PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•84


__ADS_3

9 bulan aku mengandung Andi di tengah tekanan dan penderitaan,Awalnya mas Rizal bersikukuh tak mau mengakui Andi sebagai anaknya.


Dan Akupun tak berniat untuk meyakinkannya. bagiku,kepercayaan darinya sama sekali tak berguna. Anaknya atau bukan,toh pada akhirnya kami tetap akan di telantarkan juga.


Sebegitu putus asanya aku menghadapi sikap kejam dari mas Rizal.


Malam sebelum Andi di lahirkan. Aku berjalan menyusui bahu jalan yang lumayan gelap. mencari sosok suamiku yang sudah tak pulang selama dua hari. Aku hanya ingin meminta ssdikit pertanggungjawabannya saja mengenai biaya persalinanku nanti.


Aku pergi dari rumah setelah shalat Isya. Karena kata para tetangga, mas Rizal tak akan ada jika siang hari. karena dia selalu ikut menjadi kernet bus ke luar kota. dan mungkin sekarang dia ada di terminal.


Sebetulnya, sejak siang aku sudah mulai merasakan sakit disekitar perut bagian bawahku. bahkan kini sakitnya menjalar ke area pinggangku. Sesekali aku meringis menahan sakit.


"Tahan nak, sebentar lagi kita sampai" aku mencoba menguatkan diriku sendiri


Entah kenapa, jalan biasa ku lalui ini tampak gelap. sepertinya lampu jalanannya rusak dan mati. Beberapa meter lagi aku sampai, namun entah kenapa aku sungguh tak sanggup lagi menahan nyeri yang tiba-tiba menyerang perutku. setiap 1 menit sakit itu terasa dan semakin kuat. apa ini yang disebut kontraksi? pikirku sekilas.


"Tahan, nak! Tahan...!" Aku menghembuskan nafas kasar.


Dan akhirnya aku menyerah. aku duduk disalah satu bangku taman. Ku edarkan pandanganku ke jalan. banyak mobil yang lalu lalang. tapi tak satu pun dari mereka mau berhenti.


"Aaaaarggh! HUH!!!" aku menghembuskan nafasku berkali-kali.


Ditengah rasa sakit yang sudah tak dapat ku tahan. tiba-tiba saja seseorang menghampiriku. dia menggunakan topi berwarna hitam. tak dapat ku lihat dengan jelas rupanya. yang ku tahu, dia adalah seorang pria.


"Bu? apa ibu mau melahirkan?" tanyanya dengan suara berat dan panik.


"Iya pak! tolong saya!" Lenguhku lemas


"Ibu mau ke rumah sakit? atau mau pulang?" tanyanya bingung.


"Saya mau menemui suami saya di terminal pak. tapi sepertinya, bayi saya akan keluar sekarang!" rintihku tak tahan


Pria itu nampak kebingungan.


"Disana ada klinik bersalin pak. bapak bisa tolong antar saya kesana saja!" pintaku memohon.


Si pria tadi masih tampak bingung. sepertinya dia mencoba mencari bantuan. tapi sayangnya memang hari itu hari sialnya karena tak ada satupun orang yang lewat.


"Ya sudah. ibu naik mobil saya saja." tukasnya kemudian.


Dia membuka pintu mobilnya terlebih dahulu. dan membantuku bangkit lalu berjalan perlahan menuju ke dalam mobil.


"Tahan bu," perintahnya gugup. Sekilas aku memerhatikan tingkah aneh pria itu. dia berjalan sedikit sempoyongan sambil sesekali memegang kepalanya.

__ADS_1


Apa dia juga sedang sakit? pikirku.


Namun pikiranku kembali teralihkan oleh rasa sakit yang berasal dari bawah perutku. Sekuat tenaga aku mencoba menahan.


Diapun segera melajukan mobilnya menuju klinik terdekat. Dan beruntunglah jalanan tak begitu macet. hingga kami bisa tiba dengan tepat waktu.


Setibanya di klinik, si pria misterius itu mencoba memanggil seorang perawat untuk membantu kami dan membawakan kursi roda. Baru saja aku hendak melihat wajah si pria yang hendak menolongku,dia malah berlari ke sudut gang yang sedikit gelap dan terlihat memuntahkan sesuatu.


"Ayo bu! silahkan!" pinta suster tersebut sembari membawaku ke ruang bersalin.


Beruntunglah malam itu aku bertemu orang baik yang mau mengantarkanku ke klinik ini. jika tidak, maka anakku akan lahir di jalanan dengan kondisi gelap. aku benar-benar ngeri untuk membayangkannya.


Hampir 1 jam Aku merasakan kontraksi.


Seorang bidan sesekali datang mengecek kondisiku. dia memintaku untuk tidur menyamping agar mudah dalam melakukan persalinan.


"Oh iya, suaminya gak masuk ke dalam bu?" tanya si suster yang mengira pria yang mengantarku tadi adalah suamiku.


"Dia bukan suami saya sus,. suami saya sedang bekerja. dia orang yang menolong saya dijalan!" jelasku.


