
"Untuk orang seperti kita, mendengar hal kaya gitu emang bikin pusing ya. aku juga pas awal-awal ngerasa aneh." timpal Rahma yang seakan tahu apa yang tengah ku rasakan.
"Jadi persentase sebesar itu sangat berpengaruh ya?" gumamku.
"Jelas lah. bu Ayu masih bisa memegang kendali perusahaan saat pak Sandy gak ada di kantor. apalagi jabatannya sebagai wakil CEO. makanya mereka sering berselisih paham, karena terkadang bu Ayu membuat keputusan yang seenaknya." tukas Sinta.
"Aku mau tanya serius deh. sebenarnya pak Broto ngapain kamu sih? sampe pak Sandy ngamuk begitu?" selidik Rahma.
Keduanya menatapku penuh rasa penasaran. Aku menggigit bibirku gugup.
"Pasti waktu ketemu di acara makan malam itu kan?" celetuk Sinta.
Ku anggukkan kepalaku pelan.
Sejujurnya aku enggan bercerita banyak pada Rahma ataupun Sinta. aku terlalu takut jika semuanya akan menjadi rumit. tapi, aku juga tak ingin mas Sandy di cap sebagai suami yang berlebihan karena membela ku.
"Kurang ajar tuh bandot tua! seenaknya aja kalo ngomong" gerutu Rahma dengan nada penuh kekesalan setelah mendengar ceritaku soal kejadian itu.
"Gak heran sih kalo dia mikir seburuk itu sama kamu. mungkin dia pikir pak Sandy akan menikah dengan wanita dari kalangan atas seperti mereka. karena dia tahu perjalanan cinta pak Bos selama ini." tukasnya enteng.
Rahma menyikut pelan lengan Sinta.
"Ah, harusnya kemaren pak Sandy bikin bonyok aja sekalian tuh pak Broto!" geram Rahma.
"Belum di bikin bonyok aja udah keluar berita macem-macem, apalagi kalo sampe bonyok Beneran. bisa-bisa muka kita muncul di surat kabar besok." gerutu Sinta.
"Menurut kalian ada jalan lain Gak?" tanyaku lagi
"Ya tergantung.. kalo misalkan,pak Broto enggan menerima tawaran bu Ayu untuk melanjutkan kerjasama. ya susah juga"
gumam Rahma setengah berfikir.
"Masa iya kita harus mohon-mohon. biar dia kembali. ih, Gak banget deh." Sinta bergidik ngeri membayangkan hal yang baru saja di ucapkannya.
"Makin besar kepala sih, kalo sampe Perusahan kita ngejar-ngejar dia terus" timpal Rahma lagi.
"Terus gimana sama perusahaan media dari luar itu?" selidikku.
"Kalo gak salah nama perusahaannya Lion Media Groups. Basic mereka di singapura. perusahaan media yang lumayan besar,hanya saja-..." Rahma menoleh pada Sinta.
"Hanya saja, apa?!" desakku tak sabaran.
"Hanya saja, pemiliknya seorang wanita cantik yang sedang mencari calon pasangan." Sinta menyeringai.
Aku mengernyitkan dahiku bingung. memangnya kenapa jika pemilik perusahaan itu adalah seorang wanita cantik dan juga sedang mencari calon Pasangan. menurutku tak ada yang salah.
"Sebetulnya soal perusahaan ini udah lama banget kita tahu. bahkan dulu, CEO nya sendiri mengatakan bahwa dia tertarik sama pak Sandy. dulu sih Gak masalah, tapi kalo sekarang pak Sandy kan udah nikah" Rahma menyeringai ragu.
__ADS_1
"Itu kan dulu. siapa tahu sekarang dia udah punya calon suami atau pacar yang lebih dari mas Sandy" tukasku polos.
"Kamu tuh Bener-bener polos ya. di dunia bisnis, nyari pendamping itu udah kaya nyari jarum di tumpukan jerami tahu! susah banget. lagipula mereka nyari pendamping juga gak sembarangan, minimal yang sepadan dan bisa menunjang karir perusahaan mereka kedepannya. Gak kaya kita-kita ini." jelas Sinta.
"Pernikahan bisnis. pernah denger Gak? banyak kok di jaman sekarang hal kaya gitu. tentunya di kalangan pebisnis aja." timpal Rahma.
Mendengar cerita mereka aku jadi bisa menyimpulkan,ternyata dunia bisnis itu benar-benar sangat kejam. bahkan untuk urusan hati pun, mereka tak segan berlaku curang atau mungkin tak masuk akal. hanya demi bisnis dan uang.
"Gimana? masih mau bahas soal perusahaan asing lagi?" tanya Sinta.
