
Pesta diantara orang penting tentulah berbeda dengan pesta yang biasa kita datangi. jika diluar sana kita bisa tertawa lepas menyaksikan pertunjukan. maka disini, aku hanya mencoba menahan kantuk. padahal ini baru jam 8 lewat. sungguh sangat membosankan!
Ku lirik mas Sandy yang tengah Asik berbincang dengan rekan bisnisnya. sesekali dia mengenalkanku pada orang-orang itu.
Beberapa tamu undangan mulai berdatangan. tapi sayangnya tak ada satupun dari mereka yang ku kenal. hingga pada tamu terakhir aku sedikit terkejut.
Bu Ayu dan Pak Broto masuk ke dalam ruangan secara bersamaan. tentu saja pak Broto hadir. dia salah satu pemilik perusahaan media terbesar. kenapa aku bisa lupa. Sejujurnya melihat pak Broto aku jadi sedikit khawatir. takut jika dia bicara pada mas Sandy jika kami sempat bertemu di parkiran salah satu Resto waktu itu. sedangkan aku tak memberitahu suamiku tentang hal itu.
Bu ayu tersenyum pada orang-orang yang di lewatinya. Mereka duduk tepat di belakang meja kami.
"Halo Alis, apa kabar. kita bertemu lagi?" sapa pak Broto begitu sopan.
Aku menatap dingin dirinya. bagaimanapun dia bersikap manis, semua itu tetap terlihat menjijikkan bagiku.
Mas Sandy menoleh ke arah belakang, diapun nampak terkejut,kemudian mengusap tanganku lembut.
"Abaikan saja! anggap dia tak ada" bisik mas Sandy.
Aku mengangguk cepat dan segera membelakanginya.
"Apa Acaranya masih lama mas?" bisikku lagi.
"Acaranya bahkan belum di mulai" mas Sandy balik berbisik.
Ku lirik kursi di sebelahku yang masih kosong. tentu saja, beberapa tamu juga belum datang. buktinya kursi disebelah ku masih belum ada pemiliknya.
"Halo, apa kabar!" terdengar suara tak asing dari arah belakang. aku menoleh cepat.
Antonio dan Vina. berdiri disana.
kombinasi yang sangat sempurna sekali. bagaimana bisa mereka ada disini juga???
"Boleh kita duduk!" Antonio menarik kursi untuk Vina,tepat di hadapan kami.
Mas Sandy menatap kedatangan keduanya dengan sikap cuek. mungkin dia juga tak tahu jika yang akan duduk dikursi itu adalah Vina.
Vina yang melihat gelagat dingin mas Sandy merasa khawatir,
"Eh, Alis. bagaimana lukanya? apa sudah sembuh?" seloroh Vina.
Aku terperanjat. seharusnya dia tak bertanya soal itu.
Mas Sandy melirik padaku.
"Maaf ya, saat itu aku terlalu bersemangat sampe kamu terjatuh."
__ADS_1
DEG!
Ah! Vina. tadinya aku berusaha menyelamatkanmu dari kemarahan mas Sandy. dengan tak memberitahukannya soal siapa yang membuatku jatuh. tapi dia malah mengakuinya sendiri didepan mas Sandy.
Mungkin Vina pikir, sikap mas Sandy begitu padanya karena dia tahu jika aku terluka karena ulahnya.
"Jadi kamu yang bikin Alis terluka?!" seloroh mas Sandy.
Vina terperanjat kaget dan menatapku gugup. Aku tak bisa berbuat banyak sekarang. jika aku bicara lagi, tentu aku akan semakin salah dimata mas Sandy.
"Soal itu,... Aku Bener-bener Gak sengaja san. Aku terlalu semangat buat angkat telepon dari kamu. terus Alis kesenggol dan jatuh ke aspal. aku minta maaf!" selorohnya panik.
Mas Sandy menatap kalut diriku. mungkin selama ini dia berfikir aku sengaja mematikan teleponnya. tapi justru aku tak ingin dia tahu apa yang terjadi.
Hubungan Vina dan mas Sandy sudah terlampau buruk. jika dia tahu kenyataannya,bukankah dia akan semakin membenci gadis itu.
"Jadi itu sebabnya kamu gak angkat telepon saya?" terka mas Sandy pada akhirnya.
"Maaf mas," aku menunduk takut.
Mas Sandy terdengar menghela nafas dalam.
"San, kamu mau maafin aku kan?" Vina menatap Sandy penuh harap.
"Kenapa kamu harus meminta maaf pada saya? jelas yang kamu sakiti itu Alis. minta maaflah padanya!" sindir mas Sandy.
"Aku udah maafin kok. kamu gak usah khawatir!" tukasku pada Vina.
"Lainkali, jauhi istri saya!" desis mas Sandy tegas.
Vina menatap lekat padanya, sepertinya ucapan mas Sandy terlalu berlebihan. hingga gadis itu tampak sangat kecewa.
