
Aku menggeleng lemah, tak mau percaya dengan pemikiranku.
"Pak Broto,.." gumamku takut.
Jelas laki-laki tua itu yang barusan menarik tubuhku.
"Keluarkan saya dari sini!" teriakku.
Langkah kakinya perlahan-lahan mendekat ke arahku. Apa yang mau dia lakukan?
"Jangan mendekat!" ancamku seraya mengacungkan benda yang ku pegang.
Namun yang membuatku takut dia kembali tak bersuara, hingga aku harus teliti untuk bisa merasakan keberadaannya.
Diluar ruangan ini, acara pasti sedang berlangsung cukup meriah dan juga berisik. mereka pasti tak akan mendengarku.
PONSEL!
Aku meraba sekelilingku,karena benda itu jatuh saat aku tersungkur barusan.
Dimana! dimana ponselnya!
Jeritku dalam hati.
"Mas Sandy... Ayo Telepon mas!" gumamku panik.
Dan lagi, suara langkah kaki dengan cepat mendekat dan menarikku cukup kuat.
"Aaaawhhhhh!" aku menjerit kencang karena terkejut.
"Lepaskan! lepaskan saya!" Aku mencoba berontak sekuat tenaga. memukulnya secara membabi buta.
Namun sekuat apapun tenagaku, aku tetap kalah. dia mendorongku ke atas ranjang. ya! sepertinya ini ranjang tidur.
Tiba-tiba saja tubuhnya mendekat, karena bisa ku rasakan ******* nafasnya.
"Malam ini, kamu tak akan bisa lari. kamu harus muaskan keinginan saya!" bisiknya begitu menjijikan.
"Pergi kamu! Pergiiiiii!" ku dorong dengan kuat hingga tubuhnya menjauh. Dan aku kembali tersungkur. tubuhku rasanya penuh dengan luka. rasanya begitu sakit.
KRIIIIIING!
KRIIIIING!
Suara ponsel berdering cukup keras. kami berdua menoleh ke arah sumber suara. sayangnya ponselku tertelungkup hingga cahayanya tak dapat berpendar. hanya siluet samar yang dapat ku lihat.
Jelas dia adalah pak Broto.
Aku bangkit lalu berlari mendekati ponselku. namun dengan sigap diapun menarik tubuhku.
BUGKHH!
Aku kembali membentur benda keras. lenganku terasa begitu sakit dan berdenyut. namun ku coba abaikan.
KRIIIING!
KRIIIIING!
Ponsel itu sudah berada di tangannya. seringai mengerikan terlihat jelas dibibirnya.
BRAAAKKK!
Dia melempar ponselku hingga hancur. Aku memekakan mataku takut. pria gila ini pasti sudah dirasuki setan. ditengah rasa takut dan kondisiku yang mulai lelah,aku bermunajat dalam hati. Tuhan tahu aku butuh pertolongan.
"Kemari kau!" Tangannya kembali menarikku, namun segera ku tepis kuat. tapi nyatanya itu tak berguna, dia bahkan menarik kedua bahuku cukup kuat hingga sebelah lengan bajuku robek.
"Lepaskan! saya mohon lepaskan!' isakku pilu.
Dengan gesit pria tua itu menindih tubuhku. mencoba menciumku,tentu aku tak tinggal diam. ku cakar apapun yang mendekat padaku. entah itu wajah ataupun tubuhnya. aku benar-benar mengerahkan semua tenagaku.
__ADS_1
Aku tak boleh kalah darinya! aku harus kuat! jeritan hatiku mencoba menguatkan Disaat tenagaku sudah melemah.
"Hentikkaaan! tolooooong! mas Sandy!" jeritku dalam.
BUGH!
BUGH!
BUGHHH!
Tiba-tiba terdengar suara orang yang mendorong pintu dengan keras.
"Mas Sandy." desahku yakin.
BUGH!
BUGGHHKH!
Cahaya terang seketika memenuhi ruangan itu, semua orang masuk dan menarik pria tua itu dan menjauhkannya dariku. ku lihat mas Sandy berlari mendekat dan memelukku sangat erat.
Aku menangis sejadi-jadinya,berteriak histeris karena begitu takut.
"Tenanglah..!"
"Aaaaaaaaaaaargh!" jeritku lagi.
"Tenang. saya disini!"
"Saya mau pulang mas,...!" isakku pilu.
"Iya. ayo kita pulang." mas Sandy mengangkat tubuhku yang sudah terlihat berantakan. tampak dokter Hasan mendekat dan membawakan selimut hangat untuk membalut tubuhku. dan saat itu juga, duniaku terasa gelap tiba-tiba.....
•••
-07.30 PAGI-
Setiap manusia akan mengalami fase mengerikan dalam hidupnya. dan kurasa aku sudah mengalaminya berkali-kali.
Apa salahku selama ini? bukankah aku tidak pernah berbuat jahat? bukankah aku selalu bersikap baik pada orang-orang yang bersikap jahat padaku? lalu kenapa? kenapa Tuhan menghukumku dengan cara seperti ini? kenapa???
Sudut mataku terasa basah. Air mata yang menyembul dipelupuk mataku, membuatku mengernyit nyeri. ada yang terasa menyakitkan di pangkal tenggorokanku. namun coba ku telan.
