
Kehilangan seseorang yang kita sayangi pastilah sangat menyakitkan. sekuat apapun orang itu. jika menyangkut soal kematian,tak 'kan ada yang sanggup menghadapinya.
Kami bertiga berdiri si koridor rumah sakit. Tepat didepan ruang UGD. menunggu sang dokter yang sedang memeriksa kondisi Bi Marni.
Beberapa keluarganya sudah mas Sandy hubungi. mereka pun menunggu ditempat yang sama. Mas Sandy terlihat sangat terpukul,pikirannya pasti sedang kacau sekarang. Bi Marni bagaikan ibu kedua untuknya.
Ku elus pundaknya mencoba menenangkan. dia menoleh padaku dengan tatapan sendu.
"Bi Marni pasti baik-baik aja mas," tukasku lirih.
Sejujurnya Akupun tak yakin sudah separah apa sakit yang bi Marni alami. yang ku ingat saat dia berpesan untuk menjaga mas Sandy, wajahnya sudah terlihat agak kurus. aku tak ingin berburuk sangka dan terus berdoa agar tak terjadi apa-apa.
Ketika tengah menunggu. tiba-tiba dokter Hasan datang. sepertinya diapun sedang bertugas malam ini.
"Kalian sudah datang. Gimana?" tanya dokter Hasan.
"Dokter yang memeriksanya belum keluar!" jawab mas Sandy.
"Dimana Tante mu?" Dokter Hasan melihat pada pihak keluarga Bi Marni.
"Entahlah. seharusnya dia sudah kembali dari kantor." jawab mas Sandy dingin.
"Benar-benar tak punya rasa empati sedikitpun!" gumam dokter Hasan yang sangat menyayangkan sikap bu Ayu itu.
Tak berapa lama dokter Fadli keluar dengan raut wajah sendu. aku benar-benar langsung merasa tak nyaman. ingin mengusir perasaan buruk yang tiba-tiba saja menghinggapi pikiranku.
"Gimana dok,kondisi Bi Marni?" Mas Sandy mendekat.
Beberapa detik dokter Fadli terdiam. dia melihat orang-orang dari pihak keluarga Pasiennya. lalu beralih menatap dokter Hasan.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tetapi penyakit lambungnya sudah sangat kronis, bahkan ada kerusakan fungsi hati yang cukup parah!" jelasnya.
"Maksudnya apa dok?!!" tanya mas Sandy
"Ibu Marni sudah meninggal dunia." tukasnya hati-hati.
__ADS_1
Mas Sandy seketika itu mematung di ikuti jerit tangis dari pihak keluarganya. Aku hanya mampu menatap kaget pada sang dokter. Mas Sandy menghela nafas dalam sembari menutupi wajahnya. ku biarkan dia bersandar di bahuku, untuk sekedar melepas tangis pilu nya. Andi yang menyaksikan mas Sandy menangis pun ikut memeluknya erat.
•••
Pagi itu menjadi pagi kelabu bagi kami dan keluarga besar Bi Marni. Setelah segala proses pengurusan jenazah di rumah sakit selesai. kami pun ikut mengantarnya kembali ke rumahnya disalah satu perkampungan tak jauh dari kompleks rumah mas Sandy.
Hingga proses pemakaman selesai baru lah kami berniat pulang. Dan sebelum pulang, mas Sandy memberikan uang santunan untuk keluarga besarnya. Berharap uang itu bisa sedikit meringankan beban mereka setelah kepergian bi Marni. Keluarga Bi Marni terlihat sangat terharu atas kebaikan mas Sandy. terutama anak dan cucu-cucunya.
Kami pamit dengan perasaan duka yang mendalam.
"Bi Marni orang baik. Allah pasti sudah menyiapkan tempat terbaik untuknya." Aku menatap mas Sandy yang masih termangu didepan kemudinya.
"Sekarang saya benar-benar sendirian di rumah. dan pasti akan sangat sepi." Gumamnya lirih.
"Mas Sandy Gak usah sedih. mas Sandy masih punya saya dan Andi. kami akan menemani mas Sandy jika mas Sandy merasa kesepian." tukasku berusaha menghiburnya.
Mas Sandy menoleh ke arah kami berdua. tatapannya lekat saat menatap Andi. mungkin itu sedikit bisa menghiburnya, hingga dia menyunggingkan seulas senyuman tipis.
