat mendekati mobil tersebut seorang pria dengan dua orang anak kembarnya menoleh pada mas Sandy beberapa kali seakan hendak memastikan.
"Pak Sandy? apa saya tidak salah orang?" celetuknya membuat mas Sandy sempat terpaku.
"Saya pak Darwin. dulu kita pernah bekerja sama!" jelasnya sembari berjabat tangan.
"Oh iya,saya hampir lupa. pak Darwin!" sahutnya kemudian.
"Anda disini juga?" tanya mas Sandy
"Iya, mengajak si kembar bermain di hari Weekend sudah menjadi rutinitas saya sekarang. kenalkan ini putra saya Leon dan Lucas dan ini istri saya tercinta, Amelia." Pak Darwin memperkenalkan anggota keluarganya bergantian
Dan yang ku khawatirkan akhirnya terjadi juga. Pak Darwin sejak tadi memang sempat menoleh ke arahku.
"Apakah dia istri anda?" tanyanya polos.
Aku menatap mas Sandy gugup.
"Doakan saja!" selorohnya mengurai tawa disambut anggukkan oleh pak Darwin. Aku tersenyum ragu seraya berjabat tangan dengannya.
"Alis,"
"Amelia. Anda terlihat sangat manis dengan pakaian yang anda kenakan. saya jadi iri!" Seloroh wanita yang bertubuh tinggi langsing itu.
"Terima kasih,Anda jauh lebih cantik bu!" sahutku tersipu.
__ADS_1
Dan akhirnya Mas Sandy membiarkan Andi bermain bersama Leon dan Lucas. sementara kami berempat mengobrol sembari sesekali mengawasi ketiganya bermain.
• • • • • • •