Aku tak mau membuka mata, aku takut! apakah orang itu sudah pergi? atau dia masih disini? lalu dimana mas Sandy? kenapa dia lama sekali! kenapa dia tak datang juga? kenapa???
Isi kepalaku penuh dengan pertanyaan!
Apa karena aku terlalu lama terpejam?
Ku buka pelan mataku. Ada rasa nyeri yang berdenyut di sisi kiriku. dan semuanya terasa begitu sakit sekarang.
Ku edarkan pandanganku, langit-langit berwarna putih bersih. dimana aku sekarang? apa ini di rumah? sejak kapan mas Sandy mengganti seluruh cat dinding rumah? apa aku tidur terlalu lama, hingga tak tahu soal ini? batinku.
Andi? dimana Andi? apa dia pergi sekolah? aku menoleh pelan ke arah kiriku. rasanya leherku terasa sangat kaku sekarang.
Ternyata ada seseorang yang sedang duduk tertidur dan memegangi tanganku.
"Mas Sandy" gumamku nyaris tak bersuara.
Mas Sandy mendongak cepat, dia memegang erat tanganku dan mengusap lembut rambutku.
"Kamu sudah bangun sayang" desahnya terdengar khawatir.
"Saya dimana mas? Mana Andi?"
"Kamu di rumah sakit, semalam kamu pingsan. Andi akan kemari sebentar lagi. " jelasnya sembari fokus menatapku.
Meski dia tak menjelaskan apa yang dirasakannya sekarang. tapi aku bisa tahu, dia begitu khawatir padaku. matanya terlihat berkaca-kaca.
Aku mengangkat kedua tanganku pelan, mas Sandy merengkuhku perlahan.
__ADS_1
"Saya takut mas!" isakku lagi.
"Kamu aman sekarang! saya minta maaf! seharusnya saya tak membiarkan kamu sendirian lagi. saya sangat bodoh! " sesalnya semakin erat memelukku.
Mas Sandy mengurai pelukannya, dia mengusap air mataku.
"Dia sudah di bawa ke kantor polisi. pria sialan itu akan selamanya membusuk disana." geramnya penuh amarah.
Walaupun begitu, aku tetap merasa takut. rasanya dia akan kembali kemari dan mencariku. perasaan buruk itu benar-benar sangat menyiksa.
TOKK!
TOKKK!
Kami berdua menoleh ke arah pintu.
Tak berapa lama dokter Hasan masuk bersama Andi dan bi Atun.
"Mamaaaa!' teriak Andi seraya berlari ke arahku dan memeluku erat.
"Mama sakit lagi ya?" tanyanya cemas.
"Iya sayang. mama sakit lagi." sahut mas Sandy. tentu saja dia tak akan bercerita tentang kejadian semalam pada putraku.
"Mama harus banyak istirahat ma! jangan pulang malem lagi!" Andi menasehatiku dengan serius.
Dokter Hasan tersenyum.
"Benar kata Andi. memang mama kamu ini harus banyak beristirahat, karena--!"
Mas Sandy menatapnya penasaran. Aku juga menatap dokter Hasan penuh rasa takut. takut jika ada penyakit ganas di dalam tubuhku.
"Karena apa dok, jangan setengah-setengah kalau bicara?!" desak mas Sandy.
Dokter Hasan mengulum senyum. sepertinya dia senang membuat kami panik.
"Mama kamu sedang mengandung adik baru sayang. jadi dia harus banyak istirahat!" jelasnya.
Dan tiba-tiba saja semuanya terasa begitu aneh. dadaku sesak. wajahku panas. tapi hatiku terasa sangat hangat.
"Hah! jadi,ada Bayi di perut mama pak dokter?!" seru Andi kaget.
"Dokter jangan bercanda!" sindir mas Sandy yang tampaknya masih bingung.
"Saya mempertaruhkan semua gelar saya untuk bersumpah, jika saya tidak berbohong. kehamilannya bahkan sudah 10 minggu." jelasnya lagi.
Ku usap pelan perutku.
"Waah.. selamat ya non, non Alis hamil." bi Atun tampak sangat terharu.
"Selamat San,kamu sudah akan menjadi ayah! jadilah ayah yang baik nantinya!" dokter Hasan menepuk pundak mas Sandy kuat.
Mas Sandy menoleh padaku dengan tatapan takjub, bahagia dan juga terharu.
Dia memelukku lagi, mencium kepalaku berkali-kali.
"Saya akan jadi Ayah!" desahnya terdengar lirih.
"Yey... Andi punya adik bayiiii!" Andi menghambur ke dalam pelukanku.
Pelukan hangat dari mereka berdua seolah menjadi obat penawar bagiku. hingga sakit di tubuhku terasa hilang semua.
Dan sekarang, ada satu nyawa di dalam perutku. kenapa kamu tak memberitahu mama 'nak? maafkan mama yang tak bisa menjagamu dengan baik.
Mulai sekarang! mama tak akan berbuat ceroboh lagi. mama dan papa juga kakakmu akan menjaga kamu hingga kamu lahir. sayang. semoga kamu kuat!
Mas Sandy meraba lembut perutku. Tangisnya tak henti sejak tadi. wajahnya sumringah meski basah oleh air mata.
Dan ternyata benar, rasa sakit dan rasa bahagia itu bisa datang secara bersamaan. dan itu nyata adanya.
__ADS_1
• • • • • • •