
Waktu menunjukkan pukul 3 sore, dan sayangnya awan mendung terlihat bergerombol memayungi apartemen kami. Aku menatap khawatir keluar jendela, sementara Andi sejak tadi asyik dengan mainannya. bahkan dia seakan tak menyadari kehadiranku dan mas Sandy yang sejak tadi memperhatikannya.
"Kenapa?" Suara mas Sandy membuatku menoleh seketika.
"Sepertinya akan turun hujan mas!" tukasku menutup kembali tirai jendelanya.
"Gak perlu khawatir, kalian aman disini" jelasnya seakan tahu apa yang ku pikirkan.
"Apa mas Sandy tidak berniat untuk pulang sekarang?" tanyaku
"Rumah saya disini teh. untuk apa saya kembali ke sana! saya malas jika harus bertemu tante." dengusnya lalu duduk di sofa. Aku mengikutinya dan duduk tak jauh dari mas Sandy.
"Tapi,ibu pasti akan khawatir mas!" selaku
"Khawatir? dia hanya akan mengkhawatirkan perusahaan saya dibanding nyawa saya teh," celetuknya tersenyum remeh.
"Lalu bagaimana dengan terapi kita hari ini? mas Sandy masih Berhutang dua kali lagi terapi bersama saya! biarkan saya melakukan tugas saya dengan baik. Agar saya bisa tenang mas." seloroh ku mengingatkannya.
"Teh Alis gak usah mikirin soal terapi lagi. saya sudah sembuh kok. teh alis gak liat seharian saya jalan dan gak ngerasain sakit?" mas Sandy menepuk-nepuk lututnya untuk meyakinkanku.
"Mas Sandy memang bandel!" dengusku menatapnya sinis. Namun Pemuda itu malah balik menatapku lembut,hingga membuatku seketika tersipu dan tak berani beradu pandang lagi dengannya.
"Syukurlah kalau teh Alis sadar jika saya ini orang yang bandel," gumamnya seakan mencemoohku.
"Meskipun saya hanya dua bulan mengenal mas Sandy. saya sudah tahu jika mas Sandy ini orang yang menyebalkan" gerutuku memalingkan wajah.
Tak berselang lama tiba-tiba terdengar bunyi petir yang menggelegar,diiringi suara rintik hujan yang semakin deras. Andi yang terkejut seketika melempar mainnya dan melompat ke arahku.
"Mama!!!" Teriaknya.
"Kamu kaget ya sayang! sini mama peluk!" Kudekap erat putraku.
Mas Sandy menatap kami berdua begitu dalam dan sarat makna. dan entah mengapa,hal itu malah membuatku gelisah.
"Sepertinya hujan deras akan segera turun!" mas Sandy menoleh ke arah jendela.
"Ma, bagaimana kita pulang?" tanya Andi.
"Mama juga bingung sayang!" sahutku menatap mas Sandy sinis. Karna ulahnya membawa kami ke rumah ini, sehingga membuat kamu 'Terjebak' di tempatnya sekarang.
"Andi gak usah takut nak,Kan ada om Sandy disini!" Tukasnya menenangkan
"Om gak pulang?" tanyanya
"Ini adalah rumah om, jadi om bisa tidur disini kapan saja!" jelasnya
"Rumah Om banyak yah. Apa Andi boleh menginap disini?" Celetuknya polos.
__ADS_1
"Andi!" bisikku mencoba menghentikan nya.
Mas Sandy mengangkat kedua alisnya bersamaan, lalu kemudian tersenyum manis padaku. jelas saja dia merasa menang kali ini, dan mungkin inilah yang dia inginkan. HUH! laki-laki memang semuanya sama, tak pernah ada yang serius dari ucapan cinta mereka.
Benar saja dugaan, hujan turun semakin deras. bahkan langit terlihat begitu kelam sore ini.
"Yang ini gimana sih ma!" Andi mulai merengek saat dia tak dapat merangkai mainannya. Aku mendekat dan melihat apa yang sedang dia kerjakan.
"Mama juga gak tahu nak, coba sini mama lihat!" aku mengambil mainan yang terlihat seperti robot dengan peretelan kecil tercecer disampingnya.
"Sini! biar om yang bantu!" Mas Sandy duduk disampingku dan mengambil benda itu dari tanganku. dia pasti tahu bahwa aku tak akan bisa memasangkannya.
Ku biarkan Saja mereka berdua bermain.
"Mas, saya boleh lihat dapurnya?" tanyaku.
"Silahkan saja teh. jika ingin makan sesuatu. ambil saja!" Tukasnya tanpa menoleh dan fokus pada mainan itu.
