PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•185


__ADS_3

Jujur atau tidak semua tindakan tentu akan mendapatkan konsekuensi yang setimpal. semakin kita banyak berbohong akan semakin sulit juga kita menjadi orang yang bisa di percaya.


Mungkin sekarang mas Sandy sudah tak percaya lagi padaku. dia bahkan tak mengijinkan aku untuk kembali ke kantor.


Aku melirik semua berkas yang ada di ruang kerja mas Sandy. sejak sarapan pagi tadi,aku memang sengaja mencari tempat untuk menyendiri. Dan akhirnya aku memutuskan untuk masuk ke ruangan ini. setidaknya beberapa buku bisa membuat aku sibuk, dan tak larut dalam kekecewaan.


PING!


Aku menoleh cepat.


Ku ambil ponselku yang sengaja ku simpan di atas Sofa.


"Kamu gak masuk kantor? kenapa? semalam kamu pulang naik taksi atau dijemput supir?" tanya Rahma.


Sejak tadi pagi hingga jam 11 siang ini, Rahma baru menghubungiku. mungkin dia terlalu sibuk hingga lupa menanyai soal semalam padaku. padahal seharusnya dia yang lebih khawatir dengan nasibku. karena desakannya pula lah aku akhirnya memilih ikut menuju kedai.


"CK!" decakku kalut. kenapa juga aku malah menyalahkan Rahma. dia tentu tak tahu soal ini. dia juga pasti tak ingin semua ini terjadi.


"Aku di jemput mas Sandy." balasku singkat. Lagipula lelah rasanya jika aku harus bercerita tentang apa yang terjadi semalam.


"Hah?! terus gimana? pak Sandy marah Gak? dia pasti ngamuk ya sama kamu? aduh... pantesan tadi ketemu di Lobby mukanya kusut banget." jelasnya panjang lebar.


"Iya, sepertinya mas Sandy marah." balasku lagi.


"Semalem bukannya pak Ivan yang nawarin buat nganter ya? terus gimana? apa mereka ketemu? pak Sandy cemburu ya sama pak Ivan?" selidiknya.


"Nanti aja ceritanya ya. aku lagi ngurus rumah" pungkasku lesu.


"Ya udah. besok kamu cerita deh." sarannya.


"Aku gak janji ya. Aku lagi gak enak badan." jelasku mencoba menghindar. entahlah, rasanya sekarang aku lebih ingin menghabiskan waktuku seorang diri saja.


"Oke baiklah." balasnya tampak sedikit kecewa.


Sedetik kemudian saat aku hendak menyimpan ponselku, tiba-tiba ponselku berdering lagi. Aku mengernyit heran, ada apa tiba-tiba dia menelepon.


"Halo dokter, selamat siang." sahutku.


"Alis. Ah maaf mengganggu. tadi Sandy menghubungi saya,dia meminta saya untuk bertanya tentang kondisi kamu. apa masih sakit? jika perlu penanganan khusus kamu bilang saja?" jelasnya


"Gak perlu dok. saya baik-baik aja kok, terima kasih dok."


"Memangnya apa yang terjadi, tadi saya bertanya pada Sandy tapi sepertinya dia sedang malas bicara. Apa kalian bertengkar?" tanyanya serius.


Aku menghela nafas berat. Mendengar pertanyaan dokter Hasan. ada rasa haru sekaligus bingung, bagaimana aku harus menjawabnya.


"Halo,.. "


"Iya dok, maaf. sepertinya mas Sandy sedang marah sama saya. tapi, memang saya yang salah disini." keluhku pada akhirnya.


"Tak perlu sedih. Sandy memang seperti itu, kamu harus lebih sabar. lagipula dia sepertinya tidak benar-benar marah. buktinya dia masih memperdulikan kondisi kamu, jadi kamu tenang saja. istirahat lah yang cukup" nasihatnya.


"Iya dok. terima kasih untuk nasehatnya" sahutku sedikit lega. Setidaknya dokter Hasan tahu betul bagaimana mas Sandy.

__ADS_1


Dokter Hasan mengakhiri obrolan dan pamit lebih dulu, karena dia masih sedikit sibuk siang ini.


Selepas menelepon, aku berjalan kembali menuju rak buku dan folder yang tertata rapi. sembari sedikit membersihkan letak buku-buku yang sedikit berantakan karena habis di baca oleh sang pemiliknya.


"Semoga saja, mas Sandy Gak marah lagi kalo liat ruangan kerjanya bersih." desahku meski tak yakin.


Seharian aku menghabiskan waktu di ruang kerja suamiku. membaca beberapa buku dari yang tipis hingga yang sangat tebal. hingga membuat mataku sedikit lelah, dan tanpa terasa membuatku terlelap.


•••


"Mama.. bangun ma? mama belum makan siang kata bi Atun," tiba-tiba suara Andi terdengar lembut seraya mengguncang pelan bahuku.


"Hah?" aku terperanjat.


Aku menatap Andi sesaat. bagaimana bisa Andi ada disini. bukankah dia seharusnya masih di sekolah. batinku


"Jam berapa ini nak, kenapa kamu ada disini?" selorohku.


