
"Ayolah, lagipula ini sudah malam. bahaya jika kamu pulang sendirian" sarannya.
"Bukankah akan lebih bahaya jika, saya pulang sama pak Ivan." sergahku tak nyaman.
"Benarkah? kenapa? jangan bilang, jika dia juga cemburu?" ledeknya menahan tawa.
"Saya rasa, lebih baik saya pulang sendiri saja pak. terima kasih!" tolakku lagi.
"Ivan..!" suara Vina terdengar nyaring saat dia keluar dari kedai.
"Eh, alis. bukannya kamu mau pulang?" tanyanya heran.
"Saya sedang menunggu sopir." jawabku singkat.
DRRRRTTT!
Ponselku bergetar. dan sialnya panggilan itu datang dari mas Sandy.
"Ah!" desauku kaget.
"Apa itu Sandy?!" terka Vina yang langsung mendekat padaku.
Ku tarik mundur ponselku.
"Kamu pasti tak berani menjawab teleponnya 'kan? sini,biar aku angkat! sekalian minta dia buat jemput kamu disini." sarannya setengah memaksa.
"Gak usah!" tolakku mentah-mentah.
"Ayolah Alis," desaknya
"Vina, biarkan saja!" cegah pak Ivan.
Namun Vina sepertinya sangat ingin mengambil ponselku hingga menarik tanganku secara paksa. aku yang mencoba mempertahankan ponselku malah kehilangan keseimbangan.
BUGKKKH!
"Aaahrg!" Aku memekik keras saat tubuhku jatuh di atas aspal.
"Alis," Pak Ivan segera mendekat dan membantu membangunkanku.
"Alis! maaf! aku tak sengaja!" Vina terdiam kaget.
Aku meringis merasakan perih di area sikutku.
"Tangan kamu berdarah. lebih baik kita obati dulu!" ajak pas Ivan.
"Gak usah pak! saya baik-baik aja." Aku segera bangkit meski menahan sakit.
"Vina! kamu bisa diem Gak! kamu hampir bikin orang celaka tahu!" bentak pak Ivan kesal.
Vina merengut penuh sesal.
"Sudah pak,gak usah teriak-teriak. Vina pasti juga gak sengaja." sergahku.
"Aku kan udah minta maaf. kenapa kamu belain Alis terus sih?!" protesnya tak mau kalah.
DRRRTT!
Lagi-lagi ponselku berbunyi. karena takut mas Sandy curiga. aku memilih mengangkatnya dan menjauh dari Vina dan juga pak Ivan.
"Halo mas,"
"Kenapa lama banget angkatnya! kamu gak kangen sama saya?" Tanyanya polos.
Aku menoleh pelan ke arah Vina dan pak Ivan yang tampaknya tengah berselisih paham.
__ADS_1
"Maaf mas, tadi saya dari kamar mandi." tukasku beralasan.
"Kamu dimana? kenapa berisik sekali?" tanyanya mulai curiga, karena tiba-tiba sebuah bus melintas disampingku.
Aku menutup ponselku dengan cepat.
"Halo... sayang! kamu dimana?" desaknya.
Karena bingung dan juga takut mas Sandy menyadari jika aku berbohong. ku matikan ponselku. dan segera menelpon pak Muh.
"Ayolah pak Muh! angkat teleponnya!" gumamku mulai panik.
Aku memang selalu saja seperti ini. di saat kondisiku panik, aku tak bisa berpikir jernih. aku terlalu takut dengan pikiran buruk yang lebih dulu menghantuiku.
"Kamu nyebelin!" Teriak Vina seraya berlari ke arah parkiran dan masuk ke dalam mobil. Aku menoleh kaget, apa mereka bertengkar? pikirku sesaat.
Ku lihat pak Ivan berdiri mematung dan sepertinya tak berniat untuk membujuk Vina. Pemuda itu menoleh ke arahku, seraya melangkahkan kakinya pelan.
"Ayolah pak! angkat..! halo, pak Muh? bapak dimana? saya telepon dari tadi? kenapa gak di angkat-angkat sih pak?!" cerocosku kesal saat pak Muh akhirnya mengangkat panggilan teleponku.
"Maaf non. saya meriang,saya sakit kepala. si non naik taksi aja ya?" gumamnya lesu.
"Hah!" aku mendesah putus asa.
Habis sudah! mas Sandy pasti akan marah saat tahu aku tak ada di rumah. bagaimana ini? batinku meracau.
"Bagaimana? apa sopirmu menjawab?" tanya pak Ivan penasaran.
"Sepertinya saya naik taksi saja."
"Kenapa kamu tak menerima tawaran saya? kamu takut saya bersikap seperti dulu?" selidiknya.
