PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•151


__ADS_3

Meski dengan susah payah, akhirnya aku selesai juga dengan urusan kamar mandiku. Aku berdiri di ambang pintu. Mengumpulkan tenaga untuk bisa berjalan menuju Sofa.


Aku bisa saja memaksakan kakiku ini menginjak lantai. tapi apakah tak akan menjadi semakin parah nantinya? batinku.


"HUH!" aku menapakkan kakiku perlahan


Bukankah Rasa takut hanya akan mematahkan sebuah kemustahilan?


Sebelah tanganku menyisir dinding untuk berjaga-jaga jika aku tersungkur.


"Awhh!" aku meringis menahan sakit.


"Sayang....!" teriak sebuah suara Yang jelas sangat ku kenal.


Aku menoleh cepat. mas Sandy berlari ke arahku diikuti oleh Andi dari arah belakang.


"Hati-hati?!" tukasnya panik.


Ku tatap mas Sandy kaget,ku pikir dia tak akan kemari secepat ini. ada rasa haru bercampur kesal, ku pikir dia tak peduli dan tak akan kemari.


Mas Sandy segera menggendongku untuk duduk di kursi.


"Tadi Mama jatuh om papa.waktu benerin lampu kamar. andi mau telepon om papa,tapi kata mama ga usah." jelas andi kemudian.


"Bener kata Andi? kenapa kamu manjat-manjat sih? mana yang sakit?" selorohnya cemas.


"Saya pikir mas Sandy gak kesini," gumamku


Mas Sandy mengambil kantong plastik yang dibawanya tadi. aku belum sempat melihat benda apa yang di bawanya itu.


"Mendengar kaki kamu sakit, saya langsung keluar cari apotik. tapi saya gak tahu kaki kamu sakit kenapa? jadi saya beli semua obat-obatan dan juga perban." jelasnya sembari fokus melihat kakiku.


"Apa yang ini yang sakit?" tanyanya.


Aku mengangguk pelan.


"Sudah saya olesi balsem tadi,"


"Balsem saja mana cukup." Mas Sandy dengan cekatan mengolesi obat pereda nyeri lalu membungkusnya dengan perban secara perlahan.


"Kita ke rumah sakit saja. sepertinya kaki kamu mulai bengkak teh," gumamnya.


"Saya baik-baik saja mas!" sahutku.


Mas Sandy menengadah menatapku lekat. dengan sikapnya yang menakutkan seperti itu tentu saja langsung membuat nyaliku ciut.


"Baiklah," timpalku lagi.


Meskipun aku rasa, luka di kakiku ini tak begitu parah. tapi aku juga tak ingin membuat suamiku khawatir. apalagi tatapan matanya begitu tak suka jika aku membantah.


•••


Mas Sandy memeriksa semua kondisi rumah sebelum kami tinggalkan.


"Semuanya sudah beres!" tukasnya yakin.


"Syukurlah Pak Sandy segera datang, kalau tidak mana mau Alis dibawa berobat" sahut bu dewi.


"Terima kasih bu, sudah membantu istri saya."

__ADS_1


"Sama-sama pak sandy. kalian tak perlu sungkan. Alis sudah saya anggap seperti keluarga sendiri."


"Ya sudah kalau begitu, kami pamit dulu" Mas Sandy membukakan pintu mobil agar Andi lebih dulu masuk.


Aku bangkit dari kursi di bantu oleh bu dewi. melihatku yang kesulitan, mas Sandy seketika mendekat.


"Jangan di paksakan!" perintahnya seraya menggendongku dihadapan bu dewi.


"Mas,.." bisikku seraya memalingkan wajahku malu.


"Diamlah." sahutnya pelan.


"Bu Dewi, kami permisi pulang. lain kali, kalian mainlah ke rumah!" pinta mas Sandy sebelum pergi.


"Iya, kapan-kapan kami mampir kesana. kamu juga cepat sembuh ya Lis,"


"Terima kasih bu, assalamualaikum!" gumamku pelan.


Wajahku benar-benar memerah sekarang. bagaimana bisa mas Sandy menggendongku seperti anak kecil didepan orang lain bahkan di depan putraku sendiri.


Aku tertunduk lesu.


"Apa masih sakit?" tanyanya saat membetulkan posisi kakiku.


Aku mengangguk pelan.


Mas Sandy segera masuk ke dalam mobil dan membawa kami pergi menuju rumah sakit.


"Seharusnya saya tak ijinkan kalian pergi!" gumamnya dengan nada penuh sesal.


"Kenapa Andi tak menjaga mama dengan baik? setelah bertemu teman. Andi lupa ya?" tukasnya melirik pada kaca spion.


"Kamu benar, kamu memang ceroboh! Seharusnya kamu minta bantuan orang lain saja, atau biarkan saja lampu nya mati. lagipula rumah itu tak di tempati."


Aku menoleh pelan padanya.


"Itu rumah saya mas. sudah jadi kewajiban saya untuk menjaganya. memangnya salah kalau saya ingin membetulkan lampu kamar?!" desisku


"Iya, saya tahu. tapi akibatnya kamu lihat sendiri kan? kaki kamu jadi terluka."


