
"Saya tak mau jika reputasi keluarga Hadiwijaya rusak karena ulah kamu. jadi, kamu jangan coba-coba untuk bersikap macam-macam di rumah ini."
Begitu kata-kata yang ku ingat dari bu Ayu, saat aku mengantarkan secangkir teh untuknya.
Meski kalimat itu terdengar menyakitkan tapi aku harus bisa memakluminya. karena ini berhubungan dengan harkat dan martabat satu keluarga. dan lagi semua ini memang salahku, karena aku telah memilih jatuh cinta pada seseorang Sandy Hadiwijaya.
Sekali lagi, Sandy Hadiwijaya...!
"Saya akan berusaha yang terbaik. tapi sebelumnya Saya harap, ibu mau makan malam bersama kami bu,"
Aku memberanikan diri memintanya untuk makan malam bersama tadi. meskipun pada akhirnya mendapatkan penolakan darinya.
Aku menghela nafas berat.
Kamu pasti bisa Alis! Tuhan tidak sedang main-main pada takdirmu.
Yakinlah!!!
Lagi-lagi Bisikan batinku berteriak lebih kencang, seakan-akan aku harus menuruti Raungannya.
Aku kembali ke kamar dengan langkah yang sedikit ku paksakan. terbebani tentu saja! setiap kata-kata atau larangan dari bu Ayu seakan menjadi tanggung jawab besar untukku. Takut jika aku melanggarnya, takut jika aku membuatnya kecewa.
Drrrtttt....
Ku rogoh ponselku yang ku sembunyikan dibalik saku celanaku.
"Mas Sandy." gumamku saat dia menelpon. sepertinya dia selalu tahu jika aku sedang gusar.
"Honey.. kamu lagi apa?" tanyanya dengan suara sedikit berat dan seksi.
Ku tarik mundur ponselku. benarkah ini mas Sandy yang ku kenal. kenapa suaranya terdengar sedikit cab**l ?
"Mas Sandy kenapa? ada apa?" selorohku heran.
"Kangen..!" bisiknya.
"Terus..,saya harus kesana untuk mengobati kangennya mas Sandy, gitu?" desisku sinis.
"Ide bagus..," kekehnya
"Saya kan sebentar lagi mau pergi sama Andi mas."
"Oh iya,saya lupa. saya pikir kamu senggang hari ini." sahutnya lesu.
"Mas,-"
"Iya,"
__ADS_1
"Soal berita itu,mas gak marah kan?" tukasku ragu.
"Hm,.. Gimana ya! saya bingung" gumamnya pelan.
"Bingung kenapa mas? saya bersumpah, saya gak ngapa-ngapain kok. kita cuma makan siang aja di Resto itu. kalau kamu curiga atau ingin memastikan kebenarannya, kamu bisa tanya lagi ke Rahma." jelasku panjang lebar.
"Oke baiklah. tadinya saya mau marah, karena wartawan mengambil foto kamu sembarangan. tapi setelah saya lihat-lihat, kamu terlihat cantik dan manis di koran. saya jadi suka." celetuknya
"Mas Sandy!!!" dengusku kesal.
Suara tawanya terdengar nyaring di ujung telepon sana.
Begitulah..,Mas Sandy selalu saja bisa membuat suasana hatiku yang tadinya sendu kembali ceria. ini seperti sebuah keajaiban. atau mungkin karena kami baru menikah saja, sehingga masalah yang kami hadapi masih bisa di bilang ringan?
"Maaf, maaf! saya tak tahan jika tak menggoda kamu sehari saja teh. saya bisa membayangkan bagaimana wajah kamu yang memerah sekarang" godanya setengah meledekku.
"Muka saya gak merah kok. asal mas Sandy tahu ya! saya sudah terbiasa dengan gombalan mas Sandy yang seperti itu." sahutku tak mau kalah.
"*Gitu ya? Oke! lainkali saya akan coba cara lain. dan akan saya buat kamu,-"
"Permisi pak, Pak Ivan ingin bertemu*?"
Terdengar suara Nita yang tiba-tiba menyela obrolan kami.
"Sayang, nanti kita bicara lagi. Oh iya, soal Taksi satu jam lagi akan datang menjemput kamu!" jelasnya.
"Iya baiklah. selamat bekerja mas" tukasku.
Aku termangu sejenak. Apa Kira-kira yang mas Sandy obrolkan dengan pak Ivan? apa ini berhubungan dengan pak Broto? atau hal lain?
AH! sudahlah Alis, kamu terlalu banyak berfikir akhir-akhir ini. Ku langkahkan kakiku menuju nakas dan menyimpan ponselku disana. sebelum akhirnya aku bersiap untuk menjemput Andi.
