
"Nona ini bilang, dia kemari bersama anak dan suaminya. tapi aku yakin dia berbohong" seloroh si pria gemuk itu.
"Heh! mau saya pergi sendiri atau sama siapapun bukan urusan kamu ya!" sulutku tak terima.
"Lalu kenapa kamu begitu jual mahal!" tugasnya dengan tatapan melecehkan.
"Tentu saja dia jual mahal. dia menghargai saya sebagai suaminya!" seloroh mas Sandy seraya maju dan berdiri dihadapanku. membiarkanku berlindung dibalik bahu lebarnya.
"Kalian pasti sedang membuat lelucon!' elaknya tetap tak percaya.
"Mamaaaa...!" Andi berteriak dari arah belakang dengan sebuah balon di tangannya.
Kami berdua menoleh padanya bersamaan. lalu aku beralih menatap si pria tadi. dia tampak syok melihat Andi langsung berlari ke arahku.
"Apa lagi yang anda tunggu? perlu saya panggilkan security untuk menunjukkan jalan keluar?!" Mas Sandy menatapnya sengit. Pria itu tampak malu dan tak menanggapi kami lagi, dia menghilang begitu saja ditengah kerumunan.
"Orang itu kenapa ma? apa dia gangguin mama?" tanya Andi penasaran.
"Enggak kok. barusan itu cuma orang nyasar aja. kamu dari mana aja sih? lama banget?" tanyaku pada andi
"Tadi, abis dari toilet Andi liat badut dulu. terus di kasih balon deh!" jelasnya.
"Andi mau main apalagi?" tanya mas Sandy kemudian. Aku menatapnya cukup lama. sikapnya tadi itu benar-benar membuatku kaget sekaligus kagum. ku pikir dia tak akan berani bertindak begitu.
"Kita mancung om?" ajaknya saat melihat beberapa anak laki-laki berlarian ke arah kolam ikan.
"Oke!" Mas Sandy kembali menggandeng Andi menuju kolam.
Kami memasuki stand dan mengambil alat pancing dan juga ember besar. lalu mas Sandy memilih tempat duduk dibawah pohon rindang.
"Memangnya om bisa mancing?" tanya Andi menatapnya tak percaya.
Mas Sandy menyeringai.
"Sejujurnya om tak tahu cara memancing," bisiknya membuatku mengulur senyum.
"Terus gimana dong om?" Andi nampak kebingungan.
"Hm, sebentar! om mau tanya paman yang disapa dulu ya!" mas Sandy menunjuk seorang pria tua yang sepertinya sedang mengajak cucunya memancing.
"Sini Andi duduk dulu ya nak, kamu haus Gak?" tanyaku mengusap wajahnya
"Enggak ma. Andi senang banget main disini. Om Sandy baik ya ma. dia mau menenun Andi main seharian!" jelasnya menatap mas Sandy dari kejauhan. aku bahkan bisa melihat tatapan kagum dan penuh cinta dari Andi untuknya.
•••
Setengah jam sudah aku duduk menopang dagu menatap ke arah danau
Sementara Andi nampak sudah bosan Karna tak ada ikan satupun yang tertarik pada kail pancingnya.
"Sepertinya kita tidak berbakat menjadi pemancing!" mas Sandy menarik nafas kesal.
"Ya sudah om, kita pulang saja!" tugas Andi lesu.
__ADS_1
"Andiiiiii!" aku berteriak histeris saat salah satu pelampung pancing itu bergerak-gerak.
Mas Sandy yang kaget segera menariknya dengan sekuat tenaga.
Begitupun Andi yang tampak antusias melihat seberapa besar ikan yang tertangkap.
"Ayo mas! sedikit lagi! tariiikk!" teriakku menyemangatinya.
Mas Sandy terlihat susah payah,dengan sekuat tenaga dia mencoba menarik ulur senar pancingnya. dia bahkan lupa bahwa sebelah tangannya pernah terluka parah.
BRUUUSH!
Ikan yang cukup besar naik ke permukaan danau dan melompat tinggi dihadapan kami sebelum kemudian menggelepar ke tanah.
"Horeeeee! om dapat ikan!" Andi berseru gembira melihat betapa besar tangkapan ikan yang mereka dapat.
Aku dan mas Sandy terlalu gembira dan bersemangat sehingga tak sengaja dia menarikku ke dalam pelukannya.
Kami berdua menatap canggung satu sama lain setelah sadar apa yang terjadi barusan.
"Maaf!" tukasnya melepaskan dekapannya.
Aku memalingkan wajahku gugup.
"Om, ikannya boleh kita bawa pulang?" tanya Andi melihat ikan yang masih bergerak lincah di tanah itu.
"Jangan sayang, ikannya harus dikembalikan ke danau. kasian!" jelasku mengingatkan peraturan bahwa tak boleh membawa ikan hasil tangkapan.
"Andi mau makan ikan? nanti kita mampir ke Resto untuk makan siang ya! andi boleh makan ikan sebanyak yang andi mau" bujuknya.
