
Cukup lama mas Sandy menerima telepon, hingga aku dan Andi berinisiatif untuk keluar dari kamar.
"Kita makan dulu Yuk! sambil liat papa udah selesai ngobrolnya apa belum?" ajakku pada Andi.
"Tolong kamu awasi! saya tak ingin mereka mengganggu rencana kerjasama saya dengan pihak luar!" jelas mas Sandy cukup serius.
Aku dan Andi yang baru keluar dari kamar melihat ke arahnya.
"Ya sudah! terus kabari saya. saya masih ada acara penting!" tukas mas Sandy cepat. lalu menutup teleponnya.
"Ada apa mas?" kami mendekat.
"Tante Ayu ingin segera mengadakan rapat ulang soal kerjasama dengan pihak pak Broto. dia pintar sekali memanfaatkan keadaan. tahu jika saya sibuk disini." desisnya kesal.
"Kenapa mas Sandy gak coba menyerahkan semua urusan ini sama bu Ayu aja sih mas? toh,bu Ayu juga gak mungkin merusak reputasi perusahaan" saranku.
Mas Sandy menatapku cukup lama.
"Apa tante juga mempengaruhi kamu untuk menekan saya?" selidiknya.
SIAL! kenapa Insting mas Sandy kuat sekali jika aku mencoba berbohong.
"Bukan begitu mas, saya hanya tak mau kalian selalu ribut soal pekerjaan terus!" sergahku cepat.
"Sudahlah! lebih baik kita makan malam saja. Andi pasti sudah sangat lapar," Elaknya sembari mengajak Andi untuk berjalan lebih dulu menuju ruang makan.
Sulit memang mematahkan keyakinan mas Sandy. apalagi ini soal pekerjaan. dia bukan tipe orang yang mau mendengarkan pendapat orang lain dengan mudah, tanpa ada alasan jelas.
Entah apa yang mas Sandy khawatirkan soal kerjasama dengan pak Broto. apa benar hanya karena sikap tak sopan pak Broto padaku waktu itu? aku rasa masih ada hal lain yang mas Sandy sembunyikan.
"Ma.. Ayo!" seru Andi. Aku bergegas mendekati mereka.
Malam ini suasana meja makan begitu riuh oleh suara anak-anak. dentingan piring dan sendok yang beradu membuat suasana semakin ramai.
"Aduh, udah kaya di pasar ya!" bisik bu Dewi.
"Iya bu. rame banget!" aku menyeringai kecut.
"Ma, Andi mau duduk di tengah!" pintanya seraya menggeser piringnya ke tengah. dan dia memilih duduk di antara aku dan mas Sandy.
"Mohon perhatiannya sebentar! terima kasih banyak untuk anak-anakku semua yang sudah ikut kegiatan siang ini hingga selesai. besok kita masih punya banyak kegiatan! jadi, kalian harus istirahat yang cukup. untuk nilai terbaik, akan wali kelas umumkan di akhir kegiatan. untuk mempersingkat waktu, mari semuanya kita menikmati hidangan makan malam hari ini." ajaknya antusias.
Setelah Bu Maryam memimpin doa, kami pun menikmati makan malam dengan lahap.
•••
__ADS_1
Di hari kedua anak-anak sudah siap berkumpul pagi sekali. dengan pakaian santai dan tak lupa keranjang sayuran seperti kemarin.
Kegiatan Hari ini adalah memetik bunga di perkebunan bunga yang ada di belakang Villa. Pantas saja pak Abdul meminta anak-anak untuk berkumpul pagi hari. karena memang katanya, waktu yang tepat untuk memetik bunga yang bagus adalah sebelum tengah hari.
Untuk kegiatannya sendiri, kali ini giliran para ibu yang menemani anak-anak mereka memetik bunga. sementara para ayah kali ini boleh bersantai dan melihat kegiatan kami hari ini.
"Baiklah,anak-anak. ingat Yah! bunga yang di petik harus yang masih berupa kuncup dengan panjang kurang lebih 20 cm meter saja ya!" jelas pak Abdul.
Kami segera menuju tempat yang di tuju. dan ternyata ada banyak jenis bunga yang di tanam di perkebunan itu.
Bunga Mawar serta bunga krisan terlihat mendominasi di kebun bunga ini. warnanya yang sangat cantik membuatku betah Untuk memandangnya berlama-lama.
"Pelan-pelan ya sayang! duri mawarnya tajem!" tuturku mengingatkan.
"Andi takut ma!" Andi memegang guntingnya hati-hati.