•••
Ku lihat Mobil pak Muh sudah terparkir didepan garasi. di tentu akan mengantarkan bu Ayu ke kantor siang ini.
"Maaf ya non, jadi ga bisa nganter ke sekolah" selorohnya.
"Iya pak. gak apa-apa kok. mas Sandy sudah pesankan saya taksi. itu taksinya sudah datang." aku menunjuk ke arah pintu gerbang.
"Oh iya. kalau begitu hati-hati di jalan ya non." tukasnya penuh perhatian.
Sebenarnya aku tak begitu nyaman dengan panggilan 'Non' didepan namaku. hanya saja, mas Sandy bilang itu bagus untuk pembiasaan. tapi tetap saja terdengar aneh bagiku.
"Saya pamit ya pak!" aku melambaikan tangan pada pak Muh.
Aku segera masuk ke dalam Taksi, dan tanpa banyak bicara supir itu pun membawaku menuju tempat yang ku minta.
__ADS_1
Melewati jalanan menuju ke sekolah, membuat pikiranku bermonolog sendiri. Dulu, aku kemari dengan menaiki Ojek atau berjalan kaki setelah angkutan umum yang ku naik berhenti di terminal. tak terbersit sedikitpun olehku bahwa aku akan kembali kesini dengan status yang berbeda seperti sekarang.
Perjalanan dari Kompleks Diamond hills menuju ke sekolah Andi tak terlalu jauh, hanya butuh waktu sekitar setengah jam saja untuk tiba disana. jika kondisi jalanan tidak macet, dan beruntunglah hari ini jalanan lumayan lengang. hingga kami tiba tepat waktu di sekolah.
"Tunggu sebentar ya pak," pintaku lalu bergegas keluar dari dalam taksi untuk menemui Andi.
Terlihat beberapa anak sudah keluar dan di jemput oleh orang tua mereka masing-masing.
"Bu Alis, apa kabar? wah sudah lama gak ketemu Yah?" tukas seorang wanita di belakangku.
Aku menatapnya heran, juga sedikit kaget karena tak biasanya dia menyapaku lebih dulu.
"Bu sarah? Kabar baik bu," gumamku pelan.
Wanita yang penampilannya selalu menawan itu, berjalan mendekatiku.
"Jemput Andi juga?" tanyanya lagi dengan kedua matanya yang tak lepas menatapku dengan seksama.
"Iya bu," sahutku gugup.
"Oh iya, saya dengar Bu Alis sudah menikah dengan pria yang waktu itu Yah? siapa namanya, pak Sandy? pintar sekali ya, ibu nyari jodohnya" selorohnya lagi, dan jujur kata-katanya terdengar sangat tak enak di telinga.
Aku tersenyum kecut.
"Saya gak nyari jodoh kok bu. itu memang sudah takdir."
"Hm, begitu ya! tapi kok, kalian Gak bikin pesta resepsi ya? padahal yang saya dengar, suami bu Alis itu pengusaha kaya raya. kebetulan suami saya tahu dimana kantornya." tukasnya dengan tawa yang terkesan di buat-buat.
"Kami memang tak suka pesta bu." sahutku enteng.
"Wah, sayang sekali ya. atau mungkin, sengaja,tidak ada pesta resepsi untuk menghemat biaya." Sindirnya dengan senyum simpul.
"Rasanya, saya tak perlu menjelaskan alasannya pada bu Sarah!" tandasku lagi.
"Mamaa...!" teriak Andi dari arah pintu kelasnya. terlihat Reyhan juga ada bersamanya.
"Saya permisi bu," pamitku seraya meninggalkan bu Sarah yang masih menatapku ketus.
"Kita jadi kan ke rumah Reyhan?" tanyanya tampak tak sabar.
"Iya sayang. ayo kita Pulang sama-sama " ajakku pada Reyhan. Sepertinya hari ini bu Dewi tak menjemput Reyhan ke sekolah. jadi kami putuskan untuk kembali menggunakan taksi yang sudah menunggu di depan gerbang sekolah.
Beberapa pasang mata, yang ku kenal adalah orang tua dari Teman-teman sekelas Andi tampak menatap heran ke arah kami bertiga.
"Kenapa kita gak jalan kaki aja ma?" tanya Andi saat dia dan Reyhan duduk di kursi belakang.
"Kaki mama lagi sakit nak, mama Gak kuat jalan jauh-jauh!" tukasku beralasan.
__ADS_1
Sejujurnya, aku hanya takut akan ada wartawan yang tiba-tiba saja memotret kami dan mencetak foto kami di koran. aku tak mau Andi terlibat dalam kondisi seperti ini. dia masih sangat kecil dan tak tahu apa-apa.
• • • • • • •