Aku menatapnya takut. sebetulnya, aku tak pernah berfikir bahwa kali ini pak Ivan akan berani melakukan hal kasar padaku. tapi, tak ada salahnya aku waspada.
"Gak apa-apa pak. saya lebih baik pulang sendiri saja. saya sudah pesan taksi." tolakku tegas.
"Permisi!" pamitku segera menghilang dari hadapannya. kurasa,berlama-lama disana juga tak akan menyelesaikan apa yang masalahku sekarang.
Pukul 21.30 suasana di jalan utama ini terbilang cukup lengang dan sepi. hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang melintas. bahkan sejak tadi tak satupun taksi yang lewat.
Ku lirik ponselku berulang-kali, namun sama sekali belum ada tanda jika taksi yang ku pesan akan datang.
"Kenapa Disaat kaya gini semua taksi ilang sih." dengusku mulai lelah.
Aku menunduk menatap pergelangan kakiku yang sepertinya mulai lecet. karena terlalu lama berjalan.
"Selamanya kamu memang gak cocok pake sepatu kaya gini Alis!" umpatku sendiri. Karena aku sudah tak tahan, ku lepas kedua sepatuku dan akhirnya memilih bertelanjang kaki.
Beruntunglah jalan ini tidak terlalu gelap,namun juga tidak terlalu terang. hanya sedikit cahaya temaram di bantu sinar bulan yang bersembunyi malu-malu di balik gumpalan awan.
"Mas Sandy pasti sudah sampai rumah sekarang. dan dia akan marah besar, kalo sampe tahu aku masih disini" desahku putus asa.
Langkah kakiku terhenti sejenak. rasanya seperti ada yang mengikutiku dari jauh. Aku menoleh cepat ke arah belakang.
"Apa cuma perasaan aku aja ya?" gumamku mulai merasa takut.
Segera ku langkahkan kakiku,dengan tempo sedikit lebih cepat dari sebelumnya.
"Ya Allah... kirimkan hamba taksi sekarang juga!" ku panjatkan sebait doa ditengah keputusasaan.
KREEKK!
Terdengar suara ranting patah. Lagi-lagi aku menoleh kasar ke arah belakang.
"Siapa itu?!" tukasku memberanikan diri.
__ADS_1
Jalanan lengang, juga sepi. tak ada seorang pun yang lewat atau berjalan di belakangku.
Ku tatap ngeri sumber suara yang ku yakini dari arah belakangku itu.
BIIIIMMMP!!!!
Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar cukup keras dari arah berlawanan. aku menoleh seraya memicingkan mata karena sorot lampu yang tepat menyorot wajahku.
Seorang Pria keluar dari dalam mobil, siluet tubuhnya jelas sangat ku kenali.
"Mas Sandy," gumamku yakin.
Mas Sandy berlari ke arahku dan menatapku khawatir.
"Mas Sandy... Mas Sandy udah pulang" lirihku sedikit takut.
Mas Sandy memelukku erat.
"Kenapa kamu bandel banget sih," desahnya terdengar kacau.
Ku benamkan kepalaku di dalam dadanya. Nyaris saja aku menangis sendirian di jalan karena ketakutan. tapi beruntunglah Mas Sandy segera datang.
"Maafkan saya mas," gumamku penuh sesal.
•••
Setibanya di garasi aku turun perlahan,
Sepanjang perjalanan tadi,mas Sandy sama sekali tak bicara. sepertinya dia sangat kesal padaku.
"Ayo masuk!" perintahnya dingin.
Aku mengangguk pelan dan mengikutinya dari belakang.
Mas Sandy berhenti dan menoleh padaku,
"Kenapa kamu gak pake sepatu?"
"Kaki saya lecet," gumamku takut.
Tentu saja selain karena aku bersalah padanya sudah berbohong, aku juga melihat gelagatnya yang diam seribu bahasa itu sudah menunjukan jika dia benar-benar marah.
Mas Sandy membungkuk hendak menggendongku,
Namun dengan sigap aku mundur.
"Kenapa?" tanyanya menatapku tajam.
"Kaki saya kotor mas! saya mau cuci kaki dulu!" sergahku beralasan.
"Kita cuci kaki di atas saja!" perintanya sembari langsung menggendongku.
Aku meringis menahan sakit, saat tanganku tersenggol olehnya.
Mas Sandy menilik sikutku cepat.
"Tangan kamu berdarah? kenapa?" kali ini suaranya terdengar cemas.
"Jatuh mas,-" sahutku ragu.
"Sepertinya kamu harus menjelaskan semuanya pada saya nanti." titahnya.
Aku tertunduk kalut. Habislah sudah! kali ini aku benar-benar tak termaafkan.
Menyesalpun tak ada artinya sekarang. apalagi aku sempat menutup teleponnya tadi. ini pasti akan jadi pertanyaan besar nantinya.
__ADS_1
• • • • • • •