"Sini,biar mama yang pegang tangkainya!" saranku cepat sebelum tangan Andi terkena duri-duri tajam dari bunga mawar itu.
"Yang ini bunganya cantik ma!" Andi memetik bunga krisan berwarna putih itu.
"Iya sayang. warnanya putih bersih!"
"Coba mama bungkuk bentar!" pinta Andi.
"Sini ma...!" desaknya cepat. tanpa bertanya lagi, aku membungkuk pelan. dan tiba-tiba Andi menyematkan bunga krisan itu di sela-sela telingaku.
Membuat beberapa ibu melirik iri padaku.
"Anak papa memang romantis!" sanjung mas Sandy.
"Wahhhh! Andi ternyata anak yang sangat manis ya!" bu Maryam mendekat pada kami berdua.
"Bunganya bagus bu. warna putih, sama kaya mama. cantik dan baik hati." tukasnya tulus.
Aku menatap Andi haru. Anakku ini entah memiliki hati yang seperti apa, hingga bisa bicara begitu didepan banyak orang. biasanya Andi tipe anak yang pemalu dan enggan untuk memuji.
"Terima kasih sayang," ku dekap erat tubuh mungilnya.
Mas Sandy menatap dalam pada kami berdua. dan ku balas tatapannya dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Ayo semuanya! sebentar lagi matahari akan semakin tinggi. bunganya akan cepat mekar! kalian harus segera memetik sebanyak-banyaknya!" seru pak Abdul.
Mendengar peringatan seperti itu, kami semuanya segera bergegas dan berlomba-lomba memetik bunga sebanyak-banyaknya. di sela-sela memanen bunga, pak abdul tak lupa menjelaskan bagaimana penanaman, perawatan hingga pemanenan bunga setiap tahunnya. dan komoditas bunga ini termasuk bunga yang paling banyak disenangi oleh konsumen. sehingga mereka lebih mengutakamakan dua jenis bunga ini.
"Aah!" Aku mengernyit kaget, saat salah satu duri tajam dari bunga mawar menancap ditelunjukku.
__ADS_1
"Mama berdarah!" tukasnya kaget.
"Gak apa-apa kok cuma luka kecil," ku gigit pelan bekas luka duri itu agar darahnya menyembul keluar.
"Sayang, kamu gak apa-apa?!" tanya mas Sandy cemas.
"Tenang aja mas, cuma luka kecil kok mas!" sahutku cepat.
"Pelan-pelan saja!" perintahnya.
Aku mengangguk pelan, beberapa ibu lain memperhatikan kearah mas Sandy, lalu melemparkan pandangan heran padaku. mungkin mereka pikir, sangat tak masuk akal jika pria tampan dan gagah seperti mas Sandy memiliki istri yang biasa saja sepertiku.
Ternyata tugas memanen bunga membutuhkan waktu yang lebih lama di bandingkan saat memanen sayuran. karena kita di tuntut harus teliti dan juga hati-hati.
Pukul 10.30 kegiatan memanen bunga pun berakhir. Aku dan Andi cukup puas dengan hasil panen kami hari ini.
"Bunganya lumayan banyak!" aku menukas seraya mengangkat keranjang bunga milik kami.
"Baiklah, karena semuanya sudah berkumpul. dan juga bunganya sudah hampir Habis, kita istirahat dulu. lagipula sebentar lagi makan siang!'' jelas bu Maryam.
Kami semua akhirnya keluar dari perkebunan dan beranjak menuju Vila untuk beristirahat.
"Mana tangan kamu? coba lihat!" mas Sandy mendekat dan menarik telunjukku cepat.
"Ekehm,...!" goda bu Dewi.
"Gak apa-apa kok mas. tuh! lukanya udah gak ada!" jelasku
"Meskipun ini luka kecil, tapi bisa mengakibatkan infeksi jika tidak segera diobati." mas Sandy merogoh saku celananya
Aku mengernyit kecil, bahkan dia membawa plester luka di saku celananya. pasti mas Sandy menyiapkan semua itu tadi malam. batinku.
"Sini! setidaknya plester ini akan menghalangi debu masuk!" gumamnya seraya membalut luka kecilku dengan plester.
Bu Maryam yang melihat kamipun,
hanya bisa tersenyum tanpa berucap. membuatku tersipu karenanya.
"Papa... Andi juga kena duri!" rengek Andi menunjukkan satu jarinya pada mas Sandy.
Aku mengulum senyum. ternyata Andi juga bisa cemburu.
"Kalau begitu sini papa tiup!" godanya seraya meniup lukanya yang sama sekali tak terlihat itu.
• • • • • •
__ADS_1