Aku berjalan pelan menuju dapur, sebetulnya sejak tadi aku tak melihat foto siapapun dirumah ini. tapi kenapa Hana bilang jika wanita yang bernama Vina itu sempat kemari? atau mungkin Sebenarnya Vina juga baru tahu rumah ini? lagi-lagi batinku bermain teka teki yang membuat otakku kewalahan.
Aku beranjak mendekati wastafel untuk mencuci tangan. Aku melihat isi lemari makanan dan juga lemari es. ternyata memang tak ada makanan disana. hanya beberapa tepung, keju, telur dan susu cair. itupun entah sejak kapan berada disana.
"Semua makanannya baru!" celetuk mas Sandy mengagetkanku.
Aku menoleh pelan ke arahnya.
"Mas Sandy mau ngapain?"
"Buatkan Andi makanan,dia pasti sebentar lagi akan kelaparan!" Tukasnya lalu pergi meninggalkan dapur.
Aku berdecak kesal melihat tingkahnya itu. Sesantai itu dia memintaku membuatkan makanan. apakah dia memang biasa bersama wanita-wanita nya didalam rumah ini.
Aku mendekati kompor dan hendak memakai apron yang tergantung disamping meja kompornya, namun seketika aku mematung. ada dua buah apron tergantung disana. satu apron bergambar Mickey mouse dan satu lagi tentu saja pasangannya Minnie mouse. Aku menajamkan pandanganku pada benda itu, tak jadi ku ambil karna isi pikiranku sudah lebih dulu berburuk sangka. pastilah apron ini sering mereka berdua gunakan untuk memasak bersama dengan latar alunan musik romantis dan lampu temaram.
"CK!" aku berdecak mengusap wajahku lelah. kenapa sekarang aku malah terus-terusan memikirkan sosok wanita itu yang tengah asyik bermesraan dengan mas Sandy. benar-benar menyebalkan. Rutukku.
Aku menghela nafas dalam, mencoba membuang pikiran-pikiran jahat yang coba mengusikku. ku sibukkan diriku dengan mengambil beberapa alat masak dan mulai berinteraksi dengan beberapa bahan makanan yang ada dilemari es.
~`~
Hanya ketika hujan turun,
Aku akan sangat rindu....
Hanya ketika kesepian,
aku akan menangis....
__ADS_1
Dan ketika aku sedang cemburu,
Aku akan Marah. Namun entah marah pada siapa?
Haruskah aku Marah padamu?
disaat aku mulai merindukanmu,
Dan Haruskah aku Benci?
disaat aku tahu, aku pernah menangis untukmu.
~`~
•••
Pukul 5 sore, hujan tak juga reda. Aku baru saja selesai merapikan dapur yang tadi sempat ku buat berantakan.
Ku hidangkan dua gelas jus apel juga dua potong omlette dan roti panggang. lalu ku bawa ke ruang tengah dimana mas Sandy dan Andi asyik bermain.
Namun apa yang ku lihat ini benar-benar membuatku kaget. Andi ternyata sudah tertidur dalam dekapan mas Sandy yang juga tampak terlelap.
Ku letakkan nampan itu disamping meja, lalu aku berlutut dilantai menatap mereka berdua. pemandangan yang sekali lagi mampu membuatku terenyuh dan merasakan sakit didadaku.
Ku rapikan mainan Andi yang tercecer dilantai. Aku berhati-hati agar tak menimbulkan bunyi gaduh yang bisa membangunkan keduanya.
Namun ternyata mas Sandy tak benar-benar tertidur. perlahan tangannya mengusap wajah pelan. Aku menoleh kaget dan menatapnya lembut.
"Saya buatkan jus!" bisikku pelan.
Mas Sandy dengan hati-hati melepaskan tangan yang menjadi sandaran Andi. dan menggantinya dengan bantal lalu membiarkannya tertidur disofa.
Dia menggeliat membentangkan kedua tangannya. itu pasti membuatnya pegal.
Aku duduk tak jauh darinya.
"Apa mas Sandy lapar?" tanyaku tulus.
"Saya sangat lapar!" Tukasnya dengan tatapan yang menurutku sangat menakutkan itu.
Aku mundur perlahan,dan dengan sigap mas Sandy menarik lembut pinggangku.
DEG!
Dia memelukku lagi, dalam diam yang sulit ku jelaskan.
Aroma tubuhnya seperti menyatu dalam aliran darahku,hingga membuatku sulit bernafas.
__ADS_1
"Biarkan saya memeluk teh Alis seperti ini lagi!" bisiknya sembari memejamkan matanya dan terlelap.
• • • • • •