"Ini jam 2 siang ma. Andi udah pulang sekolah. mama ngapain disini?!"


"Mama abis baca-baca buku. eh,malah ketiduran." sahutku seraya menutup halaman buka yang terakhir aku baca.


ternyata aku tertidur cukup lama.


"Oh, emang mama Gak ke kerja?"


"Enggak sayang, kaki mama sakit. jadi mama mau istirahat dirumah dulu." jelasku lagi.


Aku segera menunjukkan kedua kakiku yang memang lecet.


"Pasti karena mama, pake sepatu terus ya? jadi aja kakinya lecet." celotehnya.


"Iya sayang. rasanya perih.." aku merengut lesu.


"Ya udah. kalo gitu, Andi bantu mama jalan ya? mama harus makan siang." ajaknya tulus.


Aku tersenyum haru. anak seusianya bisa begitu perhatian padaku. dan aku sangat bersyukur memiliki Andi. Selama ini Andi lah yang mampu membuatku terus bersemangat untuk menjalani hari-hariku.


Aku dan Andi berjalan bersama menuju meja makan. tampak semua makanan sudah siap di atas meja.


"Bi, bi Atun kenapa masak banyak begini?" aku menatap bi atun yang kemudian mendekati meja makan sembari membawa buah-buahan.


"Kata bapak. ibu harus banyak makan biar cepet sembuh,biar sehat juga" sahutnya.


"Gitu ya bi." gumamku seraya duduk lemas di kursi.


Mas Sandy bersikap dingin padaku. tapi kenapa dia mempersiapkan semuanya. bahkan untuk makanan saja, dia sampai seperti ini. gerutuku dalam hati.


"Ayo di makan non, ini sayur bagus buat kesehatan." bujuk bi Atun.


"Andi mau sayurnya bi, boleh ya?" seloroh Andi mengangkat piringnya tinggi-tinggi.


"Boleh sayang. Andi juga makan yang banyak ya nak," sahutnya lembut.

__ADS_1


Ku tatap Andi yang terlihat begitu lahap ketika makan. mungkin dia sangat lelah setelah seharian belajar di sekolah.


Rasanya biarpun makanan di hadapanku sangat banyak, entah kenapa tiba-tiba selera makanku jadi hilang. sepertinya suasana hatiku masih belum membaik.


Meski dengan perasaan malas, aku tetap melahap makanan dihadapanku.


"Mama makannya Gak abis?" tanya Andi.


"Mama udah kenyang sayang." sahutku lesu.


"Mama mau ke kamar? ayo Andi anter!" ajaknya.


"Ya sudah. ayo. Nanti Andi mandi abis itu belajar ya" perintahku.


Andi mengangguk patuh. dan kami pun meninggalkan meja makan setelahnya.


•••


Aku Menatap lama ponselku. ini sudah pukul 8 dan mas Sandy belum pulang. bahkan dia melewatkan makan malam tanpa meneleponku.


Perasaanku benar-benar tak karuan sekarang. mas Sandy masih sangat marah padaku. dan aku tak tahu harus berbuat apa agar dia mau memaafkanku.


Tengah melamun, tiba-tiba terdengar derap langkah kaki menuju kamarku. pastilah mas Sandy sudah pulang.


Segera ku simpan ponselku dan menarik selimut untuk berpura-pura tidur,


KLEK,


Langkah kaki itu terdengar berhenti sejenak, lalu kembali terdengar semakin dekat. dan berhenti di tepi ranjang.


Aku memicingkan mata pelan, mengintip sosok mas Sandy yang sekarang tengah membelakangiku sembari melepaskan sepatunya.


Cukup lama mas Sandy terdiam, terdengar helaan nafasnya begitu pelan. mungkin dia sangat lelah hingga pulang lewat pukul 7 malam.


Ketika mas Sandy menoleh, aku kembali bersikap tenang dan melanjutkan tidurku.


Mas Sandy bangkit kemudian terdengar suara shower yang dinyalakan.


Aku membuka mataku pelan, dia sama sekali tak mau mendekatiku. biasanya jika aku tertidur,dia akan dengan sigap mendekat dan mengecup keningku.


Sungguh perasaan ini sangat menyiksa!


Ku pejamkan mataku kembali saat mas Sandy keluar dari kamar mandi. dan kali ini dia duduk disampingku. tangan dinginnya mengusap pelan sikutku yang masih di tempeli plester luka.


Lalu sentuhan lembutnya mendarat dipipiku. ada rasa sakit yang membuatku ingin berteriak saat itu juga. hanya sentuhan kecil seperti ini saja sudah membuatku tak sanggup. aku benar-benar sangat merindukan mas Sandy yang hangat,Mas Sandy yang penuh perhatian.


Mas Sandy menjauhkan tangannya dan hendak bangkit.


"Mas,... " Ku tarik cepat tangannya.


Mas Sandy terhenyak saat tahu jika aku hanya pura-pura tertidur.


• • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2