Hari ini setelah dari pemakaman, kami kembali ke rumah mas Sandy di Diamond hills. untuk membantunya membereskan barang-barang bi Marni yang masih belum sempat di rapikan.
"Kamu tenang saja. dia tak akan berani macam-macam!" sahut mas Sandy sembari membuka pintu mobil begitu kami tiba didepan halaman rumah.
Ku langkahkan kakiku perlahan memasuki rumah itu. hawa yang tetap hangat,sama persis saat aku pertama kali masuk beberapa bulan lalu ke tempat ini. Entahlah menurutku dibandingkan dengan apartemen mas Sandy yang mewah. rumah ini terasa lebih nyaman dan tenang.
"Pak! tolong bereskan semua barang-barang Bi Marni. setelah itu bapak antar ke rumahnya ya!" perintah Mas Sandy pada pak wahyu.
"Siap mas," Pak wahyu segera mendahului kami menuju bekas kamar bi Marni.
Saat menuju ruang tengah Bu Ayu terlihat baru saja keluar dari kamarnya. dan aku tak bisa menghindari pertemuan itu.
"Ada apa ini? kenapa kamu membawanya ke rumah kita?" tanya Bu Ayu sinis.
Aku berpaling dan mendekap Andi seketika.
"Ini rumah saya! saya bebas membawa siapapun kemari!" Mas Sandy menggandeng tanganku.
__ADS_1
Bu Ayu menatap tajam pada kami, mungkin dia sedikit kecewa karena aku tak menuruti kemauannya untuk menjauhi mas Sandy.
"Kamu sudah keterlaluan san! tidakkah kamu menghargai saya sebagai tante mu?" desisnya.
"Selama tante masih mengusik kehidupan pribadi saya. saya tak akan meminta ijin apapun. kecuali.. Ketika saya akan menikahinya!" tegas mas Sandy membuatku mendongak kaget.
Bu Ayu berjalan mendekat dan memperhatikan kami berdua.
"Wanita ini? akan kamu nikahi? yang benar saja! bahkan tante tak mengizinkannya menginjakkan kaki di rumah ini. apalagi menjadi bagian keluarga Hadiwijaya. cukup papamu yang melakukan kesalahan!" sergahnya seakan mengingatkan mas Sandy akan sesuatu.
"Tante tak perlu membahas hal itu didepan mereka. apapun yang tante katakan. itu semua tak akan merubah niat saya untuk segera menikahi Alis!" Mas Sandy menarik ku dan membawa kami ke kamarnya. sementara Bu Ayu hanya diam mematung mendengar penentangan dari keponakannya.
•••
Aku terpaku dan masih berdiri didepan kamar mas Sandy. Andi menatapku bingung. seharusnya aku tak membawa Andi dan membiarkan dia melihat perdebatan tadi. aku tak ingin meninggalkan ingatan buruk untuknya.
"Masuklah!" pinta mas Sandy membuka pintu kamarnya.
Aku dan Andi melangkah masuk ke dalam kamar.
"Andi sayang! kamu mau main game? sini om tunjukin game yang bagus!" ajaknya membawa Andi duduk disofa. lalu menunjukannya beberapa video game yang memang disukai anak-anak.
"Wahhh! Andi suka yang ini om?" tukasnya seketika
"Ya sudah, kamu main di balkon ya! om mau bicara sama mama!" pintanya lembut.
Mas Sandy mengantar Andi menuju balkon yang lebih sejuk. dan membiarkannya duduk disana. pemuda itu berjalan ke arahku. Aku menatapnya gamang. dia tahu bahwa aku tak biasa ada disituasi seperti ini. mendapatkan penolakan langsung dari keluarganya sendiri.
Mas Sandy menarik tubuhku kedalam pelukannya.
"Kamu Gak usah pikirin omongan tante! apapun yang terjadi. kita akan segera menikah!" gumamnya meyakinkanku.
"Saya takut mas," sahutku pelan.
"Kamu tak perlu takut teh. saya akan selamanya ada didekat kamu. saya akan selalu melindungi kamu. dan saya tak ingin kehilangan kamu." tandasnya semakin erat memelukku.
__ADS_1
• • • • • • •