PEREMPUAN ITU (END)

PEREMPUAN ITU (END)
•17


__ADS_3

"Lelaki memperoleh kualitas istimewa dengan bertindak dengan cara yang istimewa.” -Aristoteles -


Mas Sandy mengambil HP yang ku pegang,lalu beranjak menuju kursinya dengan hati-hati.


"Mas Sandy mau nelpon? Tapi maaf mas,HP saya gak ada pulsanya!" Aku menyeringai malu.


Pemuda itu tak menggubris dan asyik membuka ponselnya meski sedikit kesulitan. lalu beralih membuka ponselku dan mengirimkan sebuah pesan singkat.


TING,


Sedetik kemudian notifikasi pesan singkatpun muncul di layar ponselnya. Mas Sandy tersenyum tipis lalu mengetikan sesuatu sebagai balasan.


Aku menatapnya aneh.


"Jangan bilang kalo mas Sandy lagi kirim pesan buat diri sendiri dari HP saya? Ckck! tambah aneh deh!" aku berdecak menatapnya tak habis fikir.


Kemudian mas Sandy menyerahkan ponselku setelah Apa yang dia lakukan selesai.


Aku mengambil ponselku ragu,lalu segera ku intip isi pesan yang dikirimnya.


#Simpan nomor saya!


#Baik,mas!


#Terima kasih.


"Udah! jangan Sampe di hapus! kalo pesan saya masuk segera balas!" perintahnya begitu otoriter.


Aku mengernyit bingung menatap pesan singkat yang dia tulis sendiri diponselku.


"Kesannya saya nurut banget sih? curang!" protesku setelah melihat balasan untuknya di HP ku.


"Gak boleh protes sama majikan!" Desisnya licik.

__ADS_1


Mendengar jawaban nya aku hanya bisa mendengus tanpa bisa membantah. Yah! kasta tertinggi memang selalu lebih unggul. batinku.


"Apa hari ini mereka pergi?!" tanya mas Sandy kemudian.


"Maksudnya ibu sama pak Ivan? belum mas,mereka kayanya lagi bahas kerjaan diruang tamu. Mas, kalo boleh tahu pak Ivan itu siapa sih?!" selidikku.


"Dia karyawan kantor!" sahutnya cuek.


"Oh jadi kalian satu kantor!" Aku bergumam saat otakku menangkap sebuah jawaban. Apakah selama ini mereka berebut kekuasaan? kira-kira jabatan apa yang mereka perebutkan? Manager? Atau Direktur utama? otakku jadi menerka-nerka sendiri.


"Heh! kenapa malah bengong! hari ini teh Alis belum bersihin kaca jendela!" Tukasnya menatap kaca jendela kamar yang seharusnya ku bersihkan sejak tadi.


"Iya mas, saya kerjakan sekarang!" Sahutku mengakhiri obrolan kami dan bergegas membawa alat kebersihan.


•••


Pukul 2 siang Aku sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan dikamar mas Sandy. merapikan pakaian yang telah selesai Ku setrika adalah misi terakhirku. Ku renggangkan kedua tanganku yang terasa berat ini.


"Uughh! pegel nya" Aku menggeliat lelah.


Pantas saja Bu Ayu tak memberinya ponsel saat tengah terbaring sakit,juga dokter Hasan yang mewanti-wanti soal kesehatannya. sepertinya mas Sandy adalah tipe orang yang gila kerja. Buktinya sudah hampir dua jam dia duduk disana, dan sudah pasti mengabaikan makan siangnya.


Aku mendengus menatap makanan dan obat-obatan yang masih belum tersentuh itu. Ku ambil Makanan dan obat-obatan itu lalu ku bawa menuju balkon.


"Mas Sandy! ini udah jam 2 loh!" tukasku mengingatkan,lalu meletakkan makanan itu dihadapannya.


"Hm," jawabnya singkat. Namun sama sekali dia tak menoleh kearah makanan itu apalagi kearahku.


"Apanya yang 'Hm' mas? ini waktunya makan siang! abis itu minum obat! kerjasama sedikit lah mas! biar saya bisa pulang lebih awal!" aku setengah merengek.


"Nanti saja. Teh Alis,kalo mau pulang ya pulang aja!" sahutnya dingin.


Melihat sikapnya yang begitu abai terhadap kesehatannya membuatku kesal. Aku duduk disampingnya lalu mengambil paksa laptop dipangkuannya itu. Sontak saja apa yang kulakukan membuatnya menoleh kaget padaku.

__ADS_1


"Apa-apaan ini teh? gak sopan banget!" Selorohnya kesal.


"Maaf mas! demi kebaikan mas Sandy, saya harus bersikap tak sopan begini! sekali lagi maaf! tapi mas Sandy harus makan siang dulu. setelah minum obat, Baru laptopnya saya berikan!" Pinta ku sedikit memaksa.


Mas Sandy melirik makan siangnya lalu beralih menatapku lagi.


"Ya udah! biar cepet, teh Alis yang suapin!" Celetuknya santai.


"Mas,tolong yah! kalo becanda jangan kelewatan! Mentang-mentang Mas Sandy majikan saya!" protes ku tak terima.


Dia bisa memukul ranjang bahkan membanting barang-barang dengan sekuat tenaga jika tengah marah. kenapa pula sekarang dia tiba-tiba memintaku menyuapinya? hilang kemana otot-otot kuatnya itu?


"Dulu aja di bantuin gak mau! sekarang manjanya kelewat batas. dasar aneh!" gerutuku sembari bangkit dari tempat duduk.


"Heh! mau kemana? saya belum selesai teh!" tukasnya


"Mas Sandy jangan manja! makan sendiri aja!" Aku mendengus hendak meninggalkannya. Namun sejurus Kemudian tangan kekarnya menarik ujung bajuku hingga Aku hilang keseimbangan dan terjerembab kembali diatas sofa disampingnya.


BUGKH!


Aku menatap Mas Sandy kaget. kenapa sikapnya jadi menyebalkan begini? sebelumnya dia tak pernah jahil padaku. Apa mungkin dia tahu bahwa aku akan segera berhenti bekerja hingga dia ingin puas menjahiliku dulu? pikirku sesaat.


"Kamu gak bisa menolak perintah saya Alis Anjani!" gumamnya tepat disamping telingaku.


Suaranya yang dingin namun terdengar lembut di telingga Tentu saja membuatku seketika membeku. Dan entah darimana datangnya,tiba-tiba ada perasaan gugup yang muncul hingga membuat dada dan bahkan wajahku panas seketika.


"Maaf Mas,-" Aku bergumam pelan. nyaris tak dapat ku keluarkan kalimat itu


Mas Sandy mengambil piringnya dan memintaku memegangnya.


"Ayo suapin?!" pintanya membuka mulut.


Dengan malu-malu Akhirnya Aku melakukan permintaannya itu. Jujur selama bekerja dirumahnya, aku tak pernah merasakan perasaan Aneh itu. tapi hari ini Aku benar-benar dibuat terkejut oleh reaksi tubuhku sendiri.

__ADS_1


• • • • •


__ADS_2