PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•158


__ADS_3

Mas Sandy melangkah maju ke arah kami. sebelah tangannya menarik kursi untuk duduk di sampingku.


"Kalian sedang bicara soal apa? kenapa serius sekali?" sindirnya santai.


Ku tatap Takut wajahnya,


"Hanya obrolan wanita. kamu tak perlu tahu!" jelas bu Ayu dengan santainya.


Mas Sandy menatap kami secara bergantian. jelas dia meragukan jawaban bu Ayu.


"Benarkah? Seserius itu?" kali ini dia beralih menatapku.


Aku yang memang tak sanggup berbohong hanya mencoba mengalihkan pandanganku darinya.


"Kenapa? apa kamu tak suka jika tante bicara dengan Alis? kamu takut jika tante akan bicara buruk padanya?!" timpal bu Ayu.


"Saya tak pernah melihat kebaikan dalam diri tante terhadap Alis, bahkan jauh sebelum kami menikah" sahutnya tak percaya.


Bu Ayu melirik sinis pada mas Sandy.


"Mas,.." sergahku pelan.


"Kami hanya bicara tentang rumah lamanya. saya meminta dia untuk tak sering-sering berkunjung kesana. karena akan ada banyak media penguntit yang akan membuat berita murahan soal itu." jelas bu Ayu dengan tegas.


Sama sekali tak terlihat jika dia sedang berbohong. Bu ayu menatapku untuk membantunya meyakinkan mas Sandy.


"Iya mas, Ibu meminta saya untuk tak pergi kesana lagi." timpalku kemudian.


Mas Sandy masih menatap kami tak yakin. hal yang benar-benar membuatku gelisah.


"Sepertinya selera makan saya sudah hilang!" sindirnya seraya bangkit dari kursi.


Mas Sandy hanya diam mematung seakan menginginkan bu Ayu untuk pergi.


"Mas," ku guncang pelan lengannya.


"Biarkan saja!" desisnya dingin.


Aku menghela nafas lesu.


Jika sudah begini,mana bisa mas Sandy berbaik hati mau mencegah tantenya itu Untuk tetap duduk bersama.


"Apa kalian tidak sedang berbohong?" selidiknya balik menatapku serius.


Aku yang tak punya persiapan tentu kaget,


"Dari ekspresi kamu, sepertinya dugaan saya benar" tandasnya lagi.


"Mas Sandy terlalu Curigaan." cibirku mencoba menenangkan diri.


"Saya minta tolong sama kamu teh, kalau tante meminta hal yang sulit untuk kamu lakukan. lebih baik kamu gak perlu dengerin. saya yakin dia sama Sekali tak punya niat baik di balik itu" tegasnya.


Andi menatap kami berdua dengan cemas. dia jelas tahu aku sedang bersandiwara, tapi mungkin dia belum tahu mengapa aku sampai melakukannya pada mas Sandy. beruntunglah Andi tak menyela obrolan kami dan menceritakan semuanya.


"Loh, ibu kemana? padahal saya bawakan bakwan jagung kesukaan ibu?" seloroh bi Atun yang datang tepat waktu di saat aku ingin menyudahi obrolan ini.


"Bi, tolong bibi bawakan sarapan ibu ke kamar ya." pintaku sembari membantunya menyiapkan sarapan.


Lagi-lagi aku harus berbohong pada mas Sandy. Ternyata berbuat jujur sangat sukar untuk dilakukan.


"Om papa pasti capek ya?" tukas Andi yang melihat mas Sandy masih diam mematung dan tampak mengantuk.

__ADS_1


Aku menatapnya tak tega.


"Kalo mas Sandy masih mengantuk, tidur lagi aja! makanannya biar nanti saya antar ke kamar." saranku.


"Saya ingin makan bersama kalian!" sahutnya sembari mengusap lembut kepala Andi.


"Mau Andi suapin gak?" tanya Andi.


"Boleh," jawabnya serius.


"Om papa buka mulutnya dong!" perintah Andi polos.


"Aaaaaaaa!" mas Sandy membuka mulut dan langsung melahap makanan yang andi suapkan untuknya.


Mereka berdua tertawa kecil. meski aku tahu dalam hati mas Sandy pasti masih ada yang mengganjal soal obrolan kami berdua tadi.


Dan pada akhirnya keinginanku untuk sarapan pagi bersama, masih belum terlaksana. entah sampai kapan mas Sandy dan bu Ayu bersikap dingin seperti ini.


"Apa mas Sandy hari ini gak ke kantor?" tanyaku kemudian.


"Saya ke kantor nanti siang saja," sahutnya singkat.


"Om papa, bisa dong anter Andi ke sekolah?" celetuk Andi.


"Sayang, om papa masih capek! kamu di antar pak Muh aja yah?" selaku.


"Yah, mama.. Andi juga kan pengen di anter om papa, sekali-kali" desisnya kecewa.