Geramnya.


Aku mendengus ketus seraya memalingkan wajahku ke sisi jendela.


"Maafin Andi, om papa." gumam Andi yang sepertinya kaget melihat kami berdua berdebat.


"Oke, om papa maafkan! tapi lain kali, Andi harus bisa menjaga mama dengan baik. Andi ini anak laki-laki,kamu punya tanggung jawab besar! Om papa tak ingin memanjakan kamu." tegasnya.


Aku terpaku cukup lama mendengar ucapannya. meski terdengar sedikit menyebalkan karena mungkin mas Sandy jarang sekali bicara tegas begitu padaku juga pada Andi. Tapi, apa yang dia katakan itu benar. Andi satu-satunya harapanku,aku tak ingin melihatnya menjadi anak pembangkang setelah dewasa.


•••


"Tulang kelingkingnya sedikit retak. harus di perban beberapa hari. Memangnya kamu kenapa, bisa jatuh seperti ini?" tanya dokter Hasan menatap heran padaku.


"Dia bandel dok,.. dia berusaha membetulkan lampu di rumah lamanya. dan entah kenapa bisa terjatuh" jawab mas Sandy masih terdengar kesal.


"Kenapa kamu gak suruh suamimu saja membetulkannya?" dokter Hasan masih menatapku dan aku tak mampu untuk menjawabnya.


"Dokter ini Gimana sih! saya kan kerja, saya gak bisa seharian menjaganya. saya sudah bilang hati-hati jika mau bepergian. tapi dokter lihat sendiri kan?!" protesnya.

__ADS_1


Aku tertunduk penuh sesal.


"Kamu gak perlu sedih. dia memang begitu, tapi itu bagus. tandanya dia sangat menyayangi kamu Lis." gumam dokter Hasan.


"Dokter jangan coba-coba membelanya!" desis mas Sandy seakan tahu apa yang dokter Hasan katakan padaku.


"Kamu kalau mau ribut diluar saja! saya harus mengobati pasien dengan tenang!" sindir dokter Hasan.


Mendengar itu, mas Sandy seketika diam dan hanya duduk saja melihat ke arah kami berdua.


"Yang ini pasti sangat sakit?" dokter Hasan menekan area kakiku yang bengkak.


"Awwh!" Aku meringis tak kuat.


Mas Sandy bangkit dan segera mendekatiku.


"Dokter jangan buat dia kesakitan!" gumamnya panik.


Aku hanya tertunduk dan tak berani menatap wajahnya.


"Kamu jangan terlalu banyak bergerak untuk seminggu kedepan,biarkan Sandy yang merawat kamu." perintahnya.


"Menurut dokter,memangnya ada orang lain yang mau melakukannya?" desisnya sinis.


"Yang lain banyak. hanya saja, mereka tak mau berurusan dengan kamu." sindirnya.


"Lihat saja kalau ada yang berani mendekati istri saya!" ancamnya.


Aku menghela nafas lesu. obrolan mereka malah jadi semakin melantur.


Dengan teliti dan hati-hati dokter Hasan akhirnya selesai membalut kakiku dengan rapi.


"Jaga istrimu dengan baik. jangan sampai besok dia kembali lagi dengan tangan yang patah!" sindirnya keras.


Tentu dokter Hasan tahu apa yang terjadi di rumah. perselisihan antara mas Sandy dan bu Ayu pastinya berimbas padaku.


"Dokter tenang saja! ini yang terakhir!" sahutnya yakin.


Aku dan mas Sandy keluar dari ruangan pasien setelah berpamitan pada dokter Hasan. Mas Sandy mendorong kursi rodaku dengan sangat hati-hati. hingga tiba di Lobby rumah sakit.


Ku lihat Andi yang tampak tak sabar menunggui kami di dalam mobil.


"Pelan-pelan!" Tukasnya lembut. Saat aku memegang kruk dan berusaha untuk masuk ke dalam mobil. kurasa nada bicaranya sedikit berbeda dengan yang tadi.


"Apa kalian lapar? kita pesan makanan?" tanyanya padaku juga Andi.


Aku menggeleng pelan dan tak berniat menjawab. Sepertinya mas Sandy menyadari sikapku yang berubah dingin padanya.


"Andi mau beli makanan? kamu pasti lapar kan?" mas Sandy menatap Andi antusias.


"Terserah om papa saja!" tukasnya hati-hati.


"Baiklah, nanti om papa belikan makanan di depan." sahutnya segera.


Terdengar helaan nafasnya yang pelan, menunjukkan jika dia mungkin menyesal telah bersikap begitu pada kami berdua.


Mas Sandy memesan banyak makanan untuk Andi, dan bisa di tebak bahwa Andi sangat mudah di bujuk setelahnya. raut wajahnya kembali ceria dan dia mulai aktif bercerita saat mas Sandy mulai mengajaknya bicara.


• • • • • •

__ADS_1


__ADS_2