"Oh. begitu. kalau begitu, tunggu sebentar Yah! bidannya sebentar lagi kemari!" tukas si suster sembari berlalu.


Malam ini ku lalui dengan rasa sesak di dada. melahirkan anak pertama sendirian benar-benar sangat luar biasa.


"Ibu," Aku baru teringat akan ibuku. kemarin dia sempat menjengukku ke rumah. dia sama sekali tak pernah tahu dengan kondisi rumah tanggaku. dan aku tak ingin menunjukkan kekacauan hubungan kami padanya.


Kalau ku telepon sekarang. ibu pasti akan bertanya dimana Mas Rizal. jika dia tahu mas Rizal tak menemaniku, dia pasti akan sangat kecewa.


AH! Entahlah,aku terlalu sungkan pada orangtuaku sendiri. sehingga akhirnya aku memilih menghadapinya seorang diri saja.


"Aaaaaahhhhhh!" Aku menjerit kuat saat tiba-tiba kontraksi itu membuat aku ingin mendorong bayiku untuk segera keluar.


"Bu, bayinya mau lahir?" suster yang baru saja masuk seketika berteriak memanggil bidan yang langsung datang.


Tangis bayi mungil itu pecah menggema diruang bersalin yang hanya berukuran 2 x 3 meter itu. Aku merintih menahan sisa rasa sakit akibat menggerakkan tenaga begitu kuat.


"Selamat ya bu, bayinya laki-laki!" tukas sang suster kemudian membawa bayi itu dan memandikannya. sebelum akhirnya dia berikan padaku.


Aku menangis pilu saat ku dekap tubuh mungilnya didalam dadaku. haru bahagia bercampur menjadi satu.


"Seandainya ayahmu melihatmu disini nak!" Aku bergumam lirih.


Apakah mas Rizal masih akan tetap memperlakukanku seperti sampah. ataukah dia akan berubah?

__ADS_1


Aku berharap,setelah putraku lahir. dia bisa menerima kenyataan bahwa bayi ini adalah putranya. batinku.


Aku menginap semalaman di klinik tersebut. dan saat pagi tiba. Bu Dewi sudah datang bersama Pak yanto. semalam aku memang sengaja meminta tolong padanya untuk membawaku pulang ke rumah. aku tak mungkin kembali sendirian.


Bu Dewi memelukku dengan penuh haru. dia pun kebetulan sudah melahirkan 4 bulan yang lalu.


"Alhmdulilah. Reyhan bakal punya temen main nanti!" tukasnya melihat putraku penuh kasih.


"Bu, terima kasih banyak Yah! maaf juga saya sudah banyak merepotkan kalian!"


"Lis, kamu Gak usah mikir macam-macam. yang penting kamu dan bayi kamu selamat dan sehat!" jelas pak yanto.


"Untung ibu masih ada tabungan. sisa slametan Reyhan. kamu pake aja dulu untuk biaya persalinan." tukasnya.


"Terima kasih banyak bu!" aku menatapnya haru. beruntunglah aku mengenal bu dewi dan pak yanto yang begitu tulus membantuku.


"Saya janji saya akan segera mengganti uangnya." jawabku yakin.


"Iya, iya. kamu Gak usah pikirin soal itu!" sergahnya segera.


Akhirnya kami memutuskan untuk menuju ruang administrasi. aku sedikit khawatir, karena klinik ini memang sangat bagus. pastilah biaya yang harus ku keluarkan sangat mahal.


"Bayi Nyonya Alis Anjani. total biaya administrasi nya empat juta lima ratus ribu rupiah!" jelasnya.


Aku dan bu Dewi saling melirik. uang yang ku pegang hanya ada empat juta dan masih kurang 500 ribu lagi.


"Dan semuanya sudah lunas dibayarkan bu!" imbuhnya lagi. membuat kami bertiga semakin kaget.


"Sudah lunas sus? saya kan belum bayar?" tanyaku bingung.


"Mungkin suami kamu lis," seloroh bu dewi. aku menatapnya tak yakin. bahkan aku belum melihatnya hingga hari ini. bagaimana mungkin?


"Iya ibu, biayanya sudah lunas. dibayarkan oleh bapak yang mengantar ibu ke klinik semalam. dia juga menitipkan ini bu. katanya untuk kado anak ibu jika sudah lahir." suster tersebut menyodorkan sebuah amplop coklat ke hadapanku.


Amplop yang ternyata berisi uang dengan jumlah yang sama dengan yang dia bayarkan untuk biaya persalinanku.


Setelah kejadian itu. aku masih Sering memikirkan, siapakah gerangan pria baik hati itu. dia kah malaikat yang di turunkan Tuhan padaku Disaat aku putus asa. tak henti-hentinya aku bersyukur atas keajaiban yang terjadi pada kami berdua kala itu.


***


"Ma,boleh kan Om sandy Jadi papa Andi betulan?" seloroh Andi yang seketika itu juga membuatku terhenyak dan membuyarkan seluruh ingatan lamaku.


• • • • • • • •

__ADS_1


__ADS_2