"Beneran om? asyikkk!" Andi menyeruak kedalaman pelukannya. yang segera di sambut hangat oleh mas Sandy.
Mas Sandy menatapku dalam, dia menunjukkan betapa dia sangat menyayangi Andi Begitupun sebaliknya. Andi benar-benar di buat jatuh cinta padanya. dan jika sudah begini, aku tak bisa berbuat apa-apa.
Beberapa saat kami sempat mengambil foto bersama ikan hasil tangkapan kami. Andi begitu antusias, dia bergaya layaknya seorang model cilik.
"Bisa tolong dirangkul saja istrinya pak!" celetuk si kameramen.
Aku melirik mas Sandy bingung. dan hal ini bukan kali pertama, beberapa dari mereka pasti menganggap kami ini benar-benar pasangan suami istri.
Mas Sandy merangkul pundakku dengan santainya. Ku lihat Andi menyeringai melihat kedekatanku dengannya.
"Bagaimana hasilnya?" mas Sandy mendekati sang kameramen penasaran.
"Bagus pak. benar-benar keluarga kecil yang bahagia. seharusnya bapak nambah satu lagi anak perempuan." sarannya.
Mas Sandy tersenyum penuh makna, sementara aku hanya bisa memalingkan pandanganku tak karuan.
•••
Matahari sudah berada tepat di atas kepala,bayanganpun mulai bersembunyi dibalik raga.
Ku lihat andi juga sudah kelelahan. kami putuskan untuk makan siang lalu pulang
__ADS_1
"Mas Sandy kenapa?" aku menatapnya Cemas saat melihatnya mengernyit memegang sebelah lututnya.
"Gak apa-apa!" selanya seakan tak ingin membuatku khawatir.
Ku tatap cemas dirinya, namun mas Sandy tetap fokus dibalik kemudinya.
"Kita langsung pulang saja mas! seharusnya kemarin saya siapkan obat-obatan sebelum pergi." Aku menatapnya khawatir.
Pemuda itu menoleh ke arahku dengan tatapan manis.
"Saya senang teh Alis khawatir!" tukasnya lembut.
"Saya serius mas!" selaku ketus.
"Om sakit ya? kita ke dokter saja om!" seloroh Andi.
"Om baik-baik aja sayang!" mas Sandy mengusap lembut kepalanya.
Mobil kami melaju menerobos jalanan yang tampaknya mulai sedikit macet.
Ternyata Resto yang di maksud mas Sandy tak seberapa jauh dari tempat rekreasi tadi. hanya butuh waktu 15 menitan kami sudah tiba didepan halaman parkirnya.
"Kita udah sampai om?" Andi melirik sekeliling.
"Mas, sebetulnya kami bisa makan siang di rumah. kita pulang aja!" Bujukku sekali lagi.
"Jika saya melewatkan makan siang hari ini dengan kalian,maka itu yang akan saya sesali besok." jelasnya tak ingin di bantah.
Aku akhirnya mengalah dan mengikuti kemauannya, meskipun aku benar-benar cemas dengan kondisi kesehatannya.
Kami masuk dan memesan beberapa menu makanan. Mas Sandy meminta Andi untuk memilih sendiri makanan yang dia suka.
"Gak usah banyak-banyak ya sayang!" aku mengingatkan.
Ku biarkan Mas Sandy yang tampak asyik bercanda dengan Andi, sementara aku sendiri sibuk memeriksa ponselku. takut jika ada pesan masuk, terlebih lagi itu dari bu Ayu. biar bagaimana pun Bu Ayu akan sangat marah jika tahu aku pergi dengan keponakannya seharian.
"Kalian sedang makan siang? kebetulan sekali?" Sebuah suara terdengar nyaring dan sontak membuat kami menoleh padanya
"Wah! kalian pasti habis jalan-jalan ya? apa kakimu sudah sembuh san?" Tanya pak Ivan mengakrabkan diri.
"Begitulah," jawab mas Sandy dingin
"Kamu tak perlu bersikap begitu. biar bagaimana pun kita ini masih partner kerja!" jelas pak Ivan yang sepertinya tak nyaman diperlakukan acuh olehnya.
"Kami mau makan siang. Saya harap kamu tahu diri!" seloroh mas Sandy ketus.
"Yah baiklah, tadinya saya ingin bergabung. tapi saya takut mengganggu kencan kalian yang manis ini!" sindirnya menatap sinis padaku seraya berlalu begitu saja meninggalkan meja kami.
Ku lihat pak Ivan segera keluar dari dalam resto dengan seorang wanita yang tak ku kenal jelas siapa. padahal yang ku tahu dia begitu mesra dengan bu Ayu. lalu siapa wanita tadi? apakah dia memiliki banyak wanita diluar sana selain bu Ayu? benar-benar laki-laki hidung belang. batinku seraya melirik malas kepergiannya.
"Gak usah diliatin teh! orangnya udah pergi!" sindir mas Sandy tak suka.
• • • • •
__ADS_1