"Eh, Sudah-sudah. jangan berantem dong! disini tempat kita bicara bisnis. bukan malah bicara yang Gak penting!" sindir Antonio seraya melirik sinis padaku.
"Justru keselamatan istri saya lebih penting dari apapun! jika saya mau, saya bisa menuntut model kamu ini. karena telah melukai Alis!"
"Mas,...!" sergahku cepat.
Vina tampak meremat tangannya.
"Keterlaluan kamu san!" Vina bangkit dari duduknya dan pergi begitu saja sebelum Acaranya di mulai.
"Hey, Vina! mau kemana? tunggu!" Antonio berlari keluar mengejarnya.
Tak berapa lama, bu Ayu pun ikut mengejarnya ke luar.
__ADS_1
"Mas Sandy ngapain sih! kasihan Vina mas," tukasku tak enak hati.
"Biarkan saja! Vina itu terlalu manja, sehingga dia selalu saja menganggap remeh orang lain. kamu juga! kenapa kamu gak bilang kalo Vina yang bikin kamu terluka begitu? kalo sampe kepala kamu membentur aspal Gimana!" cerocosnya.
"Mas, orang lain ngeliatin kita!" bisikku seraya menarik cepat lengannya.
Mas Sandy pasti lupa jika kami berdua ada di acara penting.
"Harusnya mas Sandy susul Vina dan minta maaf!" pintaku.
"Biarkan saja!" tukasnya cuek.
Aku menatap bingung padanya, Vina pasti sangat kesal dengan sikap mas Sandy tadi. niatku yang ingin mendamaikan keduanya pupus sudah. Tapi, jika aku menyusul gadis itu mas Sandy justru yang akan berbalik marah padaku nantinya.
Dan akhirnya aku tak beranjak dari tempat dudukku hingga acara di mulai.
Sesekali aku menangkap pandangan tak sopan dari pak Broto yang ada di belakangku. sementara Bu ayu masih juga belum kembali.
Rentetan Acara mulai berlangsung. dari pembukaan hingga beberapa penghargaan yang diberikan kepada para pengusaha muda. Namun sepertinya tak ada tanda-tanda Vina akan kembali. bahkan ku lihat Bu Ayu masuk seorang diri. matanya menatapku penuh kebencian. pastilah dia berpikir aku yang menyebabkan Vina keluar dari ruangan ini.
"Dan penghargaan untuk kategori pengusaha Muda paling berpengaruh.... Para hadirin pasti sudah bisa menebak bukan? Ya... Pengusaha muda paling berpengaruh jatuh kepada Tuan Sandy Hadiwijaya. selamat!
Semua orang memberikan tepuk tangan yang meriah. dan aku hanya menatap takjub pada suamiku. baru kali ini aku melihat sendiri bagaimana orang lain menghargai kerja keras Mas Sandy selama ini. bahkan hingga larut malam dia tetap bekerja tanpa mengenal lelah.
Mas Sandy naik ke atas podium dan mencium trofi nya.
"Terima kasih, ini penghargaan pertama saya, sekaligus yang pertama setelah saya menikah. Kerja keras tentu akan selalu mendapatkan penghargaan meskipun tak berupa benda seperti ini. semua orang akan mendapat penghargaan terbaik dari orang-orang sekitar mereka. Pekerja kasar, kuli, buruh, pedagang termasuk pengusaha seperti kita. jadi teruslah bekerja keras. hingga kerja keras itu bisa berubah jalan hidupmu..
Dan satu lagi, Trofi ini saya persembahkan untuk istri saya tercinta. yang selama beberapa hari kebelakang saya abaikan karena terlalu sibuk. sayang, saya minta maaf. saya mencintai kamu. tolong jangan pernah tinggalkan saya!"
Tak terasa, bulir hangat menyembul dari pelupuk mataku. bahkan di depan semua orang. dia Menjadikanku wanita yang sangat istimewa malam ini.
Maafkan saya yang sudah banyak mengecewakan kamu mas,..
Aku tersenyum seraya mengusap airmataku. mas Sandy turun dan melangkah menuju meja kami. Aku bangkit dan segera memeluknya. tak peduli akan seperti apa pandangan orang-orang terhadap kami. yang jelas, aku ingin menunjukan rasa cintaku yang besar padanya.
"Saya minta maaf karena sudah bersikap acuh sama kamu. saya menyesal. saya gak sanggup jika harus berlama-lama mendiamkan kamu!" bisiknya lirih.
Aku mengangguk pelan.
"Selamat sekali lagi untuk pak Sandy Hadiwijaya."
Rasanya malam ini, seakan menjadi dunia kami sendiri. penghargaan, permintaan maaf, pelukan. semuanya itu berhasil menjawab keraguanku atas sikap dingin mas Sandy beberapa hari kebelakang.
Tanpa mempedulikan beberapa pasang mata yang menatap iri pada kami.
__ADS_1
• • • • •