"Hmm,memangnya kenapa Andi mau di anter om papa?" mas Sandy menatapnya serius.


Andi menatapnya cukup lama, lalu beralih menatapku.


Aku tertegun.


Bahkan selama ini, Andi selalu berangkat sekolah sendirian. dia tak pernah mengeluh ataupun memintaku untuk mengantarnya. namun kali ini dia bicara begitu, sungguh tak pernah ku sangka.


"Oke, baiklah. om papa antar Andi ke sekolah! tapi, Andi harus habiskan sarapannya ya!" Tukasnya


"Serius? om papa mau anter Andi? sama mama juga ya?" pintanya lagi.


Mas Sandy dan Andi menoleh padaku bersamaan.


"Iya, mama ikut." sahutku yakin.


"Horeeeee!!!" serunya begitu antusias.


"Ya sudah! Andi habiskan dulu makannya!" ku tuang beberapa lauk di atas piringnya.


•••


"Maaf ya mas, harusnya mas Sandy istirahat!" gumamku tak enak hati.


Mas Sandy yang tengah mengemudikan mobil, menoleh cepat padaku.


"Ya ampun sayang, kamu udah berkali-kali bilang maaf loh. it's okay, honey..! lagipula cuma nganter ke sekolah, Gak akan menghabiskan waktu seharian." tuturnya lembut.


"Andi seneng deh, om papa mau antar Andi ke sekolah!" Andi yang duduk di belakang akhirnya bersuara.


"Lainkali, kalo om papa Gak sibuk! om papa kan antar Andi ke sekolah lagi ya?" janjinya.


"Beneran om papa?"

__ADS_1


"Bener dong! Andi Seneng Gak?" mas Sandy menatapnya dari balik spion.


"Seneng banget. sekarang Teman-teman Andi pasti gak bakal ngejek andi tukang bohong lagi. Karna om papa udah mau anter Andi ke sekolah."


"Maafkan om papa ya nak, om papa terlalu sibuk di kantor. jadi lupa kewajiban om papa sebagai ayah kamu." gumamnya lirih


Ku tatap mas Sandy haru.


Aku tahu mas Sandy adalah pria yang sangat bertanggung jawab terhadap keluarganya. meski terkadang diapun lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. tapi aku yakin, jauh di dalam hatinya dia sangat mencintai kamu berdua.


"Kenapa? apa saya terlalu tampan teh," godanya yang sadar betul jika aku menatapnya cukup lama.


"Saya terharu sama ucapan mas Sandy." tukasku jujur.


Mas Sandy menoleh dan tersenyum.


"Saya tahu, selama ini belum pernah ada laki-laki yang bersikap begini pada Andi kan? bahkan ayahnya sekalipun!"


"Kamu adalah ayah terbaik untuk Andi," jawabku yakin.


Mas Sandy mengusap lembut tanganku. senyumnya penuh dengan kebahagiaan.


Meski Andi bukan darah dagingnya, tapi mas Sandy membuktikan bahwa dia bisa mencintai Andi seperti anak kandungnya sendiri. dan aku yakin, Andi pun merasakan hal yang sama. baginya, mas Sandy adalah ayah terbaik.


Setibanya di depan gerbang sekolah mas Sandy sengaja keluar dari dalam mobil, dan membukakan pintu untukku dan juga Andi.


Aneh rasanya jika kami datang ke sekolah bersama-sama seperti ini. tapi juga ini hal yang sangat Andi inginkan. dia bahkan terlihat tersenyum lebar sepanjang berjalan menuju kelasnya.


beberapa pasang mata bahkan melihat ke arah kami bertiga. termasuk orang tua murid yang mungkin sedang mengantar anak mereka ke sekolah.


"Andiiiiii...!" suara Reyhan terdengar nyaring di depan gerbang seakan menyambut kami.


Beberapa temanny bahkan melihat ke arah kami penuh tanya.


Ekspresi anak kecil memang sangat mudah di tebak. mereka terlihat sangat lucu dan polos.


"Wah, itu papa nya Andi."


"Papa nya andi tinggi ya!"


"Papa nya Andi Ganteng!"


Bisik anak-anak itu terdengar nyaring.


"Papa sama mama anter Andi sampe sini ya!" Aku dan mas Sandy berdiri tak jauh dari pintu kelas.


"Iya." sahutnya patuh.


"Belajar yang rajin. jangan nakal! kalo ibu guru bicara, Andi harus dengarkan ya!" nasihatnya.


Mas Sandy tampak mencium kepalanya sebelum Andi masuk ke dalam kelas bersama Reyhan.


"Selamat belajar!" tukasku memberi semangat.


"Ayo sayang,..!" Mas Sandy menggandeng tanganku dengan lembut seraya berjalan menuju ke dalam mobil.


Hari ini adalah salah satu hari terbaik yang Tuhan perlihatkan padaku. dan aku sangat mensyukurinya.


Terima kasih banyak mas,....


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2