"Paling aman emang sama pak Broto sih, biarpun rada nyebelin. setidaknya dia gak bakalan tiba-tiba ngerebut pak Sandy dari kamu Lis." imbuhnya yakin.
"Kalo di liat-liat, kinerja PT. Surya Media akhir-akhir ini memang bagus banget. mereka membantu promosi perusahaan sebanyak hampir 70 persen. juga membuat para investor semakin tertarik untuk menanam saham di perusahaan kita." gumam Rahma yang terlihat menyayangkan jiga PT. ASTRA melepas Perusahaan media itu.
"Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu, sampai seminggu kedepan. semoga saja akan ada jalan keluar yang lebih baik." Sinta menghela nafas lesu
Ku tatap lirih kedua temanku itu. meskipun mereka bukan pemilik perusahaan, atau pemegang saham. tapi jelas terlihat, bahwa mereka pun ikut gelisah dengan kondisi perusahaan yang seperti sekarang ini.
Mereka tidak bisa memutuskan pilihan dan hanya bisa menunggu hingga batas waktu yang tak pasti.
Namun,satu hal yang jelas ku lihat dari keduanya. mereka benar-benar tulus mengabdikan diri pada perusahaan. Alih-alih kabur dan mengundurkan diri. mereka masih memiliki kepercayaan penuh pada atasan mereka.
"Kalian yang sabar ya," tukasku mencoba menyemangati.
"Yang harusnya sabar itu kamu Lis, kan yang punya perusahaan suami kamu." desah Rahma tak tega.
"Pasti Lis, lagian kita juga udah betah kerja sama pak Bos." sahut Rahma yakin.
"Aku yakin kok, pak Sandy bisa mengatasi semuanya dengan baik." timpal Sinta.
"Astagfirullah..!" pekik Rahma tiba-tiba setelah menatap jam ditangannya.
"KENAPA?!!" sahutku dan juga sinta
"Udah jam 2,kita telat masuk kantor!" Rahma menyeruput Es teh manisnya.
"Ya udah sih. Biarin aja!" tukas Sinta cuek.
"Ahhh. berkas kerjaku belum beres. Bu Nita minta sore ini harus selesai." selorohnya bergegas memasukan ponselnya ke dalam tas.
"Ya udah,.. kalian pergi duluan aja! makanannya biar aku yang urus. Gih buruan!" usirku cepat.
"Serius Lis? kamu yang traktir?" tanya Rahma.
"Iya tenang aja. daripada kalian telat terus kena omel nanti."
"Bilang aja di ajak makan sama bu direktur. iya Gak?" Sinta terkekeh puas.
__ADS_1
"Bener juga ya!" Rahma menyeringai.
"Dasar," dengusku mencibir keduanya
"Ya udah, kalo gitu kita pulang duluan ya! Thank's buat makan siangnya!" pamit Sinta.
Rahma memeluk ku erat dan berpamitan.
"Sampai ketemu lagi," tukasku.
Keduanya segera menghilang setelah masuk ke dalam taksi. dan tinggal lah aku sendirian di Resto itu. meski ada banyak orang di tempat itu, tapi tak satupun dari mereka yang ku kenal.
PING!
Denting pesan di ponselku berbunyi. ku buka layar ponselku dengan segera.
"Masih lama ya?!" tulis mas Sandy.
"Saya sudah mau pulang kok, mas. kenapa?" balasku.
"Saya kangen,.." godanya
"Ya ampun mas,.." balasku singkat.
Segera setelah membalas pesannya,aku pun keluar dari dalam Resto dan menghampiri pak Muh yang tengah menunggu diparkirkan. dia pasti sangat bosan. pikirku merasa bersalah.
Setibanya di depan mobil, ku lihat pak Muh tampak tertidur lelap.
"Ya allah. maafkan saya pak" gumamku tak enak hati.
"Pak," ku guncang pelan pundak pak Muh meski merasa tak tega karena sudah membangunkannya.
"Eh, si Non udah selesai." sahutnya tampak kaget.
"Maaf ya pak. saya ganggu bapak tidur." desisku ragu.
"Gak apa-apa Non. silahkan masuk. tapi saya boleh izin cuci muka sebentar kan Non?"
"boleh pak. silahkan." Aku segera masuk dan duduk di kursi belakang.
"Saya sudah di mobil." Tulisku seraya mencoba mengirimkan fotoku padanya.
Tengah Asik memutar kamera dan mencari sudut yang pas untuk memotret, kamera ponsel ku malah menangkap sosok orang yang kami bicarakan saat makan siang tadi. dia berada tepat dibelakang mobilku, dan terlihat sedang bercakap-cakap dengan seseorang.
"Pak Broto." gumamku kaget.
• • • • • •
__ADS_1